
Jalanan cukup ramai suarah bising kendaraan membuat telinga terasa panas, beberapa pengamen mulai menyanyikan lagunya dalam bus itu. Terlihat beberapa penumpang tampak berdiri, beruntun gmereka berempat mendapatkan tempat duduk.
Anna duduk di samping jendela, Jesika berada di sampingnya dan dihadapanya Wil tampak sudah tertidur dan Xiang sedang asik ikut bernyanyi mengikuti lagu yang dinyanyikan pengamen.
Pemandangannya masih sama sejauh mata memandang hanya kemacetan yang terlihat. Pedagang asongan mulai berlalu lalang di samping mobil-mobil mewah guna menjajakan dagangannya, rasa ngantuk mulai menghampiri Anna, ia mencobah memejamkan mata.
“Anna kau dimana? Anna kau dimana?” suarah laki-laki yang sangat ia kenal, gadis itu mencobah membuka mata tapi tidak bisa.
“Anna kita sudah sampai. Ayo turun!” suarah Jesika membangunkannya.
Anna memperhatiakan seluruh isi bus, ia yakin tadi mendengar suarah Jack tapi ia tidak melihat sosoknya.
Mereka berjalan menuju toko pak Robert, Anna berhenti tepat di depan toko asesoris, ia memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat dan diikuti teman-temannya. Pedagang toko yang sama menyapanya dengan ramah.
“Kalung itu masih istimewah” suarah pedagang yang tiba-tiba berdiri di samping Anna.
“Kau tau?” jawab Anna tanpa menoleh kearah si pedang. Laki-laki paru baya itu tersenyum
lembut, Anna menatap pedagang itu dengan lekat.
“Bagaimana aku melepas kalung ini” Anna bertanya “Letakan pada tempatnya” jawab pedangan itu, kemudian pergi meninggalkan Anna.
Jesika, Wil, dan Xiang membeli beberapa kalung dan gelang, sedangkan Anna tidak tertarik untuk membeli apapun, gadis itu berdiri di depan cermin sambil memandang
dirinya, ia memperhatikan kalung di lehernya.
“Anna kau dimana?” terdengar suarah di kepalanya. Gadis itu menoleh dan memperhatika semua isi toko tapi tidak menemukan sosok Jack.
“Kau tidak jadi beli?” Xiang memecah lamunan Anna.
“Aku sudah tidak ada uang lagi Xiang.” jawab Anna di sertai senyuman dan di balas anggukan Xiang
“Ayo kita pergi!” Wil menarik tangan kedua temanya itu.
“Aku akan terus mencari dan menunggumu.” kali ini suarah Jack sangat jelas dikepalahnya
“Apa kalian mendengar sesuatu ?” Anna bertanya pada pada teman-temannya
“Mendengar apa?” Jesika yang tampak keheranan.
“Suarah laki-laki.“ jawab Anna
“Ada tu, tukang somai.” balas Wil. Sambil menunjuk tukang Somai yang menjajakan daganganya tidak ahu dari mereka berdiri.
“Bukan itu, sudalah lupakan.“
Mereka terus berjalan menelusuri gang itu, hingga menemukan banguna tua yang sangat familiar untuk mereka. Suasana disana cukup ramai.
***
“Selamat sore pak Rober.” sapa Wil
“Selamat sore semuanya.” Robert tersenyum melihat mereka berempat datang. Ia sangat senang saat ini, karena mereka berempat adalah pelanggan setainya yang sudah sangat dekat denganya, mereka seperti keluarga tentunya.
Jesika, Wil dan Xiang pergi kebagian rak buku pelajaran untuk mencari beberapa bahan tambahan untuk skripsi mereka, sedangkan Anna memutuskan untuk pergi kebagian buku sejarah.
Tiba-tiba seorang anak kecil berumur tiga tahun memeluk kaki Anna dari belakang, sontak gadis itu terkejut dan menoleh ke belakang. Seorang anak yang cantik dengan rambut panjang sebahu berwarnah coklat, mata yang berwaranah abu-abu berkulit putih dan mempunyai lesung pipit di sebelah kanan pipinya.
“Kau sini rupananya.” Robert menghampirin Quin, dan langsung mengendongnya. Quin terlihat senang dan tertawa, Anna tersenyum melihat mereka.
“ Ini Quin, Anna. “ jelas Robert memperkenalkan cucu kesayanganya.
