Anna & Dream

Anna & Dream
27. Apel With Love


__ADS_3

“Sayang malam ini kamu


masak apa?” tanya Julian sambil mendekatai Anna yang sibuk mengaduk kari yang


dia buat.


“Julian hentikan, di


sini tidak Nicko atau Margaret.” jawab Anna dengan malas.


 Julian terkekeh mendengarnya mereka menikmati


makan malam seperti biasa, Julian terus memanggil Anna dengan sebutan sayang


dan gadis itu selalu protes setiap Julian melakukanya.


Hingga pagi ini Julian menanti


sarapan yang di buat Anna, wanita itu tampak sibuk membuat telur mata sapi


untuk pelengkap nasi goreng yang ia buat tadi.


Setelah selasai memasak


Anna langsung menyajikanya pada Julian, dan mantan bosnya yang galak itu


menyantapnya dengan sangat lahab hingga menghabiskanya tanpa sisa.


“Aku selesai aku


berangkat dulu.” jelas Julian.


“Ya, hati-hati.” Jawab


Anna tanpa memandang wajah laki-laki di sampingnya.


“Dah sayang.” bisk


Julian setelah mencium pipi kanan gadis itu, membuat Anna berteriak dan


lemparkan sendok kerah laki-laki itu dengan cepat Julian menghindar dan pergi


meninggalkan Anna yang tampak kesal.


***


Sesorang


mengetuk apartemen Julian dengan cepat Anna membukanya “Lucy,” sapa Anna.


“Hai Anna, aku


merindukanmu.”


Mereka berdua menonton


televisi bersama, hari ini Lucy sengaja mampir ke apartem Julian karena bosan


di rumah ia belum mau bekerja karena masih ingin menikmati kelulusanya


“Anna, kak Julian terlihat


aneh belakangan ini.” Jelas Lucy


“Aneh kenapa?”


“Entahlah Daddy bilang


dikantor sudah satu minggu ia tidak marah-marah lagi.” jelas Lucy



“Bukankah seharusnya


kau senang kakakmu sudah waras sekarang.” Jawab Anna membuat Lucy tertawa


mendengarnya. Setelah percapana itu keduanya memutuskan untuk makan siang


bersama, hingga pada sore hari


 Lucy pamit untuk pulang.


****


Hari ini Anna sibuk


membersikan aparetemnya, ia sudah membuat memasak untuk Julian jika tiba-tiba


laki-laki itu kelaparan, karena hari ini Julian memilih bolos ke kantor karena


alasan bosan.


“Temani aku, kepuncak


besok.” pintah Julian


“Tidak mau.” jawab Anna


cepat.


“Aku akan menyeretmu


sayang.” Julian tersenyum lembut.


Anna tidak perduli atas


apa yang laki-laki itu katakan setiap hari ia mengingatkan Julian agar tidak


menanggilnya “sayang” tapi percuma Julian tetap melakukanya bahkan sudah dua


minggu ini Julian tetap melakukanya.

__ADS_1


“Apa kamarmu mau di


bersihkan?” Anna bertanya tanpa mengiraukan ancaman Julian.


“Tidak usah aku saja.”


jawab Julian cepat kemudian laki-laki itu segera ke kamar dan membersihkan kamarnya


sendiri.


“Bagus


setidaknya pekerjaanku berkurang.”gumam Anna dalam hati,


Julian selalu menolak jika Anna ingin membersihkan kamarnya, mungkin Julian


takut Anna akan mengatak-ngajak semua perabotanya atau entalah Anna tidak ingin


mengambil pusing itu semua.


***


Siang ini Anna dan


Julian menikmati makan siang dengan semangat, setelah makan Julian membatu Anna


untuk mencuci piring tapi gadis itu menolak.


“Aku sudah biasa


melakukannya.” jawab Julian sambil mengelap piring yang telah di cuci Anna.


Ada yang aneh dengan


Julian hari ini ia terlihat sangat baik, tapi itu tidak bertahan lama, sejam


kemudian Julian memaksa Anna masuk ke dalam mobil sport-nya.


“Kita mau kemana?!”Anna


berteriak sambil memberontak


“Puncak. “Julian mengendarai


mobilnya dengan santai,


“Mengapa kau selalu


memaksaku Julian, sudah kubilang aku tidak mau ke Puncak!” Tegas Anna sambil


menatap tajam pada Julian, tapi laki-laki itu tidak menghiraukan, ia terus


melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Hari sudah sore saat


mereka sampai di puncak, Julian segerah mengajak Anna masuk kedalam Villa, Villa


bersama keluarga Alexander.


