Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 23 - PRIORITAS


__ADS_3

Prioritas berarti menyempatkan bukan sesempatnya, meluangkan bukan seluangnya.


Hal itu yang ditularkan Maliq pada Anila. Dengan membuat jadwal tur tarawih, Anila jadi memprioritaskannya. Benar saja, saat sudah komitmen untuk menjadikannya prioritas, maka jalan akan terbuka menujunya. Kalau pun ada halangan hanya satu persen kemungkinannya. Itulah hakikat dari kalimat InsyaAllah.


Tok tok tok.


"Masuk," perintah suara dari dalam ruangan.


"Pak Rohidin, Bapak memanggil saya?" tanya Anila begitu memasuki ruangan Direktur Pemasaran dan Kerjasama.


Perempuan berambut kecokelatan dengan poni menutupi dahi itu masih berdiri mematung di hadapan atasannya, menunggu dipersilakan untuk duduk.


"Duduk, An," perintah Pak Rohidin dengan muka serius. Beliau adalah sosok yang menemukan potensi Anila. Beliau mengetahui jalan terjal karir dan kegigihan perempuan mandiri di hadapannya. Sehingga panggilan kecil–tidak formal, menjadi sebutan saat tidak dalam forum.


Anila menarik kursi di seberang tempat duduk Pak Rohidin yang berbatas meja kayu besar berbentuk leter L.


"Gimana kerjaan?"


"Lancar, Pak. Laporannya selalu saya update di layanan penyimpanan data bersama, Pak," jelas Anila.


"Oh, iya. Belum saya cek per hari ini." Pak Rohidin memberi jeda pada kalimatnya dan mengambil nafas panjang sebagai ancang-ancang, "Sabtu ini, kamu ada acara?"


Perempuan berkemeja lengan panjang warna pastel itu menggeleng sambil mengingat-ingat. "Kayaknya, nggak ada, Pak. Ada apa memang, Pak?"


"Hmmm… ada event di Bandung. Mereka butuh support. Kamu bisa bantu?"


"Bandung? Itu 'kan masuk area Jawa Barat, Pak. Cakupan kita, 'kan, hanya Jabodetabek," kilah Anila.


"Iya, benar. Cuman, manajer pemasaran Jawa Barat cuti melahirkan. Penjualan mereka anjlok. Bantuin mereka, lah, An. Kamu juga, 'kan, lumayan tahu karakteristik orang Jawa Barat. Bantuin, ya."


Anila tidak sampai hati menolak sosok paruh baya yang banyak berkontribusi pada perkembangan karirnya. Meskipun kalau boleh jujur, malas untuk kembali ke kota itu. "Baik, Pak. Saya usahakan."


"Maaf, ya, An. Lagi-lagi mengganggu akhir pekan kamu. Rencana berangkat kapan? Pakai mobil sekalian sopir kantor aja, ya," tawar Pak Rohidin yang kini telah hilang raut serius berganti penuh semangat.


Sebetulnya Anila agak risih bila satu mobil dengan lawan jenis. Dia tidak bisa sebebas saat berkendara sendiri. "Nggak usah, Pak. Saya pakai mobil sendiri saja," tolak Anila sopan.

__ADS_1


"Ya udah, biar kamu nggak capek, pakai sopir kantor aja. Biar dia yang bawa mobil kamu." Pak Rohidin tetap mencarikan solusi agar Anila tidak kelewat lelah.


"Nggak usah, Pak. Jakarta-Bandung aja, kok. Dua jam juga sampai." Anila tersenyum menenangkan atasannya.


"Ya, udah kalau gitu mau kamu. Kamu suruh Sari bikin Surat Perjalanan Dinas sekarang, ya. Biar saya tanda tangani langsung, supaya cepat cair uang SPJ-nya."


"Siap, Pak." Anila melihat tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. "Itu saja, Pak? Ada yang lain?"


"Oh, iya. Itu saja."


"Baik, kalau begitu saya pamit."


"Silakan," jawab Pak Rohidin seraya bangkit dari kursi berlengannya. Dia berjalan mendekati pintu dan membukakannya untuk Anila.


"An," panggilnya sesaat setalah Anila melewatinya.


"Iya, Pak?" Anila berbalik.


"Makasih, ya. Kamu memang selalu bisa diandalkan," ucap Pak Rohidin penuh syukur. "Orang tua kamu di kampung pasti bangga."


