
Sesuai jadwal Anna dan
Julian tiba di Surabaya mereka mengadakan rapat dengan klain setelah selesai
mereka kembali ke hotel, Anna sangat lelah, malam ini Julian memaksanya
menemaninya dengan alasan akan menemui pekerja di lokasih proyeknya.
“Apa tidak ada hari
esok?” Anna bertanya.
Julian meluncurkan
mobil dengan cepat menujuh lapangan kosong, tampak beberpa alat berat sudah ada
di sana, Julian menemui beberapa pegawainya Anna mengikuti dengan malas.
Udarah malam tampak
menusuk, mereka melangkahkan kaki bersama menuju mobil, Julian tampak bersender
di depan kap mobilnya pandanganya mengarah kelangit menatap bintang dan bulan.
“Anna cuaca malam ini
bagus, lihat bintangnya banyak!” Teriak Julian, pada Anna yang berdiri sekitar
lima meter di belakangnya, Anna tidak menjawab ia hanya berdiri menatap tanah
sambil melipat kedua tangannya.
“Ayo pulang!” teriak Anna.
“Kau tidak suka
bintang?” Julian mentap gadis yang berdiri tidak jauh darinya.
“Tidak, aku tidak suka.”
jawab Anna ketus.
“Bukankah waktu itu kau
bilang kau sangat menyukai bintang?”
“Maaf pak, saya tidak
suka bintang, saya sudah melupakanya sejak tahun lalu, jadi bisa kita pulang
sekarang.” jawab Anna tegas.
“Ternyata gagal menikah
benar-benar membuatmu prustasi sehingga melupakan siapa dirimu.” cibir Julian.
****
Seorang wanita cantik
masuk ke ruangan Julian saat Anna menjelaskan jadwalnya.
“Hai Julian, hai Anna.”
wanita itu tersenyum lebar, Anna membalas senyuma itu kemudian pamit meninggalkan
ruangan itu.
“Ada apa?” Julian
bertanya dengan datar.
“Julian apa kau
benar-benar bodoh, kau tidak melihat Anna tampak pucat, kau jangan kerterlaluan
terhadapnya.” Jawab sang wanita.
“Bukankah kau bilang
aku bisa balas demdam padanya, jadi jangan urusi ursanku, jika tidak ada yang
ingin kau sampaikan sebainya kau pulang Melisa.” Julian mengusir wanita itu
“Kau akan menyesal jika
terjadi apa-apa pada Anna.” Melisa kemudian melempakan undangan pernikahanya dengan
Sony dua bulan mendatang.
***
Anna masih sibuk
mengerjakan laporanya di ruang tamu ia tidak ingin Julian menganggunya dengan
tawa yang keras di ruang TV tapi tenyata Anna salah laki-laki malah duduk
dengan santainya di ruang tamu, Anna menarik napas dalam setidaknya laki-laki
ini tidak berisik.
Julian duduk dengan tenang sambil mengunya
apel di tanganya, beberapa kali ia menawarkan buah itu pada Anna tapi gadis itu
menolak, Anna mengetik dengan cepat semua laporan yang di berikan Julian,
tiba-tiba terasa cairan hangat di hidungnya menetes mengenai sebuah map di
pahanya, dengan cepat ia mengambil tisu dan mengelap hidungnya dan membersikan
map itu dari darah.
Julian membulatkan
matanya melihat hidung Anna yang mimisan dengan cepat ia membersihkan darah di
hidung gadis itu.
“Hentikan, aku bisa
sendiri.” Anna berucap kemudian pergi kekamarnya. Anna tidak mau kejadian
seperti didalam mimpi terulang saat itu Jack membersihkan darah di hidungnya,
saat di gunung es kemudian mereka berciumam, ciumam yang tidak akan pernah Anna
lupakan seumur hidupnya.
***
Julian duduk memandang
sarapanya ia tidak berselerah memakan roti di piringnya, ia ingat bagaimana
__ADS_1
darah mengalir deras dari hidung gadis itu, sungguh Julian benar-benar khawatir
padanya.
