Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 40 - AKHIR KISAH


__ADS_3

Aku sudah berhasil memahat wajahmu di pikiranku. Rambut hitam gelombang sebahu,  kulit sawo matang, alis lebar tidak beraturan, tulang hidung menonjol sedikit di bagian tengah, bulu mata lurus dan halus, serta sepasang bibir tipis yang jarang melengkung bila berada dalam ketidaknyamanan, tetapi dengan sukarela mengembang saat dalam kenaiman, salah satunya saat kita berpatungan.


Cukup rasanya ini menjadi sumber kekuatan saat aku gamang dan bimbang. Kau akan menjadi angan yang kudekap meski hanya dalam ingatan. Pengingat bahwa aku tidak sendirian, serta pemberi keberanian bila sewaktu-waktu ajalku datang.


Batin Anila menguatkan diri untuk tidak meneteskan bulir yang akan membuat laki-laki di sampingnya makin sulit melepaskan. Seluruh gesturnya dibuat seolah-olah dia memang siap dengan perpisahan. Senyum terbaik mengembang dan binar mata kegembiraan.


"An, janji ya." Kali ini Maliq yang menatap manik hitam Anila begitu pekat, membuat kedua alis Anila saling berikatan.


"Janji, apapun yang terjadi, kamu akan memilih untuk bahagia." Ada ragu dari nada bicaranya, seolah tidak percaya bahwa Anila bisa.


Perempuan dengan kerudung yang diikat di leher mengangguk cepat meyakinkan. "I will," jawab Anila disertai gestur dua jari terangkat dan senyuman yang diharap bisa menenangkan Maliq, setidaknya untuk saat ini.


Perjalanan Jakarta-Bandung tersingkat dalam hidup Anila. Kereta seperti bertransportasi, berpindah dari satu titik ke titik lain tanpa melewati jarak antara kedua titik. Meskipun enggan, masanya sudah datang. Berpisah, sebagai akhir dari kisah.


"Layaknya kereta yang kita naiki, aku sudah sampai pada takdirku. Dan kau pun sedang menuju pada akhirmu. Tujuan kita memang berbeda, meskipun dengan kendaraan yang sama. Hajat kita berbeda, meskipun ingin sama-sama bahagia. Syukuri apa yang sudah digarisi, belum tentu kita akan mendapat yang lebih baik dari ini. Setelah ini, jangan cari aku. Aku akan bahagia dengan caraku. Janji!" Pesan terakhir yang Anila tuliskan pada seseorang di dalam kereta. Kereta yang pergi menjauh membawa pergi tempat hatinya pernah berlabuh. Anila memblokir nomer itu dan menghapus untuk selamanya. Tidak akan ada lagi cerita antara mereka. Kecuali bertemu dalam do'a.


Perempuan itu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan. Menghalau teriakan yang mungkin datang bersamaan dengan raung tangisan. Tidak pernah terbayang akan sesakit ini. Mengikhlaskan sesuatu yang disayang, meskipun tahu kenyataan bahwa perasaan itu tidaklah bertepuk sebelah tangan.


Kereta berubah menjadi sebuah titik kecil yang kemudian menghilang. Anila menghirup nafas panjang, mengalihkan mode impian menjadi kenyataan. Karena kenyataan lah yang harus dihadapinya sekarang.


***

__ADS_1


"Assalam'ualaikum," sapa Anila yang disambut wajah yang begitu dirindukan, Papi. Tubuh itu tidak segempal yang Anila ingat, perut buncit menyusut, dan ada kantung besar menggelayut di bawah mata.


"Wa'alaikumsalam. Anila, anak Papi!" sambutnya masih sama hangat. Papi mengusap ujung kepala Anila yang tertutup kain kerudung segi empat. "Sama siapa?" Papi melongok ke belakang punggung Anila.


"Sendiri, Pi."


"Rana?" telisik Papi tidak puas dengan jawaban perempuan yang tampak lelah itu.


"Mas Rana belum tahu Anila datang," jawab Anila jujur.


"Ya, sudah, ayo masuk." Papi merengkuh pundak Anila dan menggiring melewati pintu serat jati rumah berwarna putih itu. "Mamimu lagi pergi. Papi sendirian," seru Papi menjawab pertanyaan Anila yang tidak diungkapkan.


"Papi puasa, Nak."


"Kok? Bukannya Papi harus minum obat? Jangan terlalu memaksakan diri, Pi," protes Anila.


"Habisnya, kalau nggak puasa juga Papi nggak selera makan. Mual, Nak, kalau makan."


"Untuk buka nanti Anila masakin sop ikan, ya," tawar Anila seraya menunjukkan keresek berisi bahan masakan yang dibelinya saat perjalanan dari stasiun menuju rumah Papi.


Papi membalas dengan anggukan sebelum berkata di luar topik pembicaraan, "Maafin Papi, ya. Karena sudah membuat hidupmu susah. Papi merasa bersalah sama ayah dan bundamu."

__ADS_1


Perempuan yang sudah duduk di sisi pria paruh baya itu menanggapi dengan mengusap punggung tangan yang terlihat makin kurus itu. "Anila baik-baik aja. Papi do'ain Anila, ya."


"Selalu, Nak. Selalu." Mata tua itu terlihat berlinang menahan keluarnya butiran bening.


***


Anila menemani Papi menuju tempat istirahat selepas mengimami salat dzuhur. Kondisi Papi saat ini tidak memungkinkan beraktivitas dalam waktu lama. Tubuh cepat lelah itu menuntut rehat barang sejenak. Anila membantu menaikkan tubuh lemah itu ke atas tempat tidur. Setelah memastikan tubuh itu nyaman di petiduran, Anila menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan mata yang baru saja terpejam.


Anila meletakkan seluruh barang bawaannya ke dalam kamar bekas Mbak Anna. Dia belum berminat kembali ke kamar Ranala muda. Masih ada enggan bersemayam, yang dia sendiri tidak tahu kapan akan hilang.


"An, kapan datang?" suara Mami tiba-tiba sudah ada di belakang punggung Anila yang sedang sibuk memberishkan ikan nila segar.


"Eh, Mami." Anila membasuh tangannya di kitchen sink sebelum meraih tangan Mami dan mencium punggung tangan dingin itu. "Baru saja, Mi," jawab Anila sedatar mungkin disertai senyum yang dipaksakan, menghalau kecewa yang sempat terbersit akibat perlakuan Mami lima tahun yang lalu. "Mami bersih-bersih dan istirahat dulu, gih. Biar Anila yang masak." Saat ini sendiri mungkin lebih baik, setidaknya Anila perlu waktu menata hati dan intonasi suara agar tidak meledak seperti dulu kala.


"Ya udah, Mami ke air dulu, ya. O, ya, masaknya agak banyakan ya. Soalnya Rana mau buka di sini juga katanya," pesan Mami sambil berlalu. Seolah tidak ada beban yang ditimbulkan dari kalimat yang dikeluarkan.


Deg! Ranala datang. Siapkah Anila bertemu muka lagi dengan Ranala? Bertemu di depan Papi.


***


Kalau ketemu sendiri mungkin lebih bisa mengeluarkan ekspresi tidak suka, sebal, dan sebagainya. Tapi kalau di depan mertua, serba kagok, gak, sih?

__ADS_1


__ADS_2