
Otto memberikan beberapa helai pakaian anaknya untuk Lian, yang akan di gunakan dalam perjalanan. Begitu juga Anna, ia memberikan sepatu yang di belihnya. Sebelum pergi mereka bertemima kasih pada keluarga Otto karena telah mengizinkan mereka menginap.
“Semoga kalian mencapai tujuan.“ pesan Otto.
Anna menaiki kuda putihnya begitu juga dengan Lily dan Roberto, sedangkan Jack masih
berdebat dengan Lian.
“Aku tidak ingin membagi kudaku dengannya.” jelas Jack sambil menunjuk kearah Lian.
“Jack hentikan! sudah satu jam kami menunggumu berdebat.” Lily mulai terlihat kesal, mereka seperti anak kecil, mungkin Lian masih kecil tapi Jack dia bukan anak kecil lagi pria itu sudah dewasa, atau tepatnya bisa di bilang tua bangkah yang tampan. Hahahah.
Anna turun dari kudanya kemudian nenarik Lian untuk naik kudanya, sontak Jack terkejut.
“Apa yang kau lakukan Anna?!” Jack bertanya entah mengapa ada rasa khawatir di sana.
“Aku akan berbagi kudaku denganLian.” jawab Anna tampa menoleh pada pria itu.
“Aku sudah menang Jack.” Lian tersenyum melirik kearah Jack, bocah itu terus berjalan sambil mengikuti Anna.
“Tidak boleh! Lian akan berkuda dengan ku.” jelas Jack sambil menarik Lian.
“Kau sangat aneh Jack, tadi jelas-jelas kau tidak mau berbagi kudamu.” selah Lily.
Roberto hanya mengangkat bahu. “Mungkin Jack sudah gila.” jawab Anna sinis.
****
Perjalan kali ini tetap sama, sejauh mata memandang hanya ada padang pasir dan beberapa rumput kering. Kali ini Roberto memimpin perjalan, hampir tengah malam udarah terasa menusuk. Mereka tidak menghentikan perjalanana sampai matahari muncul. Pemandangan yang indah tapi tidak ada waktu untuk menikmati pemandangan.
Mereka terus terpacu secepat mungkin agar bisa keluar dari padang pasir itu. Mereka tidak mati kehausan disana. Tepat matahari diatas kepala keringat bercucuran, rasa panasan, lelahan,dan haus menghampiri mereka.
Roberto menghentikan kudanya, “Kita akan beristirahan di sana.” Roberto menunjuk tumpukan batu besar di depannya, semua mengangguk tapi tetap saja masih terlihat jauh dan mereka harus berusaha secepatnya. Mereka memacuh kuda dengan cepat, semakin lama batu itu terlihat semakin besar.
Tiba-tiba terdengar suarah bergemuruh, dan langit menjadi gelap.
“Badai pasir!” teriak Lily yang berada di depan Anna.
Kuda-kuda itu berpacu secepat mungkin, mereka harus berlindung di batu itu. Tiba-tiba kuda putih itu terpental melempar si penungganya ke matras pasir di bawahnya.
Angin sangat kencang, si pemilik kuda segera mendekati kudanya, mencobah menenangkan walau tubuhnya masih terasa sakit, ia menyuruh kuda putih itu untuk terus menunduk agar tidak terseret badai pasir, tampak gadis itu terus memejamkan mata dan berusaha menutup mata kudanya tangannya.
Hampir lima belas menit badai pasir akhirnya berhenti, seluruh tubuh gadis itu terkubur pasir begitu juga dengan tubuh kuda di sampingnya sudah terbenang setengahnya. Gadis itu mencobah berdiri dan membersihkan tubuhnya.
Dari kejauhan ia melihat seseorang menuju mereka, gadis itu mencoba untuk mempertajam penglihatanya.
“Maafkan aku, aku seharusnya menjagamu dengan baik.” jelas Jack kemudian memeluk wanita di hadapanya.
“Aku belum mati jack, lepaskan!” Anna langsung mendorong pria itu.
