
Kali ini Ranala memutar tuas gas hingga maksimal. Tidak lagi peduli pada dingin yang menembus kulitnya, atau perempuan yang ketakutan di boncengannya. Beberapa jalan berlubang tidak membuatnya mengurangi kecepatan, hingga berulang kali motor itu seolah hendak terbang melayang dari jalanan aspal.
Perempuan bergamis di belakang sang pria pun diam seribu bahasa. Tidak berani menyela atau sekadar mengingatkan tentang keselamatan. Tidak ada gunanya, batinnya. Seerat-erat dia bisa, dilingkarkannya lengan pada pinggang Ranala seraya terus melafalkan doa sebisanya, memohon keselamatan.
Laki-laki berjaket itulangsung berlari begitu motor terparkir. Dia bahkan tidak menunggu dan mempedulikan perempuan yang tengah diboncengnya. Ranala langsung meninggalkan perempuan yang belum selesai melucuti helm itu sendiri di pelataran parkir.
Langkah panjang kaki Ranala sulit diimbangi Anila. Namun, selama punggung Ranala masih terlihat, Anila tetap berusaha menuju ke arah yang sama.
Tepat sesaat setelah berbelok ke kiri di persimpangan kedua, Anila melihat seorang pria tinggi besar sedang didekati Ranala. Satu detik kemudian Ranala tak acuh pada kalimat si pria tinggi besar yang belum selesai. Ranala berlari meninggalkan si pria.
"Mas Dani!" panggil Anila begitu sampai pada pria bertubuh tinggi besar itu. "Papi kenapa?"
"Dani nggak tahu, Mbak. Papi tiba-tiba sesak nafas," jelas Dani panik. "Barusan dicek saturasi oksigennya cuman 70%," tambahnya.
Pasti Hemoglobin Papi turun lagi, pikir Anila. Sel darah yang mengangkut oksigen mengalami penurunan jumlah, sehingga supply oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi. Itu yang menyebabkan otak memerintah sistem pernafasan menghirup sebanyak mungkin oksigen dari lingkungan.
"Mbak Anila!" teriak perempuan yang berjalan dengan kaki sedikit mengangkang. Perutnya yang semakin turun memaksanya berjalan demikian.
"Mbak Anna." Anila segera berlari ke arah adik iparnya. Meminimalisir pergerakan adik iparnya yang sudah memasuki usia kandungan lebih dari 36 minggu.
Perempuan berjaket rajut selutut itu segera memeluk Anna. Menuntunnya untuk duduk di bangku terdekat dengan posisi mereka berada.
__ADS_1
"Papi, Mbak," isak Anna. "Papi tadi tidur terus. Kita pikir karena kelelahan. Tiba-tiba dadanya terangkat seperti ingin mengambil nafas tapi kesulitan. Mas Dani langsung minta tolong tetangga untuk gotong Papi ke mobil, karena Papi udah nggak bisa jalan. Ternyata saturasinya cuma 70%. Kata dokter kita terlambat, Mbak. Dokter takut supply oksigen ke otak terlambat. Itu bisa fatal, Mbak." Raungan Anna semakin menjadi, mengisi gema di dinding rumah sakit. "Anna salah, Mbak."
"Mbak…Mbak…Mbak Anna, tenang! Mbak Anna sudah berbuat sangat cepat dalam menangani Papi. Papi sudah ditangani, insya Allah baik-baik saja. Dia akan melewati ini semua. Mbak hanya perlu doakan, ya." Anila berusaha menenangkan perempuan yang tampak mulai bisa menguasai dirinya.
"Mas Dani, titip Mbak Anna dulu, ya." Anila memberi tempat duduknya pada Dani untuk dapat mengambil alih Anna.
"Aku ke dalam dulu," pamit Anila mengikuti petunjuk arah menuju ruang IGD.
Di balik tirai hijau muda yang sedikit terbuka, Anila melihat Mami dan Ranala di baliknya. Mami sedikit mundur untuk memberi tempat duduknya pada anak laki-laki satu-satunya itu. Ranala tengah memegangi tangan Papi yang terkulai lemas. Dikecupnya punggung tangan laki-laki paruh baya yang bebas dari selang infus berulang-ulang sembari di usap perlahan. Berharap ada reaksi dari Papi.