“Benarkah, ini pertama kali aku bertemu dengannya, dia sangat cantik, bedah dengan di poto.” jelas Anna. Quin langsung mengarahkan tangannya pada gadis di hadapanya. “Sini kakak gendong.”
__ADS_1
“Anna bisakah kau menemani Quin menggambar disana.“ Robert menunjuk sebuah meja baca yang kosong.
“Tentu saja.”
Gadis itu mendudukan Quin di panguannya sambil memenanginya.
“Aku mau gambal.“ ocean Quin belum terlalu jelas, Anna mengangguk, Quin ternyata cadel. Quin mengambar lingkaran yang berbarus dua, satu lingkaran lebih besar dari yang satunya, kemudian pada salah satu lingkaran Quin menambahkan garis-garis di sekitar lingakaran itu, itu mirip matahari, dan di bagian lingkaran yang lebih kecil ia tidak menambahkan apa-apa.
“Ini apa” Anna bertanya sambil menunjuk lingkaran yang lebih besar
“Matahali,” kemudian Quin menunjuk lingkaran yang satunya lagi “Bulan.”
Seketika Anna teringan mimpinya....
“Saat matahari dan bulan sejajar di atas gunung es maka labirin akan terlihat”
Anna tidak peduli dengan mimpi itu lagi, dia tidak ingin ada yang terluka lagi, Roberto mati dalam pertarungan, Lily, Jack dan Lian semua terluka, ia tidak ingin itu terjadi lagi.
Quin tiba-tiba membalikan badanya dan memeluk Anna, “Anna cayang.” bisiknya.
Gadis itu terkejut lalu tersenyum, tapi mendadak senyum itu hilang dari bibirnya ia teringat akan Lian, mata Quin yang berwarna abu-abu sangat indah, Anna memperhatikan wajanya Quin, sekilas mirip Lian, ‘Apa mungkin Quin adalah Lian yang sekarang?’
“Anna siapa itu?” suarah Wil membuyarkan lamunannya, ia segera menoleh pada sahabatnya.
“Ini Quin, Wil.“ jawab Anna sambil menunjuk Quin, siapapun yang melihat Quin pasti tidak sabar untuk bermain dengannya anak kecil itu benar-benar mengemaskan dan cantik.
“Wah kamu sudah besar, sini kakak gendong.” Wil mengarahkan kedua tanganya hendak mengendong Quin, tapi anak kecil itu menggeleng ia memeluk Anna dengan erat.
“Maaf Wil, kamu belum beruntung.” bisik Jesika yang entah dari mana datangnya.
“Sini Quin sama kak Jesika aja ya.” Jesika mengarah kan tanganya pada Quin lagi-lagi Quin mengeleng. Anna tersenyum melihatnya, entah mengapa Quin tidak mau di gendong dua sahabatnya itu.
“Wah lucunya.” Xiang tersenyum lebar melihat Quin, belum sempat Xiang melebarkan tangannya, Quin menangis ketakutan, seketika Xiang langsung mundur, ia mengaruk tungkuknya yang tidak gatal ‘Apakah aku begitu menakutkan?’
“Sudahla Xiang, kau membuatnya menangis.” Jesika mencibir.
“Sudah tidak apa-apa Quin, mereka teman-teman kakak, mereka sangat baik.” bisik Anna menenangkan Quin sambil mengelus punggunya.
Quin terlihat mengusap-ngusap matanya, Anna segerah menghapus air mata anak itu dengan
lembut.
“Kamu ngantuk ya?” Quin hanya mengangguk sambil memancungkan mulutnya sontak mereka berempat tertawa melihat tingkah Quin.
Anna mengendong Quin menyerahkannya pada istri pak Robert.
“Kalian sudah selesai? “ Anna bertanya pada teman-temannya.
“Belum, aku harus bertanya pada pak Robert tentang beberapa buku.” jelas Jesika.
“Aku juga” balas Xiang
“Aku akan mencari beberapa komik dulu ya.” Wil langsung pergi meninggalkan mereka.
Robert menunjukan beberapa buku pada Wil dan Jesika. Anna melihat keluar jendela toko. Ia melihat kucing hitam melintas di depan tokoh mengingatkannya pada sosok Lily.
”Aku akan terus mencari dan menunggumu Anna.” suarah Jack muncul lagi, Anna mengelengkan kepanya kuat-kuat berharap suara itu cepat pergi dari kepalanya.
