Anna & Dream

Anna & Dream
23. Apel With Love


__ADS_3

“Wil, bisa keruanganku


sekarang?” Julian kemudian menutup telponya.


“Ada yang bisa saya


bantu pak?” Wil masuk keruangn itu


“Kau ingat kejadian


waktu itu, saat kau bersama dua temanmu mengatakan aku mempunyai penyakit


menular dan gay?” Julian tampak tersenyum,


Wil langsung menelan


ludahnya, bagaimana bisa bosnya menginggat kejadian yang sudah lama itu dan


selama ini ia tidak pernah mengunggkitnya lagi. Julan mengangguk dengan cepat


saat melihat raut wajah Wil yang cukup terkejut.


“Aku bisa melaporkanmu


dengan tuduhan pencemaran nama baik.” Julian bersuara datar menatap Wil dengan


lekat-lekat memebuat wanita itu tidak bisa berkutik sedikitpun.


“Maaf pak, sebenarnya


apa yang bapak inginkan?” Wil tampak berkeringat aurah membunuh yang keluar


dari tubuh Julian memenuhi ruangan itu membuat Wil sulit bernapas.


“Mudah saja, berikan


aku alamat keluarga Anna.”


“Maaf pak saya tidak


bisa,” Wil ingat Anna memintanya untuk tidak memberikan informasi apapun pada


bosnya.


“Baikla kalau begitu,


kau, Jesika dan Anna tentunya akan menjadi burononan besok.” Julian mengambil ponsel-nya


dan berusaha mengubungi seseorang.


“Tunggu pak jangan,


saya akan memberitahu.” Mana mungkin Wil membiarkan dirinya dan kedua temanya


jadi buronan karena kesalahanya menjelekan bosnya.


Malam ini suasana


diapartemen cukup damai Julian mengunya apel di tanganya dia sibuk membacah


surat kontrak yang Melisa kirimkan dan semua informasi tentang Anna, gadis itu


harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya.


“Besedia di tempatkan


di seluruh wilayah Indonesia,” Julian tersenyum kemenangan “Aku mendapatkanmu.”


***


“Selamat siang pak


Sony, anda memanggil saya?” sorang wanita masuk keruangan.


“Masuk Anna, begini


perusahaan pusat memerlukanmu dan dalam empat bulan kedepan kau akan di


pindahkan di sana.”  Sony menjelaskan


“Tapi pak saya kan baru


disini, saya-”


“Tidak ada tapi-tapian


kamu ingat kamu sudah tanda tangan kontak dan kamu bersedia di tepatkan dimana


saja.” benar apa yang di katakan Sony, Anna tidak bisa menolak jika ia menolak


maka ia harus membayar denda ratusan juta.


“Perusahaan pusat telah


mengatur semuanya termasuk tempat tinggal kamu.” tambah Sony.


“Baik pak.” Jawab Anna


malas.


****


Hari ini Julian


melangkahkan kakinya tepak di depan rumah putih yang sederhana yang memiliki


halaman cukup luas dan suasana di sana masih tampak asri.


“Permisi,” Julian


mengetuk pintu kayu rumah itu, tampak seorang pria mudah berumur sekitar dua puluh


tahun membukakan pintu.


“Cari siapa bang?”


jawab Dimitri, Julian tersenyum ternya adik Anna sudah lupa padanya.


“Ibu dan bapak ada?”


belum sempat Demitri menjawab tiba-tiba seorang seorang wanita paru baya menghampirinya.


“Nak Julian, mari masuk.”


bu Rani tersenyum, Julian dengan cepat menyalami wanita paru baya itu lalu


mencium tanganya, “Sudah lama tidak bertemu, Demitri buatkan minuman untuk tamu


kita.” teriak bu Rani, tidak berapa lama Demitri datang dengan segelas sirop


melon

__ADS_1


“Minum bang,”


“Terimakasih.” Jawab


Julian lembut.


