
Suasana di rumah malam
ini sangat sepih, tampak dua orang wanita sedang duduk di ruang televisi mereka
sedang asik menonton film kartun, sesekali mereka tertawa.
Lily menonton di
samping Anna mereka tampak masing-masing tangan sadang mereka sedang memegang
sebungkus snack kentang, sambil
sesekali mengunya snack itu.
Tiba-tiba seorang
laki-laki duduk di samping Anna, tangan
laki-laki itu langsung memasukan tangannya dalan bungkus snack yang di pegang Anna.
“Hei!” teriak sang
gadis sambil memukul tangan Julian.
“Apa?” Julian bertanya
sambil meringis mengelus tanganya “Dasar pelit.” tambah Julian.
Mereka bertiga tampak
tertawa menyaksikan adegan-adengan lucu disana dan tertawa bersama. Jam sudah
menunjukan angkah delapan malam, bahkan film yang mereka saksikan telah
selesai.
“Anna, kakak, aku
kekamar dulu ya.” Lily segerah pamit, ia ingin menyelesaikan tugas kuliannya
“Ya, aku juga mau mulai
ngantuk.” jawab Anna sembil berdiri melangkahkan kakinya, menujuh kamar. Julian
juga ikut melangkah di sampingnya, karena kamar Anna bersebelah dengan Julian.
Anna mengapai daun
pintuh kamarnya dan membukanya, ia segerah masukdan menghempaskan diri di kasur
berukuran besar itu, gadis itu memejamkan matanya. Tampa ia sadari seorang
masuk kekamarnya tanpa suara,dan menghempaskan tubuhnya di samping Anna, sontak
membuat gadis itu membuka matanya dan langsung menoleh kearah orang di
sampingnya, sontak gadis itu segerah berteriak.
“Ahhkk! Julian apa yang
kau lakukan?” gadis itu segerah berdiri dari tidurnya.
“Aku hanya berbaring,”
jawab Julian enteng.
“Maksudku ini bukan
kamarmu, kau salah masuk kamar,” Anna menjelaskan.
Julian hanya diam sesaat
mendengar perkataan Anna, matanya tidak berhentri menatap sosok gadis di
hadapanya. Lalu berkata “Baikla, aku ingin meminjam novelmu.”
Julian segera bangun
dari tempat tidur itu dan segerah menuju meja yang terdapat beberapa tumpukan
novel disana, Anna segera mendekati Julian, Anna memperhatikan laki-laki itu
sedang memperhatikan beberapa novel disana tanpa menyentuhnya.
Anna tersenyum “Jack,”
gumam Anna ia inggat saat pertamakali bertemu Jack di tokoh buku pak Roberto
tampak Jack sedang berdiri di hadapan tumpukan buku sejarah.
“Siapa Jack?” Julian
bertanya sambil menatap Anna
“Bukan siapa-siapa,
cepat ambil novelnya aku sudah mengantuk!” jawab Anna cepat.
“Kau selalu memanggil
Jack, siapa dia?” tampak Julian menyelidiki
“Bukan siap-siapa,
sudah cepat pilih novelnya.” Ulang Anna sekali lagi kemudian segera menunjuk
beberapa novel di sana.
Julian masih
memperhatikan raut wajah Anna yang terlihat gugup, sesaat kemudian Julian
segerah mengalikan pandanganya pada tumpukan novel itu, tangannya mengambil
suatu buku di sana.
“Jangan buku itu,” Anna
segerah menarik buku berwarna coklat berwarna tana dari tangan Julian
“Kenapa? Aku ingin
membacanya,” laki-laki itu tampak heran.
“Kau boleh meminjam
semua buku yang ada disini, mau novel atau komik terserah, tapi jangan buku ini.”
__ADS_1
Jelas Anna.
“Aku ingin membaca buku
ini,” Julian segera menarik buku itu, tapi tangan kiri Anna menahanya.