“Maafkan aku.” Jack tersenyum melihat keadaan gadis itu yang masih berdiri tegak. Anna juga masih memiliki tenaga untuk melawannya, entah mengapa ada perasaan legah di sana.
“Apakah mereka baik-baik saja?” Jack hanya mengangguk menjawab pertanyaan Anna.
Gadis itu masih sibuk membersihkan diri dari pasir, Jack mengelus-elus kepala gadis di hadapanya dengan lembut, pria itu membersihkan sebagian rambut Anna yang terkena pasir.
“Ayo kita pergi Jack.”
Lily langsung memeluk Anna “Maafkan aku seharusnya aku menjagamu lebih baik.” bisik Lily.
“Aku tidak apa-apa Lily.” jawab Anna.
Sesaat kemudian Lian langsung memeluk Anna, gadis itu membalas pelukannya ”Aku tau kau akan selamat dari badai pasir itu.“ bisik Lian “ Karena itu, aku menyuru Lily dan Roberto disini membantuku menyiapkan tempat untukmu.” Jelasnya.
“Terimakasih Lian.” gadis itu tersenyum
“Sebaiknya kau beristihatat Anna.” selah Roberto, Anna tersenyum pada pria tua itu, gadis itu sangat senang semua orang mengkhawatirkanya.
__ADS_1
Gadis itu berjalan mendekatkan dirinya pada empat ekor kuda yang sedang berdiri lalu kemudian mengeluarakan empat buah apel dari dalam tasnya, membagikan satu persatu pada hewan yang telah mengantarkan mereka sejauh ini sesekali ia mengelus leher kuda-kuda itu.
“Terimakasih” bisik gadis itu pada setiap kuda.
***
“Lian ini untukmu” Lily membagikan beberapa roti dan daging asap
“Terimakasih kakaku yang cantik.” Semua orang tersenyum mendengar perkataan Lian pada Lily.
“Anna, apakah boleh aku memanggilmu sayang?” tanya Lian, membuat semua orang terkejut kemudian semua tertawa.
“Lian , apa yang kau bicarakan? kau masih kecil!” Jack menyela, mana mungkin anak kecil berumur sepuluh tahun sudah mengerti tentang percintaan, dunia sungguh aneh?
“Tidak lama lagi aku akan besar dan aku akan menikahi Anna, Jack.” jawab Lian tidak mau kalah
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” Jack mulai terlihat kesal dengan bocah nakal satu ini. Andai saja Anna tidak mengajaknya mungkin Jack tidak harus membuang tenaganya untuk bertengkar dengan Lian.
“Aku tahu, setidaknya aku telah berusaha.” Lian menatap Jack seolah sedang menantangnya.
“Apa yang kalian bicarakan? cepat makan!” Anna mencairkan suasana, gadis itu benar-benar lelah dengan pertengkaran Jack dan Lian seakan tiada akhirnya.
Lily menatap Anna seolah tidak suka dengan apa yang baru dia dengar, Lily tidak ingin ini terjadi ia juga menyukai Jack. Wanita itu tidak tahu sejak kapan rasa itu tumbuh.
Lily dan Jack telah lama tumbuh bersama-sama, mereka seperti saudara tapi Lily memiliki rasa yang lebih dari rasa persaudaraan, mereka dibesarkan Roberto dari kecil. Lily tidak ingin egois tapi rasa cinta itu tidak bisa di tebak, ia bisa singgah pada siapa saja termasuk pada Lily, gadis itu menyayangi Jack dan ingin kebenaran atas semua ini, disisi lain Lily juga harus melindungi Anna.
****
Di tempat lain Raja Reaves masih mencari mereka untuk merebut kalung Anna, Raja Reaves bahkan telah memblokade gunung es yang mereka datangi.
“Bunuh mereka semua jika memasuki kawasan ini!” Perintahnya pada semua pasukan penyihir terkuat.
