
Lucy
:“Hallo kak.”
Julian : “Ada apa?”
Lucy
:“Kak aku, akan ujian mulai besok.”
Julian :“Terus?”
Lucy
:“Aku mau minta tolong, kakak tolong jaga Anna di rumah sakit selama aku ujian,
aku sudah bilang pada Anna kalau kakak akan menggantikan aku selama aku ujian.”
Julian : “Apa?”
Lucy
: “Terimakasih kak.”
Julian : “Tapi aku,
tidak mau Lucy.”
Lucy : “.......”
Julian :“Lucy apa kau
disana?”
Lucy : “....”
Julian : “Sial, sudah
di matikan.”
Lucy “Nomer yang anda tujuh sedang tidak aktip-“
Tampak Julian sedang kesal setelah
menerima telpon dari adiknya.
“Sial, Lucy selalu bisa
memaksaku.” gumanya. hari ini tepat seminggu Julian tidak pernah bertemu Anna,
ia benar-benar melupakan gadis itu, ia telah bertekekat dalam hatinya.
Dengan berat hati Julian mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, jam
di tanganya sudah menunjukan angkah delapan, sesampainya di rumah sakit, ia
membuka pintu kamar tempat Anna di rawat, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa di
sana, ia mencobah mencari di semua sudut kamar tapi tidak menemukan gadis itu,
tampak raut cemas terpancar di wajahnya, ia segerah berlari.
“Suster pasien yang
dirawat di kamar itu kemana?”
“Nona Anna sedang ke
taman pak.”
“Terimakasih.” ucap
Julian lalu berlari menuju taman “Tapi
bagaimana bisa mereka membiarkan Anna ke taman sendirian di malam hari, gadis
itu sedang sakit.” Pikir Julian.
***
]Seorang wanita lengkap
dengan pakaian rumah sakit, duduk di salah satu kursih taman, ia memandang
langit, menatap bintang yang berkerlap kerlip di sana.
Melihat orang yang ia
cari berada disana membuat Julian bernapas lega laki-laki itu langsung duduk di
sebelah Anna. Gadis itu segera menoleh melihat Julian.
“Ada apa?” Anna
bertanya melihat laki-laki di sampingnya terlihat kesal, keningnya tampak
berkeringat, ia sedang berusaha mengatur napas.
“Aku lapar.“ jawab Julian asal dan berusaha mengatur napasnya
agar kembali normal. Julian terdiam setelah menjawab asal, tiba-tiba bibir
laki-laki itu menarik garis di sudut bibirnya, ia merasa tindakannya bodoh
karena mengkhawatirkan gadis yang duduk di sampingnya.
“Apa?” Anna menaikan
sebelah alisnya, membuat Julian kembali ke alam sadarnya.
“Tidak-tidak ada
apa-apa.” Julian mengarahkan pandanganya ke atas mengikuti arah pandang Anaa tadi,
ia menatap bintang di langit sambil diam.Mereka sama-sama mengunci mulutnya dan
lebih memilih melihat bintang-bintang itu.
“Jack.” gumam Anna pelan, tapi mampu di dengar Julian. Sunggu
sosok Julian sangat mirip dengan Jack, laki-laki yang pertama membuat hatinya
sakit jika mengingat kematian laki-laki itu hanya untuk melindunginya.
“Siapa?”
“Bukan siapa-siapa? Ayo
ke kamar bukankah kau bilang lapar?”
Seberapa keraspun Anna
mencobah melupakan mimpi itu tatap tidak bisa apa lagi sekarang sosok Julian
dan Lucy membuat Anna harus teringat akan mimpi buruk itu.
Anna berdiri dari
bangkuhnya, tapi seseorang langsung memenang tanganya, tangan itu sangat hangat
dan lembut, membuat darah Anna berdesir karena sentuhan itu.
“Duduklah, sebentar aku
sangat lelah.” Julian menjelaskan, gadis itu seakan tersihir dan langsung
menurut atas apa yang di perintahkan Julian untuk duduk kembali di sampingnya.
“Kau suka bintang
Anna?” Anna megangguk dua kali, ia sangat menyukai bintang-bintang itu.
“Ya, kau sendiri?”
“Aku menyukainya, itu membuatku
terasa nyaman.” jawab Julian jujur.
Hampir satu jam mereka
menatap bintang di langit, dengan diam mereka hanyut dalam pikiran
masing-masing. Anna saat ini sungguh ingin mimpi itu datang lagi dan jika itu
terjadi gadis itu berjanji akan menyelamatkan semua orang disana, karena Anna
merindukan mereka semua, Robert, Lian, Lily dan Jack.
Lamunan Anna terhenti
__ADS_1
saat sebuah suara khas yang berasal dari usus yang berteriak memebuat Anna
langsung menoleh pada sosok di sampingnya, tampak laki-laki iru tersenyum malu
membuat Anna tertawa.
