Anna & Dream

Anna & Dream
1. Apel With Love


__ADS_3

JULIAN POV


Matahari belum memanpakan


diri seakan engan keluar dari peraduanya, membuat orang-orang engan untuk


bangun dari tidurnya. Begitu juga yang di lakukan seorang laki-laki sedang


tertidur pulas. Ia tidak mengenakan baju, memperlihatkan kulit putih halus dan perut


sispeknya, ia tampak seperti malaikat, dengan alis tebal dan rambut berwarna


coklat, rahang yang tegas, bibirnya tampak tidak terlalu tipis. Tuhan


benar-benar sedang tersenyum saat menciptakan laki-laki ini.


“Dretttt....


“Dretttttttt.....


“Hallo,” Suara yang


terdengar lembut pada siapa saja mendengarnya, walaupun tampak jelas suara


orang bangun tidur.


“Cepat


kesini!”suara di seberang saja, memerintahkan dengan tidak


sabar.


“Tidak!” jawabnya tegas


namun terdengar lembut.


“Julian,


orang tua mu sudah datang dan sekarang ia di Bandara.”Suara di seberang sana mengingatkan.


“Apa?! kau bercanda Ben?”


Sontak laki-laki itu membuka matanya dengan lebar tampak matanya berwarna


coklat dan sangat indah.


“Cepatlah,


Lucy sudah di bandara.”Suara di seberang sana memberitahu


sekali lagi.


Laki-laki itu langsung


menutup telponnya dengan kesadaran yang hampir seratus persen, ia segera ke kamar


mandi untuk mencuci mukanya, segera menganti bajunya, beranjak keluar dari


apartemen mewah miliknya tidak lupa ia membawah kunci mobil sport-nya yang berwarna hitam.


“Sial, kenapa Lucy


tidak memberi tahuku?” gerutu laki-laki itu kesal. Bagaimana mungkin Lucy tidak


memberitahunya bahwa kedua orang tuanya datang pagi ini, padahal tadi malam


mereka bertemu, dan Ben laki-laki itu malah terlebih dulu tahu dari pada dia


yang bukan notabenya anak mereka.


Jarak bandara dari


apartemen itu memang tidak terlalu jauh hanya perlu waktu sekitar satu jam. Ia sudah


empat puluh menit ia melajukan mobilnya tiba-tiba mobilnya berhenti, laki-laki


itu mencobah menyalakan mesin mobilnya tapi gagal.


“Sial, bensinya habis.”


laki-laki itu memukul setir mobilnya, mencari telpon genggamnya menekan tombol


panggil yang ada di kontaknya.


“Tut... tut.....


“Hallo,”tampak suara wanita terdengar dari seberang sana.


“Lucy, kau tidak


mengisi minyak mobilku, sekarang mobilku tidak bisa jalan dan kau tidak


memberitahuku kalau Daddy dan Mom datang!”


Suara itu terdengar


sangat kesal, Julian membenci semua hal yang menghambat jalanya, seperti saat


ini karena keteledoran wanita itu membuat Julian tidak bisa melajukan mobilnya.


Selain itu Julian juga

__ADS_1


membenci semua hal yang tidak berjalan sempurna, bagi laki-laki ini semuanya


harus sesuai rencananya dan yang paling utama ia harus tahu semua yang terjadi.


“Hallo, Lucy kau disana?”


Suara Julian memastikan orang di telponnya mendengarkan tapi tidak ada jawaban,


laki-laki itu menatap layar ponselnya semuanya gelap.


“Sial lowbat.” Double sial sekarang.


Ia mencobah merogoh


satu celananya, mencarih dompet dan uang untuk naik taksi ke bandara tapi


hasilnya nihil.


“Mengapa hari ini aku


sangat sial?” gumamnya sambil membanting pintu mobil itu. Ini tidak pernah


terjadi sebelumnya, ia benar-benar membenci hari ini dalam hidupnya, ia


bersumpah akan memberikan Lucy pelajaran, wanita itu telah membuat harinya


menjadi sangat buruk.


***


Julian tidak habis


akal, ia harus mencari bantuan bagaimanapun caranya ia harus ke Bandara untuk


menjemput kedua orang tuanya, mata coklat itu terus memandang daerah sekitar


berharap ada seseorang yang mau membantunya.


Ternyata tuhan menjawab


do’anya, walau hari masih pagi, ia melihat  dua orang wanita sedang berlari di taman dengan


santai, mungkin karena keadaan taman masih sangat sepih. Tentu saja sepih


karena masih pukul setengah enam pagi, mataharipun seakan masih belum


menampakan dirinya.


