
Anna dan Lily pergi kepasar membeli beberapa persediaan makanan, dua wanita itu berjalan menyusuri pasar. Semua penduduk melihat mereka dengan pandangan biasa saja sekarang, terbanding terbalik saat pertama menginjakan kaki disini, sekarang para penduduk tersenyum ramah pada mereka.
Anna dan Lily benar-benar seperti wanita pada umumnya sagat suka berbelanja, sifat asli wanita yang sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan atau keharusan? Entahla.
Mereka melihat-lihat beberapa pakaian, sepatu dan tas, sayangnya mereka belum menentukan satu pilihanpun. Kedua gadis itu berjalan kearah pedagang buah, lalu memilih beberapa buah segar untuk di bawah pulang.
Seorang anak kecil membentur kaki Anna dari belakang gadis itu segera berbalik menatap seorang bocah laki-laki, anak itu berumur sekitar sepuluh tahun dengan mata abu-abu, hidung mancung, bibirnya tipis dan merah, wajanya manis, rambutnya berwarnah coklat cukup panjang untuk ukuran laki-laki, rambut itu bahkan menyentuh bahu.
Bocah itu dan terlihat berantakan, selain itu pakaiannya tampak kumal. Anak itu terjatuh ke tanah, dengan cepat Anna membantunya berdiri.
“Kau tidak apa-apa?” Bocah itu menatap tajam pada Anna.
“Cepat pergi!” usir penjaga tokoh.
“Dasar pencuri kecil!” teriak wanita paru baya penjaga toko itu.
“Mengapa ia memaki anak yang tidak bersalah.” Anna terlihat heran. Anak itu berlarih
meninggalkan Anna dan Lily setelah di usir.
Anna merogoh tasnya untuk membayar buah yang merekah beli “Dia mencuri uangku!” teriak Anna pada Lily.
Gadis itu benar-benar teripuh oleh bocah kecil tadi. Kedua wanita itu berlarih mengejar anak kecil itu hingga mereka sampai pada sebuah lorong yang sepih.
“Kau menemukan anak itu Anna?”
“Tidak, ayo kita pulang.” Ajak Anna.
Anna menoleh pada kearah selah bangunan di samping mereka, sebuah bayangan terlihat jelas, itu bayangan anak kecil sedang berdiri di samping dinding.
Anna tersenyum melihat kearah Lily, lalu menunjuk arah bayanganitu. ternyata Lily juga menyadarinya, tanpa babibu kedua gadis itu menyergap anak kecil itu.
Lily segera memegangi tangan anak itu, bocah kecil itu berontak dengan sangat kuat, tapi ia kala dengan Lily tenaga wanita itu jauh lebih kuat dari pada dirinya.
“Kembalikan uangnya!” perintah Lily “Dan aku akan melepaskanmu.” Bocah itu hanya menunduk lemas, ia sudah ketahuan dan tidak bisa lari lagi, tangan mungil itu merogoh saku celanya mengeluarkan uang dari dalamnya, uang yang baru saja ia curi.
Anna mengambil uangnya, lalu menghitung beberap koin itu, “Apakah itu cukup, Anna?”
Lily takut anak ini menyimpan sebagian uangnya. Anna mengangguk lalu merogoh tasnya dan memberikan Apel yang di berikan Jack padanya tadi malam,
“Ini untuk mu.“ anak kecil itu langsung mengambil buah berwarnah merah itu. Anna memberikan setengah dari uang dari kantung uang yang tadi sempat di curi anak itu.
Lily hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya melihat perilaku Anna yang terlalu murah hati pada orang asing.
Anak itu menatap tajam pada Anna, gadis itu juga menatap balik sosok di hadapanya sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian bocah itu terjatuh, Anna memegang bahu anak itu membantunya berdiri.
“Bersabarla Anna, engkau akan menemukan jalan pulang, setelah kau menelatkan kalungmu, berhati-hatila.” ucapan itu muncul dari mulut anak itu.
Anna dan Lily menatap anak itu dengan heran, anak itupun nenatap wanita di samping Anna.
“Engkau akan membantunya Lily, engkau akan menemukan apa yang kau cari selama ini, jangan biarkan kebencian menguasaimu.” anak itu tesenyum kemudian berlari menginggalkan dua gadis yang masih tampak heran. Belum sempat Lily dan Anna bertanya anak itu sudah hilang dari pandangan mata mereka.
