
Pintu kamar Anila dibuka. Anila merapikan rambut kecokelatannya dengan jari. Menjadikannya satu dalam gulungan.
Mata Anila menyisir seisi ruangan apartemennya. Seingatnya saat meninggalkan ruang tengah keadaanya masih sangat kacau. Apa dia mengigau dan berjalan dalam tidur, kemudian membereskan semua? Ah, tidak mungkin. Tidak ada dalam sejarah Anila mengigau atau berjalan dalam tidur.
Tiba-tiba, suara besi beradu samar terdengar dari arah dapur. Anila berbelok menengok melewati meja bar. Ada bayangan yang bergerak. Selangkah lagi Anila mendekat, menutup mulutnya untuk menahan teriakan. "Maliq?"
"Hai, udah bangun?" tanyanya santai.
"Kamu ngapain?" Anila memberikan pertanyaan retoris.
"Masak, lah, emang kamu liat aku lagi apa? Pole dance gitu?" jawab Maliq sambil mengangkat spatula yang ada di tangannya.
"Hah?" Anila jelas paham apa yang sedang dilakukan Maliq. Hanya saja, ngapain dia masak di apartemen Anila. "Terus, kok, bisa masuk? Lewat mana?"
Maliq tidak menjawab. Hanya menunjuk pintu apartemen Anila.
"O, yeah, of course. You're not Peter Parker, anyway." Anila mencebik.
"Wait. Don't say you are …." Anila menerka-nerka. Maliq mengangguk sambil menunjukan senyum nakal, seolah tahu kalimat lanjutan Anila.
"No way!" Anila menangkupkan kedua tangan pada dadanya.
"Apa?" Maliq tidak percaya dengan gestur yang Anila tunjukan. Seolah-olah dia sudah melakukan tindakan asusila pada Anila.
"Kamu nggak … ngapa-ngapain …," kata Anila terbata-bata, masih memeluk dirinya sendiri.
"Hallo!" kata Maliq sambil melambai tepat di depan muka Anila. "Kamu ngelindur, ya? Perasaan kemarin yang nyosor meluk, siapa, ya?"
__ADS_1
Wajah Anila memanas. Andai dia bisa melihat wajahnya sendiri, pasti sudah berubah semerah tomat. "Aku ke kamar mandi dulu." Anila menghindar, meninggalkan Maliq yang masih terpaku dengan penggorengan dan spatulanya.
"Haaaahh...." Anila membuang nafas kasar. Dia melihat pantulan diri pada cermin kamar mandi. Bodoooh, runtuk Anila pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa hilang kendali semalam. Jelas tidak menggambarkan Anila sama sekali. Anila yang tangguh, kuat, mandiri. Runtuh semua.
"An, ayo sahur." Maliq mengetuk pintu kamar mandi. Anila terlalu lama di dalamnya. Ditambah tidak ada suara maupun jawaban, membuat Maliq makin keras mengetuk pintu.
"An! Anila!" Kali ini volume suara Maliq semakin tinggi.
Anila masih menatap nanar pintu yang berkali-kali diketuk Maliq. Mampukah dia berhadapan dengan Maliq setelah kejadian semalam?
Anila menghembus nafas masygul. Mampu atau tidak mampu, aku harus hadapi. Mau sampai kapan dia berdiam diri di dalam kamar mandi. Bisa-bisa Maliq nekat mendobrak pintu ini.
Terdengar kunci kamar mandi terbuka. Maliq melangkah mundur, memberikan ruang untuk Anila. Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Anila keluar dengan membenamkan kepala. Malu dan… ah... sudah tak tahu lagi apa rasanya. Campur aduk.
"Akhirnya... kirain kamu pingsan," kata Maliq lega. "Ayo makan. Aku bikin nasi goreng."
Beruntung Maliq tidak membahasnya lagi. Setidaknya untuk saat ini dia bisa bertingkah selayaknya tidak terjadi apa-apa. Setidaknya dia bisa makan sahur dengan tenang, mengisi energi. Bukankah, pura-pura bahagia itu butuh energi yang besar?
