
Gadis itu berteriak menjerit, Anna menyalahkan dirinya sendiri kenapa ini terjadi, air matanya tidak bisa terbendung lagi. Anna mengutuk semuanya, mengutuk buku bersampul coklat berwarna tanah, mengutuk kalung di lehernya, ia berusaha melepaskanya dengan sekuat tenaga tapi gagal.
Anna kembali menjerit dan menangis sejadi-jadinya, ini pertama kalinya ia melihat tiga orang mati di hadapanya tanpa ia bisa melakukan apapun untuk menolong mereka. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas, dadanya sesak membuat ia tidak bisa bernapas.
Gadis itu terjatuh memegangi lehernya yang terasa tercekik, tampak di hadapanya langit semakin gelap tidak ada satu titik cahaya di sana, ia merasakan hujan turun membasahi wajahnya. Terlihat agak samar di matanya beberapa kilatan pertir di sertai suara keras terdengar jelas di telingangya, gadis itu terkapar sambil menangis ia tidak peduli akan air yang mengalir hangat dari kelopak matanya.
Gadis itu hanya memohon dalam hatinya agar mereka kembali hidup. Rasa panas di dadanya semakin membakar tubuhnya ia menjerit kesakitan, tiba-tiba semua gelap.
Anna melihat jelas sosok yang ia rindukan, seorang wanita yang telah melahirkanya dan seorang laki-laki duduk di hadapanya, seorang anak kecil berarih kearah Anna kecil.
Kedua orang tuanya tertawa melihat tingkah anak-anaknya. Anna berbalik memeluk anak kecil berumur lima tahun, tampak Anna kecil berumur sepuh tahun di sana mereka terlihat sangat bahagia.
Anna sering bermain dengan adiknya waktu mereka kecil, ia sangat senang menghabiskan waktu bersama keluarganya ketimbang bermain bersama teman-temanya.
****
Sesuatu menghembuskan udara di dekat telinga dan mendorong-dorong kepala gadis itu, ia berusaha membuka mata walau terasa sangat berat, tubuhnya terasa lemas kepalanya terasa pusing. Tampak sosok putih besar sedang berdiri di hadapanya.
”Aku benar-benar lemas kuda, aku ingin pulang.” suarah gadis itu terdengar pelan. Ia kembali memejamkan matanya. Sesat kemudian ia berpikir,
“Kuda? kudaku dia masih hidup?” Anna bertanya dalam hatinya, ia mencobah memastikan lagi membuka mata dengan cepat, gadis itu tersentak semua kuda tampak berdiri mengelilingnya.
“Kalian tidak apa-apa?” Anna melihat kudanya yang sudah berdiri di sampingnya. “Aku benar gila bertanya pada kuda.” gumamnya.
Gadis itu berjalan tertatih mendekati sosok Jack, ia berusaha membangunkan pria itu, Anna menempelkan telinganya tepat di dada bidang Jack, setelah mendengar suara yang tampak indah, tidak ada yang lebih indah selain suarah jantung Jack yang sedang bekerja memompah darah disana, gadis itu bernapas legah. Ia memangku kepala Jack, pria itu sedang bernapas, walau belum membuka mata.
“Kau tidak jadi mati?” gadis itu memukul-mukul pipi Jack, sontak pria itu menjerit kesakitan dan berusaha mengumpulakan tenaganya, sambil bernapas tersengal-sengal.
__ADS_1
“Lily bangun.” Anna mengoyangkan badanya, wanita itu bernapas dan matanya berusaha membuka perlahan, “Lily ayo bangun, kau tidak apa-apa?”
Lily hanya mengangguk dengan lemas. Anna tersenyum perlahan air matanya tumpah, ia senang teman-temanya kembali hidup.
“Roberto bangun.” Anna berusaha mengoyangkan bahu pria tua itu, tapi Roberto tidak terlihat bernapas. Anna menangis berusaha mengucang-guncangkannya sekali lagi, tapi Roberto tidak bangun. Lily dan Jack melangkah pelan berusaha mendekatkit guru mereka.
“Roberto bangun!”Anna tampak tertunduk lemas pada dada Roberto dan memukul-mukul dadanya.
