
“Lucy sebaiknya kau jangan menggunakan mobilmu
dulu, Daddy akan mencarikan mu sopir.” suara Julian memperingatkan walau
sebenarnya ini bukan waktu yang tepat, karena mereka sedang menikmati makan
malam bersama hal yang jarang mereka lakukan, tapi Julian ingat apa yang Ben
sampaikan kemarin.
“Kak ayolah, itu sudah
empat tahun lalu dan aku sudah melupakannya,.” Lucy menjawab dengan cuek.
“Lucy dengarkan apa
yang kakakmu bicarahkan.” Rudy menengahi
kedua anaknya, karena Rudi juga tidak ingin kejadian itu terulang lagi,. Ia
sangat percaya pada Julian, anak laki-lakinya itu tidak akan bicara sembarangan
jika tidak memiliki alasan yang kuat.
“Daddydy came on!” Lucy mulai kesal,
“Lucy dengarkan Daddy
mu.” Maria memperingatkan anak gadisnya
“Mom.” Lucy tampak
memelas, gadis itu benar-benar tidak ingin membahas kejadian empat tahun lalu.
“Aku selesai, aku
pulang dulu.” laki-laki itu bangun dari salah kursi di makan tanpa
memperdulikan tatapan memohon Lucy.
“Kau tidak ingin
menginap?” Rudy bertanya dengan penuh harap,
“Mungkin lain kali.” Julian
meninggalkan rumah itu bahkan tanpa menoleh sedikitpun.
Sudah hampir lima tahun
ia tinggal di apartemenya, ia lebih suka menyendiri di sana. Laki-laki itu
tidak suka urusan pribadinya dicampuri orang lain termasuk keluarganya. Telingahnya
selalu terasa panas ketika kedua orang tuanya berbicara tentang pasangan hidup,
bukan sekali atau dua kali ia di jodohkan dengan wanita yang pintar, cantik dan
kaya, tapi ia selalu menolak, bukan berarti ia tidak normal, hanya saja belum
ada satu wanita yang mengetarkan hatinya dan membuatnya tertarik.
Tepat empat tahun lalu
Julian sempat kembali ke rumah itu saat Lucy mengalami depresi hampir setahun
ia menjaga adik satu-satunya. Julian sering bersikap kasar pada Lucy. Ia sering
membentaknya, karena gadis itu sering tidak mendengarkan perkataaanya. Tapi
jauh di dalam lubuk hatinya ia menyayangi adiknya, ia melakukan semua itu untuk
kebaikan Lucy.
***
Anna tampak sedang
menunggu tunangnya untuk pulang sudah hampir satu jam ia menunggu di lobi
kantornya mereka sering pulang bersama walau kadang Anna harus menunggu Nicko
atau membantu tunanganya itu menyelesaikan tugasnya, itu semua tidak masalah
bagi Anna asal mereka memiliki waktu bersama lebih lama.
Anna tersenyum kecut
saat teringat biasanya Xiang akan menemaninya menunggu Nicko, walau gadis itu
selalu mengoceh saat menuggu Nicko seakan tidak ikhlas, tapi Xiang juga tidak
akan tega meninggalkan Anna sendirian. Tapi hari ini Xiang tidak masuk kerja karena sakit.
__ADS_1
Drettt....
Gadis itu langsung
membuka pesan singkat yang masuk keponselnya, ternyata itu dari tunanganya. Sebuah senyuman terukir di sudut
bibir Anna saat tahu Nicko mengirimnya pesan singkat tapi mendadak senyum itu
menghilang setelah membaca apa yang Nicko kirim.
Nicko :
Sayang maaf, Aku tidak bisa
menjemputmu,
Ibu Margareta masih rapat.
Anna:
Iya, tidak apa-apa sayang.
Semoga rapatnya cepat selesai.
Nicko:
Hati-hati
sayang.
Anna mencobah mengerti
ia tahu Nicko sangat sibuk, terlebih lagi sikap Margaret. Walau Anna adalah
sekertaris Margaret, tapi wanita dewasa itu jarang mengakjaknya untuk rapat diluar,
ia lebih sering Mengajak Nicko karena laki-laki itu adalah wakilnya.
Jam di tangannya sudah
menunjukan jam tujuh malam, ia melangkahkan kakinya kearah halte bus yang
tampak sepih, hanya ia sendiri yang berdiri di sana menunggu bus yang menuju apartemennya.
