Anna & Dream

Anna & Dream
26. Apel With Love


__ADS_3

Sesuai jadwal Anna dan


Julian tiba di Surabaya mereka mengadakan rapat dengan klain setelah selesai


mereka kembali ke hotel, Anna sangat lelah, malam ini Julian memaksanya


menemaninya dengan alasan akan menemui pekerja di lokasih proyeknya.


“Apa tidak ada hari


esok?” Anna bertanya.


Julian meluncurkan


mobil dengan cepat menujuh lapangan kosong, tampak beberpa alat berat sudah ada


di sana, Julian menemui beberapa pegawainya Anna mengikuti dengan malas.


Udarah malam tampak


menusuk, mereka melangkahkan kaki bersama menuju mobil, Julian tampak bersender


di depan kap mobilnya pandanganya mengarah kelangit menatap bintang dan bulan.


“Anna cuaca malam ini


bagus, lihat bintangnya banyak!” Teriak Julian, pada Anna yang berdiri sekitar


lima meter di belakangnya, Anna tidak menjawab ia hanya berdiri menatap tanah


sambil melipat kedua tangannya.


 “Ayo pulang!” teriak Anna.


“Kau tidak suka


bintang?” Julian mentap gadis yang berdiri tidak jauh darinya.


“Tidak, aku tidak suka.”


jawab Anna ketus.


“Bukankah waktu itu kau


bilang kau sangat menyukai bintang?”


“Maaf pak, saya tidak


suka bintang, saya sudah melupakanya sejak tahun lalu, jadi bisa kita pulang


sekarang.” jawab Anna tegas.


“Ternyata gagal menikah


benar-benar membuatmu prustasi sehingga melupakan siapa dirimu.” cibir Julian.


****


Seorang wanita cantik


masuk ke ruangan Julian saat Anna menjelaskan jadwalnya.


“Hai Julian, hai Anna.”


wanita itu tersenyum lebar, Anna membalas senyuma itu kemudian pamit meninggalkan


ruangan itu.


“Ada apa?” Julian


bertanya dengan datar.


“Julian apa kau


benar-benar bodoh, kau tidak melihat Anna tampak pucat, kau jangan kerterlaluan


terhadapnya.” Jawab sang wanita.


“Bukankah kau bilang


aku bisa balas demdam padanya, jadi jangan urusi ursanku, jika tidak ada yang


ingin kau sampaikan sebainya kau pulang Melisa.” Julian mengusir wanita itu


“Kau akan menyesal jika


terjadi apa-apa pada Anna.” Melisa kemudian melempakan undangan pernikahanya dengan


Sony dua bulan mendatang.


***


Anna masih sibuk


mengerjakan laporanya di ruang tamu ia tidak ingin Julian menganggunya dengan


tawa yang keras di ruang TV tapi tenyata Anna salah laki-laki malah duduk


dengan santainya di ruang tamu, Anna menarik napas dalam setidaknya laki-laki


ini tidak berisik.


 Julian duduk dengan tenang sambil mengunya


apel di tanganya, beberapa kali ia menawarkan buah itu pada Anna tapi gadis itu


menolak, Anna mengetik dengan cepat semua laporan yang di berikan Julian,


tiba-tiba terasa cairan hangat di hidungnya menetes mengenai sebuah map di


pahanya, dengan cepat ia mengambil tisu dan mengelap hidungnya dan membersikan


map itu dari darah.


Julian membulatkan


matanya melihat hidung Anna yang mimisan dengan cepat ia membersihkan darah di


hidung gadis itu.


“Hentikan, aku bisa


sendiri.” Anna berucap kemudian pergi kekamarnya. Anna tidak mau kejadian


seperti didalam mimpi terulang saat itu Jack membersihkan darah di hidungnya,


saat di gunung es kemudian mereka berciumam, ciumam yang tidak akan pernah Anna


lupakan seumur hidupnya.


***


Julian duduk memandang


sarapanya ia tidak berselerah memakan roti di piringnya, ia ingat bagaimana

__ADS_1


darah mengalir deras dari hidung gadis itu, sungguh Julian benar-benar khawatir


padanya.


