
Cahaya matahari mulai
masuk diantarah selah-selah jendela kamar Anna, gadis itu mulai membuka
matanya, Anna dengan segera mengerakan badanya untuk bangun, tapi ada sesuatu
yang menahanya tubuhnya, tampak tanggan seseorang melingkar di pinggang gadis
itu, memeluknya dengan erat, Anna berusaha melepaskannya tapi gagal.
“Tidurlah\,” bisik suara
seorang laki-laki yang sangat ia kenal\, jantungnya berdetak cepat\, bagaimana
mungkin Julian tidur bersamanya\, apa Julian telah memperk***nya\, tapi baju yang
di kenakan Anna masih lengkap.
“Julian apa yang kau
lakukan? jangan kurang ajar!” Anna berteriak sambil masih berusaha melepasakan
pelukan Julian, ia bisa merasakan hembusan napas Julian di puncak kepalanya.
“Aku tidak melakukan
apa-apa Anna, aku sedang sakit.” bisik Julian kemudian merenganggkan pelukannya
dengan cepat Anna bangun dari tempat tidur itu, ia melotot pada Julian yang
masih memejamkan matanya ia benar-benar terlihat pucat.
Anna mencobah memegang
kening Julian dan memang terasa panas, tapi tiba-tiba laki-laki itu segera
menarik tangan Anna dengan kuat membuat gadis itu terjatuh hingga wajanya tepat
berada di dada Julian, Anna bisa mendengarkan detak jantung laki-laki itu yang
terdengar sangat cepat dan napasnya terdengar memburuh.
“Julian,” Anna
berbisik, Julian memeluk Anna dengan kuat seakan tidak ingin melepaskanya lagi.
“Ia selalu seperti itu
saat aku melihatmu,” bisik Julian, laki-laki itu mulai membelai rambut Anna
dengan lembut,
“Tidurlah disini, aku mohon jangan pergi Anna.”
Anna masih diam tapi
Anna bisa merasakan rasa nyaman yang teramat sangat saat berada disisi Julian,
gadis itu tersenyum ia bahkan bisa mencium wangi tubuh Julian seperti aroma
rempah-rempah bercampur mint.
Anna merasakan sebuah
getaran hebat dalam dirinya saat ini, ia berusaha menguasai dirinya tapi di
sisi lain ia juga merasa kasihan dengan Julian.“Tapi ini tidak benar, aku dan Julian tidak seharusnya berbaring di
dalam satu ranjang dengan posisi berpelukan.”
Anna harus melepaskan pelukan
Julian, ia harus melawan tapi tubuhnya tidak mau diajak kerja sama tubuhnya malah
membeku dan luluh karena belaian yang di berikan Julian.
“Aku, aku akan
membuatkan mu bubur.” bisik Anna setelah satu jam mulutnya terkunci dalam
dekapan Julian, laki-laki itu mulai melepaskan pelukanya, Anna segera ke dapur
membuatkan bubur untuk Julian, sesekali ia kembali kekamar untuk mengompres
Julian yang tertidur pulas.
Anna mulai mencari obat
penurun panas untuk Julian ia mencari di kulkas dan lemari tapi tidak ada, “Julian
dulu seorang dokter, ia pasti menyimpan obatnya di kamar.” Anna dengan segera
masuk kekamar Julian.
Tampak kamar itu di
dominasi dengan warna putih, dengan semua perabotanya berwarna putih, terdapat
sebuah ranjang berukuran king dan lemari pakaian yang besar, Anna segera
mencari obat mulai dari lemari kecil di samping ranjang dan mejah hias tapi ia
tidak menemukan obat yang ia cari, Anna mulai membuka laci di bagian lemari
pakaian.
“Ini dia.” Anna
__ADS_1
tersenyum setelah mendapatkan sekeping Paracetamol di tanganya, ia segera berbalik melangkah ingin keluar, seketikah langkahnya
terhenti saat menatap sebuah poto yang di bingkai berukuran hampir satu
meter, menempel dengan kokoh dinding
tepat berada di depan ranjang Julian. Ia masih tidak percayah apa yang ia
lihat.
Julian menatap wanita
yang berdiri mematung di kamarnya, ia segera melangkahkan kakiknya mendekati
Anna, tadi ia terbangun mencari Anna, Julian sangat takut wanita itu
meninggalkanya begitu saja.
Gadis itu menatap
Julian dengan tanda tanya besar yang tampak terlihat di wajahnya, Julian segera
berdiri di belakang Anna, ia memeluk gadis itu dari belakang, Anna bisa
merasakan panas tubuh laki-laki itu dan hembusan napas Julian yang mengenai
puncak kepalanya.
“Ba, bagaimana kau
bisa?” Anna terbata menayakan tentang potoh dirinya yang tampak mengenakan gaun
penganti sambil menatap Julian yang berdiri di sampingnya, laki-laki itu tampak
tersenyum menatap Anna di dalam poto itu.
Anna inggat kejadian
itu saat Julian membantukanya memindahka bagian sisi gaun pengantin yang ia
cobah ketika menemani Jesika memilih bali gaun untuk pernikahanya, saat itu
Anna berterimakasih pada Julian sambil tersenyum dan di jawab dengan senyuman
oleh laki-laki itu.
