
Beruntung Anila tiba di Jakarta dua jam sebelum acara dimulai. Anila harus bergegas. Dia harus pergi ke binatu untuk mengambil gaunnya. Tidak ketinggalan, ke salon untuk menyempurnakan penampilan.
Anila melakukan seorang diri. Tidak ada asisten, bahkan untuk mengurus apartemen juga dilakukan seorang diri. Anila menutup semua akses bagi siapa pun untuk masuk dalam kehidupan pribadinya.
Tidak ada teman dekat, apalagi sahabat.
Sahabat … Hauna … Maliq. Gimana kabar mereka sekarang, ya?
...***...
Roda becak, begitu sebutannya. Anila, Hauna, dan Maliq. Mereka sama-sama dari fakultas teknik, hanya beda jurusan. Anila dan Hauna Teknik Industri, sementara Maliq Teknik Arsitektur. Ketiganya saling mengenal saat sama-sama menjadi anggota MAPALA–Mahasiswa Pencinta Alam.
Jangan bayangkan Maliq sebagai laki-laki gemulai karena bersahabat dengan perempuan. Tidak. Dia laki-laki tulen, normal. Jangan tanya berapa banyak perempuan yang kirim salam pada Anila dan Hauna. Jangan tanya pula, berapa banyak perempuan yang kecewa karena ditolak Maliq. Banyak. Dia lumayan terkenal, bahkan hingga fakultas kedokteran.
Rasanya Maliq menjadikan Anila dan Hauna sebagai tameng dari ajakan perempuan-perempuan agresif. Namun, Anila dan Hauna yang menyadari pun tidak mempermasalahkan. Mereka ikut aktif melindungi Ustaz Maliq.
Ya, Ustaz Maliq. Begitu sindir Anila dan Hauna kalau sudah diceramahi panjang lebar oleh Maliq, "Bajunya jangan ketat-ketat! Jangan nunda-nunda salat! Kerudungnya jangan diiket! Rambutnya keliatan, tuh!" Masih banyak lagi wejangan Ustaz Maliq. Namun, apakah Anila dan Hauna jera? Tidak. Mereka malah sering menggoda Maliq dengan menyengaja berbuat salah. Ujung-ujungnya Maliq hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sahabatnya.
Meski sering dibuat kesal oleh Anila dan Hauna, Maliq tidak pernah menarik diri. Sesibuk apa pun dia, saat tahu Anila dan Hauna berkendara dengan motor lebih dari waktu maghrib, Maliq akan meninggalkan semua kesibukan. Membuntuti motor Anila dan Hauna dari belakang dengan motor jadul milik bapaknya.
“I think, both of you are simply meant to be,” kata Hauna tiba-tiba. Tepat setelah mereka bertiga menonton film di bioskop. Anila duduk di antara Hauna dan Maliq. Anila dan Maliq memang lebih sering berdebat tentang banyak hal. Namun sekaligus memiliki banyak kesamaan. Salah satunya, tidak mau pacaran.
“Muka bahkan sifat kalian tuh mirip. Udah jadian aja,” ujar Hauna saat sudah lelah mendengar debat kusir Anila dan Maliq. Kalimat pamungkas yang mampu menghentikan debat tiada akhir. Kalau sudah begitu, mulut Anila terkunci, kosakatanya habis ditelan. Seketika otaknya kosong, dan wajahnya memanas.
__ADS_1
Hal yang Anila paling suka adalah saat mereka bertiga bepergian dan mampir pada musala kecil. Saat-saat itu, biasanya Maliq yang menjadi imam salat. Suara merdu dan irama bacaanya, masih terpatri dalam ingatan Anila.
...***...
Salat. Astaghfirullah. Anila beristighfar. Anila merasa bersalah. Kesibukan membuatnya tidak menyadari waktu hingga terlewat waktu awal salat asar.
“Mbak, saya salat dulu,” izin Anila pada penata rias yang sedang memulas wajahnya.
“Eh … tapi, Mbak … ini udah dikasih foundation.”
“Biarin, Mbak. Nanti ulangi aja. Saya bayar lebih.” Anila berdiri dari kursi dan bergegas menunaikan salat.
Slip cape dress burgundi membalut tubuh terawat Anila. Aksen jubah yang terbentuk dari belahan lengan, membuat Anila terlihat anggung, stylish, dan modern.
Meja-meja bundar dengan taplak putih polos dikelilingi kursi senanda. Bunga mawar merah muda menghiasi setiap meja dan sudut-sudut ruangan. Alunan musik instrumen mengalun, belum banyak orang yang hadir. Anila melirik jam di ponselnya. Sebentar lagi azan isya. Anila yang masih memiliki wudu balik badan menjauhi ballroom. Berjalan teratur mengikuti tanda musala.
Sepatu hiking coklelat tua. Satu-satunya sepatu yang ada di rak musala. Penanda hanya satu pengunjung yang ada di dalamnya. Sebuah tirai membatasi tempat salat pria dan wanita. Sudah waktunya, Anila melirik jam digital penunjuk waktu salat di muka musala.