“Buat merekah terbelah, itu akan memudahkan jalanku.” raja Raeves tersenyum misterius.“
****
Tampak seorang wanita sedang tersenyum lebar ia sangat senang melihat rajanya, Semakin lama rasa cintanya pada raja semakin besar sudah lama ia berkorban menunggu waktu seperti ini, sebentar lagi raja akan mengadakan acarah pengangkatanya menjadi ratu negeri ini.
“Maafkan hamba ratuku” lapor seorang pengawal kepercayaan wanita itu
“Ada apa?” jawab wanita itu dengan wajah datar tapi tetap terlihat cantik dan angun.
“Kami telah menemukan mereka” Tampak wanita itu tersenyum mendengarnya.
“Bunuh mereka, aku akan bermain dengan salah satu dari mereka” Wanita cantik itu merasa sangat senang, sudah lama ia tidak menggunakan sihirnya.
“Baik ratuku” seketika pengawal itu menghilang.
Wanita itu pergi ke sebuah ruangan yang sunyi, ruangan itu terletak di sebelah timur istana, tidak ada yang berani masuk kesana selain wanita itu. Ya ruangan itu adalah tempat pribadi sang wanita. Tampak dua pengawal sedang berada di sana menjaga siapa saja yang masuk kesana.
Wanita itu berjalan cepat. Dari kejahuan seorang wanita mengikutinya dengan diam-diam.
“Silakan masuk Ratuku.” dua pengawal membukakan pintu ruangan itu. Si wanita langsung memasuki ruangan itu ia menatap sebuah cermin besar di hadapannya. “Sudah lama aku tidak melakukan ini.”
“Suruh dia masuk!” teriak wanita pada kedua pengawal di luar ruangan. Seketika dua pengawal itu langsung menangkap seorang wanita muda yang mengikuti ratu mereka.
“lepaskan!” teriak sang wanita, ia memberontak sekuat tenaga tapi dua pengawal itu jauh lebih kuat. Beberapa saat kemudian dua pengawal telah menyeretnya kedalam ruangan itu dan melemparkan si wanita di hadapan ratu mereka. Wanita mudah itu ketakutan tubuhnya bergetar.
“Apa yang membuatmu mengikutiku?” tanya si ratu dengan suarah lembut
“Kau jahat, kau telah membunuh Ratu dan pangeran!” teriak sang wanita mudah tidak terpengaruh dengan kepura-puan yang di buat wanita cantik di hadapanya.
“Aku tidak membunuh mereka, aku bahkan membantu ratu dan pangeran balas dendam.” jawab sang wanita cantik itu sambil mendekati wanita mudah di hadapanya, sambil membelai kepala dan rambut dengan lembut.
__ADS_1
“Kau tidak akan pernah jadi ratu di negeri ini!” jawab wanita itu dengan sinis.
Seketika sang ratu tertawa beberapa saat, tiba-tiba sang ratu langsung mengarahkan tangannya pada si wanita, membuat wanita itu terlempar. Darah keluar dari hidung dan mulutnya, wanita itu tidak berdaya ia terluka parah.
Sang ratu segera mendekati wanita yang sekarat itu, lalu mengarahkan jari telunjuk yang memiliki kuku yang panjang tepat kearah jantung wanita itu, kuku itu menembus dada wanita itu tepat mengenai jantungnya, sang ratu langsung menariknya beberapa tetesan darah berwarna hitam mengalir dari kukunya.
“Aku memerlukan ini.” gumam sang ratu, ia segera mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah kaca di hadapanya yang melihatkan bayangan seorang wanita di sana. “Kau akan melakukan tugasku.” gumam sang ratu sambil tersenyum sinis.
***
Lily mengigil, entah mengapa malam ini ia merasa badanya sangat lemah
“Lily, apakah kau sakit? ”
“Aku tidak apa-apa Anna, mungkin aku kelelahan.” Lily berbaring di depan api unggun yang mereka buat, Anna mengambil beberapa selimut agar Lily tetap hangat.
“Beristirahatlah aku akan menjagamu.” bisik gadis itu sambil menyelimuti Lily.