“Tidak boleh!” Anna
menarik bukunya, tapi tangan Julian tidak melepaskan, laki-laki itu segerah
menariknya dan mengarahkan bukunya tepat keatas.
“Kembalikan.” Anna
berusaha mengapainya tapi tanganya tidak sampai. “Julian ku mohon kembalikan.”
Anna tampak memelas.
“Tidak, jika kau mau kau harus mengambilnya sendiri.”
Jawab Julian yang masih mengarahkan tangannya keatas.
“Baikla.” jawab Anna,
gadis itu segerah melompat ke arah tangan Anna tapi gagal, Julian menyadarinya,
ia segerah mengarahkan tanganya ke samping,
“Julian,
kau!” Anna berteriak geram, tampak Julian tersenyum kemenangan, Anna segerah
melompat lagi, tapi laki-laki itu ngarahkan ke arah lain, Anna teringat akan
perkataan Jack, “Kau harus bisa membaca gerakan
lawanmu.” seketika segerah melompat kearah
tangan julian, laki-laki itu segerah mengarahkan tangannya Anna menyadarinya
dan tangan gadis itu berhasil mengapai buku itu tapi tiba-tiba.
Duark.....
“Aduh,” Julian tampak
sesakitan, kepalanya terbentur lantai, badan Anna sekarang tepat menindih
Julian, Anna segerah menarik bukunya, jantung Anna derdegup kencang, Anna
berusaha mengangkat tubuhnya, tapi tangan kiri Julian menahan pinggang gadis
itu dan menekanya untuk tetap menempel pada tubuhnya.
“Lepaskan!” Anna
berteriak, ia berontak, tapi ia kalah sekarang kedua tangan laki-laki itu
melingkar erat di pingga dan punggung wanita itu, bahkan Anna bisa merasakan
jika tangan kanan Julian sudah mengelus punggungnya sambil menekanya.
“Tidak akan.” Julian
mempererat dekapan tangannya membuat tubuh Anna semakin menyatu dengan Daddya Julian.
gadis itu.
“Julian aku mohon
lepaskan.” pintah Anna lirih
“Aku tidak akan
melepaskanmu, aku berjanji.” jawab Julian dengan tegas dengan suara tertahan,
Anna bisa berasakan hembusan napas Julian yang mengenai puncak kepalanya.
“Aku
sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu seumur hidupku, aku ingin menikahimu.”gumam
Julian dalam hati. Ingin sekali menggatakan kalimat itu, tapi suaranya tidak
keluar.
“Julian hentikan, Lepaskan aku,
punggungku sakit.” bisik Anna lirih seakan ingin menangis, gadis itu
benar-benar merasakan punggungya seakan tersengat listrik.
Perlahan laki-laki itu melepaskan
pelukanya, Anna segera duduk, mencobah menguasai dirinya selain punggungnya
yang terasa sakit, jantungnya pun seakan
di remas karena perlakuan Julian tadi.
“Maafkan aku.” bisik Julian kemudian
langsung duduk di hadapan Anna.
Gadis itu tampak diam, ia merasa telah
berkhianat pada Nicko, Anna tidak pernah berniat untuk mengkhianati Nicko walau
ia tahu tidak akan mudah untuk lepas dari pesona Julian yang luar biasa.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Anna yang
napak terkejut saat sebuah tangan kekar menyentuh punggung Anna dengan lembut,
gadis itu segerah memegang tangan Jualian agar berhenti menyentu punggungnya.
Tapi laki-laki itu tidak peduli, dengan
kasar ia menarik bagian belakang piama Anna hinggan tersingkap sampai punggung,
terlihat dengan jelas gadis itu hanya mengenakan bra berwarna hitam.
“Hentikan!” gadis itu berteriak, Julian
mulai menyentuh bagian punggung gadis itu dan laki-laki itu mulai melepas
kaitan bra Anna, hingga gadis itu
__ADS_1
berteriak dan berontak, Julian segera memeluk gadis itu agar tidak berontak.
