Anna & Dream

Anna & Dream
14. Apel With Love


__ADS_3

Sudah satu bulan Anna


tinggal di rumah itu, gadis itu sangat nyaman disana semua keluarga Alexander


menerimanya dengan baik, kecuali Julian dia hanya datang saat sarapan dan makan


malam, Anna tidak pernah ngobrol dengan laki-laki itu, mereka hanya melempar


senyum saat bertemu tidak lebih.


Anna melangkahkan


kakinya ke dapur untuk mengambil air, rasa haus menghampirinya, sorang wanita


memakai celemek tampak sedang sibuk.


“Hai Anna,”


“Hai Mom, sedang masak


apa?” Anna bertanya.saat melihat Maria sibut di dapur itu.


“Hari ini, Dady ulang


tahun Mom akan masak spesial untuknya,”


“Wah.., Boleh aku


bantu?”


“Tidak usah, kamu tidak


perlu repot, kamu sedang sakit,”


“Tidak apa-apa Mom, aku


bisa mengupasa bawang, kentang, atau yang lainya.”


“Baiklah.” jawab Maria,


“Kamu kupas kentang itu ya.” tambah Maria, sambil menunjuk kentang yang berada dalam


kom plastik di atas meja.


Anna langsung mengupas


kentang di hadapannya dengan semangat, walau tanganya belum bisa bebas bergerak


setidaknya, ia bisa melakukan sesuatu dirumah ini, dia sangat bosan hanya di


kamar dan tidak boleh melakukan apapun.


“Anna, apa kau bisa


memasak?”


“Aku tidak terlalu bisa


memasak, hanya beberapa menu saja yang aku bisa.” jawab Anna jujur, tapi para


sahabatnya Anna sangat pandai memasak diantara mereka semua.


“Kau tau Anna, kau


gadis pertama yang membantuku memasak, aku sangat senang, andai saja kau belum


bertunangan aku pasti akan menikahkanmu dengan Julian.”


“Apa?” Anna tampak


terkejut bagaimana mungkin Maria berkata seperti itu mereka bahkan baru saling


kenal itupun karena kecelakaan yang menimpahnya.


“Iya, aku ingin


menikahkanmu dengan Julian, anak itu tidak pernah membawah wanita kerumah ini,


dia selalu marah jika Mom atau Daddy membicarakan seorang wanita,” Maria


menarik napas dalam sesaat “Kadang aku berpikir kalau Julian gay.”


Sungguh Maria ingin


memiliki seorang menantu yang bisa membantunya memasak nantinya dan memberinya


cucu, wanita itu sadar umurnya tidak lagi muda untuk menunggu lebih lama lagi,


tapi sepertinya harapan itu harus Maria simpan dalam-dalam saat mengingat


tingkah laku Julian yang selalu menolak perjodohan dan sepertinya tidak


tertarik pada wanita manapun?


“Julian  tidak gay.” jawab Anna dengan cepat.


“Apa maksudku?  Darimana kau tahu?” Maria tampak heran melihat


Anna yang tiba-tiba salah tingkah.


“Aku, maksudku, Julian


pernah bercerita padaku.” Jawab Anna dengan ragu, tidak mungkin ia bercerita


kalau Julian menciumnya karena mengatakan laki-laki itu gay.


“Benarkah? Itu sangat


bagus, setahuku ia tidak pernah mau bercerita pada siapapun tentang kehidupan


pribadinya.”


“Itu, itu...” tampak Anna


sedang perpikir mencari alasan.


“Sudahlah tidak apa-apa,


setidaknya anak itu bisa mempercaimu.”

__ADS_1


Maria sangat senang


Julian bercerita dengan Anna tentang kehidupan pribadinya, setidaknya Maria


tahu anaknya masih normal, tapi kenapa pada Anna? Apakah mereka sangat dekat.


Maria bahkan tidak pernah melihat mereka ngobrol, “Apa ada yang aku lewatkan?” gumam maria dalam hati.


“Percaya


padaku?”gumam Anna dalam hati mengapa Julian mempercayainya,


mereka baru saja bertemu? “Tidak mungkin


Julian percaya padamu Anna, itu semua karena kau mengatainya gay.” Anna


berbicara pada dirinya sendri.


****


“Selamat ulang tahun


sayang,” Maria menyambut suaminya yang baru pulang dari kantor


“Terimakasih sayang.”


jawab laki-laki paru baya itu sambil memeluk Maria sebelum akrirnya mendaratkan


ciuman lembut di kening istrinya.


“Mandilah, kita akan


makan malam spesial malam ini.” bisik Maria.


Suasana di meja makan


tampak bahagia, telah terhidang makanan kesukaan Rudy, terdapat sambal kentang


goreng, ayam bakar, dan beberapa lauk lainya, seperi biasa mereka ngobrol


dengan hangat.


Selesain makan malam


mereka berkumpul di ruang tamu, Lucy membawah sebuah kue dengan lilin diatasnya.


“Selamat ulang tahun Daddy,”


Lucy menyodorkan kuenya


“Berdo’a dulu Daddy”


sesaat kemudian Rudy memejamkan matanya ia berdo’a agar keluarga mereka selalu


bahagia dan sehat. Kemudian Rudy meniup lilin itu.


