
Perempuan dengan piyama selutut itu masih memeluk dirinya sendiri di atas sofa apartment. Pandangannya tidak lepas dari ponsel yang dibiarkannya berdering tanpa berniat mengangkatnya. Layar ponsel menampilkan sosok laki-laki dengan rambut terikat sembarang, beberapa helai rambut tipis dibiarkan jatuh mengenai wajah. Senyum lebar diperlihatkan seolah sedang tersenyum pada Anila yang masih tertegun dengan tatapan kosong.
Perempuan itu masih belum percaya pada apa yang dikatakan laki-laki yang sedari tadi berusaha menghubunginya. Andai laki-laki itu tahu bagaimana berharapnya dia dulu. Bagaimana sakit hatinya saat si laki-laki selalu menceritakan sosok perempuan impian yang tidak ada pada dirinya. Perempuan solehah, alim, dan faqih–paham aturan atau syariat Islam. Sosok yang jelas tidak ada dalam dirinya, sekuat dia mencoba. Karena memang tidak ada ketertarikan ke arah sana.
Meskipun Anila sudah berhijab sejak remaja, namun si tomboy itu lebih tertarik dengan alam ketimbang duduk berlama-lama dalam majelis yang menurutnya membosankan. Sehingga, berjilbab dan menutup aurat pun seadanya, tidak sesuai syariat.
Sekarang, Anila mendapat kenyataan bahwa sosok yang dikaguminya, disukainya, bahkan dicintainya dalam diam, ternyata menyimpan rasa yang sama. Namun, di saat dia sudah mengikat janji dengan laki-laki lain. Tidak hanya dirinya dan Ranala, tetapi ada dua keluarga yang harus dijaga hatinya bila Anila nekat mengikuti keinginannya, bersama Maliq.
Bertitik-titik cairan bening meluncur bebas. Bayangan kehidupan bahagia impian Anila yang pernah terbersit dulu muncul kembali. Dicintai dari hati, dikhawatirkan, dicemburui, dirindukan bila renggang, dilarang karena sayang, dimanja tanpa diminta. Egoiskah bila aku menerimanya?
...***...
Di atap yang lain, Maliq keluar masuk kamar kontrakannya. Langkahnya tak tentu arah. Ponsel masih menempel pada daun telinganya. Rambut gondrongnya sudah tidak serupa rambut, lebih mirip benang wol yang kusut karena disisir kasar dengan jari berkali-kali.
An, angkat. Aku harus menjelaskan semua ke kamu. Telinganya letih mendengar nada panggil, kakinya pun demikian, terlebih lagi perasaannya. Maliq akhirnya menyerah. Dia menghempaskan diri pada kasur yang sudah dari 24 jam tidak disentuhnya.
Matanya memang menatap langit-langit kamar, tetapi tidak selaras dengan bayangan penglihatannya. Anila dan semua tentang perempuan itu terus berkelebat di sana, hingga Maliq terpejam saking lelahnya.
...***...
Suara ketukan keras di luar pintu mengganggu lelapnya Maliq. Laki-laki dengan rambut tidak beraturan itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya. Siapa, sih, gedornya nggak slow banget.
"Iya, tunggu! Biasa aja gedornya. Jangan ngerusak pintu orang!" runtuk Maliq.
__ADS_1
Betapa terkejut Maliq melihat sosok yang mengetuk pintu sedemikian keras adalah seorang perempuan. Perempuan anggun dengan rok lebar di bawah lutut dan atasan lengan tujuh perdelapan. Anggun dan sopan. "Anila?"
Perempuan yang sedari malam berusaha dihubunginya, kini ada di depan mata. Antara terkejut dan takjub. Mata Maliq membulat tidak berkedip. "Astaghfirullah." Maliq teringat pakaian yang dipakainya begitu melihat perempuan itu menunduk. Bukan pakaian yang pantas bertemu dengan seorang perempuan.
"Maaf," seru Maliq membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah kontrakannya.
Anila terkekeh melihat kelakuan sahabat, eh, apa ya namanya sekarang? Anila tidak tahu status hubungan mereka apa untuk saat ini.
