Anna & Dream

Anna & Dream
17. Apel With Love


__ADS_3

Suasana di rumah malam


ini sangat sepih, tampak dua orang wanita sedang duduk di ruang televisi mereka


sedang asik menonton film kartun, sesekali mereka tertawa.


Lily menonton di


samping Anna mereka tampak masing-masing tangan sadang mereka sedang memegang


sebungkus snack kentang, sambil


sesekali mengunya snack itu.


Tiba-tiba seorang


laki-laki  duduk di samping Anna, tangan


laki-laki itu langsung memasukan tangannya dalan bungkus snack yang di pegang Anna.


“Hei!” teriak sang


gadis sambil memukul tangan Julian.


“Apa?” Julian bertanya


sambil meringis mengelus tanganya “Dasar pelit.” tambah Julian.


Mereka bertiga tampak


tertawa menyaksikan adegan-adengan lucu disana dan tertawa bersama. Jam sudah


menunjukan angkah delapan malam, bahkan film yang mereka saksikan telah


selesai.


“Anna, kakak, aku


kekamar dulu ya.” Lily segerah pamit, ia ingin menyelesaikan tugas kuliannya


“Ya, aku juga mau mulai


ngantuk.” jawab Anna sembil berdiri melangkahkan kakinya, menujuh kamar. Julian


juga ikut melangkah di sampingnya, karena kamar Anna bersebelah dengan Julian.


Anna mengapai daun


pintuh kamarnya dan membukanya, ia segerah masukdan menghempaskan diri di kasur


berukuran besar itu, gadis itu memejamkan matanya. Tampa ia sadari seorang


masuk kekamarnya tanpa suara,dan menghempaskan tubuhnya di samping Anna, sontak


membuat gadis itu membuka matanya dan langsung menoleh kearah orang di


sampingnya, sontak gadis itu segerah berteriak.


“Ahhkk! Julian apa yang


kau lakukan?” gadis itu segerah berdiri dari tidurnya.


“Aku hanya berbaring,”


jawab Julian enteng.


“Maksudku ini bukan


kamarmu, kau salah masuk kamar,” Anna menjelaskan.


Julian hanya diam sesaat


mendengar perkataan Anna, matanya tidak berhentri menatap sosok gadis di


hadapanya. Lalu berkata “Baikla, aku ingin meminjam novelmu.”


Julian segera bangun


dari tempat tidur itu dan segerah menuju meja yang terdapat beberapa tumpukan


novel disana, Anna segera mendekati Julian, Anna memperhatikan laki-laki itu


sedang memperhatikan beberapa novel disana tanpa menyentuhnya.


Anna tersenyum “Jack,”


gumam Anna ia inggat saat pertamakali bertemu Jack di tokoh buku pak Roberto


tampak Jack sedang berdiri di hadapan tumpukan buku sejarah.


“Siapa Jack?” Julian


bertanya sambil menatap Anna


“Bukan siapa-siapa,


cepat ambil novelnya aku sudah mengantuk!” jawab Anna cepat.


“Kau selalu memanggil


Jack, siapa dia?” tampak Julian menyelidiki


“Bukan siap-siapa,


sudah cepat pilih novelnya.” Ulang Anna sekali lagi kemudian segera menunjuk


beberapa novel di sana.


Julian masih


memperhatikan raut wajah Anna yang terlihat gugup, sesaat kemudian Julian


segerah mengalikan pandanganya pada tumpukan novel itu, tangannya mengambil


suatu buku di sana.


“Jangan buku itu,” Anna


segerah menarik buku berwarna coklat berwarna tana dari tangan Julian


“Kenapa? Aku ingin


membacanya,” laki-laki itu tampak heran.


“Kau boleh meminjam


semua buku yang ada disini, mau novel atau komik terserah, tapi jangan buku ini.”

__ADS_1


Jelas Anna.


“Aku ingin membaca buku


ini,” Julian segera menarik buku itu, tapi tangan  kiri Anna menahanya.