“Dev yang mengambilnya,
ia memberikanya padaku sebagai hadiah ulang tahun, seminggu setelah kau pergi,”
bisik Julian “Setiap hari aku selalu tersenyum melihatnya, aku seperti orang
gila, tepatnya seorang pengantin yang menunggu calon istinya datang padaku. Aku
bahkan tidak sangup bermimpi itu akan terjadi, karena aku tahu kau akan menikah
dengan tunanganmu saat itu.” Anna berbalik kemudian menatap Julian.
kau menyimpannya.” Anna masih tidak percaya dengan semua ini.
”Karena aku mencintaimu.”
Julian kemudian mencium kening Anna, gadis itu hanya diam seperti patung, ia
merasa napasnya sesak seketika.
Julian berlutut di hadapan
Anna, kemudian melepas kalung yang melingkar di lehernya, tampak sebuah cincin
mengantung di sana .
“Anna mungkin aku bukan
tipe laki-laki yang berpengalaman merayu wanita, aku bahkan tidak pernah
berpacaran dengan siapapun. Aku tahu aku bukan laki-laki yang baik untukmu karena
sikapku selama ini, aku tidak bisa menjanjikanmu kebahagian tapi aku akan
selalu berusaha membahagiakanmu, dan kau harus ingat,” Julian menarik napasa
dalam.
“Aku bersumpah tidak
akan pernah mengajakmu bertunangan, karena aku ingin kau menjadi istri dan ibu
dari anak-anakku, selalu disampingku sampai maut memisahkan kita, karena aku
mencintaimu dan menyayangmu.”
Anna mulai meneteskan
airmatanya, “Apa sekarang kau melamarku?” Anna bertanya tampak masih tidak
percaya atas apa yang terjadi hari ini, Julian segera berdiri dan menghapus air
mata gadis yang ia cintai.
“Ya, aku melamarmu, apa
kau menerimanya?” suara Julian terdengar lirih, tampak wajahnya penuh harap.
Anna hanya diam
ternyata rasa yang selam ini ia rasakan tidak menghilang sedikitpun pada Julian,
__ADS_1
setiap berhadapan dengan Julian jantungnya terus berdetak cepat bahkan saat di
kantor, walau laki-laki itu memarahinya, bahkan selama setahun ini Anna terus
memikirkan Julian karena ia merasa bersalah atas apa yang Anna lakukan saat
laki-laki itu berulang tahun, Anna ingat bagaimana do’a yang Julian ucapakan ia
ingin gadis yang dia cintai bahagia.
Mungkin Tuhan mengirimkan kebahagiaan melalui
laki-laki ini bukan Nicko. Anna menarik napas sejanak rasanya oksigen dalam
kamar itu sangat sedikit sehingga membuatnya merasa sesak, Anna memejamkan
matanya lalu menganguk dua kali dan berkata “Ya, aku menerimanya.”
Julian hanya bisa tersenyum
lembut ia tidak tahu harus berkata apa, ternyata perjuanganya untuk melupakan
Anna selama ini sia-sia, semakin keras usaha Julian untuk melukan Anna maka
semakin besar pula rasa rindu dan cinta yang ia rasakan selam ini sampai
membuat Daddyanya sakit.
“Jangan menangis lagi.”
bisik laki-laki itu lirih lalu mengusap pipi gadisnya.
“Buburnya sudah matang,
tunggu sebentar aku akan mengambilkanya untumu.” belum sempat Julian memeluk Anna
untuk mengungkapakan rasa senangnya, gadis itu telah pergi meninggalkannya.
“Terimakasih Tuhan.” gumam Julian.
****
“Cepat minum obatnya.”
Anna menyodorkan sebutir Paracetamol,
karena tadi Julian sudah menghabiskan bubur yang Anna buat.
“Tidak mau, pahit.”
Jawab Julian sambil melengos, ia kemudian berbaring di ranjangnya sambil membolak-balik
buku warna coklat tanah yang duluh di berikan Anna,
“Julian aku mohon minum
obatnya, badanmu masih panas, kau sakit Julian.” suara Anna sedikit mengeram
karena kesal.
“Dengan satu syarat
minggu depan kita menikah.” Julian tersenyum menatap Anna yang terkejut.
“Tapi-” Julian segera
menutup bibir Anna dengan jari telunjuknya
“Aku sudah melamarmu
enam bulan lalu melalui kedua orang tuamu, mereka menerimanya asal kau setujuh,
dan Daddy dan Mom telah mengatur semuanya saat dua bulan lalu yaitu saat Lucy Wisuda,
karena itu aku harus berhasil melamarmu.” Julian menjelaskan semuanya.
Alasan ia ke Sumatra
bukan hanya untuk urusan bisnis tapi untuk melamar Anna segera setelah
mendengar wanita itu gagal menikah dan kedua orang tua Julian sangat setujuh dengan
hubungan Julian dan Anna karena hanya Anna yang bisa mengubah watak laki-laki
itu.
Anna hanya bisa
melongoh mendengar Julian sudah mempersiapkan semua, laki-laki ini benar-benar
gila.
“Bagaimana jika aku
menolakmu tadi?” ejek Anna karena kehabisan kata-kata sebelumnya.
“Maka aku tidak akan
menikah seumur hidupku.”
Julian menatap gadis
dihadapnya dengan sayu, pelahan bibirnya menyentuh bibir Anna sebuah dengan
lumatan lemut ia mulai mencium Anna dengan penuh kasih sayang, Anna mulai
membalas ciuman itu, ciuman yang sudah lama tidak mereka rasakan tampak ada
__ADS_1
rasa rindu di sana mereka mulai hanyut dalam ciuman itu.
****