Anna & Dream

Anna & Dream
28. Apel With Love


__ADS_3

Cahaya matahari mulai


masuk diantarah selah-selah jendela kamar Anna, gadis itu mulai membuka


matanya, Anna dengan segera mengerakan badanya untuk bangun, tapi ada sesuatu


yang menahanya tubuhnya, tampak tanggan seseorang melingkar di pinggang gadis


itu, memeluknya dengan erat, Anna berusaha melepaskannya tapi gagal.


“Tidurlah\,” bisik suara


seorang laki-laki yang sangat ia kenal\, jantungnya berdetak cepat\, bagaimana


mungkin Julian tidur bersamanya\, apa Julian telah memperk***nya\, tapi baju yang


di kenakan Anna masih lengkap.


“Julian apa yang kau


lakukan? jangan kurang ajar!” Anna berteriak sambil masih berusaha melepasakan


pelukan Julian, ia bisa merasakan hembusan napas Julian di puncak kepalanya.


“Aku tidak melakukan


apa-apa Anna, aku sedang sakit.” bisik Julian kemudian merenganggkan pelukannya


dengan cepat Anna bangun dari tempat tidur itu, ia melotot pada Julian yang


masih memejamkan matanya ia benar-benar terlihat pucat.


Anna mencobah memegang


kening Julian dan memang terasa panas, tapi tiba-tiba laki-laki itu segera


menarik tangan Anna dengan kuat membuat gadis itu terjatuh hingga wajanya tepat


berada di dada Julian, Anna bisa mendengarkan detak jantung laki-laki itu yang


terdengar sangat cepat dan napasnya terdengar memburuh.


“Julian,” Anna


berbisik, Julian memeluk Anna dengan kuat seakan tidak ingin melepaskanya lagi.


“Ia selalu seperti itu


saat aku melihatmu,” bisik Julian, laki-laki itu mulai membelai rambut Anna


dengan lembut,


“Tidurlah disini, aku mohon jangan pergi Anna.”


Anna masih diam tapi


Anna bisa merasakan rasa nyaman yang teramat sangat saat berada disisi Julian,


gadis itu tersenyum ia bahkan bisa mencium wangi tubuh Julian seperti aroma


rempah-rempah bercampur mint.


Anna merasakan sebuah


getaran hebat dalam dirinya saat ini, ia berusaha menguasai dirinya tapi di


sisi lain ia juga merasa kasihan dengan Julian.“Tapi ini tidak benar, aku dan Julian tidak seharusnya berbaring di


dalam satu ranjang dengan posisi berpelukan.”


Anna harus melepaskan pelukan


Julian, ia harus melawan tapi tubuhnya tidak mau diajak kerja sama tubuhnya malah


membeku dan luluh karena belaian yang di berikan Julian.


“Aku, aku akan


membuatkan mu bubur.” bisik Anna setelah satu jam mulutnya terkunci dalam


dekapan Julian, laki-laki itu mulai melepaskan pelukanya, Anna segera ke dapur


membuatkan bubur untuk Julian, sesekali ia kembali kekamar untuk mengompres


Julian yang tertidur pulas.


Anna mulai mencari obat


penurun panas untuk Julian ia mencari di kulkas dan lemari tapi tidak ada, “Julian


dulu seorang dokter, ia pasti menyimpan obatnya di kamar.” Anna dengan segera


masuk kekamar Julian.


Tampak kamar itu di


dominasi dengan warna putih, dengan semua perabotanya berwarna putih, terdapat


sebuah ranjang berukuran king dan lemari pakaian yang besar, Anna segera


mencari obat mulai dari lemari kecil di samping ranjang dan mejah hias tapi ia


tidak menemukan obat yang ia cari, Anna mulai membuka laci di bagian lemari


pakaian.


“Ini dia.” Anna

__ADS_1


tersenyum setelah mendapatkan sekeping Paracetamol di tanganya, ia segera berbalik melangkah ingin keluar, seketikah langkahnya


terhenti saat menatap sebuah poto yang di bingkai berukuran hampir satu


meter,  menempel dengan kokoh dinding


tepat berada di depan ranjang Julian. Ia masih tidak percayah apa yang ia


lihat.


Julian menatap wanita


yang berdiri mematung di kamarnya, ia segera melangkahkan kakiknya mendekati


Anna, tadi ia terbangun mencari Anna, Julian sangat takut wanita itu


meninggalkanya begitu saja.


Gadis itu menatap


Julian dengan tanda tanya besar yang tampak terlihat di wajahnya, Julian segera


berdiri di belakang Anna, ia memeluk gadis itu dari belakang, Anna bisa


merasakan panas tubuh laki-laki itu dan hembusan napas Julian yang mengenai


puncak kepalanya.


“Ba, bagaimana kau


bisa?” Anna terbata menayakan tentang potoh dirinya yang tampak mengenakan gaun


penganti sambil menatap Julian yang berdiri di sampingnya, laki-laki itu tampak


tersenyum menatap Anna di dalam poto itu.


Anna inggat kejadian


itu saat Julian membantukanya memindahka bagian sisi gaun pengantin yang ia


cobah ketika menemani Jesika memilih bali gaun untuk pernikahanya, saat itu


Anna berterimakasih pada Julian sambil tersenyum dan di jawab dengan senyuman


oleh laki-laki itu.