***
Gadis itu masih berkecambuk dengan banyak pertanyaan di kepalahnya,
“Siapa anak itu sebenarnya? bagaimana ia tahu?, bodonya aku tidak menanyai namanya.”
“Ada apa Anna?” Roberto membuyarkan pikiran gadis itu.
“Apakah kita menerima anggota baru untuk pergi Roberto?”
“Maksudmu engkau menemukan teman baru nak?”
“Aku tidak tau dia teman atau musuh, yang pasti dia spesial.” Anna masih tampak binggung.
“Maksudmu anak kecil tadi?” Lily menyelah pembicaraan mereka, Anna hanya mengangguk.
“Sepertinya dia salah satu bagian dari kalian, tapi aku tidak bisa memastikan dia musuh atau teman.”
__ADS_1
Tepat saat waktu makan malam istri Otto menghampiri kamar “Mari saatnya makan malam gadis-gadis.” Anna dan Lily tertawa mendengar perkataanya.
“Ibu ayo makan!” teriak suarah anak kecil yang berumur sekitar 11 tahun, ia adalah anak laki-laki Otto namanya Win.
“Iya sebentar.” sahut istri Otto.
Mereka bertiga menujuh meja makan, terdapat Otto si pemilik rumah, Roborto dan Jack yang tersenyum “Mari kita makan.” ajak Otto.
Makan malam ini sangat enak terdapat roti, sayuran dan danging rusa panggang dan sepertinya ada sop yang terbuat dari kacang merah di campur ketang dan danging ayam. Semua orang bersemangat makan malam ini, tepi tetap saja ada yang kurang, nasi, ya Anna ingin makan nasi.
Setelah selesai makan malam, Lily dan Anna membantu istri Otto membersihkan meja makan. Roberto dan Otto ngobrol di ruang tamu. Jack, pria itu bermain pedang-pedangan dari kayu dengan Win, mereka terlihat kompak terlihat seperti kakak dan adik atau ayah muda dan anak?
Anna tampak sibuk memperhatikan buku yang ia bawah ya buku berwarnah coklat seperti warna tanah.
“Aku sangat lelah Anna.” Lily membuka suaranya.
“Tidurla Lily, kau sangat membutuhkannya.” Lily menjawab dengan anggukan, tidak berapa lama Anna menghampiri Lily dan memasangkan selimut untuk wanita yang telah terlelap dengan nyenyak.
”Terimakasih Lily kau wanita yang baik, terimakasih telah membantuku, semoga mimpi indah.” bisik Anna pada Lily.
***
Anna kembali membolak balik setiap bukunya yang masih kosong, ia berharap muncul sebuah tulisan disana yang membuatnya bisa mengakhiri mimpi ini dengan cepat.
Sesaat kemudian ia mencobah merebahkan tubuhnya di samping Lily, berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa.
Gadis itu kemudian bangkit memutuskan untuk keluar, rumah terlihat sepi pasti semua orang telah tertidur.
Anna keluar rumah melangkah dengan pelan berusaha tidak menimbulkan suarah yang membuat si empuh rumah terbangun, gadis itu berjalan ke bagian samping rumah untuk menghapiri kandang kuda, ia menemukan kuda putih yang telah membawanya sejauh ini.
“Hai kuda-kuda apa kalian senang disini? Apa mereka menjaga kalian dengan baik?” kuda putih itu menggangguk seakan mengerti perkaan Anna, tanpa gadis itu sadari ia mulai tersenyum sendiri.
“Mungkin aku sudah gila mengajak kalian berbicara malam ini,” Sebuah helaan napas panjang terdengar “Aku tidak bisa tidur, ini semua aneh, aku ingin cepat terbangun dari mimpi ini.” Anna berbicara seolah sedang berbicara dengan seorang manusia.“Kalian tahu, aku punya kucing di rumah, ibuku sangat senang memelihara kucing. Aku juga kadang sering di gigit atau di cakar kucing, tapi tetap saja aku sayang pada kucing-kucingku mereka sangat lucu.”Anna bercerita dengan sangat antusias.
Tanpa Anna sadari seseorang sedang memperhatikannya, tidak jauh dari tempat ia berdiri.
“Kuda apakah kalian memiliki keluarga? Ya, pasti kalian memiliki keluarga, apakah kalian tidak rindu keluarga kalian? Pasti rindu, aku juga merindukan keluargaku.”
