
Anna segera merapikan barang-barangnya, tidak lupa buku coklat seperti warna tanah seperti tanah ia masukan dalam tasnya dan sebuah pisau. Saat keluar dari kamar gadis itu memperhatikan tiga orang di hadapannya Jack memakai pakai hitam dan terlihat sangat tampan, Lily mengenakan gaun hitam dan sangat cantik, dan Roberto mengenakan pakaina berwarna coklat dan memegang tongkat kayu berwarna coklat kehitaman Roberto sendiri terlihat gagah.
“Kamu siap Anna?” suarah Roberto memberhentikan penilaian Anna pada orang-orang di depannya.
“Apa?” Anna masih terlihat gugup.
“Kamu siap Anna?” tanya Roberto sekali lagi.
“Tentu aku siap dan yakin.” Anna tersenyum.
Sedetik kemudian Roberto mengangkat tongkatnya sambil memejamkan mata, seketika rumah itu berubah jadi sebuah bukit kecil.
“Ayo.” Roberto memegang bahu Anna yang masih terkagum-kagum atas apa yang di lihatnya
“Ini tidak akan bertahan lama.” bisik Roberto mengingatkan.
“Wow mereka semua benar-benar hebat Lily bisa beruba jadi kucing dan bisa telepotasi, Roberto bisa merubah rumah jadi bukit, Jack dia bisa berbicara dengan buaya. Aku, apa yang aku bisa? Jangan tanya apa yang aku bisa, aku bisa terjebak di dunia lain, tepatnya negeri lain yang tidak ku kenal sama sekali.”gumam Anna dalam hati.
Perjalan sebenarnya baru saja dimulai, mereka pergi menaiki kuda masing-masing terdapat empat kuda, terkecuali Anna yang masih menatap kuda di hadapanya seokor kuda putih yang gagah dengan rumbai poni di atasnya.
“Ayo cepat naik.” Perintah Roberto dari atas kudanya.
“Bagaimana aku menaikinya, aku saja belum pernah naik kuda seumur hidupku, bagaimana caranya?” Gadis itu protes.
“Jack cepat bantu dia.” perintah Roberto.
Jack pun turun dari kudanya terlihat wajanya sangat kesal menatap Anna, bagaimana bisa seorang pengantar batu ini tidak bisa menunggangi kuda, bagaimana ia akan selamat dari utusan Raja Reaves?
“Tidak ada waktu untuk belajar naik kuda, kau harus bisa menaikini atau kau akan mati tertangkap.” jelas Jack dengan cetus.
“Ada mantra agar aku bisa naik kuda?” Anna berbisik pada pria itu.
“Tidak ada!” Anna memancungkan mulutnya, Jack sangat kasar membentaknya hanya karena ia tidak bisa menaiki kuda.
“Dasar pria jahat aku membencimu.” tapi sesaat kemudian Anna ingat pria ini bisa berbicara dengan buaya, siapa tahu sekatrang ia bisa berbicara dengan kuda.
“Jack, coba kau berbicara dengan kudanya jelaskan bahwa kau tidak bisa menaikinya.” pintah Anna dengan memohon.
“Kau harus mempercai kuda ini, maka dia akan mempercainya.” jelas Jack.
“Percaya pada kuda? apa aku sudah gila, aku bukan kau yang bisa bicara dengan buaya aku tidak bi-” belum sempat Anna menyelesaikan ucapanya Jack meraih tangan Anna dan menempelkannya pada kekepala kuda itu.
Bulunya sangat halus dan lembut, entah mengapa Anna merasa sangat nyaman dengan hewan berbulu putih itu gadis itu menatap mata kuda di hadapnnya yang berwarnah coklat.
“Bicarala, jelaskan padanya.” bisik Jack tepat di telingah gadis itu, membuat hatinya berdesir, entah sihir apa yang Jack gunakan gadis itu hanya menurut apa yang di perintahkan Jack.