“Pak jadwal anda hari
ini adalah memeriksa laporan kerja bulanan, kemudian bertemu klien setelah
makan siang.” Anna menjelaskan gadis itu sudah tampak rapih dengan setelan baju
kantor berwarna hitam, hidungnya tidak meninggalkan bekas darah sedikitpun, laki-laki itu hanya diam.
“Aku memecatmu, kau
bebas sekarang.” ucap Julian setelah diam cukup lama.
“Apa? Bapak serius?”
Anna bertanya, ia masih tidak percaya atas apa yang ia dengar Julian
membebaskanya, rasanya ia ingin berteriak betapa bahagianya dia, tanpa harus
membayar denda apapun karena Julian sendiri yang menutuskan kontrak kerja itu.
“Dengan satu syarat?”
seketika senyum yang tadi mengembang di bibir Anna lenyap.
“Kau harus tanggal di
sini dan memasak untuku selama sebulan.“ Jawab Julian sambil tersenyum lembut.
“Maaf pak saya tidak
mau.” Anna mentap laki-laki di hadapanya tajam.
“Terserah kamu, kamu
berhak menolak, itu berati kamu harus menyelesaikan kontrak kerja selama tiga
tahun atau membayar denda.”
***
Jam lima soreh Julian sudah
pulang dari kantornya, ia melihat Anna yang tampak sedang asik masak makan
malam mereka.
“Masak apa?” Julian
berdiri di samping Anna.
“Oh ini, ayam goreng
dan sambel kantang, anda ingin saya masakan apa?” tanya Anna.
“Aku akan makan apapun
yang kamu masak, dan satu lagi kau bukan pegawaiku berhenti bersikap formal.”
Jelas Julian kemudian pergi kekamarnya.
Gadis itu benar-benar
merasa senang hari ini Julian tidak marah-marah lagi dan tidak ada tugas yang
menumpuk untuknya, walau sikap Julian masih sangat dingin padanya, ia hanya
“Persediaan di kulkas
sudah hampir habis, besok aku kan ke supermaket untuk membeli beberapa bahan.”
Jelas Anna saat makan malam.
“Aku akan menemanimu.”
Jawab Julian cepat
“Tapi kau kan kerja.”
“Aku bosnya tidak ada
yang bisa melarangku untuk bekerja atau tidak.”
Itulah Julian,
laki-laki yang bersikap semaunya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain? Anna
hanya bisa mengangguk mendengar ucapan
laki-laki itu. Julian selalu mampu membuat Anna bingung dengan tingkahnya yang
terbilang labil.
****
Siang ini Julian
menemani Anna ke supermaket membeli beberapa sayuran dan buah juga bahan
lainya, mereka berdua mengisi teroli belanjaan, Anna memberhentikan langkahnya
saat dua orang berdiri dihadapanya, mereka menatap Anna begitu juga sebaliknya,
Julian menyadari itu ia segera memeluk pinggang Anna dari samping membuat tubuh
Anna dan Julian menempal.
Anna terkejut atas tindakan Julian lakukan
seakan mengkalim kalau gadis itu adalah kekasihnya? Anna ingin menolak saat
Julian semakin mempererat pelukannya tanpa mengatakan apapun, hanya sebuah
senyuman yang terukir bi bibir Julian saat melihat Anna melotot padanya.
“Hai Anna,” Margaret
menyapanya.
“Hay Margaret, senang
bisa bertemu dengan kalian.” Jawab Anna sambil tersenyum berusaha setenang
mungkin.
“Hay Nicko,” sapa
Julian, Nicko membalas sapaan Julian dengan kaku
“Itu anakmu? wah dia
sungguh mengemaskan.” Anna kemudian memdekati Margaret yang sedang mengendong bayi
__ADS_1
perempuan berumur sekitar sepuluh bulan, Margaret tersenyum kaku, ia merasa
bersalah pada wanita ini karena telah merebut tunangan wanita itu.
Margaret telah meminta
maaf pada Anna, ia memang salah melakukan hubungan itu tanpa di ketahui Anna,
hubungan yang Margaret dan Nicko anggap sebagai pemuas nafsu belakang, berakhir
dengan timbulnya rasa cinta Margaret pada Nicko dan menghasilkan buah cinta
mereka saat ini.
