
Dua kali Maliq mengirim pesan pada Anila. Hanya sekedar mengingatkan waktu salat Dzuhur dan Ashar. Namun keduanya tidak ada balasan. Jangankan balasan, dibaca saja pun tidak. Sesibuk itukah dia?
Sebelum jam keluar kantor Anila, Maliq mampir untuk mengirimkan makanan berbuka. Kolak pisang dan Soto Bandung. Semoga Anila suka. Seingatnya, Anila tidak ada pantangan makanan.
"Permisi, Mbak. Mau titip ini untuk Mbak Ristanila. Terima kasih." Maliq langsung berbalik hendak meninggalkan meja resepsionis.
"Maaf, Mas," panggil seseorang dari meja resepsionis. Membuat Maliq urung pergi.
"Ya, kenapa, Mbak?"
"Mbak Anila nggak masuk hari ini. Kata asistennya sakit" jelasnya.
"Sakit?" tanya Maliq heran. Sakit apa? Tadi pagi mereka baru berbincang melalui telepon. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Anila sakit.
"Iya, Mas. Dua rapat di-reschedule karena Mbak Anila nggak masuk hari ini," tambahnya.
Anila sampai mereschedule rapat? Bukan Anila banget. Pasti ada sesuatu. "Oke, Mbak. Makasih."
Tanpa berpikir panjang, Maliq menuju apartemen Anila. Sebelum berangkat Maliq menyempatkan menghubungi Anila kembali. Sia-sia. Puluhan telepon dan pesan tidak mendapat tanggapan Anila. Ya Allah, ke mana kamu, An? Jangan sekarang Ya Allah. Jangan saat aku baru menemukan dia. Maliq mengulang-ulang doa di atas motornya.
Perjalanan yang biasa dilalui kali ini terasa begitu lama. Lampu lalu lintas di setiap persimpangan seolah kompak memperlambat laju. Sebisa mungkin Maliq berbelok, masuk, menyusup sekecil apa pun celah yang ada. Menembus kemacetan menjelang jam berbuka. Secepat dia bisa menuju apartemen Anila.
Maliq tidak mendapat bantuan sama sekali dari resepsionis apartemen. Mereka mencoba menghubungi Anila, tapi nihil. Tidak ada jawaban.
"Lewat interkom saja, Mas," sarannya.
Lama, tidak ada jawaban. Maliq modar-mandir saking gelisahnya. Mulai menyerah dan hilang kesabaran, Maliq menjauhi interkom menuju resepsionis. "Mbak, bisa bantu saya naik? Saya khawatir, nih, Mbak. Takut ada apa-apa. Dari siang saya udah hubungin dia," bujuk Maliq.
" Maaf, Mas. Kita nggak bisa kasih akses untuk ...,"
"Maliq?" Anila menjawab interkom. Maliq langsung meninggalkan resepsionis tanpa menunggu tuntas penjelasannya.
Ada perasaan lega melihat wajah Anila meskipun hanya melalui interkom. "Tunggu, aku ke situ," pinta Anila.
Maliq mengangguk. Maliq berusaha menenangkan diri dengan mendudukkan tubuhnya. Namun gestur kaki yang terus bergoyang tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Lift terbuka, Anila keluar dari dalamnya. Mengenakan setelan berbahan kaus. Kulot panjang dan atasan lengan sesiku. Rambutnya diikat asal ke atas. Gaya rambut Messy up Bun. Itu yang Maliq tahu dari teman-teman di kantornya.
Tanpa memedulikan sekitar. Maliq berlari ke arah Anila yang berjalan dengan langkah gontai.
"An …," sapa Maliq. Kalau saja mendekapmu dihalalkan, ingin kukumpulkan kau dalam dadaku, An. Poni dan anak rambut yang jatuh tidak beraturan ke wajah Anila membuat Maliq ingin merapikannya. Namun urung. Dia harus bisa menjaga diri dari menyentuh perempuan yang bukan haknya.
"Udah buka?" tanya Anila tiba-tiba membuyarkan lamunan Maliq.
"Be ... belum?" jawab Maliq sedikit bingung. Bukankan azan Maghrib belum berkumandang?
Allahuakbar … Allahuakbar …
__ADS_1
"Buka di sini saja, ya. Udah azan," tawar Anila.
Maliq mengikuti berjalan di belakang Anila dalam diam. Menahan sebisa mungkin pertanyaan, Kamu kenapa?
Anila berhenti di muka sebuah pintu sebelum membukanya. "Hm … Tapi maaf apartemennya berantakan," ucap Anila sebelum membuka pintu apartemennya.
Maliq mengangguk. Tidak masalah, bukan, kalau rumah atau kamarmu sedikit berantakan.
Namun, "Astagfirullah, An. Kamu habis ngamuk?" Maliq tidak dapat menyembunyikan kekagetannya. Buku, baju, pajangan, hingga pernak pernik yang sebagian Maliq tidak tahu apa namanya. Semua tidak pada tempatnya. Tergeletak begitu saja secara acak di lantai. Secara kasar, bisa dibilang ruang ini seperti … habis terkena dampak gempa bumi.
Anila tidak menjawab, hanya membalas dengan senyum seraya berkata, "Kamu ngapain ke sini, sih?" Anila mengalihkan pembicaraan.
"Aku ke kantor kamu, katanya kamu sakit. Salah sendiri ditelfon nggak diangkat. Bikin orang khawatir aja."
Khawatir? Bukan … mungkin lebih pada takut. Ya, kata itu yang paling mewakili perasaan Maliq beberapa menit yang lalu. Takut kehilangan … lagi.
"Nih." Maliq menyodorkan keresek putih berisi makanan untuk berbuka.
"Besok-besok nggak usah kirim-kirim lagi," kata Anila seraya membuang nafas keras.
