Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 33 - MENYERAH


__ADS_3

*Menikah bukanlah hanya mengikat dua manusia, tetapi juga menyatukan dua keluarga. Di mana di dalamnya terdapat banyak kepala yang bersuara, juga hati yang harus di pahami dan lindungi. *


Masih ingat dengan Mbak Anna? Adik Ranala satu-satunya. Usianya terpaut sepuluh tahun dengan Ranala, yang berarti hanya berjarak lima tahun dari Anila. Anna seorang pegawai bank swasta, posisinya pun bukan main-main. Namun, tingginya jabatan pada sebuah perusahaan, maka waktu bukan lagi miliknya seorang. Akan ada banyak orang yang memintanya, untuk sekadar rapat, penilaian, peninjauan, pemeriksaan, dan banyak lagi.


"An, bantuin Anna, ya. Nggak ada yang bisa Mami andalkan selain kamu," ucap Mami di seberang telepon.


"InsyaAllah, Mi," jawab Anila.


Survei sana-sini, mencari jadwal wedding expo, sampai browsing hal-hal yang berbau pernikahan menjadi kebiasaan baru Anila demi membantu persiapan pernikahan Anna.


Sortiran Anila akan mengerucutkan pilihan. Sortiran ini yang akan disampaikan pada keluarga calon mempelai wanita–Keluarga Ranala, juga keluarga calon mempelai pria yang berada di Sleman, Jawa Tengah. Hal ini tentu akan memudahkan kedua belah pihak untuk memilih.


"Makasih, ya, An. kita sama keluarga calon Anna di Sleman puas dengan pilihan kamu," ucap Mami tulus.


"Alhamdulillah, Mi, kalau semua cocok. Anila cuma mau ingetin, nanti kita meeting pertama sama semua vendor H min sebulan, ya, Mi. Berhubung keluarga Sleman nggak hadir, jadi kita yang harus datang. Mami, Papi, Mbak Anna juga luangin waktu, ya."


"Nah, itu dia, An," sesal Mami sebelum memberi penjelasan. "Kayaknya Mami sama Ranala nggak bisa hadir."


Anila menautkan kedua alisnya.


"Mami sama Ranala berencana berangkat Umroh di tanggal itu."


"Umroh?"


"Iya, cuma tujuh hari. Hanya keberangkatannya pas banget dengan jadwal meeting vendor itu."


Anila tidak mungkin protes pada ibu mertuanya terkait rencana umroh mereka, karena itu akan memperjelas ketidaklancaran komunikasi antara Anila dan Ranala.


"Tapi Papi sama Anna bisa hadir, kok."


"Oke, Mi." Perempuan bermashmina hitam itu mengangguk dengan memaksakan sebuah senyuman. Pikirannya masih bertanya-tanya. Mengapa rencana sepenting ini Anila baru tahu, itu pun bukan dari mulut suaminya sendiri.

__ADS_1


    ***


"Mas, benar Mas mau umroh sama Mami?" tanya Anila saat keduanya mengakhiri makan malam di rumah.


"Ooo, jadi Mami udah cerita?" Pertanyaan yang dijawab pertanyaan enteng oleh Ranala.


"Mas kok nggak cerita? telisik Anila sambil membereskan bekas makan suaminya.


"Ya, aku bakal cerita, tapi belum aja. Tapi pasti akan cerita, kok." Ranala bangkit dari kursi makan menuju ruang tengah sekaligus ruang tamu rumah industrial vintage itu.


Perempuan muda itu merasa tidak puas dengan jawaban suaminya. Dia mengikuti pergerakan Ranala dan duduk di sisi suaminya. "Maksud aku, kenapa bilangnya saat sudah jadi sebuah keputusan? Kenapa nggak saat Mas baru berencana, kemudian diskusikan dulu sama aku. Aku setuju atau tidak, atau waktunya pas atau tidak. Untung saja ini bentroknya hanya dengan meeting vendor gimana kalo bentroknya dengan jadwal aku wisuda?"


"Ya nggak akan, lah. Jadwal wisuda, kan, pasti sudah keluar jauh-jauh hari," jawab Ranala ringan, seolah tidak ada yang salah dengan sikapnya.


"Mas, ayolah. Kamu ngerti, kan, maksud aku apa? Tolonglah, libatkan aku pada setiap keputusan yang akan kamu buat. Aku istri kamu, loh. Apa jangan-jangan Mas nganggep aku masih anak kecil? jadi nggak bisa diajak diskusi, bertukar pikiran, gitu?"


Ranala mengembuskan napas masygul. "Mulai deh melebar ke sana-sini."


Perempuan dengan rambut diikat kuda itu akhirnya diam, tidak ingin memperpanjang perdebatan, tetapi menyimpan banyak ganjalan. Kesalahan pada sebuah komunikasi. Mengakhiri tanpa mendapat solusi.