“Apa kabar keluargamu?” Julian menjelaskan


bahwa mereka semua baik, Julian tahu bu Rani sering berkomunikasi dengan Maria,


Rudy dan Lucy, tapi tidak dengan Julian karena laki-laki itu sibuk dengan


pekerjaanya, serta sibuk berusaha melupan Anna.


Julian juga menjelaskan


kedatangan ke Sumatra sedang dalam urusan bisnis, ia juga akan tinggal di sini


dalam beberapa bulan, jadi akan sering mampir.


Julian juga memberikan


bingkisan yang Maria titipkan, karena Julian memberitahu kedua orang tuanya,


kalau dia pergi ke Sumatra, jadi Mari menitipkan oleh-oleh pada Julian untuk


keluarga Anna.


“Bapak mana bu?” Julian


mencari Anna


“Sedang kerja, mungkin


sebentar lagi pulang, kamu sudah makan?” Bu Rani bertanya, Julian hanya


mengeleng sambil tersenyum.


“Sebentar ya ibu


siapkan dulu.” bu Rani segerah ke dapur,


“Tidak usah bu, jangan-”


“Sudah bang tidak


apa-apa, masakan ibu enak loh, bedah sama masakan ayuk Anna.” jelas Demitri.


Tampak susana di meja


makan itu cukup ramai, Bu Rani, Pak Ahmad dan Demitri mengajak Julian


bercengkrama dan sekali-kali bercanda Julian tampak mudah sekali akrab dengan


keluarga itu.


“Sudah malam nak


menginap di sini saja, lagian rawan malam begini di jalan.” pak Ahmad mengingatkan


.


“Tidak apa-apa pak saya


ke hotel saja.” Julian tersenyum lembut  berusaha menolak ajakan pak Ahmad, ia tidak


ingin merepotkan keluarga itu.


hotel, tinggal di sini saja,” Pak Ahmad memaksa begitu juga dengan bu Rani dan


Demitri, dengan terpaksa laki-laki itu menurut.


“Kamu tidur di kamar


Anna saja.” bu Rani menunjuk sebuah kamar yang berwarna unggu mudah.


“Tapi bu nanti Anna


tidur dimana?” Julian bertanya, apa mungkin mereka akan tidur berdua, dalam


hati Julian tersenyum.


“Anna ngekos tidak jauh


dari kantornya, karena kendaraan disini agak jarang, ia juga tidak berani bawah


motor takut jatuh katanya, awal kerja Anna sering telat, makanya anak itu


memilih ngekos bareng teman-temanya, tapi tiap akhir pekan dia pulang.” Bu Rani


menjelaskan.


Julian memasuki kamar


itu sederhana tapi rapi, tampak di deretan lemari kayu berjajar kumpulan novel


dan komik dan terdapat sebuah poto Anna berukuran sedang dalam salah satu


bingkai poto, Julian mengambilnya.


“Kau tau aku sekarang


di kamarmu?” Julian menyerangai.


***


Anna kembali sibuk


dengan urusan kantornya, tampak tugas-tugasnya sedang di kejar detline.


“Anna ke kantin yuk” Ajak


Novi teman satu kantor Anna.


“Maaf Nov, kamu duluan


aja, aku harus ngerjain ini, masih banyak.” Anna menunjuk tumpukan berkas di


mejanya yang tampak menggunung, Novi mengangguk benar tugas Anna sangat banyak,


ia harus mengerjakan semuanya sebelum ia pindah ke perusahaan pusat bulan depan


dan karena itu Anna sudah tiga minggu tidak pulang kerumah.


Anna mengambil ponselnya


saat ponsel itu tidak berhenti berbunyi dari tadi hingga menganggu


konsentrasinya dalam bekerja.


“Assalmu’alaikum bu,”

__ADS_1


“...”


“Iya bu aku pulang malam


ini.” gadis itu segera menutup ponselnya, bagaimanapun ia harus pulang ia juga


harus mempersiapkan pakaian yang akan di bawah ke Jakarta nanti, selain itu


ibunya terus mendesaknya untuk pulang karena sudah sangat merindukannya.


