Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 48 - NGOPI DI ATAS AWAN


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak kepergian Papi. Kali pertama kehilangan bagi Anila dan Ranala dari lingkaran terdalam. Tidak hanya mengukir rindu dan sedih yang tertanam, tetapi juga ribuan pesan. Bahwa hidup tidaklah kekal. Senang, sedih, sakit, semua akan menuju pada kata selesai. Lalu, untuk apa memperjuangkan mati-matian sesuatu yang tidak akan dibawa pulang?


Perempuan yang sudah meniti karir sejak nol hingga puncak, kini memutuskan menanggalkan. Bukan perkara mudah memang, mengingat waktu dan perjuangan yang sudah banyak diberikankan. Melakukan hal-hal yang hanya Allah senang, hanya itu saja fokusnya sekarang. Termasuk mendampingi suami dalam duka dan riang.


"Mas," panggil Anila membuat Ranala mengerjapkan mata beberapa kali, seolah sedang menarik jiwa kembali pada raga. Sedari tadi pandangan Ranala tidak lepas pada rumah industrial vintage, rumah yang telah ditempati dalam sepuluh tahun terakhir.


"Sudah semuanya?" Anila meyakinkan seluruh barang terakhir yang tersisa di rumah itu sudah sepenuhnya diangkat.


Ranala mengangguk berat. Anila paham betul rasanya meninggalkan sesuatu yang dapat dikatakan sudah menyatu. Melepaskan yang merupakan hasil jerih payah dengan keringat dan darah. Berat, tetapi tidak ada lagi preferensi.


"Yuk," ajak Ranala yang masih enggan lepas menatap rumah. Hingga mobil box berbelok dan menghilangkan citra rumah maskulin di balik bangunan lain.


Anila mengusap punggung tangan Ranala. Menegarkan laki-laki yang kini menatap tangan pada pangkuan. Usapan tangan Anila di balas genggaman Ranala seolah menerima aliran positif yang diberikan.


"Kita akan menulis cerita baru di tempat baru. Tenang saja, ceritanya akan tetap seru," ujar Anila sambil menatap pasti pada Ranala.


Senyum lega sudah tertoreh di wajah maskulin Ranala. Setidaknya masih ada yang percaya padanya. "Satu lagi," katanya.


"Ya, satu langkah lagi. Mas pasti bisa. Kita pasti bisa. Innallaha ma'ana." Perkataan dan senyum Anila meyakinkan suaminya, bahwa dia tidak sedang berjuang seorang sendiri.


***


"Dengan berat hati, saya harus merelakan cabang Bandung diambil alih langsung oleh pusat. Mungkin teman-teman juga sudah tahu dari rumor yang beredar. Kebenaran berita tersebut memang betul. Saya terpaksa mengundurkan diri. Teman-teman silakan bersiap, tetap akan ada seleksi dari pusat untuk pengurangan pegawai untuk penghematan. Tapi, teman-teman jangan khawatir. Rezeki bukan dari saya, bukan dari perusahaan. Kami hanya perantara. Rezeki itu tetap datangnya dari Allah. Terus perbaiki kualitas diri, Insya Allah di sini atau di luar, teman-teman akan makin bersinar."


Gemuruh tepuk tangan memenuhi lobi kantor Ranala. Anila menepuk punggung Ranala pertanda bangga pada keputusan berani yang diambil suaminya.


Ranala menyalami semua pegawai yang sudah mengabdi bertahun-tahun padanya. Pelukan erat diterima Ranala sebagai bentuk kedekatan yang sudah terjalin sekian lama. Anila mengekor mengikuti laki-laki yang tidak dapat menahan aliran air matanya yang terus keluar kendati dia terus mengusap guna meninggalkan jejak.


"Mbak Anila. Erni kangen sama Mbak." Pegawai front office yang sering menjadi teman bicara Anila dulu langsung memberondong Anila dengan pelukan. "Erni minta maaf, Erni banyak salah sama Mbak. Mbak Anila yang kuat, ya. Pokoknya Erni akan terus ada di pihak Mbak Anila." Erni terus bicara tidak bisa dihentikan, bahkan tanpa menunggu reaksi balasan Anila.


"Mbak…Mbak Erni," panggil Anila sambil menaruh telunjuk pada bibirnya. Pertanda Erni harus menyudahi bicaranya yang tidak tahu waktu dan tempat. Khawatir Ranala atau pegawai lainnya mendengar.


"Maaf, Mbak," ucap Erni lirih. "Pokoknya, Mbak Anila jangan pernah tinggalin Pak Rana lagi, ya. Erni nggak rela kalau Pak Rana sama perempuan itu lagi." Kali ini Erni bisa mengontrol volume suaranya.


"InsyaAllah, Mbak Erni. Selama Mas Rana masih mau sama saya," gurau Anila.

__ADS_1


Erni memberikan isyarat tangan mengepal, seraya bicara tanpa suara, "Fighting!"


Anila pun membalas dengan gestur yang sama.


***


"Alhamdulillah, semua hutang sudah lunas, An," ucap Ranala lega saat keluar dari sebuah bank swasta yang ada di jalan Dago.


"Alhamdulillah," syukur Anila.


"Tapi sisanya cuman tinggal segini," keluh Ranala seraya memperlihatkan buku tabungannya. "Kita nggak akan bisa beli rumah di kota lagi, kayaknya."


"Emang siapa yang suka tinggal di tengah kota?" Anila memberikan pertanyaan retoris. "Kalau aku, sih, lebih suka dengan keheningan, jauh dari keramaian dan segala hiruk pikuk. Tempat di mana kita bisa menyepi… tapi tidak sendiri." Anila menunjukan deretan gigi-giginya.


