
“Wil, bisa keruanganku
sekarang?” Julian kemudian menutup telponya.
“Ada yang bisa saya
bantu pak?” Wil masuk keruangn itu
“Kau ingat kejadian
waktu itu, saat kau bersama dua temanmu mengatakan aku mempunyai penyakit
menular dan gay?” Julian tampak tersenyum,
Wil langsung menelan
ludahnya, bagaimana bisa bosnya menginggat kejadian yang sudah lama itu dan
selama ini ia tidak pernah mengunggkitnya lagi. Julan mengangguk dengan cepat
saat melihat raut wajah Wil yang cukup terkejut.
“Aku bisa melaporkanmu
dengan tuduhan pencemaran nama baik.” Julian bersuara datar menatap Wil dengan
lekat-lekat memebuat wanita itu tidak bisa berkutik sedikitpun.
“Maaf pak, sebenarnya
apa yang bapak inginkan?” Wil tampak berkeringat aurah membunuh yang keluar
dari tubuh Julian memenuhi ruangan itu membuat Wil sulit bernapas.
“Mudah saja, berikan
aku alamat keluarga Anna.”
“Maaf pak saya tidak
bisa,” Wil ingat Anna memintanya untuk tidak memberikan informasi apapun pada
bosnya.
“Baikla kalau begitu,
kau, Jesika dan Anna tentunya akan menjadi burononan besok.” Julian mengambil ponsel-nya
dan berusaha mengubungi seseorang.
“Tunggu pak jangan,
saya akan memberitahu.” Mana mungkin Wil membiarkan dirinya dan kedua temanya
jadi buronan karena kesalahanya menjelekan bosnya.
Malam ini suasana
diapartemen cukup damai Julian mengunya apel di tanganya dia sibuk membacah
surat kontrak yang Melisa kirimkan dan semua informasi tentang Anna, gadis itu
harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya.
“Besedia di tempatkan
di seluruh wilayah Indonesia,” Julian tersenyum kemenangan “Aku mendapatkanmu.”
***
“Selamat siang pak
Sony, anda memanggil saya?” sorang wanita masuk keruangan.
“Masuk Anna, begini
perusahaan pusat memerlukanmu dan dalam empat bulan kedepan kau akan di
pindahkan di sana.” Sony menjelaskan
“Tapi pak saya kan baru
disini, saya-”
“Tidak ada tapi-tapian
kamu ingat kamu sudah tanda tangan kontak dan kamu bersedia di tepatkan dimana
saja.” benar apa yang di katakan Sony, Anna tidak bisa menolak jika ia menolak
maka ia harus membayar denda ratusan juta.
“Perusahaan pusat telah
mengatur semuanya termasuk tempat tinggal kamu.” tambah Sony.
“Baik pak.” Jawab Anna
malas.
****
Hari ini Julian
melangkahkan kakinya tepak di depan rumah putih yang sederhana yang memiliki
halaman cukup luas dan suasana di sana masih tampak asri.
“Permisi,” Julian
mengetuk pintu kayu rumah itu, tampak seorang pria mudah berumur sekitar dua puluh
tahun membukakan pintu.
“Cari siapa bang?”
jawab Dimitri, Julian tersenyum ternya adik Anna sudah lupa padanya.
“Ibu dan bapak ada?”
belum sempat Demitri menjawab tiba-tiba seorang seorang wanita paru baya menghampirinya.
“Nak Julian, mari masuk.”
bu Rani tersenyum, Julian dengan cepat menyalami wanita paru baya itu lalu
mencium tanganya, “Sudah lama tidak bertemu, Demitri buatkan minuman untuk tamu
kita.” teriak bu Rani, tidak berapa lama Demitri datang dengan segelas sirop
melon
__ADS_1
“Minum bang,”
“Terimakasih.” Jawab
Julian lembut.
