
Anila terpaksa pulang dengan tangan hampa. Oh, tidak, tentu ada buah tangan dari Mami. Wejangan Mami sukses terus berputar, seperti satu-satunya lagu dalam playlist ingatannya.
Perempuan dengan kardigan rajut dan celana kulot memasuki rumah yang sepi tidak berpenghuni. Tidak tahu mengapa, rumah ini terasa lebih dingin dari sebelum-sebelumnya. Bukan karena berada di kawasan dataran tinggi, melainkan tidak ada kehangatan dari pemiliknya.
Netra hitam Anila menyapu setiap inci rumah industrial vintage itu. Dindingnya, lantainya, pernak-perniknya, semua terasa asing. Lebih asing dari pertama kali perempuan muda itu menginjakkan kaki di dalamnya. Punya siapa kalian? Kenapa jadi aku yang harus jagain kalian? Perempuan berpashmina hitam itu bergumam dalam hati sambil menyentuh setiap benda yang dilaluinya.
Napas panjang keluar setelah Anila menjatuhkan diri pada sofa kulit hitam. Ditatapnya televisi layar lebar yang jarang ditonton pemiliknya. "Kasian kamu, nggak pernah ditonton sama yang beli kamu. Tahu gitu, mending tetep di toko aja, ya." Anila berbicara sendiri. Tangannya meraih remote di atas meja tepat di hadapannya. Ibu jarinya menekan beberapa tombol mencari saluran yang menyenangkan. Film komedi, tentu pilihan terbaik saat ini.
Menurut sebuah artikel, menonton film yang mengandung unsur komedi dapat mengurangi kecemasan, setidaknya itu yang Anila ketahui. Bener saja. Ajaib, tawa lepas bisa keluar, tetapi bersamaan dengan derai air mata yang menganak sungai. Sejak kapan Anila punya kemampuan mengeluarkan dua tipe emosi bertolak belakang di saat yang bersamaan.
Azan pertama berkumandang. Pertanda memasuki waktu sepertiga malam yang akhir. Artikel itu bohong, tontonan komedi hanya mengundang gelak tawa, bukan ketenangan.
Dingin yang menyentuh ujung-ujung saraf tangan dan kaki seketika mengembalikan fokus Anila. Saat dinginnya masuk ke dalam lubang pernapasan, membuat jalur menuju paru-paru tidak berpenghambat, oksigen lancar masuk ke dalam, menjadikannya rileks. Sejuknya membasuh wajah dan seluruh anggota tubuh seolah menarik Anila kembali pada realita. Tidak lari dengan mengalihkan pada sesuatu lain yang tidak berguna.
Anila menunaikan salat qiyamul lail, bermunajat memohon ilham yang baik tentang masalah yang tengah dihadapinya. Dia hanya butuh ketenangan untuk dapat berpikir jernih tanpa merusak sesuatu yang sudah dimulainya.
Salat yang dilanjut tilawah dan salat fajar. Sempurna mengembalikan kesadarannya. Semua emosi sudah habis terkuras bersamaan dengan menguapnya kalimat-kalimat doa pengharapan. Setiap kalimat surat cinta Sang Rabb, terasa dia sedang berbincang pada penulis skenario hidup. Berserah, pasrah, mengikuti arah ke mana Allah akan membawanya. Yakini, itulah yang terbaik bagi hidupnya.
__ADS_1
Tepat saat mengakhiri ritual, ponsel Anila bergetar. Sebuah pesan masuk dari Mas Rana, "Everything is okay. Don't worry. She needs me."
Perfect. Tawa sinis menghiasi bibir Anila. Pipinya kembali basah. Takdir sedang bermain-main dengan perasannya.
***
Perempuan muda itu sudah siap mengenakan kemeja flannel dan kulot seperti biasa. Hanya pashmina hitam belum menutup surai yang tergerai. Suara pintu terbuka kemudian menutup kembali, tidak menghentikan aktivitas yang tengah dilakukan di kamar.
"An, mau ke mana?" tanya suara berat yang baru saja memasuki kamar. Dia bertanya-tanya mengapa Anila mengemasi barangnya ke dalam sebuah koper besar. Koper yang sama saat memasuki rumahnya.
Napas masygul menjadi jawaban atas pertanyaan suara berat itu.
Perempuan yang dipanggil menghentikan sesaat aktivitasnya dan berpaling menilik muka pemilik suara berat itu. Wajah laki-laki itu kusut sekali. Dipastikan, dia kelelahan dan tidak tidur semalaman. Good. Setidaknya mereka memiliki satu kesamaan sekarang.
"Ke Jakarta. Nyelesein TA–Tugas Akhir," jawab Anila sekenanya seraya meneruskan aktivitas memasukkan baju ke dalam koper.
"Bawa bajunya, kok, banyak banget?" interogasi Ranala.
__ADS_1
"Biar cepet selesai," singkat Anila.
"Kan ngerjain di sini juga bisa. Lagian rumah kosong."
Perempuan berkemeja flannel itu menunda aktivitas mengemasi pakaiannya. Dia mengangkat kepala tidak gentar dan mendekati suaminya–Ranala, yang masih mematung di muka pintu.
Anila menghela napas berat melalui mulutnya, "Kadang aku mikir, kayaknya aku lebih cocok jadi penjaga villa dari pada istri, deh." Anila memperhatikan perubahan raut wajah Ranala begitu mendengar kalimatnya. "Aku cuma bisa jagain rumah, bukan jagain suami aku."
"An, please. We have already discussed it before." Ranala mengingatkan.
"Betul, Mas Rana pernah bilang, kalau Mas Rana menaruh hati pada dia." Anila tidak sudi menyebut nama itu. "Tapi itu masa lalu, Mas. Sebelum Mas jadi suami aku. Sekarang status Mas sudah sebagai suami aku. Jadi sudah seharusnya Mas Rana lebih mementingkan aku daripada dia."
"I'm still trying my best."
"O ya? Aku nggak ngerasa Mas Rana usaha untuk mencintai aku, atau pun mempertahankan rumah tangga kita. Aku, tuh, ngerasa kayak aku…." Anila tercekat tidak dapat meneruskan kalimatnya. Dia berusaha menahan isak yang ternyata mengakibatkan sakit pada lehernya. Anila coba mengatur napas sebelum melanjutkan. "...kayak aku lagi ngebangun rumah sendiri, terus … Mas Rana datang dan ngehancurin semuanya…."
"Viona bercerai," jelas Ranala memotong kalimat, berhasil membuat Anila membeku. "Viona gagal setelah 20 tahun lebih mempertahankan pernikahannya." Ranala menjelaskan lesu. "Bukan hal yang mudah mengingat 20 tahun kebersamaan, terlebih menyiapkan mental anak-anaknya. Aku minta tolong sama kamu, sekali lagi ngertiin aku. Aku nggak bisa ninggalin dia di saat terberat dalam hidupnya."
__ADS_1
Ranala maju mendekatkan tubuhnya pada Anila hingga tidak berjarak. Dia membenamkan gadis yang hanya setinggi dagunya ke dalam dekapan. "We'll be okay," yakin laki-laki itu. Seketika membuat Anila lupa dan ... menyerah patuh.
***