Anna & Dream

Anna & Dream
10. Apel With Love


__ADS_3

Lucy


:“Hallo kak.”


Julian : “Ada apa?”


Lucy


:“Kak aku, akan ujian mulai besok.”


Julian :“Terus?”


Lucy


:“Aku mau minta tolong, kakak tolong jaga Anna di rumah sakit selama aku ujian,


aku sudah bilang pada Anna kalau kakak akan menggantikan aku selama aku ujian.”


Julian : “Apa?”


Lucy


: “Terimakasih kak.”


Julian : “Tapi aku,


tidak mau Lucy.”


Lucy : “.......”


Julian :“Lucy apa kau


disana?”


Lucy  : “....”


Julian : “Sial, sudah


di matikan.”


Lucy “Nomer yang anda tujuh sedang tidak aktip-“


Tampak Julian sedang kesal setelah


menerima telpon dari adiknya.


“Sial, Lucy selalu bisa


memaksaku.” gumanya. hari ini tepat seminggu Julian tidak pernah bertemu Anna,


ia benar-benar melupakan gadis itu, ia telah bertekekat dalam hatinya.


Dengan berat hati Julian  mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, jam


di tanganya sudah menunjukan angkah delapan, sesampainya di rumah sakit, ia


membuka pintu kamar tempat Anna di rawat, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa di


sana, ia mencobah mencari di semua sudut kamar tapi tidak menemukan gadis itu,


tampak raut cemas terpancar di wajahnya, ia segerah berlari.


“Suster pasien yang


dirawat di kamar itu kemana?”


“Nona Anna sedang ke


taman  pak.”


“Terimakasih.” ucap


Julian lalu berlari menuju taman “Tapi


bagaimana bisa mereka membiarkan Anna ke taman sendirian di malam hari, gadis


itu sedang sakit.” Pikir Julian.


***


]Seorang wanita lengkap


dengan pakaian rumah sakit, duduk di salah satu kursih taman, ia memandang


langit, menatap bintang yang berkerlap kerlip di sana.


Melihat orang yang ia


cari berada disana membuat Julian bernapas lega laki-laki itu langsung duduk di


sebelah Anna. Gadis itu segera menoleh melihat Julian.


“Ada apa?” Anna


bertanya melihat laki-laki di sampingnya terlihat kesal, keningnya tampak


berkeringat, ia sedang berusaha mengatur napas.


“Aku lapar.“  jawab Julian asal dan berusaha mengatur napasnya


agar kembali normal. Julian terdiam setelah menjawab asal, tiba-tiba bibir


laki-laki itu menarik garis di sudut bibirnya, ia merasa tindakannya bodoh


karena mengkhawatirkan gadis yang duduk di sampingnya.


“Apa?” Anna menaikan


sebelah alisnya, membuat Julian kembali ke alam sadarnya.


“Tidak-tidak ada


apa-apa.” Julian mengarahkan pandanganya ke atas mengikuti arah pandang Anaa tadi,


ia menatap bintang di langit sambil diam.Mereka sama-sama mengunci mulutnya dan


lebih memilih melihat bintang-bintang itu.


 “Jack.” gumam Anna  pelan, tapi mampu di dengar Julian. Sunggu


sosok Julian sangat mirip dengan Jack, laki-laki yang pertama membuat hatinya


sakit jika mengingat kematian laki-laki itu hanya untuk melindunginya.


“Siapa?”


“Bukan siapa-siapa? Ayo


ke kamar bukankah kau bilang lapar?”


Seberapa keraspun Anna


mencobah melupakan mimpi itu tatap tidak bisa apa lagi sekarang sosok Julian


dan Lucy membuat Anna harus teringat akan mimpi buruk itu.


Anna berdiri dari


bangkuhnya, tapi seseorang langsung memenang tanganya, tangan itu sangat hangat


dan lembut, membuat darah Anna berdesir karena sentuhan itu.


“Duduklah, sebentar aku


sangat lelah.” Julian menjelaskan, gadis itu seakan tersihir dan langsung


menurut atas apa yang di perintahkan Julian untuk duduk kembali di sampingnya.


“Kau suka bintang


Anna?” Anna megangguk dua kali, ia sangat menyukai bintang-bintang itu.


“Ya, kau sendiri?”


“Aku menyukainya, itu membuatku


terasa nyaman.” jawab Julian jujur.


Hampir satu jam mereka


menatap bintang di langit, dengan diam mereka hanyut dalam pikiran


masing-masing. Anna saat ini sungguh ingin mimpi itu datang lagi dan jika itu


terjadi gadis itu berjanji akan menyelamatkan semua orang disana, karena Anna


merindukan mereka semua, Robert, Lian, Lily dan Jack.


Lamunan Anna terhenti

__ADS_1


saat sebuah suara khas yang berasal dari usus yang berteriak memebuat Anna


langsung menoleh pada sosok di sampingnya, tampak laki-laki iru tersenyum malu


membuat Anna tertawa.