“Pak jadwal anda hari


ini adalah memeriksa laporan kerja bulanan, kemudian bertemu klien setelah


makan siang.” Anna menjelaskan gadis itu sudah tampak rapih dengan setelan baju


kantor berwarna hitam, hidungnya tidak meninggalkan bekas darah sedikitpun,  laki-laki itu hanya diam.


“Aku memecatmu, kau


bebas sekarang.” ucap Julian setelah diam cukup lama.


“Apa? Bapak serius?”


Anna bertanya, ia masih tidak percaya atas apa yang ia dengar Julian


membebaskanya, rasanya ia ingin berteriak betapa bahagianya dia, tanpa harus


membayar denda apapun karena Julian sendiri yang menutuskan kontrak kerja itu.


“Dengan satu syarat?”


seketika senyum yang tadi mengembang di bibir Anna lenyap.


“Kau harus tanggal di


sini dan memasak untuku selama sebulan.“ Jawab Julian sambil tersenyum lembut.


“Maaf pak saya tidak


mau.” Anna mentap laki-laki di hadapanya tajam.


“Terserah kamu, kamu


berhak menolak, itu berati kamu harus menyelesaikan kontrak kerja selama tiga


tahun atau membayar denda.”


***


Jam lima soreh Julian sudah


pulang dari kantornya, ia melihat Anna yang tampak sedang asik masak makan


malam mereka.


“Masak apa?” Julian


berdiri di samping Anna.


“Oh ini, ayam goreng


dan sambel kantang, anda ingin saya masakan apa?” tanya Anna.


“Aku akan makan apapun


yang kamu masak, dan satu lagi kau bukan pegawaiku berhenti bersikap formal.”


Jelas Julian kemudian pergi kekamarnya.


Gadis itu benar-benar


merasa senang hari ini Julian tidak marah-marah lagi dan tidak ada tugas yang


menumpuk untuknya, walau sikap Julian masih sangat dingin padanya, ia hanya


“Persediaan di kulkas


sudah hampir habis, besok aku kan ke supermaket untuk membeli beberapa bahan.”


Jelas Anna saat makan malam.


“Aku akan menemanimu.”


Jawab Julian cepat


“Tapi kau kan kerja.”


“Aku bosnya tidak ada


yang bisa melarangku untuk bekerja atau tidak.”


Itulah Julian,


laki-laki yang bersikap semaunya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain? Anna


hanya bisa mengangguk  mendengar ucapan


laki-laki itu. Julian selalu mampu membuat Anna bingung dengan tingkahnya yang


terbilang labil.


****


Siang ini Julian


menemani Anna ke supermaket membeli beberapa sayuran dan buah juga bahan


lainya, mereka berdua mengisi teroli belanjaan, Anna memberhentikan langkahnya


saat dua orang berdiri dihadapanya, mereka menatap Anna begitu juga sebaliknya,


Julian menyadari itu ia segera memeluk pinggang Anna dari samping membuat tubuh


Anna dan Julian menempal.


 Anna terkejut atas tindakan Julian lakukan


seakan mengkalim kalau gadis itu adalah kekasihnya? Anna ingin menolak saat


Julian semakin mempererat pelukannya tanpa mengatakan apapun, hanya sebuah


senyuman yang terukir bi bibir Julian saat melihat Anna melotot padanya.


“Hai Anna,” Margaret


menyapanya.


“Hay Margaret, senang


bisa bertemu dengan kalian.” Jawab Anna sambil tersenyum berusaha setenang


mungkin.


“Hay Nicko,” sapa


Julian, Nicko membalas sapaan Julian dengan kaku


“Itu anakmu? wah dia


sungguh mengemaskan.” Anna kemudian memdekati Margaret yang sedang mengendong bayi

__ADS_1


perempuan berumur sekitar sepuluh bulan, Margaret tersenyum kaku, ia merasa


bersalah pada wanita ini karena telah merebut tunangan wanita itu.


Margaret telah meminta


maaf pada Anna, ia memang salah melakukan hubungan itu tanpa di ketahui Anna,


hubungan yang Margaret dan Nicko anggap sebagai pemuas nafsu belakang, berakhir


dengan timbulnya rasa cinta Margaret pada Nicko dan menghasilkan buah cinta


mereka saat ini.


