
"Anak?"
Anila paham betul arah pembicaraan ini ke mana. Perempuan yang sedang tidak puasa itu menyesap kopi hitamnya sebelum menanggapi keinginan Papi. "Papi doakan, ya. Lagi pula, ngapain Anila harus cerita tentang Papi ke anak-anak Anila? Mereka akan kenal kakeknya secara langsung, kok," canda Anila disertai tawa yang dipaksakan. InsyaAllah, doa Anila dalam hati.
Langit sore mulai menghitam, kabut gunung sudah turun, membuat jarak pandang memendek. Udara dingin mulai menusuk tulang. Anila mengeratkan jaket parasut untuk merangkum kehangatan dari tubuhnya agar tidak ke luar.
"Alhamdulillah puasa terakhir kita," ujar Papi di ujung meja makan kayu trembesi utuh yang bisa memuat 12 orang dewasa.
Diantaranya sudah datang Ayah dan Bunda dari Surabaya. Saking rindunya Bunda terus memegangi tangan Anila yang sudah selama lima tahun ini tidak dilihatnya secara langsung. Rindu ini akhirnya membuncah pecah tidak terbendung. Anila menyadari dia banyak melewatkan waktu-waktu berharga demi ambisinya.
Anila mengamati lamat-lamat, wajah Ayah dan Bunda tidak lagi semuda dulu. Hari-hari mereka tentu berat menahan rasa ingin bertemu si bungsu yang selalu beralasan untuk pulang. Anila menciumi punggung tangan wanita paruh baya itu, tangan dengan urat menonjol di beberapa bagian. Maafin Anila, ya, Bun. Anila janji tidak akan pernah lari lagi, batin Anila sambil sesekali mendengar Papi yang masih terus memberikan arahan untuk acara besok.
"Papi ini 13 bersaudara, enam diantaranya sebapak, enam lainnya satu ibu. Alhamdulillah semua masih lengkap. Besok mereka akan datang ke sini semua, bersama anak, cucu, dan beberapa sudah punya cicit. Cuman Papi aja yang belum punya cucu karena telat menikah. Eh, lha kok anak-anaknya juga ikutan telat." Papi menepuk pundak Ranala yang duduk di sisi kirinya.
"Tidak ada yang telat, Mas. Semua sudah Allah atur sesuai waktu-Nya," sela Ayah bijak.
"Astaghfirullah, iya…iya betul itu," sela Papi diiringi tawa yang diikuti gema canda.
Suara takbir mulai memenuhi udara pegunungan. Sesekali dibarengi dengan suara serangga dan embikan kambing di kejauhan. Anila sudah lupa kapan terakhir kali menikmati suara alam seperti ini. Hidupnya terlampau keras dalam lima tahun terakhir, hingga lupa cara menikmati sebuah kata 'jeda'.
"Istirahat, besok kita kerja keras," ujar suara bariton yang baru keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar pondok.
__ADS_1
Anila yang duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur bergeser menjauh, memberi jarak pada laki-laki dengan rambut yang masih basah itu. Aroma segar menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Sesungguhnya aroma itu sungguh menggoda untuk didekati, tetapi Anila urung. Perempuan yang masih berkerudung bergo tali itu memilih memunggungi, membenamkan diri ke dalam selimut, dan menutup rapat kelopak matanya.
Anila belum tertarik untuk menjalin komunikasi lebih intim, selain reaksi 'ya', 'tidak', atau 'belum'. Hatinya masih saja menolak.
"Kalau hati saya belum bisa memaafkan bagaimana, Ummi?" tanya Anila melalui pesan singkat yang sempat dikirimkan pada Ummi–istri ustadz Rahmat.
"Mintalah pada pemilik hati untuk bisa memberi maaf sekalipun orang yang menyakiti teteh tidak memintanya. Karena memaafkan itu bukan untuk dia, melainkan untuk diri teteh sendiri. Dengan memaafkan, itu berarti teteh telah membantu luka hati teteh sembuh lebih cepat." Sebuah balasan yang menampar Anila sekaligus memberi jawaban mengapa hidupnya tidak juga tenang dalam lima tahun belakangan.
