
"Maliq, kamu itu orang baik. Feby juga baik. Kembalilah padanya," pinta Anila dan mendapat sambutan raut muka yang makin tidak enak dipandang.
"Nggak usah ngatur seolah kamu orang yang paling ngerti tentang hidup orang," balas Maliq datar. "Ayo cepat, kita pulang."
"Setidaknya biarkan aku menghabiskan makan sahurku," ungkap perempuan dengan kerudung yang terikat di bagian lehernya. Tanpa berpaling, Anila menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Bukan karena nafsu makannya kembali normal, tetapi Anila hanya berusaha untuk tidak lagi dzalim pada dirinya sendiri.
Deru keras angin malam menerpa wajah Anila. Maliq seolah tidak peduli perempuan di belakangnya kedinginan dan tegang di saat bersamaan. Maliq yang diam jauh lebih menyeramkan daripada Maliq yang marah.
Anila memberanikan meremas lengan baju Maliq, berharap Maliq mengerti kode yang diberikan. Namun Maliq tetap abai. Setidaknya pantulan wajah di spion bulat mengisyaratkan demikian. Muka bersahaja itu menatap lurus tanpa ada garis senyum terulas seperti biasa. Tatapan kecewa dapat Anila rasakan. Kecewa karena Anila memutuskan menyerah bahkan sebelum sempat berjuang.
Namun, Anila belum berniat menarik kata-katanya, sehingga dia pasrah dan memutuskan diam sambil menggenggam erat lengan baju Maliq dan memejamkan matanya kuat-kuat untuk menghalau rasa takut akibat kencangnya laju kendaraan.
Baru saja perempuan berkerudung menginjakkan kakinya ke tanah, Maliq langsung memutar handle gas, meninggalkan perempuan itu bersama kepulan asap putih. Maaf, Mal. Suatu saat kamu akan mengerti, batin Anila.
Menjelang siang, Anila habiskan waktunya dengan membaca buku agama atau mendengarkan ceramah-ceramah online. Inilah salah satu usahanya untuk menghalau kekosongan yang dapat mengakibatkan shadr mudah ditempeli setan yang akan menyetir hatinya. Sehingga, setidaknya ada sedikit celah untuk masuk cahaya hidayah pada qalb-nya.
Laki-laki dengan kemeja PDL berwarna biru tua itu sudah siap di atas motor tua tepat di muka lobi apartemen Anila. Perempuan berkerudung itu menyambut dengan senang hati. Didekatinya laki-laki bermuka datar dan disapanya,"hai." Tidak lupa sebuah lengkungan bahagia terulas di bibir Anila.
Anila bisa berlega hati sesaat. Setidaknya Maliq masih mau menemuinya, menyelesaikan janjinya mengkhatamkan jadwal tur tarawih mereka. "Makasih, ya," ucap Anila tulus dari bangku belakang motor, dan mendapat balasan anggukan pelan tanpa kata.
...***...
"Allah itu Maha Pencemburu, Saudara. Allah ingin, hanya Dia-lah yang paling dicintai hamba-Nya. Allah tidak berkenan diduakan apalagi ditigakan Karena cinta-Nya pada hamba-Nya juga sangat besar, melebihi yang bisa kita rasakan." Anila masih belum memahami makna kalimat yang baru saja Ustaz Rahmat utarakan.
__ADS_1
"Sehingga, Allah akan menguji hamba-Nya pada apa-apa yang dicintai melebihi cintanya pada Rabbnya. Seorang yang sangat cinta pada harta, akan diuji pada hartanya. Yang cinta pada pasangan secara berlebihan dan tidak karena Allah, akan Allah uji pada pasangannya," jelas Ustaz Rahmat.
...***...
Sebuah seringai yang dirindukan sejak hari kemarin menyambut Anila di muka masjid. "May I?" tanyanya sambil mengacungkan helm. Meminta izin untuk mengenakannya pada Anila. Perempuan berkerudung itu mengangguk memberi izin dengan sedikit menunduk, memudahkan sang pria menunaikan maksudnya.
"Maaf, tentang kemarin." Maliq mengawali perbincangan di atas motor yang melaju sangat lambat. "Aku kecewa, karena aku pikir … kamu abai dengan besarnya keinginanku untuk terus bersamamu."
