
"An…An…kita sudah sampai." Maliq menarik-narik kemeja sifon hitam Anila dengan tujuan menggoyang tubuh Anila tanpa menyentuhnya, agar perempuan itu segera bangun.
Anila tetap bergeming, nafas lembut dan teratur terdengar, tanda dia begitu lelap dalam tidurnya.
Laki-laki dengan kemeja PDL warna hijau army itu melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya. Masih ada waktu setengah jam, pikir Maliq. Maliq memberi waktu agar Anila dapat istirahat sejenak, sebelum memulai aktivitasnya.
Maliq memandangi dalam-dalam wajah terawat–tapi lelah, perempuan di sampingnya. Ada jejak basah di pipinya. Anila sudah melewati banyak hal berat dalam lima tahun ini, sendiri.
"Maafin aku, An. Aku…ngerasa bertanggung jawab atas rasa pedih yang kamu alami. Mungkin dulu aku yang terlalu banyak berharap, menganggap kedekatan kita nggak biasa. Jadi, waktu kamu memutuskan nikah, aku nggak terima. Keluarlah kalimat yang sekarang aku sesali, karena menyayat nyeri hingga kamu seperti ini. Kasih aku kesempatan menjadi pengobat sakitmu, ya. Aku di sini." Maliq berbicara pada Anila yang tengah terlelap. Maliq belum mampu meminta maaf terang-terangan, tetapi mengungkapkan seperti ini tentu lebih melegakan. Maliq membuang nafas masygul, merutuki diri sendiri karena merasa seperti pengecut.
Maliq dikagetkan getar intens dalam saku kemeja PDL-nya, menandakan ada panggilan masuk. Feby, nama yang tertera pada layar. Maliq melihat ke arah perempuan yang tengah terlelap. Khawatir mengganggu, Maliq keluar dari mobil putih itu dan menjauh.
"Assalamualaikum," salam Maliq.
"Ih, ke mana aja, sih? Aku telfon dari subuh nggak diangkat-angkat," cecarnya. Tanpa menjawab salam, suara di seberang langsung membombardir.
"Ad…." Maliq mencoba menjelaskan, tetapi sudah ditimpali.
"Kebiasaan kamu tuh, handphone ditaruhnya di mana aja. Deketin, kek, HP-nya. Kalau ada yang penting, kan, susah ngehubunginya," potong suara perempuan itu.
"Iya…Maaf, ya," sesal Maliq lembut. Keras dibalas keras, hanya akan menjadikan binasa.
"Aku mau ngomongin tentang pernikahan kita," seru perempuan itu ketus.
"Oke," jawab Maliq menyimak.
"Ya, jangan oke-oke aja. Jadinya gimana?" Suara di seberang meninggi.
"Gimana apanya? 'Kan, sudah kita bahas semalam. Aku serahkan semuanya sama kamu. Nanti butuh berapa, aku transfer."
"Sebenernya, ini pernikahan siapa, sih? Aku, kamu, atau kita?" Sebuah pertanyaan retoris yang sudah jelas jawabannya. "Jawab! Jangan diem aja. Kalau kamu kayak gini terus, mending batal aja nikahnya," desak suara perempuan di seberang bergetar.
"Feb…Feb….tenang. Boleh aku bicara?" Tidak ada jawaban dari seberang. Pertanda lawan bicara memberi kesempatan Maliq menjelaskan.
__ADS_1
"Semalam, kamu sudah tanya pendapat aku. Betul?" Masih tidak ada jawaban. "Aku sudah kasih pendapat aku juga, 'kan?"
"Ya, tapi, 'kan…," potong Feby.
"Let me finish, please," pinta Maliq. "Aku sudah berpendapat, lantas apakah kamu setuju dengan pendapatku? Tidak. Kamu membantah. Sebetulnya. kamu bukan minta pendapatku. Kamu hanya perlu pendapatku untuk memperkuat keinginan kamu. Ya, sudah kalau begitu mau kamu, atur saja. Laporkan ke aku tentang perkembangan dan biayanya saja. That's all. Nggak usah jadi berantem, kita lagi puasa loh ini."
Hening, tidak ada sanggahan dari seseorang bernama Feby di seberang.
"Jadi gimana? Batal, nih, nikahnya?" goda Maliq.
"Siapa yang nikah?" tanya Anila yang tiba-tiba berada di belakang Maliq. Reflek Maliq mematikan ponselnya, memutus panggilan Feby.
"Eh, udah bangun?" Maliq berbalik kemudian berjalan mendekati perempuan yang sudah rapi itu. Sudah berapa lama Anila di sini? seberapa banyak yang dia dengar? pikir Maliq.
"Udah. Kenapa nggak dibangunin? Kamu lagi telfonan sama siapa?" telisik Anila.
