Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 32 - SETITIK KECUP


__ADS_3

"O iya. Aku cuma mau bilang baik-baik untuk yang kedua kalinya. Jangan repotin Mas Rana dengan urusan pribadi Teteh lagi. Mas Rana sudah punya keluarga yang harus diprioritaskan," ujar Anila tanpa berkedip.


"Aku yakin, Teteh perempuan yang baik dan mandiri. Dan perempuan baik juga mandiri tidak akan membatasi sahabatnya dalam mengutamakan keluarga demi dirinya sendiri, ya, kan?" Anila menekankan kalimatnya pada kata sahabatnya. Anila yakin Viona tahu maksud dari kalimatnya, terutama pada kata yang ditegaskan.


Perempuan dengan setelan serba hitam yang ditutupi dengan blazer fusia itu menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pernyataan Anila. "Kayaknya, kamu emang nggak tahu apa-apa, ya."


"First. For your information, Mas Ranamu itu yang ngejar-ngejar aku. Sudah berapa kali aku menolaknya. Sejak dulu, sejak aku masih menyandang status istri. Kalau memang aku yang membatasi Rana seperti yang kamu tuduhkan, mungkin aku akan melarang pernikahan kamu dan dia. Dan dia pasti nurut. Tapi itu nggak aku lakuin. Aku pikir dengan menikah, dia bisa move on dari aku. Ternyata, kamu lihat sendiri, kan? Saat dia galau, saat dia butuh temen cerita, saat dia butuh saran, saat dia butuh pendengar yang baik, atau hanya sekedar haha hihi melepas penat, dia datang lagi ke aku, An. Dan itu bukan kemauan aku."


"Second, aku dan Rana punya bisnis bersama. Dengan modal uang kita bersama. Jadi, kamu nggak usah rese, ya, pake ngelarang kita ketemuan segala. Toh, kamu juga ikut menikmati. Enak, kan? Nggak perlu kerja keras, cukup diam di rumah, tidak ikut campur, dan terima transfer-an. Nggak susah, kok, jadi kamu itu."


Perempuan berpashmina hitam itu merasa terpukul oleh dua alasan yang dikemukakan Viona. Sepertinya rencananya gagal untuk menahan pertemuan intens antara suaminya dan Viona.


"Oke, rasanya cukup segitu dulu kamu tahunya. Biar nggak terlalu shock juga. Aku masih ada kerjaan." Viona membukakan pintu menandakan pengusiran pada Anila.


Anila masih terbujur kaku di tempat dia duduk. Rasanya sulit sekali menggerakkan tubuhnya. Anila memejamkan mata, mendistribusikan tenaga ke seluruh tubuhnya. Kemudian bangkit dan berjalan ke luar melewati Viona yang masih memegangi pintu agar tidak tertutup sebelum Anila pergi.

__ADS_1


"O, ya. Satu lagi. Kalau mau nyuruh kita untuk tidak bertemu. Suruhlah suamimu. Bukan aku. Karena selalu dia yang datang menemuiku. Dan dia juga yang memohon sama aku untuk selalu memberi kabar sekecil apa pun hal yang aku lakukan atau aku alami," kata Viona dengan senyum penuh kepalsuan. "Kalau nggak percaya, kamu bisa lihat percakapan kami," lanjutnya dengan senyum yang lebih mengembang.


Anila berjalan menyusuri jalan yang dilaluinya tadi bersama seseorang yang dipanggil Dew oleh Viona. Dia berusaha mengingat-ingat, di tengah kosongnya pikiran. Langkahnya gontai, sekuat mungkin dia berusaha menahan beban kakinya tapi tidak mampu lagi. Anila menjatuhkan diri pada kursi beton, mengabaikan beberapa mata pengunjung yang menatapnya heran. Dia sudah tidak peduli lagi.


Anila kalah telak. Dia sudah tidak lagi memiliki daya upaya. Bahkan, statusnya sebagai istri sama sekali tidak membuatnya berdaya. Dia tidak memiliki kuasa atas status pernikahannya, juga hak atas suaminya.


Air mata yang sedari tadi ditahannya berlomba-lomba jatuh ke bumi. Air mata pun tidak ingin menetap bersamanya. Ia memilih meninggalkan Anila dalam pedih yang tak terkira. Gagal bertubi-tubi.


...***...


Anila pasrah bila harus mendapat teguran karena kebohongannya. Anila sudah tidak peduli dengan hancur hatinya. Biarlah sudah hancur, tidak ada bedanya dibuat lebih lebur.


Anila merelakan diri untuk menerima semua konsekuensinya. Dia duduk di kursi berbeda, tetapi masih satu set dengan kursi yang Ranala duduki. Namun tidak mengeluarkan satu kata pun, hanya menunggu.


Napas berat dan kasar diembuskan Ranala. Inilah saatnya, pikir Anila.

__ADS_1


"Kamu ngapain?" tanya Ranala dengan nada rendah. "Ngapain ngedatangin Viona?" lanjutnya.


Anila tidak menyangka dengan tanggapan Ranala. Dia pikir Ranala akan marah besar karena dua kesalahannya. Berbohong dan mendatangi Viona tanpa izin.


Ranala bangkit dari tempat duduknya, mendekati perempuan yang bengkak kelopak matanya karena terlalu lama menangis. Tidak disangka, dia berlutut di depan Anila duduk, sehingga wajah menunduk Anila bertemu dengannya.


Ranala tidak berkata apa-apa, hanya mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak. Anila bahkan bisa merasakan napas lembut bertiup mengenai pipinya yang basah. Setitik kecup ajaib yang dapat menghilangkan semua beban. Anila merasa ringan, terbang, dan melayang.


......***......


...***Naik turun, ya, teman-teman. Biar jantung tetap aman 🤭🙏🏻...


......Terima kasih untuk like dan komennya. Sangat berarti sekali. ......


...Love u all to the moon and back 😘***...

__ADS_1


__ADS_2