"Maaf, lama nunggunya." Akhirnya Maliq kembali ke teras rumah menemui Anila. Penampilannya jauh lebih baik. Kendati kaus yang dikenakannya masih sama, tetapi sekarang dia mengenakan celana bahan tebal di bawah lutut yang menutupi auratnya. Rambutnya pun sudah diikat rapi meski beberapa rambut halus tidak terbawa.
"Aku kira kamu mati," kata Anila tiba-tiba. Wajahnya dibenamkan, menutupi rasa malu yang kentara.
"Hah?"
Maliq mengeluarkan ponsel dari saku celana. Benar saja 27 kali panggilan tidak terjawab. "Aku ketiduran, maaf."
"Tidurnya kayak mati," celetuk Anila.
"Heh, apa … kamu … lagi khawatir sama aku?" goda Maliq sambil menunduk agar bisa melihat wajah Anila yang tertunduk semakin dalam.
"Tau, ah. Orang mau ngobrol serius malah digodain. Aku pulang aja," sunggut Anila.
"Eh…eh…. Jangan". Maliq menarik lengan baju Anila dan menunjuk kursi tempat Anila duduk tadi dengan matanya, "Maaf ... duduk, yuk. Aku juga mau ngomong serius." Nada cengengesan tiba-tiba menghilang, berganti dengan suara beratnya yang bersahaja.
__ADS_1
Anila yang masih belum mau melihat wajah Maliq itu, terpaksa menjatuhkan diri pada kursi kayu di teras rumah kontrakan laki-laki yang kerap menggodanya. Namun kali ini, nada bicara Maliq berubah menjadi lebih dalam.
"Maaf kalau aku malah bikin suasana makin nggak nyaman. Maaf kalau aku mengutarakan semua di saat yang nggak tepat. Tapi aku ngerasa, aku nggak punya waktu lagi untuk bilang semua sama kamu. Aku terima semua resikonya. Kamu marah, kamu nggak mau ketemu aku lagi, kamu benci, silakan. Tapi ada hal yang harus kamu dengar."
"Hari ini kamu terlalu banyak minta maaf, sayangnya bukan itu yang mau aku dengar," seru Anila ketus.
"Okay. No more apologize." Maliq mengangkat dua jarinya memberi gestur berjanji.
"Kok bisa?" tanya Anila menggantung.
"Kok bisa? Kok bisa aku suka sama kamu maksudnya?" tanya Maliq membuat wajah Anila memerah. "Iya, ya, kok bisa, ya? Padahal cewek cantik banyak, yang solehah, pinter juga banyak." Maliq berhenti sesaat untuk melihat reaksi Anila. "Okay … okay …," ralat Maliq segera setelah melihat lirikan mematikan Anila.
"Em…aku nggak punya alasan khusus sih. Rasa itu tiba-tiba muncul aja seiring kedekatan kita. Tanpa aku rencanakan, timbul rasa nyaman, bisa jadi diri sendiri, bisa konyol, garing, menyebalkan, sampe jorok sekalipun. Aku tuh nggak perlu jadi orang lain saat sama kamu. Aku nggak perlu capek berpura-pura baik. Aku bisa jadi apa adanya saat sama kamu. Sesederhana itu. Sesederhana cara kamu berpikir, dan itu juga hal yang aku kagumi dari kamu."
"Keberadaan kamu meruntuhkan semua standar perempuan yang aku impikan. Seolah aku nggak butuh semua itu. Aku hanya butuh kamu. Kalau pun aku selalu bilang ke kamu, kalau aku suka perempuan begini-begitu, itu hanya ingin kamu yang berubah jadi seperti itu. Bukan berarti aku pengen sama perempuan-perempuan itu."
"Terus, kamu nggak nanya perasaan aku, gitu?" tanya Anila setelah mendengar penjelasan Maliq.
Maliq menggeleng. "Apapun perasaan kamu, nggak akan mengubah rasa aku ke kamu."
"Egois! Terus kalau aku juga suka sama kamu, gimana?"
......***......
__ADS_1
......Hayo loh, gimana coba? Gas apa rem, nih, rasanya?......