Anna beberapa kali menarik napas berusahan menertalkan kegugupanya, setelah cukup tenang ia menjelaskan pada kuda ini apa yang telah terjadi dan entah, mengapa kuda ini seperti mengerti, tiba-tiba kuda itu menurunkan melipat keempat kakinya terlihat seperti bersimpuh. Anna mundur beberapa langkah.
“Kau berhasil, Ayo cepat naik, dia mempersilakan mu.“ jelas Jack sambil mendorong bahu Anna kearah kuda itu.
“Aahhhhhh...!!”
Kuda itu berlarih dengan cepat seakan sedang berlombah dengan kuda lain, Anna terus berteriak ”Pelan-pelan, pelan-pelan!” jerit gadis itu.
Hal ini berbeda seperti yang Anna bayangkan, awalnya ia akan menaiki kuda kemudian ada seseorang yang akan memegangi tali di leher hewan itu sambil berjalan di sampingnya sambil tersenyum lembut pada Anna, itu seperti di film-film romantis yang ia tonton.
Tapi itu semua salah besar, Anna harus menunggangi kuda itu sendirian dan tanpa pengaman apapun hanya sebuah tali sebagai pegangnya, tapi tidak ia lakukan, Anna lebih memili memeluk heler kuda itu erat, beruntung ia masih memakai celanan toreador sebagai dalamnya jika tidak, mungkin sekarang paha mulusnya sedang terekspos bebas karena angin sangat kencang yang di hasilkan oleh kecepatan kuda itu dan siapapun bisa melihatnya termasuk Jack dan Roberto.
__ADS_1
Ketiga kuda di belakangnya menyusul tidak kalah cepat menyelusuri jalan setapak melewati pepohonan, semakin lama semakin jauh ke Utara.
Sudah semalaman mereka berjalan, udara malam menuruk tulang, hanya cahaya bulan yang menuntun mereka dan terdapat beberapa bintang menemani bulan yang tampak kesepian.
Anna sudah terlihat mulai bisa menguasi kudanya setelah berjam-jam berteriak sampai suarahnya serak. Mereka hanya berkuda secepat mungkin. Kini Roberto memimpin perjalan mereka, sedangkan Jack tepat di belakangnya di susul Anna tepat derada di depan Lily.
Tampak matahari mulai menampakkan wujudnya, mereka berempat terus berkuda, pohon yang
tadinya banyak mulai berkurang sedikit-demi sedikit, jalanan di depan mereka sekarang lebih di dominasi oleh padang rumput yang luas. Roberto memacu kudanya dengan cepat mereka mengikuti dari belakang.
Anna berusaha memengan leher kudannya setelah dari tadi malam ia memutuskan untuk duduk tegap di punggung kuda itu sambil memegangi talinya.
“Apakah kau lelah kuda? maafkan aku telah melibatkanmu, sebenarnya aku tidak tahu harus kemana aku baru disini, sejujurnya aku terdampar di negrimu,” bisik Anna pelan “Tapi kemarin aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh aku melihat air terjun yang besar yang terdapat gua di dalamnya, dan Roberto menyuru kita kesana.” Jelas Anna setelah bercerita panjang lebar pada kudanya, ya sepertinya sihir Jack masih berpengaruh pada Anna.
Tiba-tiba kuda putih itu memacu dirinya dengan cepat melewati Jack, Roberto dan jauh meninggalkan Lily.
“Ahhhkkk...
“Berhenti-berhenti!”
“Tolong aku, hentikan kudanya!”
“Ahhk!!!.” Anna kembali berteriak, ia berusaha berpegang kuat pada kuda itu agar tidak terjatuh.
Tampak di belakang Anna, Jack memacu kudanya dengan cepat berusaha menyusul, tapi tiba-tida Lily suda berada si damping Anna, dan tampak di ujung sana ada sebuah pemandangan yang sangat indah dan mengerihkan hamparan hutan luas tertata rapi di bawah jurang.
“Apa Jurang?”