Kenapa, An? Padahal itu satu-satunya caraku untuk tetap merasa dekat denganmu. "Iya, lah. Bisa habis juga gaji aku kalau tiap hari traktir kamu," canda Maliq menutupi kekecewaannya.
Lagi-lagi Anila hanya membalas dengan senyum kecil. Tidak ada sanggahan.
"Duduk." Anila memerintah sambil menunjuk sofa. Maliq menuruti, sambil tak lepas memandang Anila yang sedang menyajikan makanan berbuka dalam diam. Bahkan, saat mulai berbuka pun, keduanya masih saling hening.
"Kamu habis makan, tarawih di masjid aja, ya," pinta Anila. Maliq tahu ini cara Anila mengusirnya. Baiklah, sepertinya lebih baik seperti itu. Mungkin Anila butuh waktu sendiri saat ini.
"Iya," jawab Maliq singkat. "Tapi ... kamu baik-ba …." Akhirnya Maliq tidak dapat menahan pertanyaan yang sedari tadi ada di ujung lidahnya. Memastikan kondisi Anila. Meski Maliq hampir yakin dengan jawaban Anila.
"Apaan sih? I'm Oke," potong Anila cepat dengan senyum kecil yang tampak dipaksakan. Jawaban yang sudah Maliq duga. "Dah, yuk, aku antar." Anila sedikit memaksa Maliq pergi.
Maliq pun tidak dapat menahan dirinya lebih lama di sini. Kendati cemas masih menggelayuti hati dan pikirannya.
Maliq mengambil tas yang diletakkan di kursi, kemudian mengekor Anila. Tanpa diduga, Anila berbalik dengan cepat hingga adu tubuh tak terelakan. Tubuh Anila dan Maliq tidak berjarak kini.
Maliq bisa mencium wangi rambut Anila sepersekian detik. Astaghfirullah. Sontak Maliq bergidik mencoba menghindar.
Bukan menjauh, Anila malah makin mendekatkan tubuhnya. Hingga hangatnya terasa. "Sebentar saja, Mal. Please," pinta Anila lirih.
Maliq bingung harus berbuat. Merasakan tangan Anila yang kini melingkar ditubuhnya. Timbul dorongan lain, dorongan membenamkan Anila lebih dalam. Berharap dapat menyerap semua sedihnya. Maliq membelit Anila dengan lengannya. Bukan mereda, kini isaknya merubah menjadi derai yang tidak dapat dihentikan.
Kamu kenapa, An?
...***...
Lama. Hingga sekujur badan Maliq terasa kaku. Namun, Maliq rela kalau perlu semalaman agar reda sedihnya. Derai Anila melemah, bersamaan dengan melonggarnya sabuk tangan yang melingkar pada tubuh Maliq. Anila menjauhkan tubuhnya dari Maliq, "Maaf," katanya dengan sisa isak.
__ADS_1
"Yuk," Anila mengambil kunci dan menuju pintu. Meneruskan tujuan awal mengantarkan Maliq pulang.
"Aku turun sendiri aja nanti," kata Maliq. "Kamu kelihatan capek. Masuk kamar, gih. Salat dulu, terus tidur." Pintu apartemen Anila menggunakan smart door lock. Tanpa kartu, kunci, atau PIN tidak akan bisa terbuka dari luar. Sehingga Maliq bisa meninggalkan apartemen, tanpa harus menguncinya demi keamanan Anila.
Namun, tidak mungkin Maliq meninggalkannya saat seperti ini. Setidaknya dia perlu rasa tenang. Tenang untuk mengetahui bahwa Anila sudah lebih baik. Kendati dia masih belum mau menceritakan masalahnya.
Anila mengangguk dalam kepalanya yang semakin dalam terbenam. Berlalu melewati Maliq, dan masuk ke dalam satu-satunya kamar di ruang apartemen itu.
...***...
Maliq duduk di sofa sambil memandang berkeliling. Maliq membayangkan Anila hidup seorang diri di sini. Bukan hal besar memang. Namun, hidup di kota besar sendiri? Bagaimana selama ini Anila melalui hari-harinya?
Sedikit demi sedikit Maliq mengumpulkan buku yang masih berserakan di lantai. Menyusun satu persatu di tempat yang menurutnya sesuai. Menaruh beberapa pajangan di rak yang masih kosong.
Memungut beberapa kertas dan menggabungkan dalam kardus yang ditemuinya. Maliq tidak tahu mana kertas yang masih terpakai mana yang tidak. Sehingga hanya merapikan tanpa membaca satu persatu. Hingga ada satu kertas yang menarik perhatiannya. Kertas dengan tulisan tangan dan bermaterai.
...SURAT PERJANJIAN...
...Saya yang bertanda tangan di bawah ini :...
...Nama : Ranala Raia Danalaga...
...Tempat/ Tanggal Lahir : Bandung, 17 Mei 1980...
...Dengan ini menyatakan menyesal dan tidak akan melakukan perselingkuhan yang akan menyakiti hati istri saya. Apabila dikemudian hari saya melakukan kesalahan yang sama, maka secara otomatis jatuh talak pada istri saya yang bernama Nodya Ayu Ristanila....
...Demikian surat perjanjian ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan....
...Yang membuat pernyataan,...
...(Ranala Raia Danalaga)...
...Mengetahui,...
...Saksi 1 Saksi 2...
...Adrian Danalaga Rachmadi, S.H....
...***...
Anila.... Maliq menatap nanar pada pintu. Pintu pembatas keberadaan dirinya dan Anila.
...***...
...Terima *****kasih***** yang sudah baca sejauh ini....
...InsyaAllah ke depannya akan lebih banyak insight yang bisa diambil. Semoga bermanfaat....
__ADS_1
...🥰🥰🥰🥰🥰...