Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 35 - MENCINTAIMU DENGAN JUJUR


__ADS_3

"So, here I am," seru Anila dengan mengangkat kedua telapak tangan yang terbuka.


Anila dan Maliq, keduanya masih enggan bergerak pulang. Sebuah masjid besar di sebuah rest area jalan bebas hambatan menjadi persinggahan menjalankan ibadah tarawih.


Selepas menjalankan salat tarawih, keduanya beranjak ke sebuah rumah makan berkonsep outdoor. Pemandangan bebas menghadap ke jalan bebas hambatan, mempertontonkan hiruk pikuk kendaraan yang seolah berlomba menuju garis akhir.


Malam semakin pekat, angin bertiup kuat. Anila mempererat jaket parasut biru-abu yang membungkus jasad. Jaketnya yang selama lima tahun berada di tangan Maliq.


"Kamu menjaganya dengan sangat baik," kata Anila tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Hah?" tanya Maliq tidak mengerti.


"Jaket ini," singkat Anila dengan memperhatikan detail jaket parasut miliknya. Ujung-ujung jarinya membelai permukaan jaket. Kondisi jaket itu masih seperti awal saat dititipkan pada Maliq. Warna bahkan tekstur serat kainnya tidak berubah. Masih sama seperti yang Anila ingat kala itu.


Maliq membulatkan bibirnya membentuk huruf o tanpa suara.


"Jaket aja aku jaga. Apalagi orangnya," gurau Maliq, dan mendapat balasan cebikkan dari Anila.


"Nggak berubah kamu, masih suka gombalin orang," tuduh Anila.


Meskipun Anila tidak pernah mengetahui secara langsung Maliq melakukan hal itu pada perempuan lain selain dirinya. Jangankan merayu perempuan, jalan dengan perempuan saja tidak pernah dia lihat ataupun dengar. Maliq kelewat dingin atau seperti takut pada makhluk berjenis perempuan, kecuali dirinya dan Hauna. Itu pun jika dihitung, bahwa keduanya termasuk makhluk berjenis perempuan.

__ADS_1


Maliq ingin sekali mengelak tuduhan itu. Andai Anila tahu, dia seperti itu hanya pada perempuan yang saat ini dihadapannya. Mudah untuk membawa perasaan pada candaan, tetapi saat serius ingin mengatakan, rasanya ada batu besar yang menghalangi jalannya suara.


Berulang kali Maliq menarik napas panjang dan mengembuskan lewat mulut. Semua kata-kata begitu mudahnya meluncur, tetapi saat jujur mengutarakan apa yang dirasa mengapa menjadi begitu sulit.


"Terus, kenapa masih galau? Katamu, sekarang semua hanya tentang kamu?" Maliq mengalihkan kecanggungan yang hanya dirasakannya sendiri.


"Mas Rana minta aku ketemu Papi, karena …," jeda Anila.


Maliq merubah posisi tubuhnya menyamping menghadap Anila. Dia yakin ada sesuatu mendesak yang mengganggu pikiran Anila.


"... Papi sakit. Kanker darah." Sebulir bening meluncur dari ujung mata Anila. Anila tercekat untuk meneruskan ceritanya. "Pengobatan yang paling mungkin adalah kemoterapi. Tapi kondisi Papi masih lemah, dokter belum berani melakukan tindakan. Saat ini dokter konsentrasi menstabilkan kondisi Papi dulu." Anila terisak saat menyelesaikan kalimatnya. Dia menutupi muka dengan kedua telapak tangan untuk meredam suara isaknya.


Maliq terpaku mendengar penjelasan perempuan yang sedang berusaha mengendalikan diri di sampingnya. Maliq memberi waktu Anila dapat meluapkan emosi. Hingga akhirnya perempuan berjaket parasut itu kembali membuka telapak tangan yang sedari menutupi wajahnya. Anila sudah mulai dapat menguasai segala emosi dalam diri.


Maliq mengumpulkan seluruh keberanian, sekalipun taruhannya persahabatan mereka. "An, kamu … nggak ada niat untuk melepasnya?"


"Hah?" Anila mengalihkan pandangan pada sebuah benda yang sedang dilihat Maliq. "Oh, ini?" tanya Anila menunjukkan cincin emas putih yang melingkar pada jari manisnya.


Anila mengangkat bahu. "Lima tahun ini aku udah berubah jadi orang yang sangat mencintai diri sendiri. Aku terlalu melindungi diri sendiri dari segala rasa sakit yang mungkin timbul dari sebuah hubungan lama atau bahkan baru. Jadi, aku sendiri nggak bisa jawab kapan aku siap melepasnya."


"Tapi kalau ada orang yang bersedia ngebantu kamu untuk mencintai diri kamu, melindungi diri kamu dari segala kemungkinan rasa sakit yang mungkin timbul karenanya, gimana?" telisik Maliq.

__ADS_1


"Tahu dari mana dia nggak bakal nyakitin aku? Aku, kan, nggak bisa baca pikiran orang."


"Tapi aku bisa. Aku bisa baca pikirannya," sanggah Maliq.


Anila mengernyitkan alis hingga timbul garis diantara kedua alisnya, sembari menjauhkan posisi duduk dari sahabatnya. Maliq bisa baca pikiran orang lain? sejak kapan? apa sekarang dia sedang membaca pikiranku?


Maliq melihat gestur Anila yang seolah takut padanya, berusaha meluruskan maksud perkataanya. "Aku bisa baca pikirannya, karena orang itu adalah aku."


Anila mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Maliq? Maliq mau mencintainya, mau melindunginya?


"Sejak kapan?" tanya Anila sedatar mungkin meskipun hatinya bergemuruh kencang sekali. Andai suasana jalan tidak ramai lalu lalang kendaraan, Anila yakin, Maliq dapat mendengar gemuruhnya.


"Sejak awal aku mulai dekat kamu. Perasaan ingin melindungi itu nggak pernah bisa aku lawan."


Sudah selama itu? Kenapa baru sekarang? Kenapa saat semua sudah rumit seperti ini? Kenapa saat semua bukan hanya tentang aku dan kamu, tetapi ada dia dan mereka. Mereka yang harus aku jaga. Gemuruh itu kini berubah menjadi sesak yang menghimpit dadanya. Dadanya sakit saat mengetahui bahwa pikirannya salah. Selama ini menganggap cintanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata tidak.


"Aku … aku hanya … ingin mencintaimu … dengan jujur," ungkap Maliq hati-hati.


Perempuan muda itu bangkit menjauh, memalingkan muka dari laki-laki yang kini berada di belakang punggungnya. Air mata kembali menjejaki pipinya, air mata yang Anila sediri tidak tahu apa artinya. "Aku capek, aku mau pulang."


...***...

__ADS_1


...**Duh** ... Makin kompleks aja, ya. ...


...Kalian tim mana? Anila-Maliq atau Anila-Ranala?...


__ADS_2