Malam itu juga Anna


tiba di rumah saat jam delapan malam perjalan kantor ke rumahnya sebenarnya


hanya berjarak tiga jam tepi karena kendarann yang agak susah jadi Anna


memutuskan untuk ngekos di dekat kantornya.


Rasa capek menyerang


seluruh tubuhnya dengan cepat ia mandi kemudian tidur lelap di kamarnya, ia


juga melewatkan makan malamnya, ia sangat lapar, tapi rasa ngantuknya mengalahkan


semuanya.


***


Julian dan Demitri


sedang asik main PS di kamar Demitri, mereka mengobrol dan sesekali Julian


membantu Demitri mengerjakan tugas kuliannya,


“Bang, kayaknya Ayuk


dah pulang tuh.” ucap Demitri tampah mengalihkan matanya pada layar televisi.


“Kok tahu?” Jawab Julian


yang masih sibuk dengan stik Ps-nya.


“Tuh, tidak ada yang mandi


malam-malam di rumah ini selain ayuk.” Jawab Demitri, Julian tampak mengangguk.


Pagi hari Julian dan


Demitri sudah terbangun dari tidurnya merka langsung menonton kartun tadi malam


Julian tidur di kamar Demitri, karena tidak mungkin ia tidur di kamar Anna


berdua dengan gadis itu, walau sebenarnya ia sangat ingin melakukanya.


“Anna bangun dah siang!”


teriak bu Rani sambil mengetok kamarnya tapi tidak ada jawaban dari dalam.


Hampir sepuluh menit ibunya bereteriak memnbuat Demitri dan Julian tertawa,


Julian baru tahu jika Anna sekarang jadi pelamas?


“Sudah bu, biarkan saja.“


Pak Ahmad menenangkan.


“Gimana mau dapat


jodoh, bangun pagi aja malas!” teriak bu Rani sambil kembali ke dapur, tidak


berapa lama suara pintu terbuka.


Seorang gadis berdiri


di sana dengan tangtop warna hitam dan celana pendek sepaha berwarna coklat,


tambutnya tampak acak-acakan, matanya masih menyipit karena cahaya matahari


masuk dari balik jendelah ruangan tamu dan langsung menepa wajahnya.


“Bu ini baru jam


delapan!” teriak Anna dengan suara serak sambil mengaruk rambutnya yang tidak


gatal.


Julian tersenyum


melihat penampilan gadis itu tampak kacau, tapi juga seksi dan cantik.


“Ayuk tu, harusnya malu


kita lagi ada tamu.” Demitri mengingantkan menunjuk orang di sampingnya yang


sedang tersenyum. Gadis itu mengusap-usap matanya sebentar, berusaha


mempertajam penglihatanya melihat siap tamu yang datang.


“Nak Julian maaf ya,


jadi merusak pemandangan” pak Ahmad ikut mengejek Anna.


“Julian?” Guman Anna “Kenapa


kamu disini?!” Anna langsung melotot menatap laki-laki di hadapanya yang masih


duduk dengan adik kesayanganya, tampak Julian menilai dari atas sampai bawah


penampilan Anna dengan cepat wanita itu berlari kekamar ia segera menganti


pakaiannya.


Bahkan Julian bisa


mendengar Anna beberapa kali berteriak di kamarnya, membuat semua orang yang


ada di sana terkekeh termasuk Julian.


“Bu kok bisa Julian ada


di rumah ini?” Anna merengek.


“Julian sudah tiga


minggu tinggal di sini, ia sedang mengurus pekerjaan kantor.” Bu Rani


menjelaskan, Anna menarik napas dalam, ia sudah berusaha menghindari laki-laki


itu, kenapa tiba-tiba muncul, pasti Julian akan mengejeknya karena gagal


menikah.

__ADS_1


***


__ADS_2