“Aku menunggummu, di


taman belakang jam delapan.” Julian memberitahu saat mereka menikmati makan


malam yang telah di siapkan oleh penjaga Villa, Anna tidak menjawab gadis itu


masih kesal dengan tingkah Julian yang seenaknya padanya, setelah makan Anna


segerah masuk kekamar tubuhnya sangat lelah, rasa ngantuk menghampirinya ia memutuskan


untuk tidur karena ia tidak berniat sedikitpun menemui Julian.


Detik terus berlalu,


Julian masih menunggu Anna sudah jam sepuluh malam gadis itu masih belum


muncul, bintang yang tadi banyak terlihat mulai lenyap karena tertutup awan


hitam, tetesan air mulai turun sedikit demi sedikit, itu tidak mengurungkan


niatnya, ia yakin gadis itu akan menemuinya.


Anna terbangun dari


tidurnya, karena udarah semakin dingin dan rasa haus yang menyerang


tenggorokanya, ia melihat jam di ponselnya sudah hampir jam satu malam, gadis


itu segera kedapur mengambil gelas untuk minum.


Anna melihat pintu yang


mengarah ke taman belakang tampak terbuka sebagian lantai di depan pintuh basah


karena bekas hembusan air hujam.


Ia berniat menutup


pintuh, tapi kemudian Anna mempertajam penglihatanya saat melihat seseorang masih


berdiri di taman belakang dan ia tahu siapa orang itu.


“Julian apa yang kau


lakukan?” Anna segera mendekati laki-laki itu tampak semua tubuhnya basah kuyup


karena air hujan.


“Aku yakin kau pasti


datang sayang.” Julian tersenyum menatap gadis di hadapanya, tanganya meraih

__ADS_1


pipih Anna, gadis itu merasakan dingin yang terangat dari telapk tangan Julian.


“Kau benar-benar bodoh!”


teriak Anna sambil mepis tangan laki-laki itu, Anna segerah melangkahkan kakikinya


mejauh dari laki-laki itu


“Aku menunggumu.” Jawab


Julian dengan suara lembut.


“Sudah ku katakan, aku


tidak-”


Bukk.....,


Mendengar suara itu


Anna segera berbalik, Julian sedang terbaring di tanah dengan cepat Anna


menghampirinya,


“Julian bangun,” ucap


Anna dengan nada khawatir “Bangun aku mohon.” bisik Anna, rasah bersalah mulai


muncul di hatinya, ia teringat kejadian dalam mimpinya saat Jack tidak pernah


terbangun setelah menyelamatkanya.


“Julian bangun jangan


mati, aku mohon,” Anna mulai menangis, “Aku mohon jangan tinggalkan aku.” sudah


cukup Jack mati dua kali karenanya.


Air mata gadis itu


mulai tak terbendung, Anna terus menggolangkan bahu Julian tapi tetapi


laki-laki itu tetap tidak bergerak, gadis itu mulai terisak di Daddya Julian,


ia benar-benar takut laki-laki itu meninggalkanya, ia tidak ingin Julian mati


karenanya.


“Aku belum mati sayang.”


bisik Julian sambil mengelus punggung Anna, kemudian terkekeh.


“Kau mengerjaiku!”


teriak gadis itu kemudian bangun dari Dada Julian, dengan segera ia menghapus


air matanya dengan kasar, ia kesal bagaimana bisa Julian tegah mengerjainya,


padahal ia benar-benar sangat khawatir.


“Apa kau


mengkawatirkanku?” Julian tersenyum sambil menatap gadis itu, Anna masih


menekuk mukanya dengan cepat ia berdiri dan meninggalkan Julian.


“Aku berjaji tidak akan


meninggalkanmu!” Julian berteriak ia yakin Anna pasti mendengar teriakkanya.


****


“Ayo kita pulang


sekarang” Julian mengajak gadis itu pulang setelah berganti pakaian.


“Tapi ini masih jam


setengah dua pagi,” Anna tampak binggung kenapa Julian mendadak mengajaknya


pulang, padalah laki-laki ini yang memaksanya kepuncak tadi siang.


“Disini sudah mulai


membosankan.” Julian segera menarik gadis itu kemobilnya.


****


Julian


mengendarai mobilnya dengan cepat karena jalannan yang lengang, “Haciu.” Julian


mulai berhesin.


“Kau


sakin?” Anna menatap Julian yang mulai terlihat pucat.


“Aku tidak apa-apa,


tenang saja aku akan mengantarmu pulang dengan selamat.” tidak sampai dua jam


Julian dan Anna sudah sampai di apartemenya.


“Tidurlah, ini baru jam


tiga lewat.” Julian berbisik pada Anna, gadis itu


segera masuk kekamarnya.


****

__ADS_1


__ADS_2