“Kuda berhenti itu jurang, aku tidak ingin mati, aku mohon berhenti!!!” gadis itu kembali berteriak. Tapi kuda putih itu berlarih lebih cepat, meninggalkan Lily yang tadi berada di sampinya.
Tepat sekitar sepuluh meter sebelum jurang kuda itu berhenti mendadak, membuat penunggangnya hampir terpental andai saja Anna tidak memeluk leher kuda itu erat mungkin sekarang ia sudah terjun bebas di dasar sungai, dengan cepat gadis itu langsung turun dari kuda dan langsung muntah isi perutnya.
“Kau menguncang isi perutku.” Anna bergumam dengan wajah lemas melihat kearah kuda putih ingin sekali ia membunuh kuda itu, sebenarnya Anna sangat takut dengan kecepatan tinggi, ia terlalu sering melihat berita kecelakaan kendaraan yang terjadi karena si pengemudi mengendarai kendaraanya dengan kecepatan tinggi sehingga menyebabkan si pengendara luka parah atau cacat bahkan ada yang meninggal, itu membuatnya ngeri membayangkan itu.
Anna tahu bahwa kuda memiliki kecepatan dalam berlari rata-rata 47,5 mil/jam atau 76 Km/jam, tetap saja gadis itu tidak terbiasa.
Anna menoleh dengan malas melihat kuda si sampingnya seakan sedang tersenyum mengejeknya,bukanya merasa bersalah hewan itu malah meloncat kegirangan seakan bangga atas apa yang telah ia lakukan, kuda itu berteriak kearah depan jurang mengeluarkan suarah khasnya.
Anna langsung duduk lemas, kakinya gemetar, perutnya masih terasa mual tiba-tiba matanya membesar melihat pemandangan di depanya,
“Itu adalah air terjun yang terlihat dalam mimpiku, dari mana kau tau kuda? Kau bener-benar hebat, terimakasih banyak.” Kuda itu duduk di samping Anna, gadis itu mengelur leher kuda putih itu walau tangannya masih terasa lemas, ini semua di luar kendali kuda yang satu ini sangat hebat dalam menunjukan jalan, ya kuda ini adalah penunjuk jalan agar Anna sampai di tempat ia akan meletakan kalung itu nanti? semoga jasa.
“Kau tidak apa-apa?” Suarah seorang wanita yang terdengar sangat khawatir.
“Lily, lihat itu tempatnya.” Anna menunjuk kearah air terjun.
“Ya, kau menemukannya Anna,.Jack, guru lihat!” tegas Lily menunjukan air terjun yang sangat besar berada tepat di hadapan mereka.
“Bukan aku tapi kudaku.” Jelasa Anna.
Ada sesuatu yang menganjal hati Anna saat dirinya melihat jalur yang akan mereka lewati nantinya di kelilingi jurang yang dalam.
Mereka berusaha turun dari tepi jurang, menyelusuri batuan terjal dan lucin. Jika salah langkah, mereka akan terjatuh ke dalam jurang dan mungkin akan mati.
Tiba-tiba kuda yang di tunggangi Lily mengeluarkan suarah melengking, membuat Lily hampir terjatuh.
“Lily!” teriak Jack, Anna hanya bisa menahan napasnya, takut hal buruk itu terjadi baru saja ia berpikir akan mati masuk jurang.
__ADS_1
“Hati-hati Lily!“ Roberto mengingatkan.
“Aku mohon, aku tidak mau kehilangan salah satu dari mereka, mereka sudah membantuku sejauh ini.”Anna berisik dalam hati.
“Kita harus cepat pintu itu akan terbuka bila matahari tepat diatas kepala!” jelas Roberto.
***
Gemericik air sangat jelas terdengar, air itu sangat dingin membuat orang yang melihatnya ingin menceburkan diri kedalamnya. Ingin sekali Anna berpoto di depan air terjun itu, kemudian menunjukan pada teman-temanya di asmara.