“Kau benar-benar lapar.”
***
“Aku akan memesan
makanan, kamu mau pesan apa?”
Anna tidak menjawab pertanyaan
Julian, gadis itu memilih mengambil dua
buah Apel dan dua botol air mineral dari kulkas, ia meletakanya diatas meja, Julian
memperhatikan wanita yang sedang duduk pada sopa di sampingnya.
“Ini untuk mu.” Anna
menyodorkan buah apel merah yang sangat mengodah selera.
“Terimakasih.” Jawab Julian
lalu menerima apel itu.
Gadis di sampingnya
tampak sedang mengigit apel merah di tanganya, Julian memperhatikan cara makan
gadis itu serta bibir gadis itu yang merah dan basah karena kandungan air dalam
buah itu, sedetik kemudian jantungnya berdegup kencang, rasanya ia ingin lari
dari kamar itu.
“Kau tidak suka apel?”
Anna bertanya sambil mengunya apelnya.
“Aku, aku suka.” Julian
langsung mengigit apelnya.
“Jika kau masih lapar,
di kulkas masih banyak, tadi Xiang membawa banyak untuk ku, kau boleh
memakannya sepuas mu.” Anna menjelaskan sambil beranjak pergi ke tempat
tidurnya. Laki-laki itu mengangguk cepat, berusaha menguasi dirinya.
Gadis itu sudah terlelap
di tempat tidurnya, tangan kirinya memeluk buku coklat berwarna coklat, tampak
bekas gigitan rayap di tepih bawahnya.
Julian berjalan perlahan
mendekati Anna, ia sekarang berdiri di samping tempat tidur Anna, tangan Julian
mencobah mengambil buku di tangan Anna, ia bermaksud meletakkan buku itu di
atas nakas tempat biasa Anna meletakan tumpukan novel dan komiknya.
“Jack.“ gadis itu
berguman masih menutup matanya.
“Jack, siapa Jack?” suara
julian lirih
Pria itu masih berusaha
mengambil buku itu dengan hati-hati agar tidak membangun Anna, ia tidak mau
menganggu tidur gadis itu, tapi tanpa ia sadari si pemilik sudah membuka
matanya.
suara Anna membuat laki-laki itu terkejut.
“Aku, aku tidak
melakukan apa-apa, aku, aku hanya ingin meletakan buku itu di atas nakas, hanya
itu saja.” jawab Julian jujur, gadis itu langsung bangkit dan meletakan buku
coklat itu diatas nakas.
“Lagi pula aku pernah
mendengar, kau berkata jika aku gay dan mempunyai penyakit menunar yang parah,
jadi aku tidak akan menyetuh mu.” jawab Julian sinis kemudian berdiri melangkah
meninggalkan Anna.
Julian berusaha
menguasai dirinya, agar tidak terlihat gugup di hadapan Anna, walau sebenarnya
laki-laki masih kesal atas penyataan Anna dan teman-temanya seminggu lalu.
“Tunggu.” Julian
memberhentikan langkahnya, lalu berkata “Ada apa?”
“Dudukla, ada yang ingin
aku bicarakan.” Anna mengepal tanganya karena sedikit gugu
“Apa?”
laki-laki itu terlihat kesal.
“Julian
aku mohon duduklah,” Anna memohon dengan
tatapan yang
membuat Julian tidak bisa menolak permintaan gadis itu.
Laki-laki itu melangkah
mendekati Anna kemudian duduk di tempat tidur Anna. Julian menatap Anna sambil
menaikan alisnya saat melihat wajah gadis itu yang sedikit gugup.
Anna terkejut saat
laki-laki itu tiba-tiba duduk di tempat tidur perawatanya, sebenarnya Anna
meminta Julian untuk duduk di kursihnya bukan di sampingnya dan dengan jarak
yang cukup dekat pula. Tapi bukanya tadi
ia yang memintah Julian untuk duduk, sepertinya Julian salah mengartikan permintaanya. Anna menepis dengan cepat
perasaan gugupnya, bagaimanapun juga ia harus meminta maaf.
“Maaf,” Anna berucap
pelan kemudian menarik napas dalam “Aku
minta maaf atas kejadia waktu itu, kami tidak bermasud membicarakanmu.”
“Tapi kalian
membicarakanku.” jawab Julian tidak mau kalah.
“Maafkan aku, maksudku
maafkan kami semua,”
“Hanya itu?” jawab Julian
“Iya, aku minta maaf,
sungguh aku minta maaf.” Julian menatap gadis di sampingnya yang tampak memelas
dan menyesal.
__ADS_1
Anna berharap agar
Julian bersedia memaafkanya dan teman-temanya terutama Wil sahabatnya, ia tidak
mau obroral tentang Julian membuat sahabatnya itu harus kehilangan pekerjaan
yang sudah Wil pertahankan, selain itu Anna tahu bagaimanaWil bekerja dengan
keras untuk perusahaaan itu.
