Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 9 - KAMU ADALAH NYAMAN


__ADS_3

Lampu temaram. Hening, kecuali suara cipratan air membentur dinding lantai. Sumbernya dari balik tembok.


Entah sebab apa, tangan Anila gemetar hebat memegang sebuah benda pipih. Nafasnya tersengal-sengal, seperti orang yang baru saja lari maraton.


Keringat sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya, padahal tubuhnya merasakan dingin. Kaki perempuan berperawakan rata-rata itu, kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh sedangnya. Dia menggapai-gapai apa pun yang dapat dijadikan pegangan. Beruntung, posisinya tidak jauh dari tempat tidur. Anila terduduk lemas di tepiannya. Sempat, pandangan Anila kabur sesaat, kemudian berputar. Berputar begitu cepat, hingga keseimbangannya menurun.


Di mana dia sekarang? Dinding monokrom, lantai kayu. Berkali-kali Anila mengerjapkan mata untuk mengembalikan fokus penglihatannya.


Sedikit demi sedikit pandangan Anila mulai jelas. Seorang pria tinggi tegap mendekat, dia tidak sendiri. Pria bermata cokelat terang itu menggandeng tangan seorang perempuan. Perempuan berkulit putih dengan rambut hitam sepinggang. Siapa mereka? Anila memicingkan mata untuk melihat kedua wajah itu lebih jelas. Sia-sia, pandangannya menjadi buram kembali.


Baik sang pria dan perempuan itu, keduanya berkata nyaris bersamaan setengah berteriak. Anila kebingungan, harus mendengar yang mana.

__ADS_1


Suara-suara bersamaan itu terlalu memusingkan. Ditambah gema yang ditimbulkan dinding-dinding kosong makin mengaburkan suara. Anila hanya dapat menangkap sebagian. Suara bariton sang pria berkata, "Egois kamu!" Sementara suara perempuan dengan lembut tapi menusuk berkata, "Jadi kamu enak, kan, … tinggal menikmati."


Air mata yang tertahan membuat lehernya sakit. Suara pun ikut tercekat saking sakit lehernya. Anila menjatuhkan ponsel yang sedari tadi ada dalam genggaman. Meremas sprei kasur untuk mengurangi rasa sakit yang menjalar sekujur tubuh. "Aargh …," lirih Anila mengeram menahan nyeri.


"Astaghfirullah." Anila terhenyak. Bajunya basah oleh keringat. Dahinya berdenyut kuat. Anila berusaha meredam dengan memijat pelipis. Alih-alih menghilang, kini perutnya mual mengingat gambaran yang dilihatnya tadi. Anila mengatur napas yang sedari tadi terasa sulit untuk dihirup. Dadanya seperti terhimpit, tidak dapat mengembang sempurna.


Anila menyalakan lampu di samping tempat tidur. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Apartemen, pikirnya. Ada kelegaan di sana. Dia berada di apartemen miliknya sendiri. Bukan di rumah industrial vintage itu lagi. Mimpi buruk lagi.


Anila keluar dari kamarnya, membasuh muka yang basah oleh peluh. Melihat dirinya dalam pantulan cermin. Dengan berubah, ternyata tidak mampu melepaskan diri dari masa lalu. Sekeras Anila menjauh dan menyibukkan diri.


Segelas minuman cokelat pahit untuk menenangkan pikiran. Jam dinding menunjukan angka dua. Pantas saja kepalanya begitu sakit. Baru dua jam dia tidur.

__ADS_1


Ada yang tidak nyaman, dia menduduki sesuatu. Ah, ya. Jaket parasut ini. Saking lelahnya, Anila melepas dan melempar sembarang jaket itu ke kursi sofa semalam.


Anila bangkit sedikit dari duduknya, menarik jaket itu, dan mengenakan kembali.


Hangat, tapi bukan hangat biasa. Ada wangi maskulin yang menenangkan. Sesaat Anila menikmati kenyamanannya. Merasakan dekapan hangat dan nyaman seseorang. Anila kembali tertidur di atas sofa. Namun kali ini tidurnya begitu damai. Dalam pelukan aroma Maliq hingga pagi datang.


...***...


......Mimpi berulang itu tanda apa, ya? Ada yang tahu?......


...Mohon maaf, singkat dan padat, ya, kali ini. Meskipun sedikit, tapi author lebih memperhatikan feel-nya ketimbang target jumlah kata yang harus di post. Semoga kalian juga tetap bisa merasakan feel-nya. ...

__ADS_1


__ADS_2