
Hampir satu jam mereka membisu rasa ragu mulai menghampiri mereka, seakan apa yang mereka lakukan adalah hal yang sia-sia, perjalanan panjang yang hanya membuang waktu dan tenaga terkuras percuma. Udarah sekitar menjadih lebih hangat, tinggal beberapa ratus meter mereka sampai pada puncaknya. Mereka tersentak mendengar suara orang batuk disamping mereka, Jack langsung mengenggam tangan pemilik suara itu.
“Kau sudah sadar?” pemilik suarah mencobah tersenyum.
Lily langsung memeluknya begitu juga dengan Lian “Aku belum mati” bisik Anna.
“Apakah kau memberiku racun lagi Lian?” surah itu membuat semuanya menangis sambil tersenyum menatap si pemilik suara.
Lian hanya menggangguk, “Aku tidak punya pilihan, maafkan aku.” suarah Lian lirih remaja itu kemudian mengusap matanya yang di penuhi kristal bening.
“Terimakasih.” Anna berucap
“Minumlah.” Lily menyerahkan botol air yang tinggal setengahnya, Anna mencobah meminum beberapa teguk air itu untuk membilas rasa pahit di tenggorokannya.
Gadis itu menatap langgit “Mereka hampir sejajar sekarang kita, harus bergegas.” Anna menginggatkan kalau waktu mereka tidak banyak lagi.
“Kau harus menunggangi kudamu.” Jack langsung mengangkat tubuh gadis itu. Anna tidak bisa melawan tubuhnya masih sangat lemas.
Mereka berjalan hampir duajam “Tinggal bebeberapa meter lagi.” Lian memecah keheningan, semuanya mengangguk.
Semakin lama udarah semakin hangat sepertinya mereka tidak berada di gunung es, semua rasa dingin yang menusuk tulang mulai menghilang yang ada sekarang adalah rasa sejuk menghampiri mereka.Anna memberhentikan kudanya.
“Sudah sejajar.” mereka semua meliat keara langit lalu tersenyum.
“Lihat di bawah” Lian menunjuk
Samar-samar mulai terlihat labirin besar yang terbuat dari pohon-pohon menampakkan dirinya, sejauh mata memandang sungguh labirin yang sangat besar. “Dimana ujungya ” Lily bergumam.
Belum lama mereka memandang labirin sekitar persekian detik salju yang mereka injak bergetar seakan ada gempa bumi, semua orang terpental terjatuh dengan bebas, Lily segera bangkit menyadarai ada musuh yang datang begitu juga dengan semuanya.
Tampak muncul gerombolan beruang putih dan hitam, hadapan mereka dan beberapa burung besar berwarna hitam ingin menyerang mereka, keempat anak manusia itu berlari secepat mungkin turun kebawah menuju labirin, beberapa ledakan di samping mereka membuat salju di sekitarnya berterbangan, dan gumpalan bolah salju tidak hentinya mengejar mereka.
Lily dan Jack mencobah melawan dengan sihir mereka begitu juga dengan Lian, ia mengeluarkan sihirnya.
__ADS_1
Jack berhasil menyerang beberapa beruang di hadapan mereka, Jack terlempar saat salah satu beruang menyerangnya, tampak bekas goresan cakar beruang mengeluarkan darah di dada sebelah kiri pria itu, Jack segera bangun ia menyerang beruang itu dengan pedangnya, menusuk tepat di dada beruang itu, hingga beruang putih itu mati, tapi sesaat kemudian dua ekor beruang lain mendekatinya, menyerang Jack.
Lily menyerang beberapa beruang hitam, di hadapanya, lima ekor beruang terkapar di sana dengan kulit yang terbakar, Lily mulai kelelahan tapi tiga ekor beruang putih menghampirinya, dan beberapa burung diatasnya mencobah menyerang wanita itu.
Lian memandang setiap hewan yang mendekat dalam seperkian detik hewan-hewan itu melengkin kesakitan, tanpa pria muda itu sadari darah mulai mengalir dari hidungnya, seekor beruang putih mendekati dan menyerang Lian membuat pria itu terpental, ia mengeram kesakitan, sesaat kemudian Lian segera bangkit mencobah menyerang balik walau ia kesakitan.
Jack berhasil membunuh dua beruang putih di hadapannya dan menyerang beberapa burung yang mendekat dengan sihirnya, pria itu menghempasakan setiap burung yang mendekat.
“Jack, aku tidak akan bisa menahan ini lebih lama lagi.” Lian masih berusaha membunuh beberapa hewan di hadapannya, darah dari hidungnya mengalir semakin banyak, Lily bertarung melawan beberapa beruang putih dibantu Jack, Anna mencobah mengusir burung burung yang mendekar dengan pisau di tangannya.
“Jack bawah Anna dengan kudanya, kami akan menahan semampunya.” Lily mendorong Jack ke arah Anna.
Jack langsung menaiki kudanya tepat di belakang Anna, pria itu memacuh kudanya secepat mungkin menuju pintu masuk labirin, beberapa burung menyerang mereka, tapi Jack segera mengarahkan tangannya pada setian hewan yang mendekat seketika hewan itu terpental.
Mereka masuk kedalam labirin suasana mencekam sangat terasa, Jack memacu kudanya tak tentu arah.
“Bisakah kau tunjukan padaku dimana arahnya?” Jack bertanya pada Anna, gtadis itu mengeleng seperkian detik, tapi ia ingat sesuatu.