Anna telah memaafkan
semuanya, tapi Margaret tahu wanita itu terluka, bahkan di saat acarah
pernikannya, Anna menyempatkan diri untuk hadir dan tersenyum pada mantan
tunanganya.
Nicko saat itu hanya
diam tapi Margaret bisa melihat mata suaminya yang di penuhi kristal, yang
muncul atas rasa bersalah dan penyesalan. Meski Margaret tahu Nicko tidak
mencintainya sedikitpun, ia hanya mempertahankan pernikahan ini sebagai rasa tanggung
jawabnya terhadap jani yang di kandungnya, mungkin ini adalah hukuman untuk
Margaret.
Mereka memutuskan untuk
makan siang bersama, Nicko masih menatap Anna dengan penuh penyesalan disana,
Julain terus mengandeng Anna dengan mesrah, beberapa kali Anna mecubit perut
Julian agar tidak bertingkah aneh, tapi tidak di pedulikan laki-laki itu.
Margaret membawah
anaknya bermain diarel bermain anak, Julian, Anna dan Nicko hanya terdiam
setelah kepergian Margaret tidak ada yang memulai untuk bicara.
“Sayang, aku ketoilet
dulu.” Julian kemudian mencuim pipih Anna, sontak Anna langsung melotot
padanya, tapi di balas tersenyum lembut oleh Julian. Laki-laki itu sengaja
meninggalkan Anna dan Nicko untuk berbicara, Julian tahu mereka perlu waktu
untuk itu.
“Anna maafkan aku?”
Nicko membuka suaranya yang terdengar serak, masih jelas terpancar penyesalan
yang teramat dalam pada wanita yang hampir di nikahinya itu.
“Aku sudah memaafkanmu,
aku senang kau bahagia sekarang.” jawab Anna sambil tersenyum, ia memang pernah
merasakan sakit hati saat tahu Nicko menghamili Margaret tepat dua bulan
sebelum rencana pernikahan mereka, tapi Anna sudah melupakan semuanya ia ingin
memulai hidup yang baru ia tidak ingin larut dalam kesedihan itu, walau terasa
sangat berat berpisa dengan orang yang dia cintai.
Anna tidak bisa
membiarkan dirinya terus terpuruk, sudah cukup sebulan ia mengurung diri tanpa
melakukan apapun membuat keluarganya sedih bahkan ibunya sempat jatuh sakit
karena terus memikirkan kesedihan yang Anna rasakan, sejak kejadian itu Anna
berjanji pada dirinya sendiri agar tidak terlihat sedih lagi dan melupan
semuanya.
“Aku masih mencintaimu.” bisik Nicko sambil
mentapa mantan tunanganya.
“Nick, kamu sudah
menikah, apa kamu tidak kasihan pada Margaret dan anakmu, mereka membutuhkanmu, lupakan aku.” Anna terlihat bijak.
“Apa karena Julian?”
Nicko menyelidik.
“Ini tidak ada
hubungannya dengan siapapun, aku sudah melupakanmu, jadi jalanilah hidupmu
sebagai suami dan ayah yang baik.” Anna
menegaskan.
Nicko menunduk sambil
menahan air matanya yang hampir menetes dari tadi, Anna selalu mengatakan bahwa
ia telah melupan dirinya, sunggu Nicko merasa Daddyanya sakit mendengarnya,
dulu mereka selalu mengatakan kata cinta satu sama lain, tapi sekarang berbeda,
Anna benar-benar tidak menginginkanya lagi.
Nicko melihat sudut
bibir Anna yang tertarik saat melihat Margaret dan Anggun yang bermain disana,
Nick merindukan senyuma tulus itu, senyuman yang biasanya selalu ia lihat saat
mereka bertemu.
“Kalian terlihat cocok.” Nicko membuka suaranya
setelah berhasil menguasai dirinya. Anna mengalikan pandanganya melihat Nicko
yang menatap kedatangan Julian.
“Cocok apanya, kamu tidak tahu saja Nick, bagimana kelakuan laki-laki
itu terhadapku!” teriak Anna dalam hati.
__ADS_1
****