"Ah, Mas tahu. Cepat pakai helm-nya!" perintah Ranala seraya menghidupkan motor matic miliknya. Satu-satunya kendaraan yang mereka punya sekarang.


"Sebenernya kita mau ke mana, sih, Mas?" tanya Anila saat motor sudah melaju jauh meninggalkan kota. Bahkan sudah jauh melewati batas kota.


"Pokoknya, kamu pasti akan suka," seru Ranala antusias.


"Ini dia." Ranala menunjuk pada sebidang tanah di puncak bukit. Pemandangannya menghadap kota, jalanan, dan pepohonan dilihat dari sisi atas. Ya, yang terlihat dari ketinggian itu hanya atap-atap pemukiman dan gedung, liuk jalanan, serta pucuk pepohonan yang terlihat begitu jauh, tetapi indah. "Kalau pagi, pemandangan itu akan tertutup awan. Jadi kita akan ngerasa lagi di atas awan," jelas Ranala. "Gimana, suka?"


"Suka…" Tentu saja Anila si pecinta alam sangat menyukai pemandangan di depannya. Hanya saja, setelah suka, lalu apa?


"Oke, wait." Ranala mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menekan sejumlah rangkaian nomor dan berbicara dengan seseorang di seberang seraya berjalan menjauhi Anila.


***


Sebuah bangunan mungil dua lantai berdiri di puncak bukit, jauh di luar kota dan keramaian. Paduan material kayu dan semen ekspos saling mengisi gelap dan terangnya. Kursi-kursi jati kuno memuati beberapa sudut di dalamnya. Selebihnya tersebar di pelataran yang menghadap pemandangan kota dan pucuk pepohonan dari atas.


Saat pagi di musim kemarau, pemandangan itu akan tertutup awan. Sehingga menghadirkan sensasi ngopi di atas awan, begitu kata Ranala. Kata-kata yang mengingatkan Anila pada Maliq yang selalu menginginkan mengajak perempuan itu ngopi di atas awan.


Itulah warung kopi sekaligus tempat tinggal Anila dan Ranala sekarang. Keduanya saling melengkapi dan mengisi di sana, berdua.


Mal, sekarang hampir setiap pagi aku bisa ngopi di atas awan. Dua hal sekaligus yang bisa menumbuhkan semangat menjalani hari, makna hadirmu dan kopi. Hadirmu yang selalu mengingatkanku akan mencintai dengan ikhlas. Terus saja memberi, tanpa menuntut menerima. Karena balasan manusia tidaklah seberapa. Anila menyesap kopinya sambil menikmati hadiah pemandangan indah.

__ADS_1


"An, jadi hari ini ngajar?" tanya Ranala yang tiba-tiba duduk di sisi Anila. Menikmati hari kerja yang justru menjadi hari liburnya.


"Jadi, Mas. Habis ini berangkat," jawab Anila seraya mengangkat gelasnya. "Oh, ya. Catatan belanjaan? Sekalian ke kota, bisa sekalian belanja."


"Aku WA, ya."


Dengan inner dress hitam, dan luaran tunik kotak-kotak yang dibiarkan terbuka kancingnya, Anila tidak hanya terlihat cantik, tetapi anggun dan tangguh bersamaan. Sangat menggambarkan pribadi Anila. Sosok riang itu sudah siap pergi membantu mengisi kelas di Sequba-Sekolah Quran Balita.


Bukan karena hidup Anila sempurna sehingga dia bersedia membantu dan membahagiakan orang lain. Hanya dia memilih cara itu untuk menyembuhkan lukanya, berharap dengan dia membantu orang lain maka Allah sendiri yang akan mengobati sakit dan sedihnya.


***


"An, Mas mimpi Papi. Hari ini juga kita ke makam." Ranala yang tertidur di kursi tiba-tiba terhenyak dan berteriak demikian. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Ranala sangat ngotot pergi ke Sleman hari itu juga, tempat di mana Papi dimakamkan.


"Pi, maafin Rana yang baru datang lagi. InsyaAllah Rana akan terus doain Papi," lirih Ranala berbisik pada batu penanda keberadaan makam Papi yang rata dengan tanah. "Sekarang Rana dan Anila pamit pulang, ya," izin Ranala. "Yuk, An," ajak Ranala merangkul punggung Anila untuk berbalik.


"Sebentar, Mas. Aku mau bicara sama Papi dulu," pinta Anila yang diaminkan oleh Ranala. Anila berjongkok dekat batu penanda sementara Ranala tetap berdiri menunggu. "Pi, Insya Allah Anila akan menjalankan amanah Papi. Anila akan menceritakan tentang Papi ke cucu Papi." Anila mengelus perutnya.


"An," panggil Ranala kaget.


Anila mendongakkan kepalanya hingga bertemu mata Ranala yang membulat.


"Ya, Mas. Papi mau punya cucu."


***


TAMAT


Alhamdulillah, Anila Untuk Anala sudah tamat.


Terima kasih sudah membaca hingga akhir. Semoga ada hikmah yang diambil. Mohon maaf author ucapkan bila ada hal-hal di luar ekspektasi kalian. Karena keikhlasan memaafkan-lah yang ingin author garis bawahi.


Terus semangat untuk teman-teman yang sedang diuji. InsyaAllah apa pun bentuk ujiannya, tujuan Allah hanya satu. Ingin kita hanya meminta dan mendekat padaNya. Itu saja.


Kalian lebih kuat dari apa yang kalian kira. Sesedih apa pun, kalian akan baik-baik saja. Percayalah!

__ADS_1


Sampai ketemu di karya author ASA selanjutnya. 


__ADS_2