“Apakah kau sudah membaca semua bukunya?” Robert membuyarkan lamunan Anna.
“Apa?” Anna terlihat terkejut
“Buku yang berbahasa prancis, yang berwarnah coklat tanah. Apakah kau sudah membacanya?”
“Hanya membaca sedikit”
__ADS_1
“Apa ada yang tidak kau mengeri, Anna?” Robert menatap gadis itu.
“Ak-aku tidak mengerti semuanya, aku akan mengembalikan bukunya padamu nanti.” Robert terkejut.
“itukan bukumu, bagianmana yang tidak kau mengerti ?” tanya Robert
“Semuanya pak Robert, buku itu sangat aneh.”
“Biasanya jika kau membaca novel, atau buku cerita akan terasa aneh bila kau tidak menuntasnya.” jelas Robert sambil pergi meninggalkan gadis itu.
Anna hanya menggangguk, ia tidak mungkin menjelaskan apa yang sebenaranya terjadi pada pak Robert.
***
“Neng ayo makan!” teriak mbah membuat semua anak asrama berjejer untuk antri makan malam tidak terkecuali Anna, ia ikut di barisan dalam antrian.
“An, besok kamu jadi sidang?” bisik Jesika di tengah antian
“iya jadi, do’akan, aku lulus ya.”
“Pasti aku do’akan” jawab Jesika
“Tidak sangkah, kamu orang pertama yang sidang diantara kita berempat.” Wil mengoceh tepat di depan Anna
“Kalian juga dua bulan lagi juga sidang kan ?” jawab Anna
“Do’akan kami ya!“ Xiang berteriak di depan Anna
“Pasti akan ku do’akan selalu” jawab Anna
Mereka berjejer di ruang makan mengambil nasi, dan beberapa lauk pauk,
“Tumben buahnya apel” Xiang menunjuk kearah tumbukan buah
“Biasa juga pisang atau jeruk.” Wil mengingat dengan jelas buah apa yang selalu tersedia diatas meja makan mereka.
“Sudah jangan cerewet cepat ambil, lihat yang lain sudah mulai protes di belakang.” Jesika menginggatkan.
Anna mengambil sebuah apel berwarnah merah, mereka makan dengan penuh semangat,. Anna terus mengengam apelnya dia kembali ke kamar diikuti yang lainnya.
“Kau tidak ingin memakannya?” Wil bertanya menatap Apel di dekat piring makan Anna.
“Tentu saja akan kumakan tapi nanti, perutku masih terasa kenyang” Anna baru saja menghabisakan makannya dengan porsi cukup besar.
****
Sudah lima minggu dari mimpi itu, Anna menjalankan aktifitas seperti biasa, ia benar-benar berusaha melupakan mimpi itu, mimpi yang panjang dan mengerikan. Semua anak sibuk dengan tugas mereka masing-masing tidak terkecuali Anna, dia sibuk membaca lagi skripsinya, sudah jam dua malam gadis itu masih bersemangat membaca lembar skripsinya.
“Belum tidur?” Xiang tampak kasihan pada Anna, dari tadi siang ia belajar untuk sidang besok, sidang yang menentukan ia akan lulus kulia atau mengulang tahun depan.
“Sebentar lagi.” Anna tanpah menoleh pada Xian.
“Anna kalau harus tidur, besok kau sidang. Akan bahaya jika kau mengantuk saat sidang, kau pasti tidak bisa mempersentasikan skripsimu dengan baik.” Xiang menginggatkan.
Anna menutup lembar skripsinya ia menghelah napas panjang.
”Kau benar Xiang, terimakasihdan maaf membangunkanmu.” Anna tersenyum pada Xiang. Ia menyadari apa yang di katakan Xiang adala benar adanya, ia tidak bisa memaksa dirinya, karena itu akan menimbukana efek buruk nantinya.
“Tidak apa-apa, aku terbangun bukan karenamu, aku haus.” Xiang sambil beranjak mengambil botil minumnya.
Anna mencoba memejamkan matanya, lagi-lagi suara Jack muncul di kepalanya memanggil namanya, bukan hanya suara Jack tapi juga Lily dan Lian yang memanggil namanya.
Anna tidak perduli ia harus sidang besok apapun yang terjadi. Anna mengabaikan semua suara yang ada di kepalanya.
__ADS_1