Ya Allah, bimbing aku agar dapat mengambil pesan dari semua kejadian. Sadarkan aku bahwa semua hal yang telah dan akan terjadi ialah taqdir-Mu. Jadikan setiap taqdir-Mu, membawaku lebih erat kepada-Mu. Lapangkan hatiku agar bisa memaafkan. Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa orang yang telah menyakitiku. Doa yang didawamkan Anila dalam sunyi sepertiga malam. Kendati berhalangan, Anila tetap tidak menyia-nyiakan waktu mustajab untuk meminta.
...***...
Dengan pakaian serba putih, Anila, Ranala beserta seluruh anggota keluarga lain menyambut kedatangan adik-adik Papi. Satu mobil mini bus hitam diarahkan Ranala untuk parkir di barisan terdepan, disusul mini bus merah, biru tua, putih, hitam lagi, dan banyak lagi hingga Anila kelimpungan mengidentifikasi setiap kendaraan yang datang.
"Iya, belum semua ini. Ini baru rombongan dari yang satu kakek," jawab Ranala enteng dan bangga dengan keluarga besarnya.
Perempuan dengan gamis putih itu makin membelalakkan matanya ketika melihat di balik pintu mobil itu tidak hanya ada kumpulan orang dewasa, melainkan anak-anak kecil yang langsung bertebaran ke sana ke mari seolah sudah lama menahan diri di dalam mobil.
"Mas, piring, sendok, gelas kita cukup nggak, ya?" Anila khawatir.
Ranala menepuk keningnya. "Duh, iya bener. Terus gimana?"
__ADS_1
"Ya udah, Mas stand by di depan sambil nemenin tamu. Begitu Mas lihat piring kosong, langsung tarik, bawa ke belakang. Aku stand by di belakang untuk cuci dan keringkan," saran Anila.
"Oke, sekalian aku pantau makanan yang harus diisi ulang," ujar Ranala menambahi.
"Iya. Aku terus hangatkan makanan di belakang supaya siap untuk dihidangkan kalau-kalau yang di meja hidang habis."
Ranala dan Anila menyambut para tamu yang kalau dihitung jumlahnya lebih dari 100 orang. Seluruh kursi penuh terisi. Seluruh sudut terpencil pun tidak luput dari keberadaan orang-orang yang membentuk koloni sendiri. Ada yang sesuai usia, jenis kelamin, ataupun kesamaan profesi.
Anila merekahkan senyum setiap melewati beberapa seraya bertanya ramah. "Kalau ini siapa? Anaknya siapa?" Anila bahkan tidak dapat mengingat satu persatu namanya. Hanya sepintas, kemudian kembali ke dapur kotor tempat tumpukan piring dan gelas kotor berada.
Ranala tidak kalah sibuk. Berkali-kali dia memasuki dapur kotor dengan setumpuk sampah yang dibuangnya ke dalam trash bag hitam dan menaruh piring lengkap dengan sendok yang masih belepotan dengan sisa makanan. "An, baksonya sudah mau habis," lapor Ranala.
"Itu sudah mendidih kuahnya. Tolong masukan baksonya, Mas."
Ranala mencari keberadaan bakso, setelah menemukannya, dia memasukan ke dalam kuah mendidih dan menutup kembali pancinya agar mempercepat baksonya matang. Pandangan Ranala beralih pada Anila yang tengah kerepotan mencuci piring kotor. Tangannya penuh dengan sabun sementara jilbab segi empat menjuntai ke bawah hingga ujungnya masuk ke dalam bak cuci piring.
"Sorry." Dari belakang punggung Anila, Ranala mengambil ujung jilbab yang sudah basah di bagian ujung. Tangan berbulu itu menaikan jilbab ke arah leher Anila dan menalikannya. Kegiatan itu menyebabkan dada laki-laki itu menyentuh punggung Anila.
"Aku ke depan lagi," pamit Ranala kikuk setelah sepersekian detik tubuh mereka saling bergesekan.
...***...
__ADS_1
...Ada yang dag dig duh der tuh.... 🤭🤭🤭...