“Apa kabar keluargamu?” Julian menjelaskan
bahwa mereka semua baik, Julian tahu bu Rani sering berkomunikasi dengan Maria,
Rudy dan Lucy, tapi tidak dengan Julian karena laki-laki itu sibuk dengan
pekerjaanya, serta sibuk berusaha melupan Anna.
Julian juga menjelaskan
kedatangan ke Sumatra sedang dalam urusan bisnis, ia juga akan tinggal di sini
dalam beberapa bulan, jadi akan sering mampir.
Julian juga memberikan
bingkisan yang Maria titipkan, karena Julian memberitahu kedua orang tuanya,
kalau dia pergi ke Sumatra, jadi Mari menitipkan oleh-oleh pada Julian untuk
keluarga Anna.
“Bapak mana bu?” Julian
mencari Anna
“Sedang kerja, mungkin
sebentar lagi pulang, kamu sudah makan?” Bu Rani bertanya, Julian hanya
mengeleng sambil tersenyum.
“Sebentar ya ibu
siapkan dulu.” bu Rani segerah ke dapur,
“Tidak usah bu, jangan-”
“Sudah bang tidak
apa-apa, masakan ibu enak loh, bedah sama masakan ayuk Anna.” jelas Demitri.
Tampak susana di meja
makan itu cukup ramai, Bu Rani, Pak Ahmad dan Demitri mengajak Julian
bercengkrama dan sekali-kali bercanda Julian tampak mudah sekali akrab dengan
keluarga itu.
“Sudah malam nak
menginap di sini saja, lagian rawan malam begini di jalan.” pak Ahmad mengingatkan
.
“Tidak apa-apa pak saya
ke hotel saja.” Julian tersenyum lembut berusaha menolak ajakan pak Ahmad, ia tidak
ingin merepotkan keluarga itu.
hotel, tinggal di sini saja,” Pak Ahmad memaksa begitu juga dengan bu Rani dan
Demitri, dengan terpaksa laki-laki itu menurut.
“Kamu tidur di kamar
Anna saja.” bu Rani menunjuk sebuah kamar yang berwarna unggu mudah.
“Tapi bu nanti Anna
tidur dimana?” Julian bertanya, apa mungkin mereka akan tidur berdua, dalam
hati Julian tersenyum.
“Anna ngekos tidak jauh
dari kantornya, karena kendaraan disini agak jarang, ia juga tidak berani bawah
motor takut jatuh katanya, awal kerja Anna sering telat, makanya anak itu
memilih ngekos bareng teman-temanya, tapi tiap akhir pekan dia pulang.” Bu Rani
menjelaskan.
Julian memasuki kamar
itu sederhana tapi rapi, tampak di deretan lemari kayu berjajar kumpulan novel
dan komik dan terdapat sebuah poto Anna berukuran sedang dalam salah satu
bingkai poto, Julian mengambilnya.
“Kau tau aku sekarang
di kamarmu?” Julian menyerangai.
***
Anna kembali sibuk
dengan urusan kantornya, tampak tugas-tugasnya sedang di kejar detline.
“Anna ke kantin yuk” Ajak
Novi teman satu kantor Anna.
“Maaf Nov, kamu duluan
aja, aku harus ngerjain ini, masih banyak.” Anna menunjuk tumpukan berkas di
mejanya yang tampak menggunung, Novi mengangguk benar tugas Anna sangat banyak,
ia harus mengerjakan semuanya sebelum ia pindah ke perusahaan pusat bulan depan
dan karena itu Anna sudah tiga minggu tidak pulang kerumah.
Anna mengambil ponselnya
saat ponsel itu tidak berhenti berbunyi dari tadi hingga menganggu
konsentrasinya dalam bekerja.
“Assalmu’alaikum bu,”
__ADS_1
“...”
“Iya bu aku pulang malam
ini.” gadis itu segera menutup ponselnya, bagaimanapun ia harus pulang ia juga
harus mempersiapkan pakaian yang akan di bawah ke Jakarta nanti, selain itu
ibunya terus mendesaknya untuk pulang karena sudah sangat merindukannya.
