Anna & Dream

Anna & Dream
20. Apel With Love


__ADS_3

“Anna aku ingin membeli


novel sepertimu.”


“Aku akan mengantarmu,


ke tokoh buku, bagaimana?” tawar Anna


Tidak berapa lama dua


orang itu meluncurnkan mobil mereka kearah Jalan H, jalan tidak terlalu macet. Tidak


jauh dari sana tampak tokoh buku tua berwarna abu-abu, tampak di depan merekah,


tokoh itu terlihat ramai tidak ada yang berubah dari tokoh buku itu.


“Pak Rober, apa kabar?”


Anna menyapa pemilik tokoh.


“Hai Anna sudah lama


tidak kesini, aku baik kau sendiri?” Robert bertanyan.


“Aku juga baik-baik


saja,” Roberto menatap gadis yang berdiri di samping Anna, gadis itu tersenyum


lembut pada Roberto  “Oh, ini Lucy


temanku pak.“ Lucy berkenalan dengan Robert, setelah itu Anna mengajak Lucy


untuk berkeliling mencari novel dan komik.


Seorang anak kecil


memeluk kaki Lucy dari belakang, mereka langsung menoleh. “Hai Quin kau sudah


besar.” Anna langsung memeluk gadis kecil itu.


Quin sekarang berumur


lima tahun, gadis kecil itu tertawa sambil tersenyum, ia memcium pipi Anna dan


Anna membalasnya, “Quin ini Lucy teman Kakak.” Anna menjelaskan, tampak Lucy


tersenyum lebar ia langsung mengajak Quin bersalaman, tapi gadis kecil itu


langsung memeluk Lucy, Anna tersenyum melihatnya.


”Tidak


di mimpi atau di dunia nyata mereka tampak akrab.”gumam Anna dalam hati.


***


“Anna terimakasih ya,


hari ini menyenangkan.” Lucy kemudian masuk ke kamarnya sambil membawa komik


dan novel barunya, mereka baru saja sampai di rumah setelah belanja buku hampir


dua jam lamanya.


Anna kemudian pergi ke kamarnya


megambil buku berwarna coklat seperti tanah, ia hanya membolak balik halamanya,


tampa membacanya, sebenarnya saat ia terbangun dari mimpi dua tahun lalu Anna


tidak bisa membaca buku itu lagi karena gadis itu tidak menguasai bahasa


Prancis, sesekali ia menerjemakanya dari internet, tapi hanya sebagian saja,


karena buku itu sangat tebal.


Seseorang mengetuk


pintu kamar Anna


“Ada apa Julian?”


“Bisahkah kau


membantuku?” Julian memohon, gadis itu mengangguk kemudian mengikuti Julian


kekamarnya, ini pertama kalinya Anna memasuki kamar Julian, kamar itu lebih


luas dari kamarnya, dengan cat putih, terlihat sejuk di pandang tapi tetep


meninggalkan kesan kalau itu adalah kamar laki-laki, kamar itu tampak mewah,


dengan semua perabotan yang elegan.

__ADS_1


Julian membuka lemari


pakaiannya tampak jejeran jas tergantung dengan rapi,.


“Pilihkan aku pakaian


untuk acarah besok, aku harus datang ke pernikahan adik Dev, ini pertama


kalinya aku menghadiri acarah seperti itu.” Julian menjelaskan dengan jujur.


Sebenarnya ia tidak


suka mengahadiri acara seperti pesta bahkan untuk acara ulang tahun kantornya


Julian tidak pernah datang dan acara, ia lebih suka acarah yang sederhana, dan


kekeluargaan dari pada persta megah.


Anna segerah meraih


beberapa jas di sana, ia mencobah mencocokan jas yang akan di pakai Julian


dengan konsep pesta pernikahan Jesika, Pesta itu berkonsep glamaor dan akan di


rayakan di salah satu hotel bintang lima, milik keluarga Alexander.


“Yang ini bagus.” Anna


menyodorkan sebuah jas berwarna hitam dengan kemeja biru muda, ia mengambil


sebuah dasi berwarna hitam yang memiliki motif bergaris halus. Tampak Julian


mengangguk ia setujuh dengan pilihan gadis itu.


“Terimakasih, kau akan


memakai baju apa besok?”


“Aku belum


memikirkannya.” gadis itu kemudian pergi meninggalkan Julian.


****


Suasana di acah


pernikahan  itu sangat ramai, Jesika


jas putih, Dev segerah menghampiri Julian yang datang ke acarah itu.