“Apakah kau merindukanku nanti?” suarah Jack tiba-tiba muncul. Anna tampak terkejut melotot kearah pria itu, Jack benar-benar akan membuat jantung hampir saja jantungnya terlepas dari tempatnya.
Anna sangat takut jika itu bukan Jack, ia sangat sadar negeri ini sangat berbahaya siapa tahu itu musuh yang ingin membunuhnya di tambahlagi inikan tengah malam.
“Jack, apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku ha?!” tampa menjawab pertanyaan Anna, Jack hanya menggangguk sambil ngengir kuda.
“Sudah ku bilang aku akan menjagamu dan melindunggimu, jadi aku harus tetap di sampingmu Anna.” belah Jack sambil tersenyum.
Gadis itu tampak kesal dan terlihat tidak senang, Anna memutar badannya ingin pergi meninggalkan Jack. Tapi pria itu terlebih dulu memeluk Anna dari belakang sambil membungkam mulutnya, Anna terkejut dan memberontak
“Diam jangan menimbulkan suara.” bisik Jack tepat di telingah kanan Anna.
Seketika Anna terdiam seperti patung, jantungnya berdegup kencang, kenapa tiba-tiba
seperti ini? Jack menarik pedang kecil miliknya. Anna tahu pasti ada yang tidak beres.
“Pasti ada bahaya jika Jack seperti ini.” pikirnya. Anna berusaha tenang.
Tanpak sosok bayangan besar di depan mereka seperti manusia tapi berukuran sangat besar, Jack menarik Anna untuk menunduk. Anna hanya menuruti apa yang di perintahkan Jack. Bayangan itu sedang mencari sesuatu dan sesaat kemudian menghilang.
Anna menoleh pada Jack “Itu tadi apa?”Pria itu terdiam sesaat.
“Entahla aku juga tidak terlalu yakin.” Pria itu kemudian memasukan pedang kecilnya.
“Maksudmu, kau pernah melihatnya sebelumnya?” Jack mengganggu.
”Waktu aku kecil, saat kampungku di serang.” Raut wajah Jack berubah sedih, menginggat kejadian yang terjadi dulu.
Saat ia kecil, tidak ada hujan atau petir tiba-tiba langit menjadi gelap, bayangnya itu datang merubah wujudnya menjadi naga hitam besar, makhluk itu menyemburkan api ke setiap rumah penduduk membuat banyak orang yang tidak berdosa tewas di tempat, karena terbakar ada juga yang tewas tertimpa bangunan.
Jack bisa selamat karena Roberto dengan cepat membawanya pergi dari desa mereka, sungguh masa lalu yang mengerikan untuk di ingat.
__ADS_1
Anna menyadari itu “Jack bisahkah kau melepaskan tangan mu?” bisik gadis itu pelan, dari tadi tangan pria itu memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku.” Jack segera mundur beberapa langkah, ia menunduk sambil menggaruk tungkuknya yang tidak gatal, Jack tersenyum kaku menyadari kelancanganya memeluk Anna.
Lama mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing “Bisakah kau mengajari bertarung?” suarah Anna memecah kesunyian.
“Apa?!” Jack terkejut mendengar ucapan Anna yang membuyarkan lamunannya.
“Bertarung Jack, setidaknya ajarkan aku memukul orang atau hewan buas, atau kau bisa mengajariku sihir untuk melarikan diri dari musuh.” jelas gadis itu menatap Jack dengan sungguh-sungguh.
Pria itu tertawa sesaat “Kau tidak memerlukannya Anna.” jelas Jack.
“Aku memerlukannya untuk melindungi kalian.” bela Anna.
“Aku akan melindungimu, walaupun nyawa jadi taruhannya!” jawab Jack dengan penuh penekanan.
“Apa kalian semua akan mati karena aku? Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri, karena itu aku akan belajar melindungi diri sendiri, aku tidak mau kalian terluka karena aku. Aku tahu aku sangat lemah.” gadis itu menatap Jack dengan raut muka yang sulit diartikan.
Pria itu terdiam sesaat “Anna, apa kau akan merindukan kami semua jika kau sudah kembali ke duniamu?”
Anna tampak bingung dengan pertanyaaan laki-laki di depanya, tapi sesaat kemudiania berkata...