Malam itu juga Anna
tiba di rumah saat jam delapan malam perjalan kantor ke rumahnya sebenarnya
hanya berjarak tiga jam tepi karena kendarann yang agak susah jadi Anna
memutuskan untuk ngekos di dekat kantornya.
Rasa capek menyerang
seluruh tubuhnya dengan cepat ia mandi kemudian tidur lelap di kamarnya, ia
juga melewatkan makan malamnya, ia sangat lapar, tapi rasa ngantuknya mengalahkan
semuanya.
***
Julian dan Demitri
sedang asik main PS di kamar Demitri, mereka mengobrol dan sesekali Julian
membantu Demitri mengerjakan tugas kuliannya,
“Bang, kayaknya Ayuk
dah pulang tuh.” ucap Demitri tampah mengalihkan matanya pada layar televisi.
“Kok tahu?” Jawab Julian
yang masih sibuk dengan stik Ps-nya.
“Tuh, tidak ada yang mandi
malam-malam di rumah ini selain ayuk.” Jawab Demitri, Julian tampak mengangguk.
Pagi hari Julian dan
Demitri sudah terbangun dari tidurnya merka langsung menonton kartun tadi malam
Julian tidur di kamar Demitri, karena tidak mungkin ia tidur di kamar Anna
berdua dengan gadis itu, walau sebenarnya ia sangat ingin melakukanya.
“Anna bangun dah siang!”
teriak bu Rani sambil mengetok kamarnya tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Hampir sepuluh menit ibunya bereteriak memnbuat Demitri dan Julian tertawa,
Julian baru tahu jika Anna sekarang jadi pelamas?
“Sudah bu, biarkan saja.“
Pak Ahmad menenangkan.
“Gimana mau dapat
jodoh, bangun pagi aja malas!” teriak bu Rani sambil kembali ke dapur, tidak
berapa lama suara pintu terbuka.
Seorang gadis berdiri
di sana dengan tangtop warna hitam dan celana pendek sepaha berwarna coklat,
tambutnya tampak acak-acakan, matanya masih menyipit karena cahaya matahari
masuk dari balik jendelah ruangan tamu dan langsung menepa wajahnya.
“Bu ini baru jam
delapan!” teriak Anna dengan suara serak sambil mengaruk rambutnya yang tidak
gatal.
Julian tersenyum
melihat penampilan gadis itu tampak kacau, tapi juga seksi dan cantik.
“Ayuk tu, harusnya malu
kita lagi ada tamu.” Demitri mengingantkan menunjuk orang di sampingnya yang
sedang tersenyum. Gadis itu mengusap-usap matanya sebentar, berusaha
mempertajam penglihatanya melihat siap tamu yang datang.
“Nak Julian maaf ya,
jadi merusak pemandangan” pak Ahmad ikut mengejek Anna.
“Julian?” Guman Anna “Kenapa
kamu disini?!” Anna langsung melotot menatap laki-laki di hadapanya yang masih
duduk dengan adik kesayanganya, tampak Julian menilai dari atas sampai bawah
penampilan Anna dengan cepat wanita itu berlari kekamar ia segera menganti
pakaiannya.
Bahkan Julian bisa
mendengar Anna beberapa kali berteriak di kamarnya, membuat semua orang yang
ada di sana terkekeh termasuk Julian.
“Bu kok bisa Julian ada
di rumah ini?” Anna merengek.
“Julian sudah tiga
minggu tinggal di sini, ia sedang mengurus pekerjaan kantor.” Bu Rani
menjelaskan, Anna menarik napas dalam, ia sudah berusaha menghindari laki-laki
itu, kenapa tiba-tiba muncul, pasti Julian akan mengejeknya karena gagal
menikah.
__ADS_1
***