Anila terpaksa menyetujui keinginan Ranala. Meskipun maksudnya bukan ingin menghalangi atau melarang Ranala ibadah, dia hanya ingin diikutsertakan dalam mempertimbangkan setiap keputusan yang berhubungan suaminya. Atau setidaknya, menjadi orang pertama yang tahu segala sesuatu tentang Ranala, suaminya.


"Mas sudah siapkan perlengkapan umrohnya?"


Ranala menggeleng, "Bantuin, ya. Nanti aku kasih list yang dikasih agen travel-nya."


Lagi-lagi, Anila dipaksa secara halus menjalani setiap putusan Ranala. Bila dalam sebuah organisasi, Anila merasa hanya sebagai tim pelaksana saja. Mengerjakan apa yang sudah ditetapkan, tanpa dilibatkan dalam rapat atau pengambilan keputusan.


Di saat yang bersamaan, Anila dilibatkan pada dua rencana besar. Persiapan pernikahan Anna dan persiapan keberangkatan Mami dan Ranala umroh. Terpaksa pengerjaan Tugas Akhir-nya mengalami penundaan lagi.


Seperti hari itu, pagi-pagi benar Anila sudah berada pada sebuah pusat perbelanjaan terlengkap di Kota Kembang. Daftar belanjanya adalah kain seragam untuk uwa dan bibi dari pihak calon mempelai perempuan, serta beberapa setel pakaian putih untuk Ranala. Beruntung, masih ada kain ihram bekas Papi, sehingga tidak perlu repot lagi mencari.

__ADS_1


Ada perasaan tidak suka terbersit pada diri Anila. Entahlah, rasanya tidak terlalu bersemangat untuk melengkapi kebutuhan umroh Ranala. Seperti perasaan tidak rela. Apa karena dia tidak dilibatkan dalam rencana umroh itu? Anila sendiri tidak tahu pasti, yang jelas ada ganjalan.


"Mas, umrohnya nggak bisa diundur?" tanya Anila seraya memasukkan kebutuhan umroh Ranala dalam satu koper besar.


"An, ini udah tinggal hitungan hari. Hangus, dong, uangnya."


"Memangnya nggak ada agen travel di Bandung aja, Mas? Sampai manasik aja di Jakarta," protes Anila karena saat manasik pun tidak dapat ikut menemani. Karena bentrok dengan agenda test food catering. Kalau di Bandung, kan, setidaknya Anila bisa mampir walau sebentar.


"Ini, tuh, agen travel keluarga Mami. Nggak enak, lah, kalau kita pakai agen travel yang lain."


"Semoga semua lancar, ya, Mas. Tapi ... kok, perasaan aku nggak enak."


"Sssttt. Pokoknya, Anila sebagai istri salehah terus doain Mas, ya. Supaya perjalanannya lancar, pulang lagi dalam keadaan selamat. InsyaAllah, doa istri salehah, Allah kabulkan." Ranala menenangkan dengan merangkul pundak Anila.


Hari keberangkatan tiba. Anila hanya dapat mengantar hingga rumah Mami. Selebihnya Ranala dan Mami akan diantar sopir untuk bertolak ke Jakarta. Perasaan Anila makin kalut, berulang kali Anila beristighfar untuk menghalau hatinya yang semakin kusut.


"Doain Mas, ya," pamit Ranala seraya mencium kening Anila.


Anila membalas dengan meraih punggung tangan suaminya dan mencium penuh khidmat. Tidak dapat menahan, Anila meraih tubuh tegap Ranala dan mendekapnya erat. Seolah ada perasaan lama tidak akan bertemu wajah yang dipenuhi rambut tersebut.


"Mas janji akan pulang dengan selamat," ucap Ranala sambil mengelus puncak kepala Anila yang tertutup pashmina.


Mobil hitam itu membawa tubuh Ranala menjauh. Perasaan tidak enak itu makin menjadi-jadi. Allah...Allah…Allah…. Hanya itu kata yang sanggup diucapkan Anila dalam hati. Tak terasa bulir bening menetes dari sela-sela kelopak matanya.


"Kita berangkat?" ajak Anna. Ya, beraktivitas tentu akan mengalihkan kekhawatirannya.


"Yuk."


Meeting Vendor berlangsung selama berjam-jam, diakhiri tepat saat azan maghrib berkumandang. Sebuah *notifikasi posting-*an baru diunggah oleh instagram agen travel yang digunakan Ranala. Tertera caption : "Bismillah. Keberangkatan Umroh. Semoga Allah ridhoi, sehatkan jamaah semua dan diberikan nikmat ibadah yang luar biasa."


Anila membesarkan gambar di atas caption guna mencari wajah Ranala. Seketika mata Anila membulat saat memandang seseorang dengan jilbab biru muda. Wajah yang sangat dikenalnya, Viona. Viona ada bersama rombongan itu.

__ADS_1


*Aku menyerah, *batin Anila


***


__ADS_2