Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 19 - KAMU DI MANA?


__ADS_3

Embun yang menutupi pandangan Anila mencair juga. Menjadi anak sungai yang tidak dapat dibendung. Lama Anila menatap nanar punggung yang membelakanginya. Punggung yang tidak juga berbalik. Entah berapa lama, hingga lelah mata Anila dan terpejam dalam genangan gundah.


Segaris cahaya menelusup dari sela tirai. Anila tersentak. Terlebih saat menyadari punggung di samping sudah tidak di sana. Anila membuka tirai. Benar saja. Matahari sudah tinggi. Sepertinya matanya terlalu lelah setelah bekerja keras semalam. Meminta waktu lebih untuk rehat. Terlebih dirinya dalam keadaan berhadas.


Anila membasuh matanya yang bengkak karena pecahnya pembuluh darah kecil di mata dan kelopak mata. Ini diakibatkan karena tangisannya berlangsung lama. Sia-sia. Basuhan air tidak dapat menghilangkannya.


"Maaf, Mas. Aku bangun kesiangan." Anila keluar kamar sambil menjepit asal rambutnya. Menemui Ranala sedang duduk di ruang tengah sambil menggulirkan ponselnya.


Semoga Ranala abai dengan mata sembab Anila, dan tidak memperpanjang pembicaraan semalam. Anila menyadari tidak seharusnya dia seperti itu, membatasi pertemanan Ranala. Menjadi orang paling berhak atas hidup Ranala. Mengesampingkan bahwa Ranala juga makhluk yang memiliki kehidupan sosial.


Mungkin aku terlalu childish, pikir Anila. Semalam itu jelas bukan apa-apa. Hanya sebuah proses saling mengenal.


"Mas Rana mau berangkat kerja? Aku siapin bajunya, ya," tawar Anila ragu.


"Boleh." Anila lega begitu mendengar jawaban Ranala. Semula dia mengira Ranala akan marah dan memilih tidak bicara dengannya.


Tuh, kan. Semalam itu bukan masalah. Kami hanya perlu waktu lebih untuk saling tahu, batin Anila tenang.


***


"Nanti malam mungkin aku pulang lebih larut," seru Ranala saat di muka pintu depan.


"Larut lagi?" Takut Anila belum hilang setelah peristiwa pemadaman dari pusat dua hari yang lalu. Gelap dan disempurnakan dengan ponsel yang mati kehabisan daya. Kawasan Villa Dago di hari kerja luar biasa sepi. Rumah-rumah kosong. Tidak ada suara dan cahaya. Sesekali saja, timbul suara gemuruh pohon bambu di belakang rumah. Membuat Anila bergidik.


"Kenapa? Takut?" Ranala masih ingat betul saat dia datang, Anila langsung berhamburan ke dalam pelukan Ranala. Persis seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya.


Anila mengangguk pelan.


"Ya, udah. Sore ke rumah Mami aja pakai taksi online. Sekalian buka di sana. Nanti pulangnya aku ke rumah Mami." Ranala mengangsurkan punggung tangannya yang langsung disambut Anila.

__ADS_1


"Hati-hati, ya," pesan Anila. "Nanti aku kabari kalau aku berangkat ke rumah Mami," lanjutnya.


"Iya. Assalamualaikum." Ranala menjauh keluar pintu taman, kemudian hilang bersamaan dengan ditutupnya pintu taman. Pintu pembatas antara taman dan *carport. *


*"*Wa'alaikumsalam," jawab Anila masih memandang pintu yang tertutup. Anila memang tidak mengantar hingga depan. Karena dirinya sedang tidak sempurna menutup auratnya.


***


"Ranala belum pulang?" tanya Papi Adrian saat menyantap makanan berbuka di meja makan kayu jati rumahnya.


"Iya, Pi. Lembur," jawab Anila sesuai pengetahuannya.


"Ranala, kan, bos. Seharusnya dia bisa me-manage waktu. Kerjakan pekerjaan di jam kerja. Jangan dibiasakan lembur begini. Dia kan sudah punya istri. Mana bulan puasa, harusnya banyakin ibadah. Dunia terus yang dikejar." Adrian berapi-api membahas Ranala yang diketahui masih sering pulang larut.


"Biarin, lah, Pi. Meskipun bos tapi, kan, cakupannya hanya Jawa Barat. Tetap harus tanggung jawab ke pusat. Nanti juga kalau beres pulang. Ya, kan, An?" Mami Gayatri memberi kode pada Anila dengan membulatkan matanya. Meminta bantuan mendinginkan hati Papi


"Bukan gitu, Mi. Kebiasaan Ranala itu. Semua handle sendiri. Dia harus lebih smart sekarang. Belajar percaya orang lain."


