Anna & Dream

Anna & Dream
15. Apel With Love


__ADS_3

Sebuah kafe tampak


romantis, terdapat lili kecil diatas meja itu, tampak sepasang kekasih sedang


duduk berhadapan memilih meja yang terletak paling sudut yang menghadap


langsung ke tepi pantai yang di batasi dengan kaca. Mereka saling berdiam lama


tanpa mengatakan apapun, tapi senyum dari bibir masing-masing tidak pernah berhenti


terpancar di sana, sunggu mereka merindukan saat-saat seperti ini.


Saat dimana mereka


menghabiskan waktu berdua, menyalurkan rasa cinta mereka melalui perhatian


masing-masing atau hanya bercegkrama membahas banyak hal yang bahkan tidak ada


kaitanya dengan hubungan mereka, disilah Anna dan Nicko sekarang.


“Kamu mau pesan apa?”


“Apa saja, Nick aku


akan makan apapun yang kau pesan.” jawab Anna.


Sesaat kemudian Nick


memanggil pelayan dan memesan makannanya, ia memesan dua stik daging sapi.


Tidak berapa lama pelayan itu datang membawakan pesanan mereka, mereka tampak


menikmati malan malam mereka.


“Kau betah tinggal di


rumah itu?”


“Ya, aku betah.”


“Aku senang


mendengarnya.” jawab Nicko tapi ada sedikit rasa sedih saat Anna mengatakan ia


betah tinggal di sana, ia takut Anna akan memilih tinggal lebih lama di sana


dan meninggalkannya.


“Tapi itu hanya


sebentar Nick, hanya empat bulan lagi, setelah aku menyelesaikan pengobatan ku


aku akan pergi.” jelas Anna lalu memegang tangan Nicko, sentuhan itu membuat


jantungnya berdetak kencang sama seperti biasanya, bahkan kadang ia harus


merasakan sakit dan menarik napas dalam untuk menertralkan jantungnya, Nicko  laki-laki itu tersenyum lebar mendengarnya.


“Bagaimana pekerjaan


mu?”


“Masih sama, kemarin bu


Margaret memintaku menemaninya ke Sumatra untuk melihat proyek, di sana ada


kendala, tapi aku menolak,” Jelas Nicko


“Kenapa? bukankah itu


tugasmu?”


“Aku ingin bersamamu


disini.” jawab Niko sembaring mempererat gengaman tangannya pada Anna.


 Terpancar rasa cinta yang dalan terhadap gadis


di hadapanya, begitupun sebaliknya. Anna seakan terbang karena ucapan yang baru


saja Nicko lontarkan, tunangnya lebih memilih dirinya di banding pekerjaan itu,


walau Anna tahu Nicko sangat mencintai pekerjaanya.


Tanpa Anna sadari


pipinya terasa panas dan memerah, membuat Nicko tertawa kecil melihat perubahan


raut wajah tunanganya itu, Nicko sangat senang saat gadis itu tersenyum,


tertawa, berbicara padanya, menatapnya dengan penuh cinta dan saat gadis itu


merasa malu, itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi Nicko.


****


Di tempat lain, sorang


laki-laki berjalan kearah ruang makan di rumahnya, ia duduk di salah satu kursi


di meja makan, ia terus  metap kursih

__ADS_1


kosong hadapanya.


“Julian, kenapa tidak


makan?” suara Rudy memecah lamunannya.


“A, aku tidak


lapar?”  jawab Julian, yang masih melihat


kosong kursih di hadapanya.


“Kakak mencari Anna?”


“Tidak” jawab Julian


cepat.


Membuat Maria tersenyum


melihat tingkah aneh anak laki-lakinya, lalu berkata “Tadi Anna pamit, dia


makan malam di luar bersama tunanganya.” Maria menjelaskan.


“Oh.” Jawab Julian,


kemudian memilih meninggalkan meja makan, ia lebih memilih menonton televisi


di  ruang keluarga, entahlah ada perasaan


sakit dalam hatinya saat tahu gadis itu sedang pergi bersama tunanganya dan


Julian bisa memastikan kalau Anna dan Nicko sedang bersenang-senang di luar


sana.


 Tidak berapa lama seorang laki-laki paru baya


duduk di samping julian.


“Kau merindukanya?” suara


itu membuat Julian terkejut dan langsung menoleh pada sosok paru baya yang


mirip denganya, laki-laki paru baya itu duduk tepat di samping Julian dan


memandang ke arah televisi.


“Apakah kau  merindukan Anna?” Rudy bertanya sekali lagi


karena Julian masih diam.


