
Perlahan satu gelas espresso habis diteguk Anila. Bersamaan dengan selesai dibacanya halaman terakhir Maybi-lah Penulis. Ahhh, lagi-lagi baper. Semoga suatu saat ada Mas Bi versiku, harap Anila.
Anila memutuskan memantau pameran dari kejauhan, sebelum memutuskan kembali ke Jakarta.
"I think everything is on the right track. Good job, Sari," puji Anila sembari menepuk pundak supervisor SPG-nya. Pujian bagi Anila hanya salah satu cara untuk meningkatkan performa bawahannya. Itupun dilontarkan saat memang segalanya berjalan sangat baik dan sempurna. Tujuannya semata-mata agar target tercapai, sehingga Anila makin diperhitungkan. "So … I can go back to Jakarta," lanjut Anila agak lantang. Kali ini ada senyum tipis di bibirnya.
"Cie, mau malam mingguan, ya, Mbak?" celetuk salah satu SPG yang mendengar Anila berpamitan.
Sontak mata Anila memutar ke arah si SPG. Sari dan semua SPG lain membeku. Sementara SPG yang tidak merasa bersalah ini, malah cengengesan merasa tak bersalah. Teman sesama SPG lain menyenggolnya dengan bahu. Namun, rautnya hanya menunjukkan keheranan, ada yang salah?
Anila mengedarkan pandangan ke segala arah, seolah tidak mendengar apa pun. "Sebentar lagi bulan puasa. Target semakin menggila. Untuk apa? Untuk bonus ...," jelas Anila diikuti tepuk tangan kecil semua bawahannya. "dan THR ...," lanjut Anila sambil berjalan mendekati SPG yang bertanya tadi. "Itu pun kalau masih diperpanjang." Lirih, sedikit berbisik, tetapi mampu membuat mata si SPG membulat sempurna.
Anila menjauhi SPG yang bergeming. Membeku, menyadari kesalahan melontarkan lelucon yang menyinggung atasannya.
“Fire her!” bisik Anila pada Sari.
Sari mengangguk kecil. Pertanda itu tugas yang berat untuknya. Salahnya tidak menjelaskan tentang perangai atasannya, terutama pada SPG baru. Sari seharusnya memberitahu bahwa Anila tidak suka bercanda. Terlebih candaan yang menjurus pada masalah pribadi. Tidak profesional, tegas Anila. Sari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mencari alasan bagaimana memecat SPG itu.
Pernak-pernik Ramadan sudah ramai menghiasi mal. Ornamen berbentuk bulan dan bintang bergantung di langit-langit mal. Miniatur kubah masjid membingkai pintu masuknya.
Perasaan tidak nyaman tiba-tiba Anila rasakan. Ramadan. Kenangan itu kembali berkelebatan seperti memutar film cepat.
***
“Mas Rana kalau sahur sukanya makan apa?” tanya Anila saat memilih bahan makanan di koridor sayur dan buah sebuah supermarket.
Ranala tidak menjawab, hanya tersenyum.
Anila menghentikan aktivitasnya. Menoleh ke arah Ranala menuntut jawaban.
Ranala menghembuskan nafas lembut sebelum menjawab, “Memangnya kamu bisa masak apa?”
“A … e … ya … kalau Mas Rana suka makanan apa, aku, kan, bisa cari resepnya.” Anila menjawab dengan gelagapan.
“Aku makan apa pun yang kamu masak.” Ranala tersenyum lagi, kemudian berbelok ke koridor sarapan. Ranala tahu betul, Anila tidak pandai memasak. Anila lebih menyukai aktivitas kampus ketimbang aktivitas dapur. Namun Ranala tidak pernah mempermasalahkan. Asal ada niat belajar, semua ilmu keduniaan bisa dipelajari, begitu jawab Ranala ketika Anila jujur tentang kemampuan memasaknya.
Kenapa, sih, Mas Rana suka sekali senyum. Bikin salting, tahu. Anila memanjangkan langkah menyusul Ranala.
Anila berhasil menjajari langkah kaki panjang Ranala. Mereka berjalan berdampingan dalam diam. Ranala sibuk dengan ponsel yang berbunyi pendek beberapa kali, tanda ada beberapa pesan masuk.
“Beli kurma aja, yuk,” ajak Ranala seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Anila mengangguk menyetujui.
Ada banyak jenis kurma. Pandangan Anila terpusat pada berbagai jenis kurma yang ada. Hingga tidak menyadari Ranala sudah tidak di sampingnya.
“Ini aja, ya, Mas?” Anila menunjukkan kurma pilihannya pada udara kosong. Tidak ada lagi Ranala di sana. Anila mengedarkan pandangan, hingga menemukan punggung Ranala. Membelakangi Anila, menghadap pada seseorang. Anila mendekat hingga terlihat sosok lawan bicara Ranala. Seorang perempuan. Di lengan kanannya bergantung tas merek ternama. Sementara tangan kirinya, menggenggam sesuatu yang bergerak. Anila penasaran apa yang digenggamnya. Anila mendekat untuk bisa melihat lebih jelas.
Seorang anak laki-laki dengan mata bulat dan bulu mata lentik. Mirip anak dari Palestina. Usianya kurang lebih sekitar lima atau enam tahun.
“Aaaah, lucu banget.” Tanpa sadar Anila sudah berada di antara Ranala dan teman perempuannya. Membungkuk dan mencolek dagu anak laki-laki itu.
“Eh … ini … kenalin,” perintah Ranala kikuk. Menyadarkan kekaguman Anila pada si anak Palestina.
“Oh … Anila.” Anila tersenyum lebar seraya menyodorkan tangan kanannya pada perempuan yang menggenggam tangan anak Palestina.