“Iya aku akan merindukan kalian semua, termasuk kuda-kuda ini.” Anna menatap empat kuda yang tampak menjadi penonton diantara mereka berdua.
“Baikla, aku akan mengajari bertarung.” Jack melemparkan sebuah tongkat kayu pada Anna.
“Serang aku!” perintah Jack.
Tanpa basah basi gadis itu langsung berusaha menyerang Jack, mengarahkan tongkat itu pada tubuh Jack.
Anna memukul kesembarang tempat, yang penting tongkat itu mengenai tubuh Jack, berkali kali ia mencobah tapi gagal pria itu selalu bisa menghindari serangannya.
Hampir satu jam ia berusaha menyerang Jack tapi hasilnya nihil, Jack bahkan tidak tersentuh oleh tongkat kayu itu.
“Aku lelah, Jack.” Anna sambil mengelap keringat di dahinya.
Jack menghampiri gadis itu kemudian berdiri tepat di belakang Anna, hampir tidak ada
jarak diantara mereka, pria itu mengarahkan tangannya tepat ketangan Anna yang memegang tongkatnya seolah pria itu sedang memeluknya dari belakang, gadis itu terkejut ia bisa merasakan hembusan napas Jack tepat di telingah kanannya, jantung Anna kembali berdebar cepat entah mengapa ini sangat aneh pikirnya.
“Kau tahu Anna, kenapa kau tidak bisa memukulku?” kata-kata Jack membuyarkan lamunan Anna.
“Ke- kenapa?” jawab Anna yang berusaha menguasaai diri.
“Kau salah memegang tongkatnya.” Jack mengarakan tangan kanan Anna berada di atas tangan kiri sambil memengang tongkatn itu, lalu mengengam kuat tangan mungil gadis itu.
“Kau harus bisa memperkirakan arah lawan-lawanmu.” jelas Jack sambil mengarahkan pedang tepat di depan mereka.
“Kau seharusnya menyadari, setelah tadi kau menyerangku selama satu jam.” Jack menngayunkan tongkat keatas dan memberi sedikit tenaga pada tongkatnya seolah sedang membelah angin yang sedang lewat, tanggan Anna hanya mengikuti gerakan tangan Jack.
“Dan kau tidak boleh terbawah emosimu dalam bertarung.” Jack mengayunkan tongkatnya kesamping.
“Kau harus fokus dan mempelajari gerakan lawanmu.” sekali lagi Jack memegang kuat tangan Anna sambil menarik sedikit ke samping kanan mereka tongkatknya kemudian mengarahkannya kedepan percis seperti gerakan menusuk. Jack melepaskanya tanganya dan meninggalkan Anna.
“Serang aku sekali lagi!” pintah Jack yang telah berdiri tepat di hadapan gadis itu.
“Baikla.” jawab Anna singkat sambil mengarahkan tongkatnya tepat di depan Jack tapi Jack menghindar lagi, Anna menyadarinya pria itu selalu melakukan gerakan yang sama.
Anna mencoba fokus, kali ini ia menyerang pria itu tepat kearah Jack sebelum Jack menghindar Anna telah mengubah arah seranganya, sekarang tongkatnya tepat berada di depan leher Jack, gadis terlebih dulu memberhentikan gerakan. Ia tidak ingin Jack terkena seranganya sekarang.
Sungguh aneh bukanya tadi gadis itu berusaha keras agar Jack terkena pukulanya, tapi mengapa ia tidak tegah menyakiti laki-laki itu?
“Kau berhasil Anna.” Jack mengambil tongkat tepat di depan lehernya, gadis terkejut kemudian itu melepaskan tongkatnya.
“Kau bisa membunuku tadi, aku bahkan tidak menyadarinya kalau kau tidak berhenti tadi.” Jack menjelaskan, ia melangkah mendekati gadis yang tampak terpaku dengan apa yang baru saja ia lakukan, Anna tersenyum kaku mendengarnya.
“Mari kita tidur ini sudah malam.” Jack mengiring Anna untuk mengikutinya.
“Selamat malam kuda.“ ucapan jack kali ini membuat Anna tersenyum.
__ADS_1
“Ya, selamat tidur kuda, dan selamat tidur Jack.” gumam Anna kemudian meninggalkan pria itu, Jack hanya menggangguk pelan melihat punggung gadis yang bisa saja membuhnya tadi tapi entah mengapa pria itu tampak bahagia sekarang.