
“Anna aku ingin membeli
novel sepertimu.”
“Aku akan mengantarmu,
ke tokoh buku, bagaimana?” tawar Anna
Tidak berapa lama dua
orang itu meluncurnkan mobil mereka kearah Jalan H, jalan tidak terlalu macet. Tidak
jauh dari sana tampak tokoh buku tua berwarna abu-abu, tampak di depan merekah,
tokoh itu terlihat ramai tidak ada yang berubah dari tokoh buku itu.
“Pak Rober, apa kabar?”
Anna menyapa pemilik tokoh.
“Hai Anna sudah lama
tidak kesini, aku baik kau sendiri?” Robert bertanyan.
“Aku juga baik-baik
saja,” Roberto menatap gadis yang berdiri di samping Anna, gadis itu tersenyum
lembut pada Roberto “Oh, ini Lucy
temanku pak.“ Lucy berkenalan dengan Robert, setelah itu Anna mengajak Lucy
untuk berkeliling mencari novel dan komik.
Seorang anak kecil
memeluk kaki Lucy dari belakang, mereka langsung menoleh. “Hai Quin kau sudah
besar.” Anna langsung memeluk gadis kecil itu.
Quin sekarang berumur
lima tahun, gadis kecil itu tertawa sambil tersenyum, ia memcium pipi Anna dan
Anna membalasnya, “Quin ini Lucy teman Kakak.” Anna menjelaskan, tampak Lucy
tersenyum lebar ia langsung mengajak Quin bersalaman, tapi gadis kecil itu
langsung memeluk Lucy, Anna tersenyum melihatnya.
”Tidak
di mimpi atau di dunia nyata mereka tampak akrab.”gumam Anna dalam hati.
***
“Anna terimakasih ya,
hari ini menyenangkan.” Lucy kemudian masuk ke kamarnya sambil membawa komik
dan novel barunya, mereka baru saja sampai di rumah setelah belanja buku hampir
dua jam lamanya.
Anna kemudian pergi ke kamarnya
megambil buku berwarna coklat seperti tanah, ia hanya membolak balik halamanya,
tampa membacanya, sebenarnya saat ia terbangun dari mimpi dua tahun lalu Anna
tidak bisa membaca buku itu lagi karena gadis itu tidak menguasai bahasa
Prancis, sesekali ia menerjemakanya dari internet, tapi hanya sebagian saja,
karena buku itu sangat tebal.
Seseorang mengetuk
pintu kamar Anna
“Ada apa Julian?”
“Bisahkah kau
membantuku?” Julian memohon, gadis itu mengangguk kemudian mengikuti Julian
kekamarnya, ini pertama kalinya Anna memasuki kamar Julian, kamar itu lebih
luas dari kamarnya, dengan cat putih, terlihat sejuk di pandang tapi tetep
meninggalkan kesan kalau itu adalah kamar laki-laki, kamar itu tampak mewah,
dengan semua perabotan yang elegan.
__ADS_1
Julian membuka lemari
pakaiannya tampak jejeran jas tergantung dengan rapi,.
“Pilihkan aku pakaian
untuk acarah besok, aku harus datang ke pernikahan adik Dev, ini pertama
kalinya aku menghadiri acarah seperti itu.” Julian menjelaskan dengan jujur.
Sebenarnya ia tidak
suka mengahadiri acara seperti pesta bahkan untuk acara ulang tahun kantornya
Julian tidak pernah datang dan acara, ia lebih suka acarah yang sederhana, dan
kekeluargaan dari pada persta megah.
Anna segerah meraih
beberapa jas di sana, ia mencobah mencocokan jas yang akan di pakai Julian
dengan konsep pesta pernikahan Jesika, Pesta itu berkonsep glamaor dan akan di
rayakan di salah satu hotel bintang lima, milik keluarga Alexander.
“Yang ini bagus.” Anna
menyodorkan sebuah jas berwarna hitam dengan kemeja biru muda, ia mengambil
sebuah dasi berwarna hitam yang memiliki motif bergaris halus. Tampak Julian
mengangguk ia setujuh dengan pilihan gadis itu.
“Terimakasih, kau akan
memakai baju apa besok?”
“Aku belum
memikirkannya.” gadis itu kemudian pergi meninggalkan Julian.
****
Suasana di acah
pernikahan itu sangat ramai, Jesika
jas putih, Dev segerah menghampiri Julian yang datang ke acarah itu.