“Oh, hai. Aku Viona. Akhirnya kita ketemu, ya,” seru Viona ramah.
Hah? Anila memutar bola mata pada Ranala meminta penjelasan. Akhirnya. Memangnya pertemuan ini sudah dinanti-nantikan, ya?
“Ranala sudah banyak cerita tentang kamu,” kata perempuan itu santai. Namun tangannya tidak sesantai raut wajah cantiknya. Tangan kirinya berusaha menahan si anak yang sepertinya sudah mulai tidak sabar. “Mbak, nitip Ade sebentar,” perintah perempuan itu pada seseorang berkerudung tidak jauh dari mereka berada.
Perempuan berkerudung segera mengambil alih si anak Palestina. Mengikuti ajakannya, menjauh memasuki koridor mainan anak.
“Ini Viona … sahabat aku.” Ranala menjawab pertanyaan dalam hati Anila.
“Maaf ya. Waktu kalian nikah, aku nggak datang. Soalnya hari kerja aku ya … pas weekend,” jelas Viona bersama tawa kecilnya yang renyah.
“Viona kerja di tempat wisata di Bogor. Jadi kalau akhir pekan pasti lagi rame-ramenya.” Ranala melengkapi pernyataan Viona.
Anila membulatkan mulutnya pertanda paham.
“Eh, aku duluan ya. Itu Ade udah pengen beli mainan. Nanti kita ngobrol lebih banyak ya, Anila.” Viona menyentuh lengan atas Anila. Membuat Anila merasa nyaman, tenang, dan … akrab.
“I … iya,” jawab Anila masih tertegun mengagumi kecantikan dan kelembutan Viona.
“Kalau Rana macem-macem, kamu bilang sama aku!” ancam Viona membuat Ranala berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sembarangan. Kapan juga aku macem-macem,” protes Ranala lirih, tetap dengan senyumnya. Kali ini senyum Ranala lebih lebar. Ada raut bahagia pada air mukanya.
Sepertinya mereka sudah sangat akrab. Tidak ada kecanggungan di antara keduanya. Membaur. Bahkan candaan pun tidak membuat Ranala panik atau terpojokkan.
“Bye!” pamit Viona.
__ADS_1
“Daaah,” jawab Anila spontan.
Ranala menjawab dengan lambaian tangan tanpa berkata-kata. Memandang punggung Viona hingga menghilang karena berbelok di koridor mainan anak.
“Sahabat Mas Rana?” pertanyaan Anila mengagetkan Ranala yang masih memandang ke koridor kosong.
“Oh … iya.” Ranala memalingkan wajahnya dari koridor kosong. Berjalan ke arah berlawanan dengan Viona. “Kamu udah selesai belanjanya? Kita pulang, yuk,” ajak Ranala.
***
“Salam dari Viona,” seru Ranala setelah mengecek ponselnya. Memasukkannya kembali ke saku celana sebelum memasang seatbelt.
“Wa’alaikumsalam.” Anila menjawab singkat.
“Kata Viona …,” jelas Ranala, kemudian memberi jeda sebelum melanjutkan, “Kamu cantik.” Lirih, nyaris tidak terdengar.
Anila menahan senyum. “Kalau kata Mas?” goda Anila. Pertanyaan yang hanya dijawab Ranala dengan senyuman canggung. “Ah, Viona lebih cantik.” Anila berusaha mengalihkan suasana yang menjadi canggung. “Anak tadi itu?” Anila tiba-tiba teringat pada si anak Palestina tadi.
“Itu anak keduanya.”
“Kedua?” Anila terkejut.
“Iya, anak pertamanya udah SMA.”
“Hah? Emang Viona umurnya berapa?” Anila makin terkejut mendengar Viona sudah memiliki anak remaja.
“Ya … beda dua tahunanlah sama Mas.” Ranala membuka jendela mobil untuk menyerahkan karcis parkir dan membayarnya. “Lebih tua,” lanjut Ranala.
“Enggak kelihatan, ya, Mas. Kayak masih muda.”
Ranala hanya tersenyum.
Baik Anila maupun Ranala sama-sama diam di dalam mobil. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Anila belum berhenti mengagumi sosok Viona. Perempuan cantik, mandiri, tetapi keibuan. Sementara Ranala merasakan getar-getar pendek dari ponselnya. Menerka-nerka siapa yang mengirim pesan berturut-turut.
Mobil telah terparkir sempurna di depan rumah industrial vintage kediaman Ranala. Mesin mobil dimatikan hingga otomatis membuka semua kunci pintunya. Anila dan Ranala keluar melalui pintu masing-masing. Anila segera beranjak menuju bagasi untuk mengambil barang belanjaan. Sementara Ranala langsung mengecek ponsel untuk melihat ada pesan apa yang tertinggal.
Anila melihat ada senyum tipis di ujung bibir Ranala. Kemudian abai, karena sibuk dengan belanjaan yang memenuhi kedua tangan. Selama bisa, Anila diajarkan untuk mengerjakan sendiri. Tidak minta tolong pada siapa pun.
Pintu bagasi ditutup hingga menimbulkan gema di antara dinding dan sepinya kawasan Villa Dago. Menyadarkan Ranala untuk mengejar Anila. Tanpa kata mengambil alih belanjaan di tangan Anila. Hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Ini kali kedua. Setelah di palaminan tentunya. Namun lagi-lagi berhasil membuat Anila terhenyak.
“Sorry,” seru Ranala lembut. Entah minta maaf karena membiarkan Anila membawa tas belanjaan sendiri, atau karena sentuhan mengejutkan itu. “Viona ngajak buka bareng,” lanjut Ranala setelah mengambil seluruh belanjaan dari tangan Anila sambil berlalu.
__ADS_1
***