Orang tua…bangga… entahlah. Apa orang tuanya di kampung akan bangga bila tahu anaknya gagal dalam berumahtangga? Apa dia tetap akan jadi kebanggan bila seluruh kampungnya tahu dia berpisah dengan suaminya? Apa kemajuan karirnya cukup membungkam semua omongan miring tentangnya kelak, bila rahasianya terbongkar?


Mungkin Anila bisa menutup telinga atau pergi jauh ke luar kota, sehingga suara sumbang tidak lagi terdengar. Namun tidak dengan orang tuanya. Mereka tetap akan menetap di sana–kampung halaman tempat seluruh sanak saudara berkumpul. Menelan omongan pahit tentang kegagalan putrinya. Ah…rasanya bayaran itu terlalu mahal dibanding dengan memendam semua sendiri, tanpa diketahui siapa pun bahkan orang tuanya. Biarlah yang mereka dengar dan sebarkan hanya tentang keberhasilannya, bukan kegagalannya.


Getar ponsel membuyarkan lamunan Anila saat berada di dalam lift. Gift, nama yang tertera pada ponselnya. Anila menyimpan nomor Maliq dengan tulisan itu. Mengabaikan betapa akan besar kepalanya Maliq bila tahu. Biarlah, setidaknya itu yang Anila rasakan semenjak kehadiran laki-laki berambut sebahu itu di hidupnya.


"Assalamualaikum," salam dari seberang.


"Wa'alaikumsalam, permisi" jawab Anila sambil meminta jalan untuk keluar dari lift. Beberapa orang menghalangi jalan keluar.


"Lagi di mana? Kok permisi segala?"


"Di lift. Habis dari atas, ruangan Direktur."


Maliq membulatkan mulutnya. "Eh, emang dipanggil kenapa? Kamu ditegur gara-gara nggak fokus kerjanya, ya? karena mikirin aku?"

__ADS_1


"Please deh. Nggak penting banget."


"Oh, jadi aku nggak penting, ya? Ya, udah. Assalamualaikum."


Perempuan dengan rambut cokelat terurai itu terkekeh mendengar jawaban Maliq. "Apaan, sih? Dasar baperan!"


"Tolong diralat. Bukan baperan, tapi sensitif. Eh... ya tapi emang bawa perasaan juga, sih," lirih Maliq.


Meskipun lirih, Anila sebetulnya mendengar dengan jelas. Namun, dia sendiri bingung harus bertingkah seperti apa. "Aku dipanggil buat tugas ke Bandung Sabtu ini. Sekalian aku mau bilang, kayaknya Sabtu ini aku nggak bisa ikut jadwal tur tarawih kita, deh. Nggak apa-apa, kan?"


"Oh, nggak masalah sih. Kapan sama naik apa berangkatnya?"


"Sabtu habis subuh mungkin berangkatnya. Naik mobil sendiri aja paling. Biar gampang kalau mau mampir-mampir."


"Emang mau mampir ke mana?" telisik Maliq menggoda.


Anila mencebik. "Ck... Aku ngerti maksud kamu ke arah mana, Mal. Kayaknya otak kamu lagi ngeres, deh. Bersihin dulu, gih!" kesal Anila.


Kalimat Anila dibalas dengan tawa renyah Maliq. Tawa renyah yang menular pada Anila.


...***...


Dua tas dibawa Anila menuruni lantai apartemen dengan lift. Satu tas tangan bermerek berisi ponsel, dompet, serta beberapa peralatan makeup untuk touch up. Satu tas jinjing berukuran sedang berisi baju ganti dan beberapa kudapan gluten free untuk nanti malam menemani perjalanan pulang. Tidak lupa, di tangan kiri yang melingkar tas tangan, dia membawa sebotol air mineral ukuran sangat besar. Se-well prepared itu Anila sekarang.


Hari masih gelap. Lorong dan lobi apartemen masih sepi. Tidak ada seorang pun, kecuali seorang satpam di pintu basement menuju parkir mobil. Dia sempat menyapa dengan senyum dan anggukan pada Anila.


Mobilnya terparkir agak jauh dari pintu pos satpam. Anila harus berjalan lurus hingga ujung kemudian berbelok ke kanan. Mobilnya parkir di sudut yang tak terterangi lampu.


"Hih," Anila memekik dalam gelap melihat seseorang bersandar pada mobilnya. Orang dengan jaket hijau army dan topi senada, yang menutupi wajahnya.


Beruntung, dia langsung membuka topi ketika Anila memekik. Kalau tidak….


"Maliq?"


...***...

__ADS_1


......Maliq ngagetin, deh. Mau apa dia subuh-subuh nongkrong di mobil Anila? ......


__ADS_2