
Sebuah kafe tampak
romantis, terdapat lili kecil diatas meja itu, tampak sepasang kekasih sedang
duduk berhadapan memilih meja yang terletak paling sudut yang menghadap
langsung ke tepi pantai yang di batasi dengan kaca. Mereka saling berdiam lama
tanpa mengatakan apapun, tapi senyum dari bibir masing-masing tidak pernah berhenti
terpancar di sana, sunggu mereka merindukan saat-saat seperti ini.
Saat dimana mereka
menghabiskan waktu berdua, menyalurkan rasa cinta mereka melalui perhatian
masing-masing atau hanya bercegkrama membahas banyak hal yang bahkan tidak ada
kaitanya dengan hubungan mereka, disilah Anna dan Nicko sekarang.
“Kamu mau pesan apa?”
“Apa saja, Nick aku
akan makan apapun yang kau pesan.” jawab Anna.
Sesaat kemudian Nick
memanggil pelayan dan memesan makannanya, ia memesan dua stik daging sapi.
Tidak berapa lama pelayan itu datang membawakan pesanan mereka, mereka tampak
menikmati malan malam mereka.
“Kau betah tinggal di
rumah itu?”
“Ya, aku betah.”
“Aku senang
mendengarnya.” jawab Nicko tapi ada sedikit rasa sedih saat Anna mengatakan ia
betah tinggal di sana, ia takut Anna akan memilih tinggal lebih lama di sana
dan meninggalkannya.
“Tapi itu hanya
sebentar Nick, hanya empat bulan lagi, setelah aku menyelesaikan pengobatan ku
aku akan pergi.” jelas Anna lalu memegang tangan Nicko, sentuhan itu membuat
jantungnya berdetak kencang sama seperti biasanya, bahkan kadang ia harus
merasakan sakit dan menarik napas dalam untuk menertralkan jantungnya, Nicko laki-laki itu tersenyum lebar mendengarnya.
“Bagaimana pekerjaan
mu?”
“Masih sama, kemarin bu
Margaret memintaku menemaninya ke Sumatra untuk melihat proyek, di sana ada
kendala, tapi aku menolak,” Jelas Nicko
“Kenapa? bukankah itu
tugasmu?”
“Aku ingin bersamamu
disini.” jawab Niko sembaring mempererat gengaman tangannya pada Anna.
Terpancar rasa cinta yang dalan terhadap gadis
di hadapanya, begitupun sebaliknya. Anna seakan terbang karena ucapan yang baru
saja Nicko lontarkan, tunangnya lebih memilih dirinya di banding pekerjaan itu,
walau Anna tahu Nicko sangat mencintai pekerjaanya.
Tanpa Anna sadari
pipinya terasa panas dan memerah, membuat Nicko tertawa kecil melihat perubahan
raut wajah tunanganya itu, Nicko sangat senang saat gadis itu tersenyum,
tertawa, berbicara padanya, menatapnya dengan penuh cinta dan saat gadis itu
merasa malu, itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi Nicko.
****
Di tempat lain, sorang
laki-laki berjalan kearah ruang makan di rumahnya, ia duduk di salah satu kursi
di meja makan, ia terus metap kursih
__ADS_1
kosong hadapanya.
“Julian, kenapa tidak
makan?” suara Rudy memecah lamunannya.
“A, aku tidak
lapar?” jawab Julian, yang masih melihat
kosong kursih di hadapanya.
“Kakak mencari Anna?”
“Tidak” jawab Julian
cepat.
Membuat Maria tersenyum
melihat tingkah aneh anak laki-lakinya, lalu berkata “Tadi Anna pamit, dia
makan malam di luar bersama tunanganya.” Maria menjelaskan.
“Oh.” Jawab Julian,
kemudian memilih meninggalkan meja makan, ia lebih memilih menonton televisi
di ruang keluarga, entahlah ada perasaan
sakit dalam hatinya saat tahu gadis itu sedang pergi bersama tunanganya dan
Julian bisa memastikan kalau Anna dan Nicko sedang bersenang-senang di luar
sana.
Tidak berapa lama seorang laki-laki paru baya
duduk di samping julian.
“Kau merindukanya?” suara
itu membuat Julian terkejut dan langsung menoleh pada sosok paru baya yang
mirip denganya, laki-laki paru baya itu duduk tepat di samping Julian dan
memandang ke arah televisi.
“Apakah kau merindukan Anna?” Rudy bertanya sekali lagi
karena Julian masih diam.