“Sendiri?” Dev bertanya


ia tampak binggung mengapa Julian datang sendri tidak dengan Anna bukankah


mereka tinggal serumah?


“Ya, dengan siapa


lagi?” Julian menjawab ketus.


Sepasang kekasih datang


dengan membawah sebuah kotak kado, mereka terlihat serasi, sang wanita memakai


gaun berwarhan biru mudah dengan motif bungah yang sama dengan warna gaun itu,


ia terlihat cantik, sedangkan sang lelaki memakai setelan jas hitam dengan


kemejah putih di dalamnya, mereka masuk sambil bergandengan tangan, Julian


segerah membuang muka melihat mereka Daddyanya terasa sesak.


“Anna kau datang.”


Jesika berteriak sambil memeluk Anna, tampak di sana Wil dan Xiang sudah


berdiri.


“Ini untukmu,” Anna


menyodorkan sebuah kado yang tadi ia bawah


“Selamat ya Jes, semoga


kau dan Max selalu bahagia.”  Nicko


menyalami Jesika dan Max.


“Cepat berdiri di sana,


sebentar lagi aku kan melempar bunga!” Jesika berteriak pada Anna dan Xiang,


karena  hanya tinggal mereka berdua yang

__ADS_1


belum menikah. Satu, dua, tiga, mereka tampak kompak menghitung bersama-sama.


Anna segerah berbalik melihat bunga melewatinya.


Julian dengan malas


melangka ia harus meminum sesuatu, mulutnya terasa haus, tiba-tiba sebuah bunga


datang kearahnya dengan cepat ia menangkapnya, tampak seorang gadis menatapnya


dari jarak satu meter di hadapanya.


“Kau mendapatkanya.”


Anna tersenyum, Julian menatap bungan di tanganya, tampak semua orang bertepuk


tangan.


“Ini untuk mu,” Julian


menyodorkan pada Anna.


“Itu jadi milikmu


sekarang.” Anna menjelaska.


“Kurasa kau yang lebih


membutuhkanya.” Julian segera merai tangan gadis itu memberikan bunga padanya


dengan cueknya laki-laki itu melangkah mengambil air yang ia butuhkan tadi.


Nicko memperhatikan


kejadian itu, hatinya terasa terbakar, ia dia cemburuh melihat Anna dan Julian


walau laki-laki itu tampak cuek, tapi Nicko menyadari kalau Julian menyukai


Anna dari cara laki-laki itu menatap Anna dan cara bicaranya, menunjukan kalau


Julian tertarik pada tunanganya itu. Dengan cepat Nick mendekati Julian.


“Mengapa kau memberikan


bunga itu pada Anna?” Nicko menatap lawan bicaranya


“Kurasa ia lebih


membutuhkanya, Anna berharap cepat menikah dan menurut mitos siapa yang


mendapatkan bunga itu akan segerah menyusul secepatnya.” Jelas Julian sambil


meneguk minumanya.


“Kau menyukai Anna?”


Nick menatap tajam kearah Julian,


Julian menatap Nicko,


ia tahu Nicko cemburu, bahkan Julian bisa merasakan hawa panas yang Nicko keluarkan,


sebelum akhirnya berucap “Bukan urusanmu, aku sarankan kau segerah menikahi


gadis itu secepatnya.” jawab Julian sinis kemudia pergi.


Nicko menatap punggung


laki-laki itu, benar Julian menyukai Anna, ia tidak akan melepaskan tunangannya


itu, ia mereka harus secepatnya menikah setelah lengan gadis itu sembuh.


Julian memacu mobilnya


dengan kecepatan penuh, ia pergi sebelum acara berakhir dengan alasan Lucy


memintanya pulang, padahal ia berbohong pada Dev, ia harus mencari pelampiasan


kekesalanya, Julian menipihkan mobilnya tepat di sebuah taman tempat pertama


kali Julian dan Anna bertemu, ia duduk di salah satu bangku taman sambil


menatap langit, bingtang tidak terlalu banyak tapi bulan tampak berada di sana.


“Mengapa ini terjadi?


mengapa aku jatuh cinta padanya!” Julian berteriak dengan kesal “Seharusnya aku


tidak pernah bertemu gadis itu, tidak pernah  mencuimnya!” Julian masih berteriak dengan keras, Julian membuka handphone-nya, melihat photo gadis yang


ia sukai “Bodoh, mengapa kau sudah bertunangan dan akan menikah dengan orang


lain ha?” Julian bertanya pada poto itu.

__ADS_1


__ADS_2