“Ini untumu Daddy.” Julian


menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, Rudy segera membukanya tampak


sebuah jam tangan mahal berwarna gold di sana, Lucy juga memberikan kado pada Rudy ia memberikan sebuah tongkat golp.


anak-anak yang baik,” Rudy memeluk keduah Anaknya


“Om maaf, aku tidak


bisa memeberikan apa-apa,” Anna membuka suaranya.


“Tidak apa-apa Anna, aku


sangat senang kau ada disini, kau memberikan warna baru di rumah ini.” jawab


Rudy sambil tersenyum lebar.


Benar sejak Anna


tinggal di rumah itu, Rudy merasa rumahnya semakin lengkap dan itu membuat Rudy


senang, bukan hanya dia tapi Juga Maria dan Lucy atau mungkin Julian juga?


“Kau tadi membantu Mom


memasak, itu sudah cukup sayang.” Maria menambahkan. Anna hanya tersenyum memberikan


senyum terbaiknya pada mereka semua, kemudian beranjak kedapur, terbersit


sebuah ide  di otaknya.


“Ini untuk om, sebagai


hadiah ulang tahun dariku.”


“Apel?” Maria dan Lucy


tampak terkejut, begitu juga dengan Rudy, sesaat kemudian, ia mengambil buah


apel itu.


“Terimakasih hadianya,


aku akan memakanya nanti.” jawab Rudy sambil menerima apel itu.


“Masih tidak berubah.”


Julian membuka suaranya pelan.


“Tidak berubah? Apa


maksudmu?” Maria heran pada anak laki-lakinya itu.


“Tidak, tidak ada


apa-apa Mom, aku pulang dulu ini sudah malam.” Julian beranjak meninggalkan


ruangan itu sambil mengankat bahu acuh, sedangkan Anna hanya bisa diam menatap


kepergian laki-laki yang suka datang dan pergi sesuka hatinya di rumah itu.


***

__ADS_1


Empat Orang wanita


sedang mengobrol dalam sebuah kamar, mereka sudah lama tidak bersama karena


kesibukan masing-masing, sudah lama sekali rutinitas itu tidak mereka lalukan,


apa lagi sejak Anna mengalami kecelakaaan itu dan pindah ke kediaman Alexander.


“Jesika bagaimana


persiapan pernikahanmu?” Wil memebuka suaranya.


“Sudah delapan puluh


persen, aku tinggal membeli baju pengantin, kalian temanin ya, aku perlu saran


dari kalian,” Jelas Jesika panjang lebar.


“Ya nanti ku temani,”


jawab Anna, Xiang dan Wil tampak mengangguk setuju, mereka semua bersedia


menemani Jesika untuk memili gaun pengantinnya nanti.


“Wil bagaimana bosmu


yang galak itu?” Jesika balik bertanya, ia ingat kejadian di rumah sakit saat


mereka membicarakan Julian dan sialnya laki-laki itu mendengar semuanya.


“Aku sudah minta maaf,


dia tidak memecatku,” jawab Wil agak lesuh, Anna hanya diam ia sudah melupakan


kejadian itu, yang berdampak pada hilangnya ciuaman pertamanya.


“Xiang bagaimana


kantormu?” Jesika mengalikan pandanganya pada sahabatnya yang memiliki mata


sipit itu.


“Masih sama, Margaret


masih seperti nenek sihir, tapi semakin sepi karena Anna tidak ada, kau


sediri?”


Xiang menatap Anna yang


hanya tersenyum lembut padanya, sungguh rasanya Xiang ingin melakukan protes


pada Margaret yang memecat Anna secara sepihat, seharusnya kantor memberikan


Anna keringanan karena kecelakaan itu.


“Aku juga biasa saja,


aku lebih fokus dengan pernikahan.”


“Sudah jangan


membicarakan pekerjaan, disini sedang ada seorang pengangguran.” Anna membuka suaranya


lalu memanyunkan bibirnya, membuat tiga sahabatnya tertawa.


Gadis itu kemudian


memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya meninggalkan tiga sahabatnya


yang masih menertawakanya, Anna memutuskan untuk duduk di sofa dan mengambil sebuah


buku berwaranah coklat seperti tanah dan bagian bawahnya tampak telah dimakan


rayap.


“Bukankah itu buku yang


menyeramkan waktu itu.” Wil memberhentikan tawanya ketika menatap buku yang di


pegang Anna, sungguh buku itu membuatnya hampir jantungan.


“Menyeramkan?” Anna


tampak binggung.


“Apakah kau  lupa saat malam waktu kita diasrma, kau


membaca buku itu, dan aku merinding mendengarnya, kemudian paginya kau tampak


tidak bernapas, dan tubuhmu dingin.” jelas Wil.


Mengingat semua


kejadian itu, mereka semau berpikir saat itu Anna meninggal dan beruntung


ternyata gadis itu hanya mimpi buruk.


“Iya jangan bacah buku


itu lagi.” Xiang menginggatkan.


Sontak membuat Anna


tertawa mendengarnya mereka ketakutan dan berkata “Waktu itu aku hanya mimpi


buruk,”


“Ya, mimpi buruk, yang


membuat semua orang kawatir.” Jesika menjawab dengan nada dingin sambil menatap


Anna.


Gadis itu hanya


mengelelng mendengarnya, “Andai saja


kalian mengalami apa yang aku alami, mungkin kalian tidak akan mengangap buku

__ADS_1


ini menyeramkan, tapi spesial.” Anna berkata dalam hati.


__ADS_2