“Tidak boleh!” Anna


menarik bukunya, tapi tangan Julian tidak melepaskan, laki-laki itu segerah


menariknya dan mengarahkan bukunya tepat keatas.


“Kembalikan.” Anna


berusaha mengapainya tapi tanganya tidak sampai. “Julian ku mohon kembalikan.”


Anna tampak memelas.


“Tidak,  jika kau mau kau harus mengambilnya sendiri.”


Jawab Julian yang masih mengarahkan tangannya keatas.


“Baikla.” jawab Anna,


gadis itu segerah melompat ke arah tangan Anna tapi gagal, Julian menyadarinya,


ia segerah mengarahkan tanganya ke samping,


            “Julian,


kau!” Anna berteriak geram, tampak Julian tersenyum kemenangan, Anna segerah


melompat lagi, tapi laki-laki itu ngarahkan ke arah lain, Anna teringat akan


perkataan Jack, “Kau harus bisa membaca gerakan


lawanmu.”  seketika segerah melompat kearah


tangan julian, laki-laki itu segerah mengarahkan tangannya Anna menyadarinya


dan tangan gadis itu berhasil mengapai buku itu tapi tiba-tiba.


Duark.....


“Aduh,” Julian tampak


sesakitan, kepalanya terbentur lantai, badan Anna sekarang tepat menindih


Julian, Anna segerah menarik bukunya, jantung Anna derdegup kencang, Anna


berusaha mengangkat tubuhnya, tapi tangan kiri Julian menahan pinggang gadis


itu dan menekanya untuk tetap menempel pada tubuhnya.


“Lepaskan!” Anna


berteriak, ia berontak, tapi ia kalah sekarang kedua tangan laki-laki itu


melingkar erat di pingga dan punggung wanita itu, bahkan Anna bisa merasakan


jika tangan kanan Julian sudah mengelus punggungnya sambil menekanya.


“Tidak akan.” Julian


mempererat dekapan tangannya membuat tubuh Anna semakin menyatu dengan Daddya Julian.


gadis itu.


“Julian aku mohon


lepaskan.” pintah Anna lirih


“Aku tidak akan


melepaskanmu, aku berjanji.” jawab Julian dengan tegas dengan suara tertahan,


Anna bisa berasakan hembusan napas Julian yang mengenai puncak kepalanya.


“Aku


sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu seumur hidupku, aku ingin menikahimu.”gumam


Julian dalam hati. Ingin sekali menggatakan kalimat itu, tapi suaranya tidak


keluar.


“Julian hentikan, Lepaskan aku,


punggungku sakit.” bisik Anna lirih seakan ingin menangis, gadis itu


benar-benar merasakan punggungya seakan tersengat listrik.


Perlahan laki-laki itu melepaskan


pelukanya, Anna segera duduk, mencobah menguasai dirinya selain punggungnya


yang terasa sakit,  jantungnya pun seakan


di remas karena perlakuan Julian tadi.


“Maafkan aku.” bisik Julian kemudian


langsung duduk di hadapan Anna.


Gadis itu tampak diam, ia merasa telah


berkhianat pada Nicko, Anna tidak pernah berniat untuk mengkhianati Nicko walau


ia tahu tidak akan mudah untuk lepas dari pesona Julian yang luar biasa.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Anna yang


napak terkejut saat sebuah tangan kekar menyentuh punggung Anna dengan lembut,


gadis itu segerah memegang tangan Jualian agar berhenti menyentu punggungnya.


Tapi laki-laki itu tidak peduli, dengan


kasar ia menarik bagian belakang piama Anna hinggan tersingkap sampai punggung,


terlihat dengan jelas gadis itu hanya mengenakan bra berwarna hitam.


“Hentikan!” gadis itu berteriak, Julian


mulai menyentuh bagian punggung gadis itu dan laki-laki itu mulai melepas


kaitan bra Anna, hingga  gadis itu

__ADS_1


berteriak dan berontak, Julian segera memeluk gadis itu agar tidak berontak.