Anna menatap jam tanganya sudah hampir dua puluh menit ia berdiri disana tapi
busnya belum juga datang.
dengan itu, mengingat jalan Jakarta yang selalu macet.
Anna sangat terkejut saat
tiba-tibasebuah sebuah mobil sport berwarna
merah mengarah ke halte itu dengan kecepatan tinggi, Anna mencobah menghindar
tapi cahaya lampu yang langsung mengarah padanya membuat Anna tidak bisa
melihat apa-apa.
Duarrrr....
Terdengar jelas suara
benturan keras di sana. Seorang wanita tidak sadarkan diri, kepalahnya
mengeluarkan banyak darah, si pemilik mobil tampak pucat dan gemetar ketakutan
setelah melihat wanita itu berlumuran darah dan tidak sadarkan diri, beberapa
orang yang ada di sekitar sana berusaha membantu sebisa mungkin.
***
Dokter berlarih secepat
mungkin menujuh ruang oprasi mereka tampak sibuk menangani pasien wanita itu.
Hampir lima jam dokter-dokter itu melakukan tugasnya. Kemudian pintu ruang
oprasi terbuka.
“Ben bagaimana
keadaanya?” tampak suara Lucy bergetar sambil tersedu sejak kejadian itu gadis
kecil itu tidak berhenti menangis.
“Dia masih belum sadarkan
diri.” jawab Ben lalu menatap Lucy sambil mengelengkan kepalanya, ia sudah
mengingatkan gadis kecil itu agar tidak mengendari mobiulnya sendri tapi Lucy
__ADS_1
tidak mengindahkan apa yang Ben katakan, Ben menarik napas dalam sesaat saat
mengingat cidera yang dialami pasien itu cukup parah.
“Kau harus
menyelamatkanya, aku tidak mau terjadi apa-apa pada wanita itu, sudah cukup
empat tahun lalu!” suara Rudi memperingatkan, membuat Ben mengangguk lalu
tersenyum mencobah menengakan Rudi.
“Mom, dia, dia tidak
boleh mati.” Lucy menangis memeluk ibunya erat.
“Sudah tidak apa-apa,
wanita itu akan selamat.” Maria mencobah menenangkan anaknya.
Walau dalam hati Maria
sangat khawatir dengan kondisi wanita itu, bukan hanya Lucy yang takut wanita
itu mati, Maria dan Rudi juga demikian ia tidak ingin anaknya diangap pembunuh
lagi?
***
Drettt....
Suara telpon di
apartemen itu berbunyi, membangunkan tidur seorang gadis, yang dari sore
tertidur pulas setelah meminum obatnya, kepalanya masih terasa pusing sekarang.
“Anna ada telpon,”
tampak suara wanita itu lemas tapi tidak ada jawaban. Ia mencobah bangkit,
berjalan kearah telpon di ruang tamu dengan kesadaran yang belum seratus persen
bahkan wanita itu berjalan dengan mata terpejam karena mengantuk, “Ini baru jam satu pagi, siapa yang menelpon,” gumamnya dalam hati.
“Hallo,” Xiang
menganggat telpon dengan suara serak, lalu
memijit lembut kepalanya.
“Apa betul ini kediaman nona
Berliana?”suara di seberang sana
“Iya,
betul.” jawab Xiang malas
“Kami
dari Rumah sakit Harapan, maaf menganggu kami memberitahukan bahwa nona
Berliana mengalami kecelakaan, sekarang ia sedang di rawat di rumah sakit kami.”
“Apa?!” sontak Xian
langsung melebarkan matanya, ia berlarih kearah kamar Anna, dan tidak menemukan
siapapun.
Xiang mencobah menelpon
ke nomer Anna, tidak berapa lama telpon itu diangkat.
“Hallo,”tampak suara seorang yang tidak Xiang kenal di seberang sana “Anna?“ Xiang
mengantung ucapanya,
“Maaf ini dari Rumah sakit harapan,
nona Berliannya sedang di rawat, nona Berlianya mengalami kecelakaan tadi.”
Setelah memutuskan
pangilan secarah sepihak Xiang langsung menujuh rumah sakit Harapan. Xiang juga menghubungi Nicko tunangan Anna
tapi tidak diangkat, ia lalu mengirimkan pesan singkat memberi tahu kalau Anna
sedang di rawat, ia juga menghubungi Jesika dan Wil.
***
__ADS_1