“Tidak.” julian


“Kau berubah sejak


Anna, tinggal disini,”


“Tidak ada yang berubah


Daddy.” jawab Julian cepat.


“Bagaimanapun aku Daddy


mu, aku tau anakku sedang jatuh cinta,”


“Aku tidak jatuh cinta Daddy.”


Bagaimana mungkin


Julian jatuh cinta pada gadis itu, ia baru mengenal Anna beberapa bulan dan


itupun karen Lucy menabraknya, selain itu gadis itu sudah memiliki tunangan.


Rudy kemudian mengambil


remot telepisi dan mematikannya.


“Daddy!” Julian protes


“Daddy ingin bicara,”


Rudy kemudian menatap anak laki-lakinya “Daddy tahu kau jatuh cinta pada nya, kau


tahu sejak Anna disini kau setiap hari datang untuk sarapan dan makan malam,


hal yang sangat jarang kau lakukan, sekalipun Daddy dan Mom meminta mu datang,”


“Daddy dia sudah


bertunangan,” Jawab Julian dengan nada putus asa, yang secara tidak langsung ia


mengakui kalau ia memang jatuh cinta pada Anna, gadis yang membuat jantungnya


berdetak kencang bahkan sesak napas saat bertemu denganya, bahkan saat


memikirkanya saja Julian merasa tersiksa, ia tidak pernah merasakan hal aneh


seperti ini seumur hidupnya dan Anna berhasil melakukanya.


“Terus mengapa?”

__ADS_1


“Daddy aku tidak akan


merusak hubungan orang lain.”


Julian mengacak


rambutnya prustasi, ia tidak pernah berpikir akan merusak hubungan orang lain


hanya untuk kepentinganya sendiri, walau Julian mampu untuk melakukan itu semua,


cukup hanya dirinya yang mencintai Anna, melihat gadis itu ada di dekatnya


tersenyum, tertawa atau hanya diam tanpa berkata apapun itu sudah cukup baginya


untuk mengobati rasa aneh dalam dirinya.


“Mereka baru


bertunangan bukan menikah,” Rudy menjelaskan


“Daddy sudahlah, aku


tidak ingin membahasanya.”


“Kau tau istilah jodoh


tidak kemana? Kadang seseorang yang sudah mempersiapkan pernikahannya bisa


batal menikah, apa lagi masih bertunangan, lagi pula kami semua sangat menyukai


Anna, kami semua sayang Anna. Ingat Julian tulang rusuk mu tidak akan pernah


tertukar pada orang lain dan kau harus meyakininya.”


“Sudahlah Daddy lebih


baik Daddy carikan wanita lain saja, aku kan menerimanya kali ini.” jawab


Julian sambil menarik napas dalam, ia bahkan tidak bisa berpikir kalau ia bisa


melupakan Anna nantinya, tapi ia harus melakukanya, Julian harus mencari orang


lain untuk mengalihakan semua perasaan aneh ini dan itu bukan Anna.


“Baiklah aku akan


mencarikannya.”


“Itu akan lebih baik.” jawab


Julian sambil pergi meninggalkan rumah itu, ia kembali ke apartemanyA


menghempaskan tubuhnya pada kasur dan tertidur pulas.


***


Tok..tok..tok..


Tampak seorang gadis


sedang mengetuk pintu kamar Anna “Masuk,”


“Apa aku menganggu mu?”


“Tidak Lucy duduklah,


ada yang bisa ku bantu?” Anna bertanya.


“Aku ingin meminjam


komik mu lagi,”


“Ambilah kau boleh


meminjam semuanya.” jawab Anna.


Lucy terlihat antusias,


ia memilih beberapa komik di sana, setelah itu ia juga membaca di samping Anna.


Sesekali mereka teratawa saat membaca komik itu yang memang sangat lucu, sangat


efektif untuk menghilangkan rasa stres dan bosan.


“Anna, besok kau harus


menemaniku ke salon dan membeli gaun,”


“Untuk apa?”


“Besok ulang tahun


pernikahan Mom dan Daddy mereka mengajak kita makan malam di luar,”


“Tapi aku-”,  belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya


“Sudah, kau tidak boleh


menolak, Mom dan Daddy yang meminta, kalau kau tidak percayah tanya saja


sendiri saja pada mereka, kau tau Mom dan Daddy akan marah jika kau menolak.”

__ADS_1


tegas Lucy lalu pergi meninggalkan Anna yang masih terdiam di kasurnya.


****


__ADS_2