“Kau benar-benar lapar.”


***


“Aku akan memesan


makanan, kamu mau pesan apa?”


Anna tidak menjawab pertanyaan


Julian, gadis itu memilih mengambil  dua


buah Apel dan dua botol air mineral dari kulkas, ia meletakanya diatas meja, Julian


memperhatikan wanita yang sedang duduk pada sopa di sampingnya.


“Ini untuk mu.” Anna


menyodorkan buah apel merah yang sangat mengodah selera.


“Terimakasih.” Jawab Julian


lalu menerima apel itu.


Gadis di sampingnya


tampak sedang mengigit apel merah di tanganya, Julian memperhatikan cara makan


gadis itu serta bibir gadis itu yang merah dan basah karena kandungan air dalam


buah itu, sedetik kemudian jantungnya berdegup kencang, rasanya ia ingin lari


dari kamar itu.


“Kau tidak suka apel?”


Anna bertanya sambil mengunya apelnya.


“Aku, aku suka.” Julian


langsung mengigit apelnya.


“Jika kau masih lapar,


di kulkas masih banyak, tadi Xiang membawa banyak untuk ku, kau boleh


memakannya sepuas mu.” Anna menjelaskan sambil beranjak pergi ke tempat


tidurnya. Laki-laki itu mengangguk cepat, berusaha menguasi dirinya.


Gadis itu sudah terlelap


di tempat tidurnya, tangan kirinya memeluk buku coklat berwarna coklat, tampak


bekas gigitan rayap di tepih bawahnya.


Julian berjalan perlahan


mendekati Anna, ia sekarang berdiri di samping tempat tidur Anna, tangan Julian


mencobah mengambil buku di tangan Anna, ia bermaksud meletakkan buku itu di


atas nakas tempat biasa Anna meletakan tumpukan novel dan komiknya.


“Jack.“ gadis itu


berguman masih menutup matanya.


“Jack, siapa Jack?” suara


julian lirih


Pria itu masih berusaha


mengambil buku itu dengan hati-hati agar tidak membangun Anna, ia tidak mau


menganggu tidur gadis itu, tapi tanpa ia sadari si pemilik sudah membuka


matanya.


suara Anna membuat laki-laki itu terkejut.


“Aku, aku tidak


melakukan apa-apa, aku, aku hanya ingin meletakan buku itu di atas nakas, hanya


itu saja.” jawab Julian jujur, gadis itu langsung bangkit dan meletakan buku


coklat itu diatas nakas.


“Lagi pula aku pernah


mendengar, kau berkata jika aku gay dan mempunyai penyakit menunar yang parah,


jadi aku tidak akan menyetuh mu.” jawab Julian sinis kemudian berdiri melangkah


meninggalkan Anna.


Julian berusaha


menguasai dirinya, agar tidak terlihat gugup di hadapan Anna, walau sebenarnya


laki-laki masih kesal atas penyataan Anna dan teman-temanya seminggu lalu.


“Tunggu.” Julian


memberhentikan langkahnya, lalu berkata “Ada apa?”


“Dudukla, ada yang ingin


aku bicarakan.” Anna mengepal tanganya karena sedikit gugu


“Apa?”


laki-laki itu terlihat kesal.


“Julian


aku mohon duduklah,”  Anna memohon dengan


tatapan yang


membuat Julian tidak  bisa menolak permintaan gadis itu.


Laki-laki itu melangkah


mendekati Anna kemudian duduk di tempat tidur Anna. Julian menatap Anna sambil


menaikan alisnya saat melihat wajah gadis itu yang sedikit gugup.


Anna terkejut saat


laki-laki itu tiba-tiba duduk di tempat tidur perawatanya, sebenarnya Anna


meminta Julian untuk duduk di kursihnya bukan di sampingnya dan dengan jarak


yang cukup dekat pula.  Tapi bukanya tadi


ia yang memintah Julian untuk duduk, sepertinya  Julian salah mengartikan permintaanya. Anna menepis dengan cepat


perasaan gugupnya, bagaimanapun juga ia harus meminta maaf.


“Maaf,” Anna berucap


pelan kemudian menarik napas dalam  “Aku


minta maaf atas kejadia waktu itu, kami tidak bermasud membicarakanmu.”


“Tapi kalian


membicarakanku.” jawab Julian tidak mau kalah.


“Maafkan aku, maksudku


maafkan kami semua,”


“Hanya itu?” jawab Julian


“Iya, aku minta maaf,


sungguh aku minta maaf.” Julian menatap gadis di sampingnya yang tampak memelas


dan menyesal.

__ADS_1


Anna berharap agar


Julian bersedia memaafkanya dan teman-temanya terutama Wil sahabatnya, ia tidak


mau obroral tentang Julian membuat sahabatnya itu harus kehilangan pekerjaan


yang sudah Wil pertahankan, selain itu Anna tahu bagaimanaWil bekerja dengan


keras untuk perusahaaan itu.


