
“Sayang malam ini kamu
masak apa?” tanya Julian sambil mendekatai Anna yang sibuk mengaduk kari yang
dia buat.
“Julian hentikan, di
sini tidak Nicko atau Margaret.” jawab Anna dengan malas.
Julian terkekeh mendengarnya mereka menikmati
makan malam seperti biasa, Julian terus memanggil Anna dengan sebutan sayang
dan gadis itu selalu protes setiap Julian melakukanya.
Hingga pagi ini Julian menanti
sarapan yang di buat Anna, wanita itu tampak sibuk membuat telur mata sapi
untuk pelengkap nasi goreng yang ia buat tadi.
Setelah selasai memasak
Anna langsung menyajikanya pada Julian, dan mantan bosnya yang galak itu
menyantapnya dengan sangat lahab hingga menghabiskanya tanpa sisa.
“Aku selesai aku
berangkat dulu.” jelas Julian.
“Ya, hati-hati.” Jawab
Anna tanpa memandang wajah laki-laki di sampingnya.
“Dah sayang.” bisk
Julian setelah mencium pipi kanan gadis itu, membuat Anna berteriak dan
lemparkan sendok kerah laki-laki itu dengan cepat Julian menghindar dan pergi
meninggalkan Anna yang tampak kesal.
***
Sesorang
mengetuk apartemen Julian dengan cepat Anna membukanya “Lucy,” sapa Anna.
“Hai Anna, aku
merindukanmu.”
Mereka berdua menonton
televisi bersama, hari ini Lucy sengaja mampir ke apartem Julian karena bosan
di rumah ia belum mau bekerja karena masih ingin menikmati kelulusanya
“Anna, kak Julian terlihat
aneh belakangan ini.” Jelas Lucy
“Aneh kenapa?”
“Entahlah Daddy bilang
dikantor sudah satu minggu ia tidak marah-marah lagi.” jelas Lucy
“Bukankah seharusnya
kau senang kakakmu sudah waras sekarang.” Jawab Anna membuat Lucy tertawa
mendengarnya. Setelah percapana itu keduanya memutuskan untuk makan siang
bersama, hingga pada sore hari
Lucy pamit untuk pulang.
****
Hari ini Anna sibuk
membersikan aparetemnya, ia sudah membuat memasak untuk Julian jika tiba-tiba
laki-laki itu kelaparan, karena hari ini Julian memilih bolos ke kantor karena
alasan bosan.
“Temani aku, kepuncak
besok.” pintah Julian
“Tidak mau.” jawab Anna
cepat.
“Aku akan menyeretmu
sayang.” Julian tersenyum lembut.
Anna tidak perduli atas
apa yang laki-laki itu katakan setiap hari ia mengingatkan Julian agar tidak
menanggilnya “sayang” tapi percuma Julian tetap melakukanya bahkan sudah dua
minggu ini Julian tetap melakukanya.
__ADS_1
“Apa kamarmu mau di
bersihkan?” Anna bertanya tanpa mengiraukan ancaman Julian.
“Tidak usah aku saja.”
jawab Julian cepat kemudian laki-laki itu segera ke kamar dan membersihkan kamarnya
sendiri.
“Bagus
setidaknya pekerjaanku berkurang.”gumam Anna dalam hati,
Julian selalu menolak jika Anna ingin membersihkan kamarnya, mungkin Julian
takut Anna akan mengatak-ngajak semua perabotanya atau entalah Anna tidak ingin
mengambil pusing itu semua.
***
Siang ini Anna dan
Julian menikmati makan siang dengan semangat, setelah makan Julian membatu Anna
untuk mencuci piring tapi gadis itu menolak.
“Aku sudah biasa
melakukannya.” jawab Julian sambil mengelap piring yang telah di cuci Anna.
Ada yang aneh dengan
Julian hari ini ia terlihat sangat baik, tapi itu tidak bertahan lama, sejam
kemudian Julian memaksa Anna masuk ke dalam mobil sport-nya.
“Kita mau kemana?!”Anna
berteriak sambil memberontak
“Puncak. “Julian mengendarai
mobilnya dengan santai,
“Mengapa kau selalu
memaksaku Julian, sudah kubilang aku tidak mau ke Puncak!” Tegas Anna sambil
menatap tajam pada Julian, tapi laki-laki itu tidak menghiraukan, ia terus
melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Hari sudah sore saat
mereka sampai di puncak, Julian segerah mengajak Anna masuk kedalam Villa, Villa
bersama keluarga Alexander.