Kuda itu semakin kencang memacuh langkanya, mereka terus berpegang pada kuda itu. Beberapa saat kemudian gumpalan api yang berasal dari puluhan penyuhir tingkat atas menyerang mereka membuat mereka terpental terjatuh dari kuda mereka, Jack langsung menghampiri Anna dan melindunginya, ia akan bertarung sampai mati untuk melindungi gadis itu.
Mereka bertarung, sekuat tenaga beberap kali Jack dan Anna terpental mereka berlari mengikuti arah kuda mereka saat mereka melihat batu besar di depan mereka.
“Disana!” Anna berteriak pada Jack.
Tinggal beberapa meter, kali ini kuda Anna mengeluarkan suara lengkingan terdengar suara kesakitan yang sagat menyat hati. Gadis itu menjerit melihat kudanya sudah terlgeletak mengeluarkan darah dari mulut, hidung dan matanya, gumpalan api sangat besar menghampari mereka, Jack mendorong Anna menjauh.
Jack terpental beberapa darah segar keluar dari mulut dan hidungnya, seorang laki-laki besar bermahkota keluar dari balik batu besar sambil tertawa,
“Kau sudah datang Anna.” Suarah raja Raeves mengelegar.
Anna mundur beberapa langkah, raja Raeves mengangkat tanganya beberapa gambar seperti televisi besar muncul terdapat Lily dan Lian tergeletak dengan badan penuh luka, mereka tidak bergerak bahkan tidak bernapa.
__ADS_1
“Kau membunuh mereka semua.” suarah raja Raeves membuat Anna gemetar.
“Bukan aku, tapi kau raja jahat!” Anna menejawab, dan berlari menghampiri batu itu, tapi raja Raves tidak membiarkannya, ia mencekik leher Anna dengan tangan kanannya menbuat gadis itu terangkat.
Jack segera bangun untuk menyerang raja Raeves, tapi para penyihir menyerang Jack sampai terpental dan tidak dapat bergerak matanya terpejam.
“Dia sudah mati!“ raja Reaves sabil tertawa “Begitu juga dengan mu!” raja Reaves memperkuat cekikannya.
Anna sudah tidak bisa bernapas, kakinya sudah terangkat dari tanah, ia akan mati sekarang seketika rasa panas di sekujur tubuhnya, gadis itu menarik dan memukul tangan Raja Reaves mencobah melepaskan cekikannya tapi gagal,
Napasnya semakin sesak, lehernya benar-benar terasa sakit, seluruh tubuhnya terasa semakin panas, gadis itu mengeram kesakitan, badanya terasa lemas, seketika matanya
berubah jadi putih, tampak langit semakin gelap beberapa kilatan petir menyerang semua penyihir di sana, mereka semua terpental dan tidak sadarkan diri.
Raja Raeves mulai ketakutan, ia melempar Anna tepat membentur batu besar, raja Reaves mengarahkan tangganya kearah Anna, mengenai bahu kanan wanita itu, gadis itu sempat terduduk sesaat seketika Raja Reaves ingin menyerang gadis itu sekali lagi, tapi Anna bisa menghindar, Anna mengarahkan tangannya kearah raja itu seketika petir menyambar raja Raeves, membuat raja itu terpental jauh, tapi raja Raeves tidak menyerah ia mengarahkan serangannya tepat kearah Anna, gadis itu menyadarinya langsung menghindar lagi dan menyerang raja Raeves hingga tidak sadarkan diri.
Seketika Anna merasa lemas kesadaranyan mulai kembali, matanya yang tadi berwarna putih mulai kembali normal, ia menghampiri batu besar dan menarik kalung di lehernya dan meletakkannya tepat diatas batu besar itu. Gadis itu langsung berlari menghampiri Jack.
“Apakah kau sudah mati?” gadis itu mengangkat tubuh pria itu kepangkuannya.
“Kau berjanji akan mengantarku pulang.” Anna menangis melihat pria itu tidak bergerak.
Harusnya Anna sudah kembali setelah meletakkan kalungnya diatas batu itu, tapi mengapa ia masih berada di sini, di negeri Londerves yaitu negeri Jack.
“Kau tahu Jack, aku belum menyelesaikan certaku.” Anna masih menangis memeluk Jack di pangkuannya.
“Aku melihat Lian, di tokoh tapi dia bukan laki-laki, ia akan menjadi wanita yang cantik, dan dia adalah cucu Roberto.” Anna terisak.
“Bangunlah aku membutuhkanmu.” bisik Anna di telingah Jack. Anna menbelai wajah Jack di pangkuannya, laki-laki itu masih belum membuka matanya.
“Kau harus mengantarku pulang.” bisiknya. tapi tidak ada respon apapun dan Anna masih terjebak dalam labirin itu. Anna mendekatkan bibirnya pada Jack sebagai ciuman terakhir, benar hanya ciuman yang menempelkan bibir merekan masing-masing tidak ada napsu didalamnya, hanya sebuah kecupan perpisahan air matanya tidak berhenti mengalir.
‘Aku menyayangimu Jack. Kau berengsek kau menciumku dan meninggalkan ku sendirian di sini, kau harus bertanggung jawab, kau membuat ku merasakan hal aneh, aku mohon kau tidak boleh mati.’
Tanpa Anna sadari raja Raves di belakangnya mengarahkan seranga tepat kearah punggung kanannya, gadis itu merasakan sakit yang teramat, semua terasa gelap.
__ADS_1
“Apakah aku sudah mati!” Anna berbisik dalam hatinya tiba-tiba cahaya putih cahaya yang sangat terang terasa menyentuh matanya.