Perlahan tapi pasti


senyum Julian mengembang saat melihat dua wanita itu, laki-laki itu tidak akan


menyia-nyiakan kesempatan ini.


itu menoleh setelah mendengar suara lembut Julian, “Maaf mengganggu, tapi


mobilku sedang kehabisan minyak.”


Julian menatap wajah binggung


dari dua wanita tadi, tapi Julian tidak menyerah ia tahu tidak mudah memintah


bantuan pada orang asing di jaman sekarang, belum lagi pikiran kebanyakan orang


yang akan berpikir bahwa jangan pernah mempercayai orang asing karena itu


sangat berbahaya.


“Dompetku tertinggal di


rumah, tadi aku terburuh-buruh, bisakah kalian meminjamkan aku uang?” Julian terlihat


memelas.


“Aku hanya membawa uang


ini?” gadis itu menyodorkan uang seratus ribu selembar.


“Terimakasih, aku akan


membayarnya nanti.” jawab Julian mengambil uang itu, kemudian berlari


meninggalkan kedua wanita itu.


“Bodoh, bagaimana aku


mengambalikan uang ini, aku lupa bertanya mananya.” laki-laki itu berbalik untuk


mencari wanita yang meminjamkanya uang, tapi mereka sudah hilang.


***


ANNA POV


Dua tahun sejak mimpi


itu. Walau matahari pagi seakan engan keluar dari peraduanya, tapi udarah


terasa sangat sejuk. Tampak seorang wanita


sedang berlari mengelilingi taman pada kedua telinganya terpasang headset untuk

__ADS_1


mendengarkan musik menemani lari paginya yang rutin ia lakukan. Kondisi taman


itu masih sangat sepih.


“Anna tunggu!” Suara


itu memberhentikan langkah wanita itu, dan menoleh kearah pemilik suara “Aku


harus ketoilet!” Xiang berteriak.


“Aku akan menunggumu.”


Jawab Anna, gadis itu menatap kepergian temanya, tapi pandanganya berubah saat


tiba-tiba di hadapanya sebuah mobil sport hitam melaju pelan kemudian berhenti sekitar lima meter dari tempatnya


berdiri, tidak berapa lama si pemilik turun dengan wajah kesal, ia membanting


pintuh dengan keras.


Anna menoleh sekilas ia


memperhatikan wajah pemilik mobil itu, ia masih ingat dengan wajah itu. “Jack.”


gumamnya ”tidak mungkin, itu hanya mimpi” pikirnya dalam hati.


“Ayo, Aku sudah selesai!”


Xiang membuyarkan lamunan Anna, mereka memutuskan untuk berkeliling taman lagi


tapi seseorang memangil mereka.


“Tunggu!” tampak sosok


laki-laki menghampiri mereka.Kedua wanita itu menoleh, Anna sekali lagi


memperhatikan laki-laki itu.


“Maaf mengganggu, tapi


mobilku sedang kehabisan minyak.”


Xiang menatap laki-laki


itu dengan heran kemudian menaikan alis matanya, ia juga menatap Anna yang


tidak berkedip pada pria di hadapannya.


“Dompetku tertinggal di


rumah, tadi aku terburuh-buruh, bisakah kalian meminjamkan aku uang?” tampak


laki-laki itu terlihat memelas.


Xiang memperhatikan


Anna yang terlihat mengeluarkan uang dari kantungnya.


“Aku hanya membawa uang


ini?” gadis itu menyodorkan uang seratus ribu selembar.


“Terimakasih, aku akan


membayarnya nanti.” jawab si laki-laki itu sambil mengambil uang itu, kemudian


berlari meninggalkan mereka berdua.


“Apakah kau mengenalnya?”


Xiang bertanya.


“Tidak,” Jawab Anna


cepat, mana mungkin Anna menceritakan kalau ia pernah bertemu laki-laki yang


mirip dengannya lewat mimpi, mungkin itu akan terdengar sangat konyol dan yang


paling utama Xiang tidak akan mempercayainya.


“Mengapa kau memberikan


ia uang?”


“Mungkin dulu aku


pernah berhutang padanya?” Anna memberikan jawab yang penuh teka-teki membuat


Xiang binggung.


“Aku haus, kau harus


mentraktirku minum ya.” Anna menarik Xiang.


“Tidak mau, salah


sendiri mengapa uangnya di berikan pada laki-laki tadi, kau bahkan tidak tau


namanya.” Xiang mengoceh sambil berlari di samping Anna “Apakau menyukainya,


Anna?”

__ADS_1


“Jangan bercandah, Aku


sudah memiliki tunangan, sebentar lagi kami akan menikah, Xiang.”


__ADS_2