Anila tertunduk malu menyadari dirinya begitu sangat diharapkan. Maliq yang melihatnya tersipu dari bayangan spion membelokkan kemudi motor dan menepi.
"Eh, kok, berhenti?" tanya Anila heran.
Alih-alih menjawab, Maliq malah mematikan motor dan duduk menyamping membelakangi jalan raya. "Aku akan merindukan wajah malu tapi mau itu."
Anila yang menyadari kalimat itu tertuju padanya, merah padam seketika. Sebuah tinjuan pun dilayangkan pada lengan kekar si anak pencinta alam. Laki-laki itu mengaduh pelan seraya mengusap bekas pukulan si perempuan tangguh.
"Takut karena aku sadar, aku cinta kamu melebihi apa pun. Jangan tanya tentang orang tua, sudah pasti kamu pemenangnya. Ini tentang Tuhan kita. Aku bahkan mencintaimu melebihi pada-Nya. Itu menakutkan," lanjut Maliq yang membuat Anila membulatkan matanya tidak percaya.
Perempuan itu seperti tidak percaya dengan apa yang baru diterima pendengarannya. Dia berusaha menelisik wajah si pembicara untuk mengetahui kemungkinan gombalan yang sedang diutarakan. Nihil, laki-laki itu masih menunjukan wajah serius, sesaat kemudian menunduk melihat ke arah tanah.
Cahaya temaram lampu jalanan terhalang kepala Maliq yang menunduk. Sehingga Anila tidak dapat menangkap ekspresi yang ditunjukan laki-laki berambut gondrong itu. Tiba-tiba telapak tangannya mengusap wajahnya sendiri, telapaknya basah.
"Mal…," panggil Anila yang menyadari sesuatu yang membasahi telapak tangan itu adalah air mata.
__ADS_1
"Jangan lihat aku kayak gitu. Nanti makin susah aku ngelepasin kamu."
Mata itu bukannya menghentikan rintik air yang keluar. Rintiknya malah berubah menjadi deras yang makin sulit dihentikan. Baru kali ini Anila menyaksikan, seseorang yang rela mengeluarkan derai sedemikian keras hanya demi dirinya.
Keduanya menghabiskan sisa malam dengan sama membenamkan diri masing-masing. Membungkus sedih yang bersemayam, menyadari waktu kebersamaan yang semakin berkurang.
...***...
Di sini Anila dan Maliq sekarang. Dalam satu kereta yang sama, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Anila akan meninggalkan kereta terlebih dahulu dengan turun di stasiun Bandung. Sementara Maliq melanjutkan perjalanan hingga akhir.
Andai mampu, ingin rasanya menghentikan waktu saat ini saja. Saat di mana bersama seseorang yang tidak ada keraguan dari padanya. Anila meneliti setiap inci wajah yang sedikit menghitam karena matahari. Wajah yang menggambarkan sebuah kerja keras sekaligus kecintaan pada alam.
Anila berusaha merekam setiap lekukan dalam pikirannya. Bila suatu saat nanti dia dilanda sepi dan sendiri, rekaman itu akan kembali diputar. Rekaman yang mengingatkan bahwa ada seseorang yang begitu mencintai dan menginginkannya. Mungkin itu saja cukup sebagai bahan bakar untuk kuat bertahan.
"Tuh, kan, ngeliatin lagi," ucap seseorang yang sedang memperhatikan pemandangan luar melalui jendela kereta.
Anila terkikik, tidak lagi malu karena berkali-kali tertangkap basah memandang laki-laki tampan dan gondrong itu. Anila malah menggoda dengan semakin memajukan kepalanya, membuat Maliq jengah.
"An, saat di surga kita bisa minta apa saja, kan?" tanya Maliq sambil tetap memandang ke luar.
"Emang kamu mau minta apa?"
"Kamu," jawabnya membuat Anila terperangah. "Kalau di dunia aku nggak bisa miliki kamu, aku mau minta kamu sebagai hadiah ketaatanku."
__ADS_1
Manik Anila berembun, pandangannya menjadi kabur. Anila mengangguk menjawab pertanyaan Maliq.
...***...