***


"Mi, Pi, Mbak Anna, Anila ke kamar dulu, ya," pamit Anila pada kedua mertua dan adik iparnya. Meskipun adik ipar, Anila memanggilnya Mbak, karena usia Anna terpaut lima tahun lebih tua darinya.


Anila beranjak dari sofa putih besar dan berbalik meninggalkan ruang keluarga itu. Ketiganya mengangguk sambil meneruskan menonton.


"An, kamu udah telfon Rana lagi?" tanya Papi Adrian tiba-tiba menghentikan langkah Anila.


"Papi, nih! Orang kerja jangan diteflonin terus. Yang ada nggak beres-beres," sanggah Mami sambil menepuk paha Papi.


"Iya, nanti Anila WA aja. Sewaktu-waktu kalau Mas Rana sudah luang, kan, bisa jawab." Anila memaksakan senyum kecil, menyembunyikan kegalauan.

__ADS_1


Sebetulnya Anila sudah agak terbiasa dengan Ranala yang sering pulang larut. Namun, entah kenapa kali ini Anila merasa ada yang janggal. Tidak satu pun pesan yang dibaca dan dibalas sedari sore. Sejak Anila izin berangkat ke rumah Mami.


Di kamar bekas Ranala remaja yang kini menjadi kamar tamu, Anila lelah bukan main. Lelah dengan hati dan pikirannnya. Inginnya berkeluh kesah, tetapi ingat pesan Bunda. Tidak membuka permasalahan keluarga pada siapa pun. Aib suami, aib istri juga. Begitu, katanya.


Namun mata dan pikirannya kali ini tidak dapat diajak bekerjasama. Sama sekali tidak dapat terpejam. Langit-langit kamar menjadi pemandangan yang dilihatnya sedari tadi. Otaknya tidak dapat berhenti memikirkan Ranala.


Perasaan Anila tidak tenang. Hatinya resah. Menerka-nerka ke mana Ranala. Setelah pesan terakhirnya tidak juga berhasil terkirim. Anila mencoba menghubungi, tetapi telepon Ranala mati. Di mana kamu, Mas?


Pukul dua dini hari. Anila belum juga berhasil menghubungi Ranala. Telingannya berdengung setelah ratusan kali mendengar nada panggil yang tak kunjung tersambung. Notif-nya tetap saja 'calling' atau 'memanggil'. Apakah kali ini dia harus bertanya pada mertuanya? Namun, membangunkan pasangan paruh baya dini hari begini rasanya tidak etis. Biarlah gundah dirasakannya sendiri, hingga waktu sahur tiba.


"Jadi… Rana nggak pulang?" tanya Papi kaget, karena Anila keluar kamar tanpa Ranala.


Anila sudah tidak dapat lagi menyembunyikan kesalahan Ranala di mata Papi.


"Udah ditelfon?" desak Papi lagi. Kali ini Mami diam. Menyadari, dia pun tidak dapat membela lagi anaknya yang jelas-jelas sudah salah.


Anila mengangguk tanpa berani menatap Papi.


"Terus?"


"Belum diangkat." Anila menggeleng pelan, dengan masih menghindari tatapan curiga Papi.


"Lowbat, kali, Pi," bela Mami. Meskipun alasan itu tidak dapat dibenarkan. Di kantor mana tidak ada sumber listrik?


Anila mengalihkan kekikukannya dengan membantu Mami menyiapkan makanan sahur dalam diam. Sekali-kali dia menyeka matanya yang berembun. Menutupi kegelisahannya di depan keluarga suaminya, terutama Mami yang sangat memanjakan Ranala. Menerka-nerka ke mana Ranala pergi. Menepis pikiran negatif yang sempat terbersit. Sehatkah Ranala, baik-baik sajakah dia? Atau masih marahkan dia?


Saat Mami, Papi, dan Mbak Anna menunaikan salat subuh, Anila kembali ke kamarnya. Alangkah kagetnya dia, menemukan Ranala sudah tertelungkup di atas tempat tidur, masih lengkap dengan baju dan sepatunya.


Astaghfirullah. Anila menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Hampir saja berteriak saat menemukan laki-laki di kamar, sebelum menyadari bahwa itu Ranala, suaminya. Dipandangi wajah lelah dan berminyak suaminya. Anila menghembus nafas panjang, lega. Dia pasti tidak tidur semalaman.

__ADS_1


Perlahan, Anila melepas sepatu dan kaus kaki Ranala. Meletakannya di lantai dekat nakas samping tempat tidur. Saat menunduk, mata Anila melewati ponsel Ranala yang tergeletak di atas nakas dalam keadaan mati. Benar, ponsel Mas Rana mati. Anila menyambungkan ponsel pada sumber listrik, setelahnya muncul level meter baterai menunjukan angka 71%.


__ADS_2