Ranala dan Papi, sosok dua laki-laki yang sama-sama keras. Namun, jauh di dalam hati, mereka saling terpaut satu sama lain. Seperti yang Anila saksikan malam itu. Betapa terpukulnya suami yang sering beradu argumen dengan Papi saat melihat ketidakberdayaan sang ayah kandungnya. Raut sedih dan menyesal tergurat jelas, pada mata yang tidak berhenti menatap laki-laki yang berusaha bernafas melalui selang oksigen.
"Mas, apa kata dokter?" tanya Anila saat Ranala meraih tangan perempuan yang berusaha menguatkannya itu.
"Dokter baru mengambil sampel darah Papi. Kemungkinan hemoglobinnya rendah lagi, karena itu Papi lemas." Ranala berbisik, berharap Papi tidak mendengar perbincangan mereka. Benar berarti dugaan Anila. Selama ini Papi memang sangat tergantung pada transfusi darah. Setelah menerima donor, biasanya Papi kembali segar. Namun tidak bertahan lama, Papi akan kembali terkulai lemas setelah beberapa waktu.
"Kita siap-siap ke PMI kalau memang Papi butuh transfusi. Karena di sini tidak ada stok."
Anila mengangguk pasti. "Ya, kita stand by di sini dulu sambil menunggu perkembangan Papi."
"Rana," panggil Papi lirih, tetapi langsung membuat Ranal berdiri mendekatkan telinganya pada bibir Papi.
__ADS_1
"Haus." Secepat kilat Ranala mengambil botol air mineral di sisi tempat tidur. Memasukkan sedotan untuk memudahkan Papi meneguk isinya.
"An, Papi masuk rumah sakit lagi," keluh Papi sambil bersusah payah membuka matanya. "Makanannya nggak enak," lanjutnya. Dalam keadaan lemah seperti itu pun Papi masih bergurau mencairkan suasana.
Anila terkekeh kecil menghibur Papi, meyakinkan bahwa gurauannya masih lucu. Perempuan mudah itu berbisik pada Papi, "Nanti Anila bawakan rawon, ya. Tapi jangan sampai ketahuan suster." Tidak lupa Anila memberikan kerlingan mata pada Papi. Seolah-olah itu merupakan rahasia mereka berdua.
Papi mengangkat jempol sambil menampilkan tawa lebar kendati masih lemas. Kemudian kembali terpejam. Papi sudah melewati masa kritisnya. Nafas dan denyut jantungnya pun sudah normal.
"An, antar Mami dan Anna pulang. Kasihan mereka, di sini nggak ada tempat istirahat. Nanti saja ke sini lagi kalau Papi sudah dapat kamar inap. Biar Rana dan Dani di sini yang menjaga Papi," pinta Papi perlahan dengan mata yang masih tertutup.
Anila melirik ke arah Ranala meminta izin yang kemudian diiyakan dengan anggukan. "Ayo, Mi," ajak Anila.
Saturasi oksigen Papi sudah naik mendekati normal karena bantuanh oksigen. Papi juga sudah tertidur pulas dengan dengkuran halus khasnya. Melihat Papi sudah tenang, Mami baru mau diajak untuk pulang.
Saat itu pukul tiga dini hari. Jalanan kota Jogja begitu sepi, terlebih saat memasuki perkebunan salak yang harus dilewati. Gelap. Satu-satunya penerangan hanya lampu mobil yang mereka kendarai, tidak ada kendaraan lain. Tiba-tiba ponsel Anila berbunyi, sebuah pesan masuk dibacakan oleh Anna, "Kabari kalau sudah sampai, ya, Sayang." Pesan dari Ranala yang berakhir dengan ledekan Anna. "Cie, yang udah sayang-sayangan."
Wajah Anila memanas di tengah dinginnya udara dini hari Sleman. "Sini-sini, ah." Anila merebut ponsel yang sedang di pegang Anna. Khawatir akan ada pesan susulan yang akan semakin membuatnya tersipu.
"See u, Darl. Miss you already." Benar saja sebuah pesan susulan sampai di ponselnya. Pesan yang membuat Anila berkuduk geli dibuatnya.
***
__ADS_1