"Yaah … nasi goreng doang, sih, bisa. Maaf, ya, aku buka-buka kulkas kamu. Cuman bahan-bahan itu yang aku kenal. Selebihnya …," jelas Maliq sambil mengangkat bahu.
Maliq dan Anila menikmati sahur dalam diam. Anila terus menatap makanan di piringnya, sementara Maliq mencuri pandangan dari ujung matanya. Apa yang harus dilakukannya, terkait surat perjanjian yang Maliq temukan. Apakah dia berani bertanya pada Anila atau tetap seperti ini, bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
Kalau tetap berdiam diri, apakah Anila mampukah melewati semua ini sendiri kembali? Setelah kejadian semalam? Rasanya tidak.
"Aaargh…." Maliq menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu… kenapa?" tanya Anila. Maliq lupa, di depannya ada Anila yang kini menghentikan makan dan menatapnya heran.
__ADS_1
"Eng...enggak. Enak nasi gorengnya?" Maliq mengalihkan perhatian. Pertanyaannya hanya mendapat anggukan dan gestur jari telunjuk menempel pada jempol, membentuk simbol oke. Anila tidak menjawab, mulutnya penuh dengan makanan kini.
Maliq senang melihat selera makan Anila. Sepertinya kondisi hatinya sudah lebih baik dari kemarin.
"Aku aja," kata Anila saat Maliq mau merapikan bekas makanannya. Maliq mundur untuk memberi jarak pada Anila. Khawatir kalau terlalu dekat akan mengakibatkan gesekan kulit yang bisa menimbulkan efek kejut lagi bagi Maliq.
"Ya udah. Aku wudu dulu."
"Oke," jawab Anila tanpa berpaling, sambil terus melanjutkan kegiatannya.
Anila menunaikan salat subuh berjamaah bersama Maliq. Ada perasaan tenang mendengar surat-surat yang Maliq lafazkan. Meskipun Anila dan Maliq sama-sama tahu, ini tidak benar.
Maliq memanjatkan doa dengan khusyuk, memohon untuk kelancaran lisan dan mendapat ilham yang baik. Diakhiri dengan doa dalam berbahasa Indonesia, Ya Allah, bila memang ini harus terjadi, terjadilah. Hamba pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Hamba hanya tidak dapat membiarkannya lebih lama larut … sendirian.
"An." Mereka masih sama-sama di atas sajadah, Maliq berbalik. Menatap perempuan dalam balutan mukena putih. Wajahnya tampak polos tanpa riasan, dan bercahaya karena pantulan sinar lampu.
"Hmm?" Anila langsung menundukkan pandangannya begitu manik mata mereka bertemu. Seharusnya memang seperti itu, tetapi Maliq tidak dapat mengalihkan pandangan dari perempuan di hadapannya.
"Maaf kalau aku lancang." Maliq mengeluarkan secarik kertas. "Aku nemu ini." Mata Maliq masih tidak lepas dari Anila. Menunggu reaksi Anila. Maliq siap bila harus menerima kemarahan, atau bahkan tamparan sekalipun karena kelancangannya. Maliq sudah tidak peduli.
Terlihat dari raut wajah, Anila menahan nafas beberapa detik. Sebelum genangan air di matanya menganak sungai. Anila menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berkali-kali menarik nafas dan membuangnya. Maliq tahu, Anila sedang berusaha sekuat tenaga mengontrol dirinya sendiri.
Tangan Maliq memutih, mengepal keras. Semakin besar keinginan Maliq mendekat, memberi ketenangan, menyusupkan kekuatan, semakin keras pula kepalannya. Menahan sebisanya untuk tidak bergerak mendekat.
Perlahan, Anila membuka telapak tangannya. Kali ini Maliq yang menahan nafas. Bersiap pada reaksi terburuk Anila. Namun, tidak ada kata, tidak ada penjelasan. Anila hanya memandang Maliq tanpa berkedip. Pandangan yang Maliq sendiri susah untuk mengartikannya.
"An… Please let me in?" Maliq menatap Anila tajam. Berusaha meyakinkan Anila untuk memberi akses masuk dalam kehidupannya.
__ADS_1
...***...
...Kira-kira, Anila ngizinin Maliq masuk lebih dalam ke masa lalunya nggak, ya?...