“Aku akan memeriksa punggung mu, jadi


diamlah.” bisiknya Julian dengan suara lembut.


Jantung Anna seakan mau melompat dari Daddyanya,


saat mendengar bisikan itu dan sentuhan yang Julian ciptakan, Julian memang


bukan orang pertama yang pernah melihat punggung Anna, Ben sering melakukannya,


tapi ia seorang dokter dan Anna tidak pernah merasakan seperti ini terhadap


Ben, selain itu Anna selalu di dampingi seseorang saat memeriksakan dirinya,


entah itu Lucy atau Maria.


Julian menyentuh


punggung Anna dengan lembut, ia menekan bagian bekas cederah Anna sebelumnya


“Apa disini sakit?”


tanya Julian sambil berbisik di telingah Anna, gadis itu hanya mengangguk, Anna


bisa merasakan hembusan napas Julian yang memburu di punggungnya. Anna merasa


tubuhnya seakan beku, ia tidak tahu apa yang akan Julian lakukan terhadapnya,


ia benar-benar tidak bisa melawan, hatinya berteriak untuk mendorong Julian


menjahu tapi tubuhnya malah bertindak sebaliknya.


Julian mengarahkan


jarinya dengan lembuk ke bagian atas bekas cederah itu “Apakah ini juga sakit?”


tanya Julian, gadis itu mengangguk pelan, “Kalau ini?” Julian mengarahkan


jarinya ke bagian kanan cederah, gadis itu mengeleng kamudian Julian juga


mengarahkan kesisi sebaliknya, gadis itu masih mengeleng.


Julian melepaskan


pelukannya, ia berdiri meninggalkan Anna yang masih membeku di tempatnya, lima


menit kemudian ia kembali membawa semangkuk es dan semangkuk air hangat dan


duah buah handuk kering.


Julian kembali membuka


baju bagian belakang Anna, ia segerah membasahi handuknya dengan air hangat dan


memerasanya lalu menempelkannya pada punggung gadis itu, rasa panas terasa dari


punggungnya, gadis itu menarik punggung sedikit dan sedikit meringis.


“Maafkan aku, aku akan


melakukanya dengan pelan.” Julian kemudian menempelkan handuk itu di punggung


Anna.


“Kau, apakah kau-?”


belum sempat Anna menyelesaikan ucapanya. Rasa


dinging menyerang punggunya, gadis itu kembali menarik punggungya sedikit.


“Aku seorang dokter,


lima tahun yang lalu,” jelas Julian


“Apa? Lima tahun yang


lalu.” gadis itu tampak binggung


“Ya, aku akan


menceritakan kisahku, dengan satu sarat,” Julian kembali menempelkan handuk


hangat ke punggung Anna, kali ini gadis itu tidak menarik punggungnya lagi


seakan sudah terbiasa dengan rasa panas dan dingin yang di ciptakan Julian.


“Apa?” jawab Anna


penasaran


“Aku ingin memimjam


buku itu,” Jawab Julian


“Tidak boleh, buku ini


sangat berharga bagiku.” Jawab Anna kemudian memeluk buku coklat seperti warna


tanah dengan erat seakan tidak akan ingin lepas lagi, buku itu memberi kisah


tersendiri dalam hidup Anna.


“Apa aku tidak berharga


untukmu?” Julian menarik napas sejenak “Kau tahu Anna, Kau sangat berharga


bagiku, tapi kau tidak pernah menghargaiku.”


Julian kemudian pergi


meninggalkan Anna sendiri yang masih diam tidak mengerti atas apa yang Julian


baru katakan, kalau Anna sangat berharga baginya.


“Apa


maksud dari ucapan Julian, apa ia menyukaiku? tidak mungkin, aku sudah


bertunangan dan ia tahu itu.”Anna bertanya pada dirinya


sendiri sambil membenarkan posisi pakaianaya yang masih terbuka bagian


punggungnya.


****

__ADS_1


__ADS_2