
Anna mengusap keringat yang
membasahi keningnya, mimpi itu datang lagi, masih sama terasa nyata dan menyakitkan.
Ia melihat jam dinding, sekarang baru jam tiga pagi.
“Bahkan, waktunya juga sama.”
Anna bergumam.
Sudah hampir satu bulan
ini ia terbagun di jam yang sama karena mimpi itu, mimpi yang membuatnya meresakan
sebuah kehilangan akan orang-orang yang ia sayangi.
Anna mengambil gelas dan
mengisinya dengan air putih, itu sedikit membantu saat air itu membilas tenggorokanya.
Perlahan tangan mungil itu
mengapai buku coklat berwarnah tanah pada pinggir sampulnya sudah di makan rayap.
Sudah dua tahun ia tidak pernah lagi membaca buku ini, begitu juga mimpi itu, tapi
entah mengapa mimpi itu hadir lagi dalam tidurnya. Membuatnya sangat lelah. Meski
Anna berusaha keras untuk melupakan semua itu.
***
Sekarang tidak sama seperti
dulu, Anna bukan lagi seorang mahasiswa, ia sudah bekerja dan ia tidak ada waktu
untuk menaggapi mimpi itu lagi.
Anna hanya hanya mencoba
untuk fokus dalam pekerjaannya, Anna ingin kembali pada kehidupan nyatanya, bukan
terbuai oleh mimpi itu lagi.
__ADS_1
Anna membuka laptopnya mencobah
mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya yang masih belum ia selesaikan. Bahkah
sekarang sudah menunjukan pukul lima pagi, ia masih fokus dengan pekerjaanya.
“Anna,” suarah itu membuat
Anna menoleh.
“Xiang, sudah bangun?” Xiang
hanya mengangguk lemah, matanya masih sangat mengantuk. Xiang mengambil tempat duduk
di samping sahabatnya itu, ia sedikit terkejut saat meliha buku berwarna coklat
mirip tanah dan sampulnya sudah di makan rayap.
“Jangan baca buku ini lagi,
ini sangat menyeramkan.” Dengan cepat Xiang melempar buku itu ke dalam kardus tempat
diatas tumpukan kertas yang tidak mereka gunakan lagi.
membaca buku itu, besoknya Xiang dan sahabatnya yang lain hampir kehilangan Anna.
Mereka bahkan berpikir jika Anna mati. Xiang sangat yakin itu semua karena buku
itu!
“Ayolah, itu hanya buku.”
Anna memperingatkan sahabatnya yang selalu berpikir buruk dengan Buku itu. Menang dianta Jesika dan Wil, hanya Xiang yang
terlihat selalu takut jika melihat buku itu, bahkan Xiang selalu menjadi bahan ejekan
Jesika karena takut pada buku itu.
“Anna aku mohon jangan memulainya
lagi, aku tidak suka!” Xiang memperingatkan ia tidak ingin hal buruk terjadi pada
Anna. “Jika kau membaca buku itu lagi, aku akan membakarnya!” kali ini Xiang tidak
__ADS_1
main-main dengan ucapannya.
Anna hanya tersenyum, ia
tahu Xiang bukan tipe orang yang seperti itu. “Kau lebih menakutkan dari pada buku
itu sekarang.” Anna bahkan terkekeh, mendengar ancaman Xiang.
Ia segera menghampiri sahabatnya
itu lalu memeluknya, dan meyakinkan Xiang bahwa semuanya akan baik-abaik saja.
“Bagaimana jika sekarang
kita joging?” bisik Anna,
Xiang tersenyum, ia sangat
setujuh dengan ide sahabatnya ini, memang ia tahu Anna sering melakukanya, walau
ia sendiri hanya sesekali mengikuti Anna tapi saat bersama mereka selalu merasaan
senang.
“Aku akan ke toilet dulu.”
Balas Xiang,
Sudah hampir lima belas
menit tapi Xiang tidak muncul juga. Sepertinya kebiasaa akut yang Xiang pelihara
memang sulit untuk sembuh.
“Xiang! Ayo, kita akan terlambat.”
Anna berusaha membangunkan sahabtnya itu, karena ia yakin Xiang pasti tertidur lagi
di toilet.
Anna tidak suka melakukan joging saat matahari sudah
tinggi, karena ia tidak terlalu suka keramaian.
__ADS_1