“Dev yang mengambilnya,


ia memberikanya padaku sebagai hadiah ulang tahun, seminggu setelah kau pergi,”


bisik Julian “Setiap hari aku selalu tersenyum melihatnya, aku seperti orang


gila, tepatnya seorang pengantin yang menunggu calon istinya datang padaku. Aku


bahkan tidak sangup bermimpi itu akan terjadi, karena aku tahu kau akan menikah


dengan tunanganmu saat itu.” Anna berbalik kemudian menatap Julian.


kau menyimpannya.” Anna masih tidak percaya dengan semua ini.


”Karena aku mencintaimu.”


Julian kemudian mencium kening Anna, gadis itu hanya diam seperti patung, ia


merasa napasnya sesak seketika.


Julian berlutut di hadapan


Anna, kemudian melepas kalung yang melingkar di lehernya, tampak sebuah cincin


mengantung di sana .


“Anna mungkin aku bukan


tipe laki-laki yang berpengalaman merayu wanita, aku bahkan tidak pernah


berpacaran dengan siapapun. Aku tahu aku bukan laki-laki yang baik untukmu karena


sikapku selama ini, aku tidak bisa menjanjikanmu kebahagian tapi aku akan


selalu berusaha membahagiakanmu, dan kau harus ingat,” Julian menarik napasa


dalam.


“Aku bersumpah tidak


akan pernah mengajakmu bertunangan, karena aku ingin kau menjadi istri dan ibu


dari anak-anakku, selalu disampingku sampai maut memisahkan kita, karena aku


mencintaimu dan menyayangmu.”


Anna mulai meneteskan


airmatanya, “Apa sekarang kau melamarku?” Anna bertanya tampak masih tidak


percaya atas apa yang terjadi hari ini, Julian segera berdiri dan menghapus air


mata gadis yang ia cintai.


“Ya, aku melamarmu, apa


kau menerimanya?” suara Julian terdengar lirih, tampak wajahnya penuh harap.


Anna hanya diam


ternyata rasa yang selam ini ia rasakan tidak menghilang sedikitpun pada Julian,

__ADS_1


setiap berhadapan dengan Julian jantungnya terus berdetak cepat bahkan saat di


kantor, walau laki-laki itu memarahinya, bahkan selama setahun ini Anna terus


memikirkan Julian karena ia merasa bersalah atas apa yang Anna lakukan saat


laki-laki itu berulang tahun, Anna ingat bagaimana do’a yang Julian ucapakan ia


ingin gadis yang dia cintai bahagia.


 Mungkin Tuhan mengirimkan kebahagiaan melalui


laki-laki ini bukan Nicko. Anna menarik napas sejanak rasanya oksigen dalam


kamar itu sangat sedikit sehingga membuatnya merasa sesak, Anna memejamkan


matanya lalu menganguk dua kali dan berkata “Ya, aku menerimanya.”


Julian hanya bisa tersenyum


lembut ia tidak tahu harus berkata apa, ternyata perjuanganya untuk melupakan


Anna selama ini sia-sia, semakin keras usaha Julian untuk melukan Anna maka


semakin besar pula rasa rindu dan cinta yang ia rasakan selam ini sampai


membuat Daddyanya sakit.


“Jangan menangis lagi.”


bisik laki-laki itu lirih lalu mengusap pipi gadisnya.


“Buburnya sudah matang,


tunggu sebentar aku akan mengambilkanya untumu.” belum sempat Julian memeluk Anna


untuk mengungkapakan rasa senangnya, gadis itu telah pergi meninggalkannya.


 “Terimakasih Tuhan.” gumam Julian.


****


“Cepat minum obatnya.”


Anna menyodorkan sebutir Paracetamol,


karena tadi Julian sudah menghabiskan bubur yang Anna buat.


“Tidak mau, pahit.”


Jawab Julian sambil melengos, ia kemudian berbaring di ranjangnya sambil membolak-balik


buku warna coklat tanah yang duluh di berikan Anna,


“Julian aku mohon minum


obatnya, badanmu masih panas, kau sakit Julian.” suara Anna sedikit mengeram


karena kesal.


“Dengan satu syarat


minggu depan kita menikah.” Julian tersenyum menatap Anna yang terkejut.


“Tapi-” Julian segera


menutup bibir Anna dengan jari telunjuknya


“Aku sudah melamarmu


enam bulan lalu melalui kedua orang tuamu, mereka menerimanya asal kau setujuh,


dan Daddy dan Mom telah mengatur semuanya saat dua bulan lalu yaitu saat Lucy Wisuda,


karena itu aku harus berhasil melamarmu.” Julian menjelaskan semuanya.


Alasan ia ke Sumatra


bukan hanya untuk urusan bisnis tapi untuk melamar Anna segera setelah


mendengar wanita itu gagal menikah dan kedua orang tua Julian sangat setujuh dengan


hubungan Julian dan Anna karena hanya Anna yang bisa mengubah watak laki-laki


itu.


Anna hanya bisa


melongoh mendengar Julian sudah mempersiapkan semua, laki-laki ini benar-benar


gila.


“Bagaimana jika aku


menolakmu tadi?” ejek Anna karena kehabisan kata-kata sebelumnya.


“Maka aku tidak akan


menikah seumur hidupku.”


Julian menatap gadis


dihadapnya dengan sayu, pelahan bibirnya menyentuh bibir Anna sebuah dengan


lumatan lemut ia mulai mencium Anna dengan penuh kasih sayang, Anna mulai


membalas ciuman itu, ciuman yang sudah lama tidak mereka rasakan tampak ada

__ADS_1


rasa rindu di sana mereka mulai hanyut dalam ciuman itu.


****


__ADS_2