Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 37 - HATI


__ADS_3

"Egois! Kalau aku juga suka sama kamu, gimana?"


"Hah?" Maliq terpaku beberapa saat, memastikan dirinya tidak salah dengar. "Ma-maksudnya?"


Anila enggan mengulangnya. Dia yakin betul Maliq sudah mendengarnya. Menyatakan sekali saja butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian, apalagi harus dua kali. "Ya udah kalau nggak denger, nggak apa-apa," sindir Anila.


Maliq menutup mulutnya yang menganga seolah tidak percaya pada apa yang baru ditangkap indera pendengarannya. "Jadi, kita …?" tanya Maliq meyakinkan.


"Yah, jalanin aja dulu," seru Anila yang memang tidak tahu ke mana takdir akan membawa mereka.


Laki-laki berkaus itu merentangkan kedua lengannya dan hendak mendekati Anila, kemudian tertahan, seolah ada orang yang menahannya. Akhirnya, dia hanya sanggup memeluk dirinya sendiri sambil menampilkan muka gemas.


Perempuan anggun itu terkikik pelan melihat Maliq sekuat tenaga menahan diri dari keinginan untuk memeluknya.


...***...


Pernahkah kalian mencintai dengan begitu percaya diri? Bukan karena tidak ada yang lebih cantik, lebih baik, atau lebih segalanya. Hanya saja ada keyakinan yang muncul begitu saja. Itulah yang dirasakan Anila saat ini.


Menjalin hubungan dengan seseorang yang begitu dipahami, begitu pun sebaliknya. Tidak mengekang, tetapi tidak juga melepaskan. Saling memberi perhatian tapi tidak berlebihan. Semua terasa tenang dan nyaman, tidak ada takut berlebihan karena kemungkinan ditinggalkan saat sedang dilanda sayang.


Sebuah kumpulan rasa yang semula hanya asa, menjadi nyata. Ternyata semua lebih indah dari sekadar gambaran dan angan.


...***...

__ADS_1


"Aku mau nonton bola di cafe sama teman-teman. Boleh?" Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Anila. Perempuan dengan kemeja satin berwarna merah marun itu tersenyum membawa pesan dari Maliq. Belum pernah ada seseorang yang hendak melakukan sesuatu tetapi izin terlebih dulu padanya. Ranala tidak pernah, kecuali memang ditanya. Itu pun karena belum juga tiba di rumah melewati waktu yang semestinya.


"Boleh, dong. O ya, Aku mau i'tikaf. InsyaAllah sampai sahur," balas Anila melalui aplikasi pesan.


"Nanti selesai nonton, aku nyusul, ya," balas Maliq.


Sebuah emoticon jempol dikirim Anila pertanda setuju. Baru kali ini Anila bisa sangat tenang menjalin sebuah hubungan. Hubungan di mana komunikasi begitu jalan tanpa mengharuskan. Semua dilakukan atas dasar menghormati dan menghargai eksistensi.


...***...


Tur tarawih tetap dilakukan Anila dan Maliq menjelang sepuluh malam yang akhir di bulan Ramadhan. Hanya saja, ada beberapa daftar yang diganti sesuai permintaan Anila. Perempuan itu menyesuaikan dengan jadwal safari dakwah yang akan dilakukan Ustaz Rahmat Hidayat. Ustaz yang dakwahnya pernah secara tidak sengaja didengarnya saat di Bandung.


Anila hanya merasa cocok dengan cara penyampaian sang ustaz. Baginya pemaparan sang ustaz tidak menyudutkan, dekat dengan keseharian, dan sensibel. Dia bisa menggunakan logika dan panca indera untuk memahami ke arah mana tujuan dakwah sang ustaz.


Ustadz Rahmat Hidayat membacakan beberapa ayat yang terdapat kata bermakna hati. Hadirin bersama-sama membuka dan menyimak bacaan serta arti dari ayat yang disebutkan. Begitu pun Anila, perempuan dengan pashmina yang disampirkan pada kepalanya membuka mushaf yang disertai terjemahan, memberinya tanda dengan stiker berwarna-warni.


"Lalu apa bedanya antara shadr, qalb, fu'ad, lubb?" tanya Ustaz Rahmat. Seluruh jamaah diam, tidak ada yang menjawab, sebagian menggeleng tanpa suara.


