
Sudah satu bulan Anna
tinggal di rumah itu, gadis itu sangat nyaman disana semua keluarga Alexander
menerimanya dengan baik, kecuali Julian dia hanya datang saat sarapan dan makan
malam, Anna tidak pernah ngobrol dengan laki-laki itu, mereka hanya melempar
senyum saat bertemu tidak lebih.
Anna melangkahkan
kakinya ke dapur untuk mengambil air, rasa haus menghampirinya, sorang wanita
memakai celemek tampak sedang sibuk.
“Hai Anna,”
“Hai Mom, sedang masak
apa?” Anna bertanya.saat melihat Maria sibut di dapur itu.
“Hari ini, Dady ulang
tahun Mom akan masak spesial untuknya,”
“Wah.., Boleh aku
bantu?”
“Tidak usah, kamu tidak
perlu repot, kamu sedang sakit,”
“Tidak apa-apa Mom, aku
bisa mengupasa bawang, kentang, atau yang lainya.”
“Baiklah.” jawab Maria,
“Kamu kupas kentang itu ya.” tambah Maria, sambil menunjuk kentang yang berada dalam
kom plastik di atas meja.
Anna langsung mengupas
kentang di hadapannya dengan semangat, walau tanganya belum bisa bebas bergerak
setidaknya, ia bisa melakukan sesuatu dirumah ini, dia sangat bosan hanya di
kamar dan tidak boleh melakukan apapun.
“Anna, apa kau bisa
memasak?”
“Aku tidak terlalu bisa
memasak, hanya beberapa menu saja yang aku bisa.” jawab Anna jujur, tapi para
sahabatnya Anna sangat pandai memasak diantara mereka semua.
“Kau tau Anna, kau
gadis pertama yang membantuku memasak, aku sangat senang, andai saja kau belum
bertunangan aku pasti akan menikahkanmu dengan Julian.”
“Apa?” Anna tampak
terkejut bagaimana mungkin Maria berkata seperti itu mereka bahkan baru saling
kenal itupun karena kecelakaan yang menimpahnya.
“Iya, aku ingin
menikahkanmu dengan Julian, anak itu tidak pernah membawah wanita kerumah ini,
dia selalu marah jika Mom atau Daddy membicarakan seorang wanita,” Maria
menarik napas dalam sesaat “Kadang aku berpikir kalau Julian gay.”
Sungguh Maria ingin
memiliki seorang menantu yang bisa membantunya memasak nantinya dan memberinya
cucu, wanita itu sadar umurnya tidak lagi muda untuk menunggu lebih lama lagi,
tapi sepertinya harapan itu harus Maria simpan dalam-dalam saat mengingat
tingkah laku Julian yang selalu menolak perjodohan dan sepertinya tidak
tertarik pada wanita manapun?
“Julian tidak gay.” jawab Anna dengan cepat.
“Apa maksudku? Darimana kau tahu?” Maria tampak heran melihat
Anna yang tiba-tiba salah tingkah.
“Aku, maksudku, Julian
pernah bercerita padaku.” Jawab Anna dengan ragu, tidak mungkin ia bercerita
kalau Julian menciumnya karena mengatakan laki-laki itu gay.
“Benarkah? Itu sangat
bagus, setahuku ia tidak pernah mau bercerita pada siapapun tentang kehidupan
pribadinya.”
“Itu, itu...” tampak Anna
sedang perpikir mencari alasan.
“Sudahlah tidak apa-apa,
setidaknya anak itu bisa mempercaimu.”
__ADS_1
Maria sangat senang
Julian bercerita dengan Anna tentang kehidupan pribadinya, setidaknya Maria
tahu anaknya masih normal, tapi kenapa pada Anna? Apakah mereka sangat dekat.
Maria bahkan tidak pernah melihat mereka ngobrol, “Apa ada yang aku lewatkan?” gumam maria dalam hati.
“Percaya
padaku?”gumam Anna dalam hati mengapa Julian mempercayainya,
mereka baru saja bertemu? “Tidak mungkin
Julian percaya padamu Anna, itu semua karena kau mengatainya gay.” Anna
berbicara pada dirinya sendri.
****
“Selamat ulang tahun
sayang,” Maria menyambut suaminya yang baru pulang dari kantor
“Terimakasih sayang.”
jawab laki-laki paru baya itu sambil memeluk Maria sebelum akrirnya mendaratkan
ciuman lembut di kening istrinya.
“Mandilah, kita akan
makan malam spesial malam ini.” bisik Maria.
Suasana di meja makan
tampak bahagia, telah terhidang makanan kesukaan Rudy, terdapat sambal kentang
goreng, ayam bakar, dan beberapa lauk lainya, seperi biasa mereka ngobrol
dengan hangat.
Selesain makan malam
mereka berkumpul di ruang tamu, Lucy membawah sebuah kue dengan lilin diatasnya.
“Selamat ulang tahun Daddy,”
Lucy menyodorkan kuenya
“Berdo’a dulu Daddy”
sesaat kemudian Rudy memejamkan matanya ia berdo’a agar keluarga mereka selalu
bahagia dan sehat. Kemudian Rudy meniup lilin itu.
