
Ini adalah hari ketiga mereka terjebak di padang pasir, saat ini hari hampir gelap, dan udara sudah tidak terlalu panas mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pada malam hari. Lily mencoba mencari jalan tercepat, ini semua di luar perkiraan Roberto seharusnya mereka sudah keluar dari tempat terkutuk ini.
Padang pasir ini lebih luas atas mungkin mereka tersesat? entahlah yang pasti mereka terus berusaha berjalan ke Utara.
Anna, Roberto dan Jack mengikuti Lily, mereka terus berjalan melewati padang pasir yang tak tahu dimana ujungnya, rasa putus asa sekarang mulai menghampiri Anna. Tidak ada air, tidak ada manusia lain yang mereka temui. Mereka berhari-hari berjalan tidak tentu arah.
Matahari mulai menampakkan wujudnya semakin lama semakin terang, tapi ada yang aneh tepat di depan mereka samar-samar terlihat gulungan debuh tebal dan besar, terlihat jelas mengarah pada mereka berempat.
“Badai pasir!“ teriak Lily, “Kita harus berlindung!”
Tidak jauh di depan mereka dua buah batu besar berdiri tegap di tengah hamparan luas berwarna kemerahan itu, mereka memacuh kuda secepat mungkin kearah batu itu, tepat beberapa detik sebelum badai itu menerpa mereka telah bersandar disana.
Anna dan Jack sedang berusaha menengkan kuda mereka begitu pula Lily dan Roberto melakukan hal yang sama, bukan hanya kuda siapapun yang berada di badai pasir akan merasa panik pasti.
Lily menoleh ke samping melihat Anna dan Jack yang berjarak sekitar lima puluh meter darinya. Wanita itu mengangguk pada Jack setelah memastikan semuanya aman. Mereka tidak menyadari ada bahaya lain yang akan datang dari balik batu.
Tiba-tiba muncul hewan berwarnah hitam berkaki delapan dengan cangkang besar siap menjepit musuh serta ekor yang melentik keatas siap menyuntikan racunya.
“Kalajengking!” Anna berteriak ia merasa ngeri pada seranga itu walau ukuranya tidak sebesar tubuh Anna mungkin hanya seukuran telapak tanganya, tapi itu tergolong besar untuk ukuran kalajengkin.
__ADS_1
Selain itu bukan satu atau dua tapi semakin lama semakin banyak, bukan hanya dari batu, kalajengking itu muncul dari dalam tanah, jumlahnya ribuan dalam hitungan persekian detik.
Anna menaiki kudanya berusaha untuk menjauhi kumpulan kalajengking tapi terlambat mereka telah terkepung oleh gerombolan kalajengking itu. Jack dan Lily tampak kwalahan menghadapi ribuan kajengkinng di hadapnyanya.
“Api.” hal itu terpikir di benak Anna, Kalajengking takut api, tapi di mana kami mendapatkan api di tengah padang pasirini, andai saja ada satu drum minyak tanah dan korek api Anna pasti telah membakar semua kalajengkin itu.
Roberto mengangkat tongkatnya mulutnya komat kamit dan bola matanya jadi putih, kemudian tongkat itu mengeluarkan cahaya, tiba-tiba kalajengkin di hadapan kami kembali masuk ke tanah serta badai pasir berhenti. Roberto tersengal-sengal setelah mengeluarkan kekuatan yang cukup besar “Kita sudah diikuti, kita harus cepat!”ucap Roberto yang tampak kelelahan.
Mereka menaiki kuda masing-masing memacu hewan yang memiliki kecepatan berlari yang tidak kalah dengan mobil di jalanan Jakarta. Tiba-tiba awan hitam menutup matahari membuat langit menjadi gelap.
***
“Lindungi Anna!” Roberto berteriak.
“Baik guru.” Lily dan Jack terlihat kompak menjawab. Gadis itu tahu hal yang buruk akan terjadi rasa takut, cemas, khawatir tanpak jelas semakin menyelimuti hatinya.
Mereka terus memacu kuda secepat mungkin tepat di hadapan mereka ribuan kalajengking muncul dari tanah, membuat kuda panik. Anna terlempar ketanah seluruh tubuhnya terasa sakit karena membentur tanah yang keras, Jack beralih kearah Anna. Ia dengan cepat melompat dari kudanya berusaha membantu dan melindungi Anna.
__ADS_1
“Anna kau tidak apa-apa?” Jack menatap tubuh gadis itu memastikan kalau gadis itu tidak terluka.
“Ya, tapi ini aneh kenapa kalajengking itu lebih banyak dari pada tadi?”
Anna mengambil pisau di dalam tasnya mencobah membunuh satu-persatu kalajengking yang mendekat sesekali ia menginjaknya hingga hewan itu mengeluarkan cairan ke hitaman seperti cairan aspal, sungguh jijik waktu gadis itu menginjaknya ia merasa sedang menginjak kulit kacang yang menimbulkan suarah garing di sana.
Lily dan Jack berusaha membunuh kalajengking dengan pedang mereka dan Roberto mengankat tongkotnya, melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Kali ini, cahaya itu melindungi mereka dari sengatan kalajengkin bentuknya tampak seperti tameng, tapi itu di tidak bertahan lama, semakin lama semakin mengecil sekarang hanya bisa melindungi Roberto sendiri. Tidak beberapa lama kuda-kuda mereka berjatuhan.
Anna menjerit melihat itu semua.
Mereka terus melawan sebisa mungkin membunuh satu satu kalajengkin yang mendekat. Tidak berapa lama tiba-tiba Lily menjerit, Jack berusaha menolong Lily tapi tidak lama Jackpun ikut menjerit kesakitan. Tampak Roberto mengeluarkan darah dari hidungnya, pria tua itu kelelahan. Anna terus menginjak kalajenking itu, berusaha membunuh sebanyak mungkin, Roberto terjatuh kalajengking itu mengerumbuni tubuh mereka.
Ahhkkk....!
Jeritan keras keluar dari mulut Anna, gadis itu hanya bisa menangis menyaksikan teman-temanya terkapar dan semua tubuhnya tertutup ratusan atau mungkin ribuan kalajengkin yang tampak berebut menyuntikan racunya. Hal aneh pun terjadi tiba-tiba semua kalajengkin pergi masuk kedalam tanah tidak ada satupun yang tersisata.
Anna menghampiri tubuh Roberto yang terlihat membiru dan tidak bergerak bahkan tidak bernapas, begitu juga dengan Lily dan Jack, juga kuda-kuda mereka. Semuanya sudah mati perjalan ini berakhir sampai disini.
__ADS_1
***