
"Kalau memang Teteh sudah menganggap aku kayak adik Teteh sendiri, alangkah sopannya bila Teteh izin terlebih dahulu bila ingin bertemu dengan suami adik Teteh ini." Anila tak lepas menatap serius pada sosok perempuan, yang kini memalingkan wajahnya dari tatapan Anila.
Sebetulnya badan perempuan berpashmina hitam itu bergetar. Ada amarah yang berusaha ditahannya. Kendati salat mampu mengurangi, nyatanya tidak lantas hilang begitu saja. Namun kata-katanya lancar meluncur dari bibirnya. Itu yang Anila syukuri saat ini. Semoga Viona bisa memahami maksudnya. Bukan ingin menghalangi sebuah pertemanan, hanya membatasi melalui etika pertemanan lawan jenis.
"Mana Viona?" tanya Ranala begitu melihat Anila kembali seorang diri.
"Ada di belakang. Sekarang gantian, Mas yang salat, ya," kata Anila sebiasa mungkin.
Ada kegelisahan sempat terbersit di benak Anila. Apakah Viona adalah perempuan yang bisa diajak bicara dari hati ke hati sesama perempuan? Atau akankah dia mengadukan hal ini pada suaminya, Ranala. Namun Anila menguatkan kembali niat dari pesan yang diutarakan pada Viona. Niatnya baik, tidak ada keburukan sama sekali. Kalau memang Viona benar menganggapnya sebagai adik, seharusnya tidak masalah.
...***...
"Hati-hati. Jangan ngebut," pesan Ranala pada Viona yang sudah duduk di kursi kemudi mobilnya. Bersama Anila, Ranala melambai ke arah mobil yang menjauh.
Perempuan di samping Ranala menatap lekat raut wajah Ranala. Manik Ranala tidak berkedip melihat mobil yang mulai berbaur dalam keramaian. Anila yakin, itu raut khawatir. Raut yang tidak pernah Anila dapatkan dari suaminya. Bahkan saat Anila pergi dengan kendaraan umum ke Jakarta untuk menyelesaikan Tugas Akhirnya. Padahal menurut Anila, dia memiliki resiko lebih banyak. Ah, lagi-lagi Anila benci membandingkan perlakuan Ranala padanya dan pada Viona. Hanya saja, semua terlalu kentara dan terasa, menurut Anila.
"Pulang?" tawar Anila membuat Ranala terkesiap. Ranala mengangguk dan berbalik meninggalkan Anila di belakang.
... ***...
Anila melipat mukena dan sajadahnya usai tilawah selepas tarawih berjamaah bersama Ranala. Ranala yang sudah meninggalkan kamar lebih dahulu tiba-tiba dengan kasar membuka pintu.
"Kamu ngomong apa sama Viona?"
__ADS_1
Deg. Feeling-nya benar. Viona bukan orang yang bisa dijadikan teman cerita. Hal seperti ini saja sampai pada telinga suaminya.
"Ngomong? Ngomong apa?" tanya Anila mengecek sejauh mana Viona berkisah.
"Nggak usah pura-pura, deh. Apa hak kamu ngatur orang yang mau ketemu sama saya? Kamu manajer saya? Memang semua orang harus izin kamu untuk ketemu saya?" Kendati tidak disampaikan dengan nada tinggi, tetapi kata-kata Ranala begitu menusuk bagi Anila. Bukankah seharusnya Ranala lebih condong pada istrinya?
Anila berusaha mengatur emosinya dengan memberi jeda, tidak langsung menimpali. Untung ada aktivitas yang tengah dilakukannya. Anila berusaha tetap tenang merapikan dan menyimpan alat salat terlebih dahulu. Lumayan, setidaknya ada beberapa detik memikirkan jawaban yang dapat diterima suaminya.
"Bukan gitu, Mas, maksud aku." Anila berbalik menghadap Ranala untuk memulai penjelasannya. "Aku sama Viona, 'kan, udah deket. Jadi, ya, minta dia ngabarin aja kalau mau atau lagi di Bandung. Jadi aku kan bisa nemenin kalian biar nggak cuman berduaan, gitu."
"Emang kenapa kalau berdua? Ada yang salah? Aku sering berdua dengan yang lain juga. Sama vendor, konsumen…," kilah Ranala.