“Sendiri?” Dev bertanya
ia tampak binggung mengapa Julian datang sendri tidak dengan Anna bukankah
mereka tinggal serumah?
“Ya, dengan siapa
lagi?” Julian menjawab ketus.
Sepasang kekasih datang
dengan membawah sebuah kotak kado, mereka terlihat serasi, sang wanita memakai
gaun berwarhan biru mudah dengan motif bungah yang sama dengan warna gaun itu,
ia terlihat cantik, sedangkan sang lelaki memakai setelan jas hitam dengan
kemejah putih di dalamnya, mereka masuk sambil bergandengan tangan, Julian
segerah membuang muka melihat mereka Daddyanya terasa sesak.
“Anna kau datang.”
Jesika berteriak sambil memeluk Anna, tampak di sana Wil dan Xiang sudah
berdiri.
“Ini untukmu,” Anna
menyodorkan sebuah kado yang tadi ia bawah
“Selamat ya Jes, semoga
kau dan Max selalu bahagia.” Nicko
menyalami Jesika dan Max.
“Cepat berdiri di sana,
sebentar lagi aku kan melempar bunga!” Jesika berteriak pada Anna dan Xiang,
karena hanya tinggal mereka berdua yang
__ADS_1
belum menikah. Satu, dua, tiga, mereka tampak kompak menghitung bersama-sama.
Anna segerah berbalik melihat bunga melewatinya.
Julian dengan malas
melangka ia harus meminum sesuatu, mulutnya terasa haus, tiba-tiba sebuah bunga
datang kearahnya dengan cepat ia menangkapnya, tampak seorang gadis menatapnya
dari jarak satu meter di hadapanya.
“Kau mendapatkanya.”
Anna tersenyum, Julian menatap bungan di tanganya, tampak semua orang bertepuk
tangan.
“Ini untuk mu,” Julian
menyodorkan pada Anna.
“Itu jadi milikmu
sekarang.” Anna menjelaska.
“Kurasa kau yang lebih
membutuhkanya.” Julian segera merai tangan gadis itu memberikan bunga padanya
dengan cueknya laki-laki itu melangkah mengambil air yang ia butuhkan tadi.
Nicko memperhatikan
kejadian itu, hatinya terasa terbakar, ia dia cemburuh melihat Anna dan Julian
walau laki-laki itu tampak cuek, tapi Nicko menyadari kalau Julian menyukai
Anna dari cara laki-laki itu menatap Anna dan cara bicaranya, menunjukan kalau
Julian tertarik pada tunanganya itu. Dengan cepat Nick mendekati Julian.
“Mengapa kau memberikan
bunga itu pada Anna?” Nicko menatap lawan bicaranya
“Kurasa ia lebih
membutuhkanya, Anna berharap cepat menikah dan menurut mitos siapa yang
mendapatkan bunga itu akan segerah menyusul secepatnya.” Jelas Julian sambil
meneguk minumanya.
“Kau menyukai Anna?”
Nick menatap tajam kearah Julian,
Julian menatap Nicko,
ia tahu Nicko cemburu, bahkan Julian bisa merasakan hawa panas yang Nicko keluarkan,
sebelum akhirnya berucap “Bukan urusanmu, aku sarankan kau segerah menikahi
gadis itu secepatnya.” jawab Julian sinis kemudia pergi.
Nicko menatap punggung
laki-laki itu, benar Julian menyukai Anna, ia tidak akan melepaskan tunangannya
itu, ia mereka harus secepatnya menikah setelah lengan gadis itu sembuh.
Julian memacu mobilnya
dengan kecepatan penuh, ia pergi sebelum acara berakhir dengan alasan Lucy
memintanya pulang, padahal ia berbohong pada Dev, ia harus mencari pelampiasan
kekesalanya, Julian menipihkan mobilnya tepat di sebuah taman tempat pertama
kali Julian dan Anna bertemu, ia duduk di salah satu bangku taman sambil
menatap langit, bingtang tidak terlalu banyak tapi bulan tampak berada di sana.
“Mengapa ini terjadi?
mengapa aku jatuh cinta padanya!” Julian berteriak dengan kesal “Seharusnya aku
tidak pernah bertemu gadis itu, tidak pernah mencuimnya!” Julian masih berteriak dengan keras, Julian membuka handphone-nya, melihat photo gadis yang
ia sukai “Bodoh, mengapa kau sudah bertunangan dan akan menikah dengan orang
lain ha?” Julian bertanya pada poto itu.
__ADS_1