Allahuakbar … Allahuakbar … Anila menyimak setiap kalimat iqomah.
“Istau wala takhtalifu, fatakhtalifa qulubahum.” Suara imam meluruskan saf membuat Anila tertegun sesaat.
"Allahuakbar." Hening sesaat. Anila menirukan imam.
__ADS_1
"Alhamdulillahirobil'alamin…." Seketika fokus Anila terpecah. Tidak mungkin benar. Suara itu, irama itu. Ya Allah, jangan sekarang. Jangan saat ini. Jangan saat aku berpakaian seperti ini. Anila mengulang-ulang dalam hati. Salat kali ini rasanya lama sekali. Anila benar-benar tidak menikmati salat dalam khusyuk. Kalau saja tidak ada imam yang menuntun bacaan dan gerakan, Anila sudah lupa bacaan serta jumlah rakaat yang sudah ditunaikan.
"Assalamu'alaikum warahmatullah … Assalamu'alaikum." Anila langsung bangkit, beranjak dari duduk tahiyat akhirnya. Melipat mukena dan meletakkannya kembali ke rak di ujung musala. Tanpa zikir, tanpa berdoa. Anila melangkah ke luar musala. Menyempatkan melirik rak sepatu. Sepatu hiking cokelat tua masih tegak di tempat semula. Pertanda si pemilik belum ke luar.
Anila menekan tombol lift menuju lantai teratas hotel. Suara pembawa acara sudah menggelegar disertai musik yang tidak kalah membahana. Anila memilih duduk diantara orang-orang yang dikenalnya sepintas. Menghindari perbincangan yang berlarut-larut. Pikirannya terlalu kalut.
Saat ini Anila membutuhkan waktu untuk menata diri dan debaran jantungnya. Oksigen lebih banyak untuk bisa mengalir ke otaknya. Agar otaknya bisa berpikir dengan jernih. Andai dia bisa melarikan diri barang sekejap, tapi tidak mungkin. Sudah memasuki acara inti. Namanya sudah disebut sebagai nominator penerima penghargaan.
Ketukan drum semakin cepat, nyaring, dan membahana. Anila beruntung degupan cepat dan kencang jantungnya teralihkan suara drum. Andai semua hening, Anila yakin telinganya dapat mendengar degup keras jantungnya. Tidak. Bukan karena penantian siapa penerima penghargaan. Namun, suara imam salat yang terus bergaung di dalam kepalanya.
"Nodya Ayu Ristanila." Pembawa acara menyebutkan nama Anila. Sekuat mungkin Anila mengerem laju jantungnya. Mengalihkan wajahnya ke mode tenang. Menarik napas panjang dan menarik ke samping kanan-kiri kedua sisi bibirnya.
Anila menyambut beberapa tangan yang memberikan ucapan selamat. Tanpa basa-basi, Anila melarikan diri dari kerumunan. Rasanya tidak perlu berpamitan pada semua orang. Anila hanya berbisik pada atasannya untuk pulang lebih dulu karena terlalu lelah.
Seperti maling yang hendak melarikan diri. Anila memastikan koridor sepi sebelum memutuskan berbelok. Termasuk saat memilih lift, semua tombol lift ditekan. Mengintip dari samping pintu. Takut berhadapan dengan orang lain dari dalam lift.
Berhasil. Anila berhasil masuk ke dalam mobilnya. Dia bisa bernapas lega sekarang. Anila mengatur napasnya yang tersengal sebelum memakai seat belt dan menyalakan mesin. Menghidupkan radio yang memutar lagu ber-beat rendah. Berharap bisa membantu menyamakan ritme jantung dengan ketukan irama lagu.
Anila menjalankan mobil dalam tenang. Berhasil lolos. Senyum puas tersungging di bibirnya. Dirinya hanya perlu berbelok di depan, menyerahkan kartu parkir dan … bebas.
Anila tiba di belokan, tidak melihat ke arah kiri. Sebuah motor tiba-tiba saja muncul dan dengan sekejap sudah berada di depan mobil Anila. Astaga. Anila melindas sesuatu. Bunyinya seperti benda terapit antara ban mobil dengan lantai.
Anila membuka pintu kemudi tanpa menutupnya kembali saking paniknya. Melihat benda yang tadi dilindasnya. Ban motor. Syukurlah. Ada rasa lega. Rasa lega yang berlangsung sesaat, karena menyadari kaki si pengendara ternyata tertimpa badan motor yang ambruk.
__ADS_1
"Ya ampun." Tanpa berpikir panjang Anila menegakkan motor yang jatuh karena tertabrak olehnya. Sebagai mantan anak MAPALA, kekuatan Anila tidak bisa disamakan dengan perempuan biasa. Setelah motor berhasil berdiri sempurna, Anila memastikan keadaan pengendara motor. "Nggak apa-apa, Mas…." Anila diam sesaat, "Maliq?"