
"Oke, semua siap di posisi masing-masing. Akhir pekan akan lebih padat dari biasanya. Just focus on the target." Anila memberi semangat. "Kita berdoa untuk kelancaran hari ini, berdoa dipersilakan."
Anila menunduk lama. Memohon pada pemilik rencana untuk melancarkan segala usahanya. Timnya adalah ujung tombak perusahaan, dan Anila otaknya. Berhasil atau tidaknya program pemasaran Anila berpengaruh pada keberlangsungan perusahaan. Ribuan orang beserta keluarganya.
"Aamiin, berdoa dapat diakhiri." Anila mengangkat kepala di saat seluruh anak buahnya sudah tegap. Menyadari dia berdoa terlalu lama.
"Sar, mumpung mall belum ramai, kamu briefing anak-anak untuk review product knowledge, ya." Anila melihat sekeliling sebelum melanjutkan, "Saya ke toilet dulu, terus ke ... coffee shop di ujung sana," ucap Anila seraya menunjuk dengan dagu kedai kopi di sudut mal.
"Baik, Mbak," patuh Sari.
"Kalau ada apa-apa, samperin aja, ya." Anila berlalu sambil menepuk pundak Sari, masih tanpa senyuman. Membuat Sari kikuk mengingat kesalahannya saat di mobil.
***
Cream siang merangkap pelembab dan tabir surya, ditambah sedikit bedak tabur. Anila ulas menggunakan kuas besar, diakhiri sedikit perona pipi. Sementara alis dan bulu mata extension-nya tidak lagi memerlukan sentuhan. Cukup liptint untuk membuat bibir yang telah disulam terlihat segar.
Anila menghabiskan porsi terbesar dari penghasilannya untuk merawat diri. Suntik vitamin C, memasang kawat gigi—yang kini sudah dilepas, hingga sulam alis dan bibir, serta memasang bulu mata extension.
Belum lagi perawatan rambut seperti creambath, coloring, hair mask, dan hair spa. Ini masih belum seberapa dibandingkan harga skincare-nya. Sungguh membuat pangling siapa pun yang sudah lama mengenal Anila.
Jepit yang menggantung rambut Anila, dilepasnya. Menjatuhkan gelombang rambut yang tidak beraturan. Hanya dengan sentuhan jari lentiknya, Anila merapikan rambut. Menutup sedikit bagian dahinya. Bagian tubuh yang paling membuatnya tidak percaya diri. Ya, Anila puas dengan dirinya di dalam cermin.
***
"Espresso, please," pinta Anila yakin tanpa melihat daftar menu. Satu telunjuk naik mengisyaratkan dia hanya memesan satu gelas. "Di sana," tunjuk Anila pada satu sudut ruangan.
'Maybi-lah Penulis' sebuah buku tentang penyintas mental health dan autoimun keluar dari dalam tasnya. Anila membuka lembaran yang sudah terhalang pembatas. Ini kali ke-2 Anila membaca buku itu. Terkagum-kagum pada sosok Mas Bi. Lelaki tampan dan mapan, ditambah setia mendampingi Maybi, istrinya. Kendati sang istri memiliki banyak keterbatasan. Bahkan ancaman tidak bisa memiliki keturunan. Laki-laki sempurna, kagum Anila.
Anila kadang heran. Apa yang membuat seorang laki-laki bisa setia. Kecantikan istri, atau keahlian istri dalam melayani semua kebutuhan suami, atau hanya faktor keberuntungan? Tidak, bagi Anila semua pasti ada penjelasan logisnya. Namun, apa. Anila sendiri masih mencari tahu. Tidak sedikit dia menjumpai, seorang istri yang sempurna justru harus menelan pil pahit pengkhianatan.
Tanpa disadari dua pasang mata berulang kali melirik ke arahnya. Berbisik pelan, kemudian melepaskan senyuman nakal. Berusaha menggoda.
Dari sudut mata, Anila akhirnya menyadari. Anila manaikkan tangan kanan yang sedari tadi disimpan di pangkuan. Meletakkannya di meja tanpa terhalang. Dengan ibu jari, dia memainkan cincin emas putih yang menghiasi jari manis. Jelas tampak raut kekecewaan pada kedua laki-laki di sebrang mejanya.
Inilah salah satu alasan, mengapa cincin itu masih melingkar di jari manisnya. Cincin itu bermanfaat untuk membatasi diri. Membatasi diri dari lawan jenis, tentunya. Setidaknya orang memahami bahwa dia sudah menikah.
