
"I'm trying to…." jawab Ranala. Ada raut penyesalan dari wajah pria bermata cokelat terang itu. Menyesal karena emosi, kejujuran itu akhirnya terpaksa diungkapnya.
Seketika Anila merasa tubuhnya menjadi lemas. Sebisa mungkin tangannya meraih apa pun yang dapat digapai. Sayang, tidak ada benda mumpuni untuk badannya bertumpu. Satu-satunya benda terdekat yang mampu digapai hanya dinding monokrom.
Anila menjatuhkan tubuhnya ke sana. Lebih baik dari pada pasrah pada gravitasi langsung tersungkur ke lantai.
I'm trying to… Kalimat sama terus berulang dalam pikiran perempuan dengan pashmina hitam yang masih bersandar di dinding.
Jadi, selama ini Ranala tidak mencintainya. Semua jelas sekarang, mengapa dalam tiga bulan pernikahan belum juga terlaksana bulan madu dengan alasan kesibukan. Mengapa setiap hari Ranala lembur hingga gelap, bahkan seringnya Anila sudah terlelap saking lelah menunggu. Terjawab semua alasannya kini.
Laki-laki dengan pakaian kerja yang sama sejak kemarin seolah mendapat jalan dengan menepinya Anila. Dia memutuskan melalui Anila agar tidak makin besar penyesalannya. Terlebih karena melihat wajah Anila yang meredup.
Ranala duduk di salah satu sofa, menyampingkan posisinya agar tidak terlalu kentara wajah bersalahnya.
"Tapi aku berusaha, An." Kali ini volume suara Ranala melemah, membuat penyesalannya semakin kentara.
"Apa bedanya?" Sama lemahnya dengan suara Ranala, tetapi beda penyebab. Suara Anila tidak setegas tadi karena kehilangan energi, seperti terserap oleh kekuatan kata-kata Ranala.
__ADS_1
"Berusaha atau tidak, tetap sama. Mas tidak mencintaiku … sekarang." Anila menutup matanya dan mengakibatkan jejak basah di pipinya. Perempuan muda itu masih tidak bisa mempercayai pernikahan idamannya dijalani tanpa cinta.
"Makannya, bantu aku!" pinta Ranala dengan nada bicara meninggi. Bahkan Ranala berani menatap Anila dengan penuh keyakinan.
"Tolong bantu. Bantu aku agar bisa mencintaimu," ulangnya makin tegas.
Anila melihat kesungguhan di balik tatapan Ranala. "Tapi aku bisa apa?" tanya Anila karena dirinya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. "Aku bisa apa agar Mas bisa mencintaiku?" lanjut Anila disertai derai tangis putus asa.
Ragu Ranala beranjak dari duduknya, mendekati perempuan yang tengah menangkupkan telapak tangan ke wajah. Air mata perempuan belia itu terus berderai tanda kekecewaan. Anila terlalu terpaku pada kesedihannya, hingga tidak menyadari posisi Ranala yang sudah sangat dekat.
Ranala menyentuhkan ujung telunjuk pada punggung tangan Anila yang menutupi wajahnya. Anila terhenyak dengan sentuhan tiba-tiba itu. Perempuan itu akhirnya membuka tangkapan telapak tangannya hingga terlihat jelas merah mukanya menahan entah sedih, kecewa, atau marah. Yang pasti ketiganya tetap menghancurkan hatinya.
Ranala menarik tubuh yang bersandar pada dinding itu untuk bertumpu pada tubuhnya. Lengan panjangnya mengikat tubuh Anila, hingga Anila merasa sesak dan tidak dapat melepaskan diri. Tangan lainnya yang masih terbebas merajut lembut tangan Anila.
***
"Terus?" tanya Maliq. Apa hanya perasaan Anila atau memang benar. Ada nada lebih tinggi dari biasanya pada intonasi suara Maliq.
__ADS_1
"Ya udah, terus apa lagi?" Anila bisa merasakan wajahnya memanas di tengah sejuknya udara.
"Gitu doang? Nggak mungkin," tuduh Maliq.
"Ya ... ng ...nggak ...harus detil juga, kan." Anila gelagapan.
"Dasar mesum!" tuduh Maliq yang dibalas pukulan keras pada punggungnya. Saking kerasnya hingga Maliq mengaduh sambil meringis.
"Salah sendiri! Yuk, ah, pulang. Udah malam."
"Yah…nggak seru, ceritanya ngegantung," keluh Maliq. Anila membalas dengan dengusan dan mata berputar malas.
"Kamu tahu?" kata Maliq tiba-tiba saat mereka berdua beranjak. "Cuma satu hal itu yang nggak bisa aku lakuin ke kamu."
"???"
...***...
__ADS_1
... Hal apakah itu, Maliq? ...