
JULIAN POV
Matahari belum memanpakan
diri seakan engan keluar dari peraduanya, membuat orang-orang engan untuk
bangun dari tidurnya. Begitu juga yang di lakukan seorang laki-laki sedang
tertidur pulas. Ia tidak mengenakan baju, memperlihatkan kulit putih halus dan perut
sispeknya, ia tampak seperti malaikat, dengan alis tebal dan rambut berwarna
coklat, rahang yang tegas, bibirnya tampak tidak terlalu tipis. Tuhan
benar-benar sedang tersenyum saat menciptakan laki-laki ini.
“Dretttt....
“Dretttttttt.....
“Hallo,” Suara yang
terdengar lembut pada siapa saja mendengarnya, walaupun tampak jelas suara
orang bangun tidur.
“Cepat
kesini!”suara di seberang saja, memerintahkan dengan tidak
sabar.
“Tidak!” jawabnya tegas
namun terdengar lembut.
“Julian,
orang tua mu sudah datang dan sekarang ia di Bandara.”Suara di seberang sana mengingatkan.
“Apa?! kau bercanda Ben?”
Sontak laki-laki itu membuka matanya dengan lebar tampak matanya berwarna
coklat dan sangat indah.
“Cepatlah,
Lucy sudah di bandara.”Suara di seberang sana memberitahu
sekali lagi.
Laki-laki itu langsung
menutup telponnya dengan kesadaran yang hampir seratus persen, ia segera ke kamar
mandi untuk mencuci mukanya, segera menganti bajunya, beranjak keluar dari
apartemen mewah miliknya tidak lupa ia membawah kunci mobil sport-nya yang berwarna hitam.
“Sial, kenapa Lucy
tidak memberi tahuku?” gerutu laki-laki itu kesal. Bagaimana mungkin Lucy tidak
memberitahunya bahwa kedua orang tuanya datang pagi ini, padahal tadi malam
mereka bertemu, dan Ben laki-laki itu malah terlebih dulu tahu dari pada dia
yang bukan notabenya anak mereka.
Jarak bandara dari
apartemen itu memang tidak terlalu jauh hanya perlu waktu sekitar satu jam. Ia sudah
empat puluh menit ia melajukan mobilnya tiba-tiba mobilnya berhenti, laki-laki
itu mencobah menyalakan mesin mobilnya tapi gagal.
“Sial, bensinya habis.”
laki-laki itu memukul setir mobilnya, mencari telpon genggamnya menekan tombol
panggil yang ada di kontaknya.
“Tut... tut.....
“Hallo,”tampak suara wanita terdengar dari seberang sana.
“Lucy, kau tidak
mengisi minyak mobilku, sekarang mobilku tidak bisa jalan dan kau tidak
memberitahuku kalau Daddy dan Mom datang!”
Suara itu terdengar
sangat kesal, Julian membenci semua hal yang menghambat jalanya, seperti saat
ini karena keteledoran wanita itu membuat Julian tidak bisa melajukan mobilnya.
Selain itu Julian juga
__ADS_1
membenci semua hal yang tidak berjalan sempurna, bagi laki-laki ini semuanya
harus sesuai rencananya dan yang paling utama ia harus tahu semua yang terjadi.
“Hallo, Lucy kau disana?”
Suara Julian memastikan orang di telponnya mendengarkan tapi tidak ada jawaban,
laki-laki itu menatap layar ponselnya semuanya gelap.
“Sial lowbat.” Double sial sekarang.
Ia mencobah merogoh
satu celananya, mencarih dompet dan uang untuk naik taksi ke bandara tapi
hasilnya nihil.
“Mengapa hari ini aku
sangat sial?” gumamnya sambil membanting pintu mobil itu. Ini tidak pernah
terjadi sebelumnya, ia benar-benar membenci hari ini dalam hidupnya, ia
bersumpah akan memberikan Lucy pelajaran, wanita itu telah membuat harinya
menjadi sangat buruk.
***
Julian tidak habis
akal, ia harus mencari bantuan bagaimanapun caranya ia harus ke Bandara untuk
menjemput kedua orang tuanya, mata coklat itu terus memandang daerah sekitar
berharap ada seseorang yang mau membantunya.
Ternyata tuhan menjawab
do’anya, walau hari masih pagi, ia melihat dua orang wanita sedang berlari di taman dengan
santai, mungkin karena keadaan taman masih sangat sepih. Tentu saja sepih
karena masih pukul setengah enam pagi, mataharipun seakan masih belum
menampakan dirinya.