“Ini untumu Daddy.” Julian
menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, Rudy segera membukanya tampak
sebuah jam tangan mahal berwarna gold di sana, Lucy juga memberikan kado pada Rudy ia memberikan sebuah tongkat golp.
anak-anak yang baik,” Rudy memeluk keduah Anaknya
“Om maaf, aku tidak
bisa memeberikan apa-apa,” Anna membuka suaranya.
“Tidak apa-apa Anna, aku
sangat senang kau ada disini, kau memberikan warna baru di rumah ini.” jawab
Rudy sambil tersenyum lebar.
Benar sejak Anna
tinggal di rumah itu, Rudy merasa rumahnya semakin lengkap dan itu membuat Rudy
senang, bukan hanya dia tapi Juga Maria dan Lucy atau mungkin Julian juga?
“Kau tadi membantu Mom
memasak, itu sudah cukup sayang.” Maria menambahkan. Anna hanya tersenyum memberikan
senyum terbaiknya pada mereka semua, kemudian beranjak kedapur, terbersit
sebuah ide di otaknya.
“Ini untuk om, sebagai
hadiah ulang tahun dariku.”
“Apel?” Maria dan Lucy
tampak terkejut, begitu juga dengan Rudy, sesaat kemudian, ia mengambil buah
apel itu.
“Terimakasih hadianya,
aku akan memakanya nanti.” jawab Rudy sambil menerima apel itu.
“Masih tidak berubah.”
Julian membuka suaranya pelan.
“Tidak berubah? Apa
maksudmu?” Maria heran pada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, tidak ada
apa-apa Mom, aku pulang dulu ini sudah malam.” Julian beranjak meninggalkan
ruangan itu sambil mengankat bahu acuh, sedangkan Anna hanya bisa diam menatap
kepergian laki-laki yang suka datang dan pergi sesuka hatinya di rumah itu.
***
__ADS_1
Empat Orang wanita
sedang mengobrol dalam sebuah kamar, mereka sudah lama tidak bersama karena
kesibukan masing-masing, sudah lama sekali rutinitas itu tidak mereka lalukan,
apa lagi sejak Anna mengalami kecelakaaan itu dan pindah ke kediaman Alexander.
“Jesika bagaimana
persiapan pernikahanmu?” Wil memebuka suaranya.
“Sudah delapan puluh
persen, aku tinggal membeli baju pengantin, kalian temanin ya, aku perlu saran
dari kalian,” Jelas Jesika panjang lebar.
“Ya nanti ku temani,”
jawab Anna, Xiang dan Wil tampak mengangguk setuju, mereka semua bersedia
menemani Jesika untuk memili gaun pengantinnya nanti.
“Wil bagaimana bosmu
yang galak itu?” Jesika balik bertanya, ia ingat kejadian di rumah sakit saat
mereka membicarakan Julian dan sialnya laki-laki itu mendengar semuanya.
“Aku sudah minta maaf,
dia tidak memecatku,” jawab Wil agak lesuh, Anna hanya diam ia sudah melupakan
kejadian itu, yang berdampak pada hilangnya ciuaman pertamanya.
“Xiang bagaimana
kantormu?” Jesika mengalikan pandanganya pada sahabatnya yang memiliki mata
sipit itu.
“Masih sama, Margaret
masih seperti nenek sihir, tapi semakin sepi karena Anna tidak ada, kau
sediri?”
Xiang menatap Anna yang
hanya tersenyum lembut padanya, sungguh rasanya Xiang ingin melakukan protes
pada Margaret yang memecat Anna secara sepihat, seharusnya kantor memberikan
Anna keringanan karena kecelakaan itu.
“Aku juga biasa saja,
aku lebih fokus dengan pernikahan.”
“Sudah jangan
membicarakan pekerjaan, disini sedang ada seorang pengangguran.” Anna membuka suaranya
lalu memanyunkan bibirnya, membuat tiga sahabatnya tertawa.
Gadis itu kemudian
memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya meninggalkan tiga sahabatnya
yang masih menertawakanya, Anna memutuskan untuk duduk di sofa dan mengambil sebuah
buku berwaranah coklat seperti tanah dan bagian bawahnya tampak telah dimakan
rayap.
“Bukankah itu buku yang
menyeramkan waktu itu.” Wil memberhentikan tawanya ketika menatap buku yang di
pegang Anna, sungguh buku itu membuatnya hampir jantungan.
“Menyeramkan?” Anna
tampak binggung.
“Apakah kau lupa saat malam waktu kita diasrma, kau
membaca buku itu, dan aku merinding mendengarnya, kemudian paginya kau tampak
tidak bernapas, dan tubuhmu dingin.” jelas Wil.
Mengingat semua
kejadian itu, mereka semau berpikir saat itu Anna meninggal dan beruntung
ternyata gadis itu hanya mimpi buruk.
“Iya jangan bacah buku
itu lagi.” Xiang menginggatkan.
Sontak membuat Anna
tertawa mendengarnya mereka ketakutan dan berkata “Waktu itu aku hanya mimpi
buruk,”
“Ya, mimpi buruk, yang
membuat semua orang kawatir.” Jesika menjawab dengan nada dingin sambil menatap
Anna.
Gadis itu hanya
mengelelng mendengarnya, “Andai saja
kalian mengalami apa yang aku alami, mungkin kalian tidak akan mengangap buku
__ADS_1
ini menyeramkan, tapi spesial.” Anna berkata dalam hati.