"Menurut sunnah Tirmidzi, hati itu memiliki lapisan. Mulai dari yang terluar; shadr, qalb, fu'ad, dan intinya adalah lubb," jelas Ustaz Rahmat sembari memberi gestur dengan kedua telapak tangan yang membentuk lapisan-lapisan.


"Lapisan pertama, lapisan terluar yaitu shadr, secara maknawiyah berarti dada. Shadr menggambarkan bagian materi dari unsur diri, arti lainnya adalah kesadaran. Ada kesadaran yang disadari dan ada kesadaran yang tidak disadari. Kesadaran yang disadari itu hubungannya dengan otak–pusat saraf yang menggerakan anggota tubuh. Sedangkan kesadaran yang tidak disadari itu perasaan hubungannya dengan jiwa (an nafs)." Ustaz Rahmat kembali memberi jeda sebelum meneruskan penjelasannya. Membiarkan hadirin mengunyah materi sebelum menelannya. Tujuannya, agar tidak tersedak dan memuntahkan kembali materi yang sudah masuk.


"Jiwa atau an nafs itu sumber emosi; senang, sedih, khawatir, takut, dengki, syahwat, angan-angan, dan keinginan bersemayam. Dan manusia diuji Allah dengan apa yang ada di dalam dadanya (shadr-nya). Ujiannya ada disini karena di dalam shadr Allah tempatkan hawa nafsu dan mengizinkan setan untuk mengaksesnya. Bahkan ujiannya makin kuat, bila di dalam jiwa manusia terdapat karakter buruk/durhaka (fujur)," lanjut pria dengan pakaian koko putih tulang sederhana.

__ADS_1


"Jadi, kalau ada rasa khawatir saat hendak melakukan kebaikan, itu berarti shadr kita sudah ditempeli oleh setan. Misalnya, seorang suami izin hendak dinas ke luar kota. Namun, istrinya khawatir berlebihan, sehingga menjadi tidak fokus mengurus anak-anak dan keluarga. Nah, seperti ini, harus hati-hati ya." Ustaz Rahmat memberi senyum menenangkan tanpa memojokkan.


"Mintalah pada pemilik hati agar hati kita condong pada kebaikan. Sehingga hati kita senantiasa berprasangka baik. Doakan kebaikan pada suami, doakan selalu dijaga hati, jiwa, dan raganya. Sesungguhnya Allah itu maha pemalu, malu bila tidak mengabulkan doa hamba-Nya."


Baru saja lapisan pertama yang dijelaskan, Anila sudah merasa tertampar. Pandangannya kosong ke depan menatap lelaki yang dengan lemah lembut memberikan penjelasan. Perempuan itu merefleksikan isi ceramah pada dirinya sendiri. Bisa jadi, semua ketakutannya tentang kembali pada Ranala adalah was-was yang dihias-hiasi setan. Bukankah kasta tertinggi setan itu bila berhasil menciptakan sebuah perceraian? Sehingga setan tidak akan pernah berhenti menggoda hingga manusia itu berpisah dengan suami/istrinya.


"Astaghfirullah," ujar Anila seraya memejamkan mata. Butiran bening menjejaki pipinya.


...***...


"Gimana tadi kajiannya?" tanya Maliq di pelataran masjid.


"Bagus," singkat Anila. "Gimana tadi nonton bolanya? Seru? Menang?" tanya Anila antusias.


"Menang dong. Seru banget. 3-2. Tegang banget, gol kemenangan saat perpanjangan waktu." Maliq bercerita tidak kalah antusias. Anila menopang dagunya, terpesona melihat semangat Maliq bercerita, karena memang hanya dua hal yang membuat Maliq bisa lupa segalanya–bola dan gunung. "Eh, maaf kamu bosen, ya, dengerinnya?" tanya Maliq tiba-tiba setelah menyadari Anila terpaku mendengar ceritanya.


"Engga, aku suka, kok, denger cerita kamu. Meskipun aku nggak ngerti-ngerti amat tentang bola, ya. Tapi aku seneng saat kamu cerita menggebu-gebu gini," jawab Anila dengan senyum tulus.


"Soalnya, kalau Feby dia pasti marah kalau aku cerita hanya tentang aku dan hobiku."


"Feby? Siapa Feby?"


...***...

__ADS_1


...Ups, ada yang keceplosan. Bakal jujur atau bohong, ya, Maliq tentang Feby?...


__ADS_2