“Apakah kau percayah
aku mempunyai penyakit melunar dan gay?”
“Apa? Maaf maksudku aku
tidak percaya kau sakit dan gay.” jawab Anna cepat tanpa berpikir.
“Bagaimana kau tau?”
Julian menyelidik
“Aku,, aku-” gadis itu
terlihat binggung, Anna memejamkan matanya dan berpikir sebentar ia takut
jawabanya akan membuat Julian tambah marah atau tersinggung, yang akan
berdampak buruk untuk Wil nantinya.
“Aku hanya yakiempm-”
Belum sempati melanjutkan kalimatnya bibir Julian
sudah melumat bibir Anna dengan lembut, seketika jangtung Anna berdegup
kencang, badanya membeku, ia tidak bisa mengerakan badanya, ia ingin mendorong
Julian menjauh tapi tidak bisa, bibirnya malah membalas lumatan bibir Julian.
Tampak kedua bibir itu
tidak mau terlepas satu sama lain, mereka memberhentikan ciumanya karena hampir
kehabisan napas, membuat keduanya tersengal-sengal.
Kedua muka mereka
tampak memerah, Anna masih tidak percaya apa yang baruh saja terjadi, ia bahkan
tidak pernah berciuman seperti itu dengan tunangannya, sedangkan Julian adalah laki-laki
yang baru ia temui.
“Sekarang kau percaya
aku bukan gay? Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu.” Julian tersenyum puas,
jarinya mengelap bibirnya yang basah. Anna hanya tertunduk mendengar ucapan
laki-laki yang mengambil ciuman pertamnya.
Julian beranjak dari
tempat duduknya sambil tersenyum kemenangan, karena setelah ini mungkin Anna
akan berpikir dua kali untuk mengatakan bahwa Julian penyuka sesama jenis. Laki-laki
itu memberhentikan langkahnya mendengar ucapan Anna.
“Kau berengsek!”
“Apa itu, yang
pertama?” Julian tampak binggung, gadis itu mulai meneteskan airmatanya dan
Julian tahu apa arti reaksi seperti apa itu.
***
“Oh
tuhan aku telah melakukan kesalahan besar,”gumannya dalam
hati, “Bagaimana mungkin ia sudah
bertunangan tapi tidak pernah melakukan itu, sial!” pikirnya
“Maafkan aku Anna.” Laki-laki
itu mencobah mendekat ia benar-benar merasah bersalah karena telah mencium
gadis itu tanpa izin sungguh Julian
tidak berpikir kalau ini akan membuat Anna sedih karena ia telah mengambil
ciuman pertamanya.
“Pergi aku sangat
membencimu!”
Julian segera melangkakan kakinya ke tempat tidur Anna tanpa
memperdulikan perkataan Anna yang mengusirnya, sebenarnya ia binggung harus
melakukan apa, tanpa pikir panjang ia segera memeluk Anna.
“Lepaskan!”
gadis itu berontak, memukul dada Julian, tapi laki-laki itu sangat kuat. Tiba-tiba
Anna merasakan sakit yang menjalar pada punggung kananya membuat gadis itu
semakin meneteskan air matanya saat dia berusaha menjorong Julian, laki-laki
itu tidak bergerak sedikitpun.
“Maafkan aku, aku tidak
bermaksud, aku benar-benar tidak tahu.” bisik suara lembut dengan penuh sesal.
“Kau berengsek, aku
membencimu.” tampak gadis itu menangis terseduh-seduh .
“Maafkan aku” bisiknya
Julian benar-benar merasa bersalah.
“Apakah jika kau tahu,
kau tidak akan melakukannya ha?!”
Julian hanya diam tidak
menjawab pertanyaan Anna ia tidak tahu apa ia akan bisa menahan dirinya untuk
tidak mencium gadis itu walau ia tahu gadis itu belum pernah berciuman?
Julian masih memeluk
gadis yang terus berontak, entah mengapa ia merasa nyaman memeluk gadis ini. Julian
sadar ia telah berbuat tidak sopan pada gadis ini.
“Lepaskan aku, aku
mohon, punggungku sakit.” suara Anna liri.
Seketika Julian
melepaskan pelukanya, ia masih menatap gadis didepanya yang masih tertunduk
sambil menangis.
Laki-laki itu memutuskan untuk keluar dari
kamar itu memberikan waktu untuk Anna sendiri, selain itu ia juga perlu waktu
untuk menenangkan jantungnya yang dari tadi berdetak tidak normal.
Saat ia kembali gadis
itu sudah tertidur, terlihat jelas bekas air mata di pipinya, laki-laki itu
mengusap pipi Anna dengan lembut, bagaimanapun gadis itu menangis karena dia.
“Tapi mengapa Anna membalas ciuman tadi?”
__ADS_1