
Detik berikutnya adalah detik yang menyiksa bagi Anila. Menyiapkan diri bertemu dengan Ranala sama halnya menyiapkan diri untuk melakukan sebuah presentasi besar. Mungkin keadaan tidak semenegangkan ini bila tidak ada Mami apalagi Papi. Anila hanya tidak ingin menambah beban pikiran Papi melihat ketidakharmonisan yang kentara di depan mata. Terlebih kondisi kesehatan Papi yang kian menurun akibat kanker darah yang dideritanya.
Berkali-kali Anila menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan demi menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Kadang terlampau cepat, kadang seperti berhenti berdetak. Semua serba kacau.
"Assalamu'alaikum," salam suara bariton bersamaan dengan suara pintu terbuka.
Sesaat Anila berhenti bernafas mendengar suara yang familiar bagi gendang telinganya. Ada rindu sekaligus nyeri yang menyelusup masuk ke dalam dadanya. Namun, rasa nyerinya lebih mendominasi, sehingga membuat Anila enggan untuk sekadar beramah tamah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anila terpaksa, mengingat kewajiban menjawab salam. "Aku bangunin Papi dulu," lanjut perempuan dengan kerudung hitam segiempat yang diikatkan ke leher itu. Saat ini menghindar lebih baik untuk kondisi jantungnya. Jantungnya jelas membutuhkan penyesuaian untuk bisa diajak bekerjasama.
Ranala mengangguk pelan sembari terus memperhatikan punggung yang berjalan menjauh, bahkan sebelum sempat menyadari perubahan penampilan Anila sejak terakhir mereka bertemu di muka rumah Papi beberapa hari lalu.
"Rana, anak Papi. Sudah ketemu Anila?" sapa Papi disambut dengan uluran tangan Ranala menggenggam tangan kanan laki-laki paruh baya itu. Sementara pada lengan kiri Papi masih melingkar tangan Anila yang menatih Papi sejak keluar dari kamar.
"Sudah, Pi," jawab Ranala langsung memalingkan pandangan pada perempuan yang berada di samping Papi.
__ADS_1
Anila yang menyadari setiap gerak geriknya diikuti oleh netra Ranala mulai jengah. Dia beranikan membalas tatapan itu setajam dia bisa. Apa lihat-lihat? batin Anila. Anila menyerah, percuma adu tatap tidak akan mengalihkan perhatian Ranala. "Anila siapkan makanan dulu, ya, Pi," izin Anila sopan pada Papi. "Permisi!" lanjutnya ketus saat lewat di depan Ranala dulu.
Anila pergi meninggalkan Papi dan Ranala hingga tidak terdengar perbincangan keduanya. Tangan perempuan berkerudung hitam dengan sweater abu-abu gelap itu mengepal hingga memutih warnanya. Rahangnya mengeras menahan amarah. Ngapain, sih, ngeliatinnya gitu amat. Nggak inget apa gimana dia memperlakukan aku dulu? Sok nggak ada salah, runtuk Anila dalam hati.
Sepanjang makan berbuka, Anila lebih banyak makan dalam diam. Sesekali menjawab pertanyaan Papi tanpa menimpali dengan pertanyaan lain. Apalagi bertanya pada Ranala, sama sekali tidak ada minat.
Sementara Ranala hanya menyimak pemaparan Anila atas jawaban pertanyaan Papi atau Mami sesekali. Suasananya persis seperti talk show dengan dua pembawa acara–Papi dan Mami, bersama dua nara sumber–Ranala dan Anila.
"Rana, Anila," panggil Papi dengan nada serius pada keduanya. Kali ini keduanya bereaksi sama, meninggalkan pandangan pada piring masing-masing dan memusatkan pada Papi.
"Ayah dan Bunda juga," kali ini Papi memandang Anila. Menandakan Ayah dan Bunda yang dimaksud adalah kedua orang tua Anila.
Deg! Sepersekian detik jantung Anila terasa berhenti. Ayah dan Bunda? Anila khawatir bila keadaannya dan Ranala akan terbongkar dan diketahui Ayah dan Bunda. Keadaan yang selama lima tahun ini berhasil disembunyikannya.
"Tapi, Pi," potong Anila ragu.
__ADS_1
"Sekali ini, ya, An. Papi mohon, Papi pengen kita kumpul semua. Papi sudah minta Anna untuk menyiapkan kamar untuk kalian juga Ayah dan Bunda," jelas Papi tidak ingin disela.
Apa? Ayah dan Bunda menginap juga di Baiti Jannati–rumah Sleman? Berapa hari? Selama itu juga kah aku harus berpura-pura baik-baik saja dengan Ranala. Tunggu dulu … apa itu berarti, aku harus tidur satu kamar juga dengan Ranala?
...***...
Pikiran Anila makin tidak keruan. Memikirkan satu atap bahkan satu kamar kembali dengan laki-laki yang paling berkontribusi terhadap sakit hati dan perubahan dirinya. Bertemu sebentar selama makan buka puasa tadi saja sudah menguras energi yang besar. Apalagi bila harus satu kamar semalam, dua malam, atau bahkan….
Aaargh. Anila mengacak-acak rambutnya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Apa dia bisa menahan marah selama itu? Selama ini dia memilih lari untuk menghindari rasa marah ini. Tapi kali ini, seolah Tuhan ingin dia berhadapan secara gentle dengan rasa marah dan masalahnya.
Anila tahu betul, ketika dia menahan rasa marah, hormon adrenalin dan kortisolnya bertambah secara konstan. Hormon ini meningkatkan perubahan detak jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Lalu, perubahan metabolisme yang berpotensi merusak sistem tubuh, seperti gangguan depresi dan kecemasan. Itulah salah satu alasan Anila pergi selama ini.
Anila yang kalut menekan sembarang tanpa tujuan tombol-tombol di ponselnya. Melihat reaksi dari hasil kerja jempolnya tanpa berniat melakukan apa pun darinya.
Sebuah profile picture muncul, bertuliskan 'Terapi Emosi dengan Al Qur'an'. Ternyata Anila secara tidak sengaja menekan kontak Ustaz Rahmat, hingga memunculkan gambar yang digunakan sebagai display picture-nya itu.
__ADS_1
...***...