Anna merasa ibah pada sahabatnya itu, tentu saja Lily sangat lelah perjalanan ini sangat panjang dan melelahkan.
‘Aku juga Lily, aku ingin pulang’
Jack mendekati mereka lalu duduk tepat di samping Anna “Lily kelelahan Jack, aku akan mengambil air, bisahkah kau menjaganya” pinta Anna, Jack hanya mengangguk, gadis itu beranjak pergi meninggalkan mereka.
Pria itu masih duduk dalam diam ia memperhatikan kobaran api kecil didepannya memancarkan warna yang indah, tanpa Jack sadari Lily bangkit dan memeluknya dari belakang, seketika pria itu terkejut dan mencobah melepaskan diri.
“Apa yang kau lakukan?”
“Maafkan aku, aku menyayangimu Jack.” bisik Lily parau.
“Aku juga menyayangimu sebagai adiku. Lily.” jawab Jack kemudian melepaskan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya ”Tidurlah kau akan memerlukannya.” kemudian Jack pergi meninggalkan Lily.
Seorang gadis melihat kejadian itu terdiam, ia sadar seharusnya tidak berada diantara mereka, tidak karena kalung dan buku itu. Bagaimanapun Anna ingin cepat terbangun dari mimpi ini.
“Anna sayang, apa yang kau lakukan disini?” Lian memegang tangan gadis itu menarik masuk ke dalam gua.
“Aku tadi mengambil air untuk Lily, ia sedang sakit Lian” jelas Anna.
Lily yang sedang sedang menangis sambil berbaring.“Kakak kau sakit apa?” Lian mengelus punggung gadis yang sedang terisak.
“Aku tidak apa-apa, tidurla anak kecil.” usir Lily pada Lian.
“Jangan biarkan amarah menguasai hanya karena keegoisanmu, ingatlah bukan itu yang kau cari Lily, tanpa kau sadari kau telah menemukan apa yang kau cari.” Lian pergi meninggalkan Lily dan Anna.
“Lily maafkan, aku seharusnya aku tidak disini, tidak memakai kalung ini dan membaca buku itu, ini semua karena aku, maafkan aku”
“Ini bukan salahmu, tidurlah Anna, kau juga perlu istirahat perjalannan kita masih panjang.” Anna hanya menuruti apa yang diucapkan Lily. Malam semakin larut Anna kemudian berbaring di samping Lily, gadis itu memejamkan matanya.
Roberto tampak tertidur dengan lelap, Lian berbaring disamping Roberto ia merasa nyaman tidur disamping pria paru baya itu, Jack masih terlihat waspada ia menatap langit dari depan gua melihat beberapa bintang yang menerangi langit malam ini. Ia masih memikirkan apa yang Lily katakan, pria itu berharap perjalanan ini cepat berakhir dan Anna harus kembali kedunia asalnya, ia telah berjanji dan harus menepatinya. Mereka semua terlelap mencobah menikmati malam.
***
Kuda-kuda berpacu dengan semangat, berlombah dengan cahaya matahari sudah hampir seharian mereka berkuda membela padang pasir yang tandus, keringat membasahi tubuh mereka hingga pemandangan didepan mereka sedikit berwarna hijau.
“Rumput” gumam Lily
Semakin lama rumput-rumput semakin terlihat banyak mereka tersenyum, akhirnya mereka telah melewati padang pasir yang ganas. Mereka menemukan padang rumput, dan melihat beberapa pepohonan, empat anak manusia itu terus memacu kuda hingga malam, dan udarah menusuk tulang, awan mulai menyelimuti langit, beberapa kilatan petir mewarnai perjalanan mereka.
“Lily kau tidak apa-apa?” Anna sangat mencemaskan keadaannya.
“Ya.” jawab Lily singkat tampa memberhentikan kudanya.
“Roberto sebaiknya kita beristirahat.” Jack mendekati Roberto dan Lian
“Ya, akan ada badai besar malam ini, aku harap aku bisa melindungi kalian.” gumam Roberto.
__ADS_1