Alasan lainnya, karena Anila belum berniat mencari pengganti. Atau mungkin tidak akan mencari pengganti. Pengganti keduanya, cincin dan si pemberi, Ranala. Anila masih rapi menyimpan di sudut tak tersentuh. Hingga mengakar, menggerakkan seluruh saraf, hingga mengubah Anila seperti sekarang.
***
__ADS_1
“Ayo, masuk.” Ranala membukakan pintu depan rumahnya. Jaraknya lima kilometer arah utara dari pusat kota. Komplek villa daerah Dago ini memang cocok dengan karakter Ranala. Ranala yang introvert, tertutup. Karena sebagian besar rumah di kawasan ini disewakan untuk peristirahatan sementara. Pergantian penghuni dalam waktu singkat tentu menguntungkan baginya.
“Mas Rana tinggal sendiri di sini?” tanya Anila sambil melihat sekeliling rumah bergaya industrial vintage ini. Dinding unfinished dan ukiran gebyok di atas pintu depan yang membuat Anila berkesimpulan demikian.
Ranala tersenyum tidak menjawab. Anila pun tidak membutuhkan jawaban sebetulnya. Hanya berusaha memecah keheningan.
Anila mengira pintu depan tadi merupakan akses menuju ruangan rumah. Ternyata salah. Pintu depan tadi adalah pembatas carport dan taman. Taman yang tertutup, sungguh mencerminkan karakter Ranala. Taman yang cukup luas. Sekilas saja dapat diperkirakan luasnya sama dengan luas bangunan utama.
“Halamannya luas banget, Mas.” Pandangan Anila berkeliling pada taman minimalis di depannya. Rumput jepang di seluruh tanah taman, dengan satu-satunya pohon di sudut. Sorot lampu dari arah tanah di bagian kanan-kiri, membuat ketapang kencana menjadi primadona. Kendati langit sudah gelap, terlihat jelas rantingnya yang ramping dan bertingkat.
“Kan, biar nanti Mas bisa main bola sama anak-anak Mas di sini.” Ranala melemparkan senyum penuh arti yang berhasil membuat Anila terdiam. Tubuhnya kaku, tapi tidak dengan jantungnya. Jantungnya berdegup melebihi kecepatan rata-rata. Sekuat mungkin Anila berusaha mengerem, tapi sia-sia. Denyut jantung yang kencang memompa darah tidak kalah cepatnya. Anila merasa ada desir pada aliran darahnya. Naik hingga wajah dan membuatnya menghangat.
Rasa yang sama pernah Anila rasakan dulu. Saat Anila terpaksa menerima tawaran Maliq—sahabatnya, untuk naik motor bersama. Saat itu Anila tidak punya pilihan lain. Motornya mogok sementara Anila harus mengejar waktu untuk mengikuti UAS (Ujian Akhir Semester). UAS Bahasa Inggris. Mata kuliah yang harus diambil ulang karena mendapat D di semester sebelumnya. Anila memang tidak mahir dalam Bahasa Inggris.
Anila meletakkan tas punggung diantara Maliq dan dirinya. Memberi jarak. Namun nahas, saat berhenti di lampu merah, Maliq mengistirahatkan kedua tangannya dari stang motor. Tanpa sengaja menyentuh betis Anila yang tertutup kulot hitam. Anila bergidik. Ada desir merambati tubuhnya.
“Masih betah di luar?” Pertanyaan Ranala yang berhasil mencairkan kekakuan tubuh Anila, bahkan terhenyak. Anila mengusap lehernya yang tertutup pashmina. Merutuki dirinya sendiri. Mengapa masih memikirkan laki-laki lain saat dirinya sudah menyandang status istri. Terlebih ini malam pertamanya. Malam pertama? Anila kembali gugup. Siapkah dia?
Anila membuntuti Ranala masuk ke dalam ruangan luas tanpa sakat. Lantai kayu, dinding monokrom, serta furniture yang lagi-lagi bernuansa industrial vintage. Sofa kulit hitam, gramophone, dan telepon kabel putar antik mempertegasnya. Maskulin banget rumahnya, batin Anila.
Ranala membuka pintu kayu di sudut ruang keluarga. Anila semakin gugup.
Koper cokelat tua Anila diletakkan Ranala di samping pintu yang terbuka. “Bersih-bersih dulu, gih! Kamar mandinya ada di dalam.” Ranala mempersilakan masuk.
Kembali muncul desir aneh yang menjalar dari tubuh bagian bawah. Anila berusaha mengatur sebaik mungkin. Mendorong otaknya agar bisa berpikir jernih. Supaya tidak melakukan hal bodoh di depan Ranala.
Napas panjang Anila embuskan diam-diam. Menenangkan diri sebelum membalas perintah Ranala. “Okay, aku bersih-bersih dulu, ya,” balas Anila berusaha setenang mungkin.