"Aku nggak suka dengan kedekatan kamu dan Viona," potong Anila. Dadanya naik turun, wajahnya memanas menahan kegusaran.
"Aku rasa pertemanan kalian tidak normal. Ada sesuatu yang lebih dari teman," lanjut Anila. Seketika wajah tegang Ranala mengendur. Alisnya menjauh kembali seperti semula. "Aku bener, 'kan?" telisik Anila dengan nada melemah.
Ranala mengerjap. Semakin lama Ranala tidak merespon, semakin Anila yakin dengan pendapatnya.
"Aku ini 'kan bukan orang lain. Aku istri, teman, sahabat, sekaligus partner Mas Rana." Anila tersenyum ramah saat mengatakannya. "Sini. Cerita, yuk. Siapa tahu dengan Mas cerita, aku akan lebih mengerti tentang kalian." Anila menekan gejolak nafsu sebisa mungkin, demi mendapat jawaban yang terang dari Ranala. Yang dia butuhkan adalah kejelasan dari rentetan kecurigaannya.
Ranala menjatuhkan diri pada satu-satunya sofa baca di kamar dinding monokrom itu. Melihat sekeliling, seperti mencari-cari kalimat sebagai jawaban. Kamar itu terlihat sedikit berbeda dari saat pertama dia menikah. Ada sentuhan wanita pada pernak-perniknya kendati warna dindingnya tetap bernuansa monokrom.
Perempuan itu mengatur strategi dengan bersabar menunggu jawaban Ranala. Tidak ingin menekannya lebih. Dia harus lebih lunak untuk bisa membuka sisi Ranala yang sebenarnya. Dan inilah saatnya.
__ADS_1
"Aku, Viona. Kita sudah kenal kira-kira enam tahun yang lalu. Kurang lebih seusia Ade, anak kedua Viona." Ranala mulai bercerita saat sudah merasa nyaman.
Perempuan berpakaian rumah itu duduk di tepi tempat tidur menelan ludah dengan susah payah. Siap tidak siap, dia harus siap mendengar kebenaran. Seperih apa pun.
"Waktu itu aku ketemu dia di tempat kerjanya. Awalnya aku cuma respect dengan kerja kerasnya, kemandiriannya, dan ketegasannya. Tapi aemakin sering berinteraksi, ternyata kita punya banyak kesamaan dalam hal selera maupun pemikiran. Aku ngerasa nyaman waktu bareng sama dia."
Nyaman. Kata yang tidak pernah Ranala sebut saat bersama Anila.
"Aku pernah meminta dia untuk mengakhiri pernikahan yang dia bilang tidak bahagia di dalamnya. Dia bertahan hanya karena anak-anaknya. Dia berkorban demi anak-anaknya. Aku berusaha meyakinkannya bahwa aku bersedia menjadi ayah pengganti bagi anak-anaknya, lengkap dengan semua kewajiban dan tanggung jawab. Kewajiban dan tanggung jawab yang tidak pernah diberikan suaminya. Viona, dia berusaha sendiri dalam mendidik dan menghidupi anak-anaknya."
Netra Anila memanas. Benar dugaannya, Anila dapat melihat jelas pada tatapan Ranala saat memandang Viona. Tatapan yang tidak pernah ada untuknya.
"Tapi, Viona menolak. Baginya, ayah anak-anaknya tidak akan pernah bisa diganti. Aku marah banget saat itu. Sampai waktu Papi punya wacana untuk ngenalin kamu, aku langsung terima tanpa pikir panjang."
Jadi, aku hanya sebagai pelarian? Ya Allah sesak sekali rasanya dada ini, batin Anila.
"Ternyata aku salah. Hati dan pikiranku tetap bercabang ke arahnya. Sekuat aku … dan kamu mencoba untuk kita." Ranala menatap Anila lekat. Ada raut kasihan di wajah Ranala pada perempuan di hadapannya.
"Maaf, ini di luar kuasaku." Tanpa Anila duga, Ranala terisak. Muka pria itu memerah menahan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
Perempuan dengan rambut ikat kuda bangkit mendekati Ranala. Dia membenamkan wajah Ranala pada dadanya, mengusap kepala dan punggung suaminya. Anila mendekap erat pria yang sudah tidak dapat menahan laju air matanya. Sejujurnya, pelukan itu tidak hanya untuk Ranala, melainkan untuk mendekap sakitnya sendiri.
...***...
__ADS_1