Anna telah memaafkan


semuanya, tapi Margaret tahu wanita itu terluka, bahkan di saat acarah


pernikannya, Anna menyempatkan diri untuk hadir dan tersenyum pada mantan


tunanganya.


Nicko saat itu hanya


diam tapi Margaret bisa melihat mata suaminya yang di penuhi kristal, yang


muncul atas rasa bersalah dan penyesalan. Meski Margaret tahu Nicko tidak


mencintainya sedikitpun, ia hanya mempertahankan pernikahan ini sebagai rasa tanggung


jawabnya terhadap jani yang di kandungnya, mungkin ini adalah hukuman untuk


Margaret.


Mereka memutuskan untuk


makan siang bersama, Nicko masih menatap Anna dengan penuh penyesalan disana,


Julain terus mengandeng Anna dengan mesrah, beberapa kali Anna mecubit perut


Julian agar tidak bertingkah aneh, tapi tidak di pedulikan laki-laki itu.


Margaret membawah


anaknya bermain diarel bermain anak, Julian, Anna dan Nicko hanya terdiam


setelah kepergian Margaret tidak ada yang memulai untuk bicara.


“Sayang, aku ketoilet


dulu.” Julian kemudian mencuim pipih Anna, sontak Anna langsung melotot


padanya, tapi di balas tersenyum lembut oleh Julian. Laki-laki itu sengaja


meninggalkan Anna dan Nicko untuk berbicara, Julian tahu mereka perlu waktu


untuk itu.


“Anna maafkan aku?”


Nicko membuka suaranya yang terdengar serak, masih jelas terpancar penyesalan


yang teramat dalam pada wanita yang hampir di nikahinya itu.


“Aku sudah memaafkanmu,


aku senang kau bahagia sekarang.” jawab Anna sambil tersenyum, ia memang pernah


merasakan sakit hati saat tahu Nicko menghamili Margaret tepat dua bulan


sebelum rencana pernikahan mereka, tapi Anna sudah melupakan semuanya ia ingin


memulai hidup yang baru ia tidak ingin larut dalam kesedihan itu, walau terasa


sangat berat berpisa dengan orang yang dia cintai.


Anna tidak bisa


membiarkan dirinya terus terpuruk, sudah cukup sebulan ia mengurung diri tanpa


melakukan apapun membuat keluarganya sedih bahkan ibunya sempat jatuh sakit


karena terus memikirkan kesedihan yang Anna rasakan, sejak kejadian itu Anna


berjanji pada dirinya sendiri agar tidak terlihat sedih lagi dan melupan


semuanya.


 “Aku masih mencintaimu.” bisik Nicko sambil


mentapa mantan tunanganya.


“Nick, kamu sudah


menikah, apa kamu tidak kasihan pada Margaret dan anakmu, mereka membutuhkanmu, lupakan aku.” Anna terlihat bijak.


“Apa karena Julian?”


Nicko menyelidik.


“Ini tidak ada


hubungannya dengan siapapun, aku sudah melupakanmu, jadi jalanilah hidupmu


sebagai suami dan  ayah yang baik.” Anna


menegaskan.


Nicko menunduk sambil


menahan air matanya yang hampir menetes dari tadi, Anna selalu mengatakan bahwa


ia telah melupan dirinya, sunggu Nicko merasa Daddyanya sakit mendengarnya,


dulu mereka selalu mengatakan kata cinta satu sama lain, tapi sekarang berbeda,


Anna benar-benar tidak menginginkanya lagi.


Nicko melihat sudut


bibir Anna yang tertarik saat melihat Margaret dan Anggun yang bermain disana,


Nick merindukan senyuma tulus itu, senyuman yang biasanya selalu ia lihat saat


mereka bertemu.


 “Kalian terlihat cocok.” Nicko membuka suaranya


setelah berhasil menguasai dirinya. Anna mengalikan pandanganya melihat Nicko


yang menatap kedatangan Julian.


“Cocok apanya, kamu tidak tahu saja Nick, bagimana kelakuan laki-laki


itu terhadapku!” teriak Anna dalam hati.

__ADS_1


****


__ADS_2