“Roberto mati. Jack, Lily bagamana ini?” air matanya tidak berhenti menetes. Jack dan Lily tidak menjawab mereka masih terlihat lemas.
“Roberto.” Anna menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada Roberto sangat keras,
“Jangan mati sekarang!” Gadis itu berteriak dengan kencang.
Tiba-tiba Roberto terbatuk-batuk “Jangan memukulku lagi, aku benar-benar bisa mati.” Anna tersenyum ia senang mendengar ucapan pria itu walaupun sangat pelan.
***
Tidak jauh dari sana, seorang gadis telah menanggalkan pakaiannya ia sedang merendamkan dirinya pada danau kecil di hadapanya, rasa penatnya dan lelah hilang seakan ikut terbasuh air yang membasahi tubuhnya.
“Aku benar-benar merasa bahagia walau masih sedikit khawatir setidaknya, mereka tidak jadi mati.” gumamnya.
“Kita akan beristihatan disini, aku sangat lelah.” Anna menghampiri teman-temanya. Anna terlihat lebih segar setelah menyelesaikan mandinya tadi, Anna berusaha memejamkan mata di samping kuda putih miliknya. Gadis itu juga perlu istirahat setelah menagisi teman-temanya yang di sangkahnya mati.
****
Tampak gunung es dan labirin lagi dan seorang laki-laki yang memakai makhota menatapnya dengan mata merah menyala, kali ini laki-laki itu tidak tertawa, tapi dia sangat ketakutan atau sedih, entahlah Anna tidak bisa membaca raut wajah itu.
__ADS_1
Gadis itu terbangun dari mimpi yang hampir sama setiap malam , mimpi yang selalu menghantuinya sejak pertama kali datang ke negeri Londerves.
“Ini makan malam mu.” Lily memberikan sebuah roti kering pada gadis yang tampak termangu.
“Terimakasih Lily.“ Tapi Anna belum memakan rotinya, ia teringat sesuatu, gadis itu sibuk membuka tasnya mencari sesuatu.
“Aku sudah memberikan kuda kita makan.” ucapan Jack membuat Anna memberhentikan kegiatanya.
”Aku juga membawa beberap apel, aku bahkan memberikan mereka satu–satu.” Tambah Jack, membuat gadis itu mengukur sebuah senyuman indah mendengar ucapan pria itu, sekarang ia tidak harus mengkhawatirkan kudanya lagi.
Mereka berusaha menguya makan malamnya, mencobah menikmati rasa roti yang sebenarnya hanya ada rasa asin. Anna membayangkan sepering nasi, dengan lauk ayam atau ikan di sertai sambel yang pedas dan sedikit sayuran seperti biasa yang ia makan di rumah, beberapa kali Anna memejamkan matanya membayangka itu semua.
Roberto menatap tajam pada gadis yang tampak tersenyum sambil mengunyah rotinya entah apa yang gadis itu pikirkan.
“Bagaimana kau melakukanya Anna?” Anna membuka matanya semua khayalanya tentang nasi beserta lauk pauknya mendadak lenyap di sapu suara Roberto.
“Melakukan apa?” gadis itu terdengar kesal.
“Menolong kami semua.” selidik Robert.
“Aku tidak menolong kalian, aku hanya menangis dan menjerit saat tahu kalian mati. Lalu badanku panas, dadaku seperti terbakar tiba-tiba turun hujan badai dan semuanya jadi gelap. Aku bermimpi kembali ke tempat asalku, lalu kudaku membangunkanku.” Anna menjelaskan, lalu kembali memejamkan matanya membayangkan nasi dan lauknya datang di hadapanya sekarang.
Roberto tersentak, bagai tersambar petir di siang bolong, Lily menatap Anna “Kau benar melakukanya?”
Anna hanya terdiam sambil membuka matanya malas, sepertinya ia tidak bisa membayangkan makanan enak lagi sekarang, gadis tu hanya menarik napas dalam.
“Tentu saja dia melakukanya, dia bahkan membantuku membunuh seekor buaya.” belah Jack.
__ADS_1
Anna hanya mengkerutkan alisnya ia mulai merasa binggung kemana arah pembicaraan ini sebenarnya?