"An, udah jam segini, loh. Kamu nggak telat?" Maliq mengalihkan.
"Astaga. Iya. Ya, udah aku masuk, ya." Anila berjalan meninggalkan Maliq. Maliq bisa bernafas lega sesaat, sebelum Anila menghentikan langkahnya dan bertanya, "Trus kamu nunggu di mana?"
Anila masuk ke dalam lift, kemudian memutar badan menghadap pintu lift yang masih terbuka. Dari kejauhan, dilihatnya Maliq belum berpaling. Maliq masih memandang ke arahnya begitu lekat, hingga pintu tertutup, dan Maliq hilang di balik pintu. Tatapan itu, tatapan yang Anila rindukan dari suaminya, Ranala.
...***...
Sepatu hak tinggi tidak menghalangi langkah Anila. Dengan cekatan Anila menuruni eskalator dan berzig-zag melewati berapa orang.
"Maaf… permisi… permisi…. maaf," ucap Anila meminta jalan.
Di dalam mal sama sekali tidak terdengar suara azan. Sehingga Anila terlambat mengejar salat berjamaah di awal waktu.
"Assalamualaikum warahmatullah," salam Anila ke sebelah kiri tanda akhir salatnya. Anila menghela nafas panjang. Terlambat dan tergesa-gesa seperti sudah menjadi satu paket komplit. Itu mengapa dalam Islam selalu mengutamakan awal waktu dalam ibadah, karena ada ketenangan di dalamnya. Islam memang mengajarkan disiplin. "Kalau mau lihat kedisiplinan orang, kemampuan me-manage waktu, lihatlah dari salatnya", begitu pesan Ayah.
"Coba perhatikan gelas ini." Suara dari mimbar menarik perhatian Anila. Suaranya begitu tenang. Anila bergeser untuk dapat melihat pemilik suara. Dilihatnya seorang laki-laki berperawakan sedang. Laki-laki itu mengenakan jasket–jas jaket, santai. Laki-laki itu terlihat sama dengan orang biasa, bukan tampilan ustaz seperti umumnya.
__ADS_1
Di tangan kanan laki-laki berjasket itu, ia mengangkat gelas berisi air bening. "Gelas ini adalah diri kita. Sedangkan isinya adalah apa yang ada di dalam diri; pikiran, akal sehat, emosi," jelasnya.
"Saat kita sedang ada masalah, jangan seperti ini." Laki-laki itu memutar gelas sedemikian rupa hingga isinya tumpah ke berbagai arah. "Panik. Kocar-kacir. Akibatnya apa? Isinya tum…," jedanya sengaja.
"Paaaah," seru jemaah bersamaan.
"Tumpah. Akal sehat hilang, emosi meluap-luap. Yang tidak berhubungan dengan masalah pun jadi ikut kena?"
"Maraaaaah," sahut jemaah seolah sudah hafal benar isi dari ceramah ustaz itu.
"Bukan saya, ya, yang bilang," dalihnya di balas gelegar tawa seisi masjid. Sementara Anila sendiri terdiam memikirkan isi ceramah tadi.
"Assalamualaikum, Teh." Anila terperanjat dengan kehadiran seseorang di sampingnya. Perempuan berkemeja satin hitam itu terlalu fokus pada ceramah hingga tidak menyadari ada seseorang yang mendekatinya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anila seraya bergeser menjauh. Dia tidak kenal dengan perempuan berjilbab lebar itu. Wajar bila Anila menjaga jarak demi keamanannya.
"Afwan, mengagetkan teteh," serunya tersenyum dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.
Senyumnya menenangkan, sepertinya perempuan berjilbab lebar itu bukan orang jahat, pikir Anila.
"Afwan, tadi saya melihat teteh begitu fokus mendengar ceramah Abi," katanya lagi.
"Abi?" tanya Anila penasaran.
"Iya, Abi. Beliau suami saya. Kami memanggilnya Abi."
"Oh, maaf ustadzah." Anila merasa tidak enak sudah menghindari istri dari ustaz.
"Ummi, panggil saja Ummi," ralatnya. "Kalau teteh tertarik dengan ceramah Abi dan ingin memperdalam ilmu Islam, ini." Perempuan itu menyodorkan selembar kartu nama pada Anila.
"Oh, iya, Ummi. Terima kasih." Anila membaca dan menilik setiap kata yang tertera pada kartu. "Tapi saya datang nggak pakai kerudung, nggak apa-apa?" tanya Anila pada udara kosong. Perempuan berjilbab lebar itu sudah tidak lagi ada dalam pandangan.
...***...
__ADS_1
...Jadi, Maliq sudah mau menikah? Kenapa dia nggak bilang, ya, sama Anila? Kebohongan apa lagi yang harus Anila terima? Poor Anila....
...😭😭😭...