Perlahan tapi pasti
senyum Julian mengembang saat melihat dua wanita itu, laki-laki itu tidak akan
menyia-nyiakan kesempatan ini.
itu menoleh setelah mendengar suara lembut Julian, “Maaf mengganggu, tapi
mobilku sedang kehabisan minyak.”
Julian menatap wajah binggung
dari dua wanita tadi, tapi Julian tidak menyerah ia tahu tidak mudah memintah
bantuan pada orang asing di jaman sekarang, belum lagi pikiran kebanyakan orang
yang akan berpikir bahwa jangan pernah mempercayai orang asing karena itu
sangat berbahaya.
“Dompetku tertinggal di
rumah, tadi aku terburuh-buruh, bisakah kalian meminjamkan aku uang?” Julian terlihat
memelas.
“Aku hanya membawa uang
ini?” gadis itu menyodorkan uang seratus ribu selembar.
“Terimakasih, aku akan
membayarnya nanti.” jawab Julian mengambil uang itu, kemudian berlari
meninggalkan kedua wanita itu.
“Bodoh, bagaimana aku
mengambalikan uang ini, aku lupa bertanya mananya.” laki-laki itu berbalik untuk
mencari wanita yang meminjamkanya uang, tapi mereka sudah hilang.
***
ANNA POV
Dua tahun sejak mimpi
itu. Walau matahari pagi seakan engan keluar dari peraduanya, tapi udarah
terasa sangat sejuk. Tampak seorang wanita
sedang berlari mengelilingi taman pada kedua telinganya terpasang headset untuk
__ADS_1
mendengarkan musik menemani lari paginya yang rutin ia lakukan. Kondisi taman
itu masih sangat sepih.
“Anna tunggu!” Suara
itu memberhentikan langkah wanita itu, dan menoleh kearah pemilik suara “Aku
harus ketoilet!” Xiang berteriak.
“Aku akan menunggumu.”
Jawab Anna, gadis itu menatap kepergian temanya, tapi pandanganya berubah saat
tiba-tiba di hadapanya sebuah mobil sport hitam melaju pelan kemudian berhenti sekitar lima meter dari tempatnya
berdiri, tidak berapa lama si pemilik turun dengan wajah kesal, ia membanting
pintuh dengan keras.
Anna menoleh sekilas ia
memperhatikan wajah pemilik mobil itu, ia masih ingat dengan wajah itu. “Jack.”
gumamnya ”tidak mungkin, itu hanya mimpi” pikirnya dalam hati.
“Ayo, Aku sudah selesai!”
Xiang membuyarkan lamunan Anna, mereka memutuskan untuk berkeliling taman lagi
tapi seseorang memangil mereka.
“Tunggu!” tampak sosok
laki-laki menghampiri mereka.Kedua wanita itu menoleh, Anna sekali lagi
memperhatikan laki-laki itu.
“Maaf mengganggu, tapi
mobilku sedang kehabisan minyak.”
Xiang menatap laki-laki
itu dengan heran kemudian menaikan alis matanya, ia juga menatap Anna yang
tidak berkedip pada pria di hadapannya.
“Dompetku tertinggal di
rumah, tadi aku terburuh-buruh, bisakah kalian meminjamkan aku uang?” tampak
laki-laki itu terlihat memelas.
Xiang memperhatikan
Anna yang terlihat mengeluarkan uang dari kantungnya.
“Aku hanya membawa uang
ini?” gadis itu menyodorkan uang seratus ribu selembar.
“Terimakasih, aku akan
membayarnya nanti.” jawab si laki-laki itu sambil mengambil uang itu, kemudian
berlari meninggalkan mereka berdua.
“Apakah kau mengenalnya?”
Xiang bertanya.
“Tidak,” Jawab Anna
cepat, mana mungkin Anna menceritakan kalau ia pernah bertemu laki-laki yang
mirip dengannya lewat mimpi, mungkin itu akan terdengar sangat konyol dan yang
paling utama Xiang tidak akan mempercayainya.
“Mengapa kau memberikan
ia uang?”
“Mungkin dulu aku
pernah berhutang padanya?” Anna memberikan jawab yang penuh teka-teki membuat
Xiang binggung.
“Aku haus, kau harus
mentraktirku minum ya.” Anna menarik Xiang.
“Tidak mau, salah
sendiri mengapa uangnya di berikan pada laki-laki tadi, kau bahkan tidak tau
namanya.” Xiang mengoceh sambil berlari di samping Anna “Apakau menyukainya,
Anna?”
__ADS_1
“Jangan bercandah, Aku
sudah memiliki tunangan, sebentar lagi kami akan menikah, Xiang.”