“Aku menunggummu, di
taman belakang jam delapan.” Julian memberitahu saat mereka menikmati makan
malam yang telah di siapkan oleh penjaga Villa, Anna tidak menjawab gadis itu
masih kesal dengan tingkah Julian yang seenaknya padanya, setelah makan Anna
segerah masuk kekamar tubuhnya sangat lelah, rasa ngantuk menghampirinya ia memutuskan
untuk tidur karena ia tidak berniat sedikitpun menemui Julian.
Detik terus berlalu,
Julian masih menunggu Anna sudah jam sepuluh malam gadis itu masih belum
muncul, bintang yang tadi banyak terlihat mulai lenyap karena tertutup awan
hitam, tetesan air mulai turun sedikit demi sedikit, itu tidak mengurungkan
niatnya, ia yakin gadis itu akan menemuinya.
Anna terbangun dari
tidurnya, karena udarah semakin dingin dan rasa haus yang menyerang
tenggorokanya, ia melihat jam di ponselnya sudah hampir jam satu malam, gadis
itu segera kedapur mengambil gelas untuk minum.
Anna melihat pintu yang
mengarah ke taman belakang tampak terbuka sebagian lantai di depan pintuh basah
karena bekas hembusan air hujam.
Ia berniat menutup
pintuh, tapi kemudian Anna mempertajam penglihatanya saat melihat seseorang masih
berdiri di taman belakang dan ia tahu siapa orang itu.
“Julian apa yang kau
lakukan?” Anna segera mendekati laki-laki itu tampak semua tubuhnya basah kuyup
karena air hujan.
“Aku yakin kau pasti
datang sayang.” Julian tersenyum menatap gadis di hadapanya, tanganya meraih
__ADS_1
pipih Anna, gadis itu merasakan dingin yang terangat dari telapk tangan Julian.
“Kau benar-benar bodoh!”
teriak Anna sambil mepis tangan laki-laki itu, Anna segerah melangkahkan kakikinya
mejauh dari laki-laki itu
“Aku menunggumu.” Jawab
Julian dengan suara lembut.
“Sudah ku katakan, aku
tidak-”
Bukk.....,
Mendengar suara itu
Anna segera berbalik, Julian sedang terbaring di tanah dengan cepat Anna
menghampirinya,
“Julian bangun,” ucap
Anna dengan nada khawatir “Bangun aku mohon.” bisik Anna, rasah bersalah mulai
muncul di hatinya, ia teringat kejadian dalam mimpinya saat Jack tidak pernah
terbangun setelah menyelamatkanya.
“Julian bangun jangan
mati, aku mohon,” Anna mulai menangis, “Aku mohon jangan tinggalkan aku.” sudah
cukup Jack mati dua kali karenanya.
Air mata gadis itu
mulai tak terbendung, Anna terus menggolangkan bahu Julian tapi tetapi
laki-laki itu tetap tidak bergerak, gadis itu mulai terisak di Daddya Julian,
ia benar-benar takut laki-laki itu meninggalkanya, ia tidak ingin Julian mati
karenanya.
“Aku belum mati sayang.”
bisik Julian sambil mengelus punggung Anna, kemudian terkekeh.
“Kau mengerjaiku!”
teriak gadis itu kemudian bangun dari Dada Julian, dengan segera ia menghapus
air matanya dengan kasar, ia kesal bagaimana bisa Julian tegah mengerjainya,
padahal ia benar-benar sangat khawatir.
“Apa kau
mengkawatirkanku?” Julian tersenyum sambil menatap gadis itu, Anna masih
menekuk mukanya dengan cepat ia berdiri dan meninggalkan Julian.
“Aku berjaji tidak akan
meninggalkanmu!” Julian berteriak ia yakin Anna pasti mendengar teriakkanya.
****
“Ayo kita pulang
sekarang” Julian mengajak gadis itu pulang setelah berganti pakaian.
“Tapi ini masih jam
setengah dua pagi,” Anna tampak binggung kenapa Julian mendadak mengajaknya
pulang, padalah laki-laki ini yang memaksanya kepuncak tadi siang.
“Disini sudah mulai
membosankan.” Julian segera menarik gadis itu kemobilnya.
****
Julian
mengendarai mobilnya dengan cepat karena jalannan yang lengang, “Haciu.” Julian
mulai berhesin.
“Kau
sakin?” Anna menatap Julian yang mulai terlihat pucat.
“Aku tidak apa-apa,
tenang saja aku akan mengantarmu pulang dengan selamat.” tidak sampai dua jam
Julian dan Anna sudah sampai di apartemenya.
“Tidurlah, ini baru jam
tiga lewat.” Julian berbisik pada Anna, gadis itu
segera masuk kekamarnya.
****
__ADS_1