Anila melangkahkan kaki menjajakki kamar Ranala. Sementara Ranala ternyata menutupkan pintu untuk Anila dan meninggalkannya. Kesopanan Ranala inilah yang membuat Anila luluh sejak awal perkenalan. Alih-alih menelusuri wajah Anila yang hendak dijodohkan dengannya. Ranala justru menundukkan pandangannya, membuat Anila merasa terhormat.
Anila merayapi setiap sudut kamar. Tidak ada foto diri, teman, atau keluarga di sana. Rasanya seperti memasuki display room sebuah toko furniture. Tidak ada keintiman yang ditunjukkan. Sesaat Anila cemas, sama sekali tidak ada petunjuk untuk mendalami kehidupan suaminya. Harus mulai dari mana?
Terlalu lelah untuk berpikir sekarang. Deras air hangat cenderung panas mendirus kepala hingga kaki Anila. Memberikan efek relaksasi setelah lelah menyambut ratusan tamu.
21 tahun, bukan, belum genap 21 tahun. Sembilan bulan ke depan usianya baru menginjak 21. Di usia semuda itu, dia telah menyandang status istri. Istri dari seorang laki-laki dewasa.
Bukan hal tanpa pemikiran panjang, atau memenuhi nafsu belaka. Anila hanya tidak mau menjalani sesuatu yang baik dengan awal yang salah, pacaran.
Salat isya yang kelewat malam Anila lakukan sendiri di dalam kamar. Anila belum cukup percaya diri untuk meminta Ranala masuk. Sekalipun hanya untuk melakukan salat isya berjamaah. Degup jantungnya belum mau diajak bekerjasama bila terlalu dekat dengan Ranala.
__ADS_1
Aku butuh waktu. Waktu meminta pada Allah, sendiri. Meminta agar diberi ketenangan menghadapi malam ini. Anila memanjatkan doa dengan kesungguhan penuh. Mata yang terpejam erat, serta kedua tangan yang diangkat sejajar dengan mulutnya. Berulang kali diucapkan doa yang sama. Hingga menguap rasa gugup bersama doa yang terus dibacakan.
Hening, tidak ada suara pergerakan manusia di luar kamar. Anila menempelkan telinga pada daun pintu. Pintu yang membatasi kamar dengan ruang tengah. Makin lama Anila makin gelisah. Apa harus tetap menunggu di kamar atau menghampiri Ranala di luar. Anila menjauhi pintu, sesaat kemudian mendekat dan memegang gagang pintu. Namun urung lagi.
Anila mencoba metode meditasi untuk mengurangi kecemasannya. Menarik napas panjang melalui hidung. Menahannya sesaat sebelum membuang napas lewat mulut. Saat membuang napas panjang melalui mulut, Anila mengeluarkan suara pelan, “Ahhh”. Seperti membuat embun saat meniup cermin. Berhasil. Degup jantungnya kembali normal.
Bismillah. Perlahan Anila menurunkan gagang pintu. Membuka pintu sepelan mungkin. Menghindari bunyi derit yang mungkin terjadi.
Tidak ada suara. Ke mana Mas Rana? Astagfirullah. Anila memekik tertahan.
Ranala tertidur di sofa kulit hitam. Masih lengkap dengan kemeja putih dan celana katun. Dua kancing kemeja bagian atas terbuka. Sepertinya Ranala berusaha mengurangi sesak. Anila merasa bersalah membiarkan suaminya menunggu lama.
Anila duduk di samping Ranala. Bermaksud membangunkan Ranala untuk beralih ke kamar. Namun Anila memilih memandang wajah lelah Ranala. Ingin sekali mengusap rambutnya, mengecup keningnya. Berterimakasih karena telah bersedia memperistrinya.
Lama, cukup lama. Mata Anila terpaku pada wajah tampan Ranala. Hingga Anila menyadari ada jejak air mata di pipi Ranala. Anila menyadari penglihatan itu bersamaan dengan dia menyadari hal lain. Pendengarannya. Telinganya menangkap suara yang ternyata berasal dari pemutar musik. Tersambung melalui Bluetooth ke ponsel Ranala. Anila mendapati vokal laki-laki sendu. Menyadari hanya itu satu-satunya lagu yang diputar. Berulang-ulang.
So are we over now
Do we just turn the page and let the story end
Do we just walk away just like we never met
I know we said some things and now you want to leave
But baby, that's no reason to let it good love die
Why goodbye
Why must it be this way
So many words
So many other words that we could say
Why goodbye
After all this time
Can't we try
__ADS_1
Why goodbye