“Apakah kau percayah


aku mempunyai penyakit melunar dan gay?”


“Apa? Maaf maksudku aku


tidak percaya kau sakit dan gay.” jawab Anna cepat tanpa berpikir.


“Bagaimana kau tau?”


Julian menyelidik


“Aku,, aku-” gadis itu


terlihat binggung, Anna memejamkan matanya dan berpikir sebentar ia takut


jawabanya akan membuat Julian tambah marah atau tersinggung, yang akan


berdampak buruk untuk Wil nantinya.


“Aku hanya yakiempm-”


Belum  sempati melanjutkan kalimatnya bibir Julian


sudah melumat bibir Anna dengan lembut, seketika jangtung Anna berdegup


kencang, badanya membeku, ia tidak bisa mengerakan badanya, ia ingin mendorong


Julian menjauh tapi tidak bisa, bibirnya malah membalas lumatan bibir Julian.


Tampak kedua bibir itu


tidak mau terlepas satu sama lain, mereka memberhentikan ciumanya karena hampir


kehabisan napas, membuat keduanya tersengal-sengal.


Kedua muka mereka


tampak memerah, Anna masih tidak percaya apa yang baruh saja terjadi, ia bahkan


tidak pernah berciuman seperti itu dengan tunangannya, sedangkan Julian adalah laki-laki


yang baru ia temui.


“Sekarang kau percaya


aku bukan gay? Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu.” Julian tersenyum puas,


jarinya mengelap bibirnya yang basah. Anna hanya tertunduk mendengar ucapan


laki-laki yang mengambil ciuman pertamnya.


Julian beranjak dari


tempat duduknya sambil tersenyum kemenangan, karena setelah ini mungkin Anna


akan berpikir dua kali untuk mengatakan bahwa Julian penyuka sesama jenis. Laki-laki


itu memberhentikan langkahnya mendengar ucapan Anna.


“Kau berengsek!”


“Apa itu, yang


pertama?” Julian tampak binggung, gadis itu mulai meneteskan airmatanya dan


Julian tahu apa arti reaksi seperti apa itu.


***


“Oh


tuhan aku telah melakukan kesalahan besar,”gumannya dalam


hati, “Bagaimana mungkin ia sudah


bertunangan tapi tidak pernah melakukan itu, sial!” pikirnya


“Maafkan aku Anna.” Laki-laki


itu mencobah mendekat ia benar-benar merasah bersalah karena telah mencium


gadis itu tanpa izin  sungguh Julian


tidak berpikir kalau ini akan membuat Anna sedih karena ia telah mengambil


ciuman pertamanya.


“Pergi aku sangat


membencimu!”


Julian segera melangkakan  kakinya ke tempat tidur Anna tanpa


memperdulikan perkataan Anna yang mengusirnya, sebenarnya ia binggung harus


melakukan apa, tanpa pikir panjang ia segera memeluk Anna.


“Lepaskan!”


gadis itu berontak, memukul dada Julian, tapi laki-laki itu sangat kuat. Tiba-tiba


Anna merasakan sakit yang menjalar pada punggung kananya membuat gadis itu


semakin meneteskan air matanya saat dia berusaha menjorong Julian, laki-laki


itu tidak bergerak sedikitpun.


“Maafkan aku, aku tidak


bermaksud, aku benar-benar tidak tahu.” bisik suara lembut dengan penuh sesal.


“Kau berengsek, aku


membencimu.” tampak gadis itu menangis terseduh-seduh .


“Maafkan aku” bisiknya


Julian benar-benar merasa bersalah.


“Apakah jika kau tahu,


kau tidak akan melakukannya ha?!”


Julian hanya diam tidak


menjawab pertanyaan Anna ia tidak tahu apa ia akan bisa menahan dirinya untuk


tidak mencium gadis itu walau ia tahu gadis itu belum pernah berciuman?


Julian masih memeluk


gadis yang terus berontak, entah mengapa ia merasa nyaman memeluk gadis ini. Julian


sadar ia telah berbuat tidak sopan pada gadis ini.


“Lepaskan aku, aku


mohon, punggungku sakit.” suara Anna liri.


Seketika Julian


melepaskan pelukanya, ia masih menatap gadis didepanya yang masih tertunduk


sambil menangis.


 Laki-laki itu memutuskan untuk keluar dari


kamar itu memberikan waktu untuk Anna sendiri, selain itu ia juga perlu waktu


untuk menenangkan jantungnya yang dari tadi berdetak tidak normal.


Saat ia kembali gadis


itu sudah tertidur, terlihat jelas bekas air mata di pipinya, laki-laki itu


mengusap pipi Anna dengan lembut, bagaimanapun gadis itu menangis karena dia.


 “Tapi mengapa Anna membalas ciuman tadi?”

__ADS_1


__ADS_2