“Aku akan memeriksa punggung mu, jadi
diamlah.” bisiknya Julian dengan suara lembut.
Jantung Anna seakan mau melompat dari Daddyanya,
saat mendengar bisikan itu dan sentuhan yang Julian ciptakan, Julian memang
bukan orang pertama yang pernah melihat punggung Anna, Ben sering melakukannya,
tapi ia seorang dokter dan Anna tidak pernah merasakan seperti ini terhadap
Ben, selain itu Anna selalu di dampingi seseorang saat memeriksakan dirinya,
entah itu Lucy atau Maria.
Julian menyentuh
punggung Anna dengan lembut, ia menekan bagian bekas cederah Anna sebelumnya
“Apa disini sakit?”
tanya Julian sambil berbisik di telingah Anna, gadis itu hanya mengangguk, Anna
bisa merasakan hembusan napas Julian yang memburu di punggungnya. Anna merasa
tubuhnya seakan beku, ia tidak tahu apa yang akan Julian lakukan terhadapnya,
ia benar-benar tidak bisa melawan, hatinya berteriak untuk mendorong Julian
menjahu tapi tubuhnya malah bertindak sebaliknya.
Julian mengarahkan
jarinya dengan lembuk ke bagian atas bekas cederah itu “Apakah ini juga sakit?”
tanya Julian, gadis itu mengangguk pelan, “Kalau ini?” Julian mengarahkan
jarinya ke bagian kanan cederah, gadis itu mengeleng kamudian Julian juga
mengarahkan kesisi sebaliknya, gadis itu masih mengeleng.
Julian melepaskan
pelukannya, ia berdiri meninggalkan Anna yang masih membeku di tempatnya, lima
menit kemudian ia kembali membawa semangkuk es dan semangkuk air hangat dan
duah buah handuk kering.
Julian kembali membuka
baju bagian belakang Anna, ia segerah membasahi handuknya dengan air hangat dan
memerasanya lalu menempelkannya pada punggung gadis itu, rasa panas terasa dari
punggungnya, gadis itu menarik punggung sedikit dan sedikit meringis.
“Maafkan aku, aku akan
melakukanya dengan pelan.” Julian kemudian menempelkan handuk itu di punggung
Anna.
“Kau, apakah kau-?”
belum sempat Anna menyelesaikan ucapanya. Rasa
dinging menyerang punggunya, gadis itu kembali menarik punggungya sedikit.
“Aku seorang dokter,
lima tahun yang lalu,” jelas Julian
“Apa? Lima tahun yang
lalu.” gadis itu tampak binggung
“Ya, aku akan
menceritakan kisahku, dengan satu sarat,” Julian kembali menempelkan handuk
hangat ke punggung Anna, kali ini gadis itu tidak menarik punggungnya lagi
seakan sudah terbiasa dengan rasa panas dan dingin yang di ciptakan Julian.
“Apa?” jawab Anna
penasaran
“Aku ingin memimjam
buku itu,” Jawab Julian
“Tidak boleh, buku ini
sangat berharga bagiku.” Jawab Anna kemudian memeluk buku coklat seperti warna
tanah dengan erat seakan tidak akan ingin lepas lagi, buku itu memberi kisah
tersendiri dalam hidup Anna.
“Apa aku tidak berharga
untukmu?” Julian menarik napas sejenak “Kau tahu Anna, Kau sangat berharga
bagiku, tapi kau tidak pernah menghargaiku.”
Julian kemudian pergi
meninggalkan Anna sendiri yang masih diam tidak mengerti atas apa yang Julian
baru katakan, kalau Anna sangat berharga baginya.
“Apa
maksud dari ucapan Julian, apa ia menyukaiku? tidak mungkin, aku sudah
bertunangan dan ia tahu itu.”Anna bertanya pada dirinya
sendiri sambil membenarkan posisi pakaianaya yang masih terbuka bagian
punggungnya.
****
__ADS_1