Tapi ini bukan saat yang tepat, untuk mandi di air terjun ini, lagi pula tidak ada kamera atau ponsel canggih. Anna hanya bisa menarik napas dalam, mungkin setelah ia terbangun ia akan berjalan mengunjungi salah satu wisata air terjun? itupun kalau gadis itu bisa terbangun dari mimpinya.
Setelah menuruni tebing hampir dua jam, sudah mulai terlihat dinding batu tepat di depan meraka, dan air terjun mengalir deras di belakangnya.
Jack meraba batu itu dan mengetok-ngetoknya.
“Semuanya keras” gumanya.
“Tentu saja itu batu Jack.” Lily menjawab dengan santai.
”Kalau semuanya batu bagaimana kita lewat?” Anna menatap Lily bingung.
Tidak lama kemudian tepat matahari di atas kepala mereka pintunya terbukan, tepatnya seperti batu itu menghilang karena pantulan matahari ke air terjun di depannya.
“Ayo masuk!” Roberto memerintahkan.
***
Empat anak manusia itu melangkahkan kaki, tapi tidak dengan menunggangi kuda mereka hanya membawa kuda masing-masing. Bagian dalam jalan yang mereka telusuri tampak gelap.
Beberapa tetesan air menetes dari dinding atas batu, menimbulkan suarah yang mengemah, batu-batu yang mereka lewati semakin terasa licin karena lembab, udarah sangat terasa sedikit disana.
Sesekali mereka mereka menarik napas dalam karena merasa sesak, lumut-lumut menenpel di dinding batu memenuhi semua sisinya, suasana yang sangat horor bagi Anna“Ini sangat menyeramkan, seharusnya aku membawa alat penerangan sebelum tidur.” Anna membatin.
Semakin ke dalam mereka melihat satu titik cahayan yang menuntun jalan.
“Hati-hati Anna.” Jack memperingatkan, gadis di sampingnya yang tampak ketakutan, sebenarnya Anna tidak takut gelap hanya saja suasana di sini tiba-tiba membuatnya ketakutan.
Lily berjalan paling depan, dia sepertinya mengunakan ingsting pendengaran kucingnya, hampir lima puluh meter berjalan tiba-tiba Lily berhenti, tepat di depan mereka berdiri adalah dinding batu.
“Tidak ada jalan keluar” Anna terkejut mendengar perkataan Lily.
“Roberto kita harus bagaimana?” Anna benar-benar bingung dan sekarang gadis itu mulai ketakutan, keringat mengalir deras dari keningnya rasa pusing mulai menghampiri, napasnya mulai cepat karena okxigen di dalam gua semakin sedikit. Roberto menatap Anna sesaat.
“Kudamu Anna, ia pasti tahu.”
Gadis itu menatap kuda putih di sampingnya, Anna mulai berbicara sendiri seperti orang gila “Apakah kau tahu jalan ini? aku mohon tunjukan pada kami jalan keluar, disini sangat tidak nyaman. Kau pasti merasakan hal sama denganku, maafkan aku karena terus memaksamu.“ sekarang Anna sadar kalau sekarang ia gila karena berbicara pada kuda.
Tidak lama kemudian kuda itu berkeliling memutari Anna, membuat gadis itu benar-benar bingung.
“Apa yang ia lakukan?” Lily bertanya, Anna hanya mengangkat bahu ke arah Lily, tiba-tiba kuda itu membukukukan badanya dengan cara menekuk kaki keempat kakinya.
“Sepertinya dia meminta mu menaikinya.” Jack tersenyum meyakinkan.
Tampak kuda yang lain juga melakukan hal sama, kuda putih itu berlahir kearah dimana mereka masuk tetapi hanya beberapa meter, dia memutar arah dan berlarih sangat kencang kearah dinding batu.
Ahhk...,
Anna hanya bisa menahan napas dan memejamkan mata dan saat gadis itu membuka. Anna sangat kerkejut atas apa yang ia lihat. Ia menoleh mencobah mencari keberadaan yang lain, terlihat Roberto bersama Lily di belakang kemudian disusul Jack.
__ADS_1