“Tidak.” julian
“Kau berubah sejak
Anna, tinggal disini,”
“Tidak ada yang berubah
Daddy.” jawab Julian cepat.
“Bagaimanapun aku Daddy
mu, aku tau anakku sedang jatuh cinta,”
“Aku tidak jatuh cinta Daddy.”
Bagaimana mungkin
Julian jatuh cinta pada gadis itu, ia baru mengenal Anna beberapa bulan dan
itupun karen Lucy menabraknya, selain itu gadis itu sudah memiliki tunangan.
Rudy kemudian mengambil
remot telepisi dan mematikannya.
“Daddy!” Julian protes
“Daddy ingin bicara,”
Rudy kemudian menatap anak laki-lakinya “Daddy tahu kau jatuh cinta pada nya, kau
tahu sejak Anna disini kau setiap hari datang untuk sarapan dan makan malam,
hal yang sangat jarang kau lakukan, sekalipun Daddy dan Mom meminta mu datang,”
“Daddy dia sudah
bertunangan,” Jawab Julian dengan nada putus asa, yang secara tidak langsung ia
mengakui kalau ia memang jatuh cinta pada Anna, gadis yang membuat jantungnya
berdetak kencang bahkan sesak napas saat bertemu denganya, bahkan saat
memikirkanya saja Julian merasa tersiksa, ia tidak pernah merasakan hal aneh
seperti ini seumur hidupnya dan Anna berhasil melakukanya.
“Terus mengapa?”
__ADS_1
“Daddy aku tidak akan
merusak hubungan orang lain.”
Julian mengacak
rambutnya prustasi, ia tidak pernah berpikir akan merusak hubungan orang lain
hanya untuk kepentinganya sendiri, walau Julian mampu untuk melakukan itu semua,
cukup hanya dirinya yang mencintai Anna, melihat gadis itu ada di dekatnya
tersenyum, tertawa atau hanya diam tanpa berkata apapun itu sudah cukup baginya
untuk mengobati rasa aneh dalam dirinya.
“Mereka baru
bertunangan bukan menikah,” Rudy menjelaskan
“Daddy sudahlah, aku
tidak ingin membahasanya.”
“Kau tau istilah jodoh
tidak kemana? Kadang seseorang yang sudah mempersiapkan pernikahannya bisa
batal menikah, apa lagi masih bertunangan, lagi pula kami semua sangat menyukai
Anna, kami semua sayang Anna. Ingat Julian tulang rusuk mu tidak akan pernah
tertukar pada orang lain dan kau harus meyakininya.”
“Sudahlah Daddy lebih
baik Daddy carikan wanita lain saja, aku kan menerimanya kali ini.” jawab
Julian sambil menarik napas dalam, ia bahkan tidak bisa berpikir kalau ia bisa
melupakan Anna nantinya, tapi ia harus melakukanya, Julian harus mencari orang
lain untuk mengalihakan semua perasaan aneh ini dan itu bukan Anna.
“Baiklah aku akan
mencarikannya.”
“Itu akan lebih baik.” jawab
Julian sambil pergi meninggalkan rumah itu, ia kembali ke apartemanyA
menghempaskan tubuhnya pada kasur dan tertidur pulas.
***
Tok..tok..tok..
Tampak seorang gadis
sedang mengetuk pintu kamar Anna “Masuk,”
“Apa aku menganggu mu?”
“Tidak Lucy duduklah,
ada yang bisa ku bantu?” Anna bertanya.
“Aku ingin meminjam
komik mu lagi,”
“Ambilah kau boleh
meminjam semuanya.” jawab Anna.
Lucy terlihat antusias,
ia memilih beberapa komik di sana, setelah itu ia juga membaca di samping Anna.
Sesekali mereka teratawa saat membaca komik itu yang memang sangat lucu, sangat
efektif untuk menghilangkan rasa stres dan bosan.
“Anna, besok kau harus
menemaniku ke salon dan membeli gaun,”
“Untuk apa?”
“Besok ulang tahun
pernikahan Mom dan Daddy mereka mengajak kita makan malam di luar,”
“Tapi aku-”, belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya
“Sudah, kau tidak boleh
menolak, Mom dan Daddy yang meminta, kalau kau tidak percayah tanya saja
sendiri saja pada mereka, kau tau Mom dan Daddy akan marah jika kau menolak.”
__ADS_1
tegas Lucy lalu pergi meninggalkan Anna yang masih terdiam di kasurnya.
****