Anna & Dream

Anna & Dream
4. Apel With Love


__ADS_3

“Lucy sebaiknya kau jangan menggunakan mobilmu


dulu, Daddy akan mencarikan mu sopir.” suara Julian memperingatkan walau


sebenarnya ini bukan waktu yang tepat, karena mereka sedang menikmati makan


malam bersama hal yang jarang mereka lakukan, tapi Julian ingat apa yang Ben


sampaikan kemarin.


“Kak ayolah, itu sudah


empat tahun lalu dan aku sudah melupakannya,.” Lucy menjawab dengan cuek.


“Lucy dengarkan apa


yang kakakmu bicarahkan.”  Rudy menengahi


kedua anaknya, karena Rudi juga tidak ingin kejadian itu terulang lagi,. Ia


sangat percaya pada Julian, anak laki-lakinya itu tidak akan bicara sembarangan


jika tidak memiliki alasan yang kuat.


“Daddydy came on!” Lucy mulai kesal,


“Lucy dengarkan Daddy


mu.” Maria memperingatkan anak gadisnya


“Mom.” Lucy tampak


memelas, gadis itu benar-benar tidak ingin membahas kejadian empat tahun lalu.


“Aku selesai, aku


pulang dulu.” laki-laki itu bangun dari salah kursi di makan tanpa


memperdulikan tatapan memohon Lucy.


“Kau tidak ingin


menginap?” Rudy bertanya dengan penuh harap,


“Mungkin lain kali.” Julian


meninggalkan rumah itu bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


Sudah hampir lima tahun


ia tinggal di apartemenya, ia lebih suka menyendiri di sana. Laki-laki itu


tidak suka urusan pribadinya dicampuri orang lain termasuk keluarganya. Telingahnya


selalu terasa panas ketika kedua orang tuanya berbicara tentang pasangan hidup,


bukan sekali atau dua kali ia di jodohkan dengan wanita yang pintar, cantik dan


kaya, tapi ia selalu menolak, bukan berarti ia tidak normal, hanya saja belum


ada satu wanita yang mengetarkan hatinya dan membuatnya tertarik.


Tepat empat tahun lalu


Julian sempat kembali ke rumah itu saat Lucy mengalami depresi hampir setahun


ia menjaga adik satu-satunya. Julian sering bersikap kasar pada Lucy. Ia sering


membentaknya, karena gadis itu sering tidak mendengarkan perkataaanya. Tapi


jauh di dalam lubuk hatinya ia menyayangi adiknya, ia melakukan semua itu untuk


kebaikan Lucy.


***


Anna tampak sedang


menunggu tunangnya untuk pulang sudah hampir satu jam ia menunggu di lobi


kantornya mereka sering pulang bersama walau kadang Anna harus menunggu Nicko


atau membantu tunanganya itu menyelesaikan tugasnya, itu semua tidak masalah


bagi Anna asal mereka memiliki waktu bersama lebih lama.


Anna tersenyum kecut


saat teringat biasanya Xiang akan menemaninya menunggu Nicko, walau gadis itu


selalu mengoceh saat menuggu Nicko seakan tidak ikhlas, tapi Xiang juga tidak


akan tega meninggalkan Anna sendirian. Tapi  hari ini Xiang tidak masuk kerja karena sakit.

__ADS_1


Drettt....


Gadis itu langsung


membuka pesan singkat yang masuk keponselnya, ternyata itu dari  tunanganya. Sebuah senyuman terukir di sudut


bibir Anna saat tahu Nicko mengirimnya pesan singkat tapi mendadak senyum itu


menghilang setelah membaca apa yang Nicko kirim.


Nicko :


Sayang maaf, Aku tidak bisa


menjemputmu,


Ibu Margareta masih rapat.


Anna:


Iya, tidak apa-apa sayang.


Semoga rapatnya cepat selesai.


Nicko:


Hati-hati


sayang.


Anna mencobah mengerti


ia tahu Nicko sangat sibuk, terlebih lagi sikap Margaret. Walau Anna adalah


sekertaris Margaret, tapi wanita dewasa itu jarang mengakjaknya untuk rapat diluar,


ia lebih sering Mengajak Nicko karena laki-laki itu adalah wakilnya.


Jam di tangannya sudah


menunjukan jam tujuh malam, ia melangkahkan kakinya kearah halte bus yang


tampak sepih, hanya ia sendiri yang berdiri di sana menunggu bus yang menuju apartemennya.


Anna menatap jam tanganya sudah hampir dua puluh menit ia berdiri disana tapi


busnya belum juga datang.


dengan itu, mengingat jalan Jakarta yang selalu macet.


Anna sangat terkejut saat


tiba-tibasebuah sebuah mobil sport berwarna


merah mengarah ke halte itu dengan kecepatan tinggi, Anna mencobah menghindar


tapi cahaya lampu yang langsung mengarah padanya membuat Anna tidak bisa


melihat apa-apa.


Duarrrr....


Terdengar jelas suara


benturan keras di sana. Seorang wanita tidak sadarkan diri, kepalahnya


mengeluarkan banyak darah, si pemilik mobil tampak pucat dan gemetar ketakutan


setelah melihat wanita itu berlumuran darah dan tidak sadarkan diri, beberapa


orang yang ada di sekitar sana berusaha membantu sebisa mungkin.


***


Dokter berlarih secepat


mungkin menujuh ruang oprasi mereka tampak sibuk menangani pasien wanita itu.


Hampir lima jam dokter-dokter itu melakukan tugasnya. Kemudian pintu ruang


oprasi terbuka.


“Ben bagaimana


keadaanya?” tampak suara Lucy bergetar sambil tersedu sejak kejadian itu gadis


kecil itu tidak berhenti menangis.


“Dia masih belum sadarkan


diri.” jawab Ben lalu menatap Lucy sambil mengelengkan kepalanya, ia sudah


mengingatkan gadis kecil itu agar tidak mengendari mobiulnya sendri tapi Lucy

__ADS_1


tidak mengindahkan apa yang Ben katakan, Ben menarik napas dalam sesaat saat


mengingat cidera yang dialami pasien itu cukup parah.


“Kau harus


menyelamatkanya, aku tidak mau terjadi apa-apa pada wanita itu, sudah cukup


empat tahun lalu!” suara Rudi memperingatkan, membuat Ben mengangguk lalu


tersenyum mencobah menengakan Rudi.


“Mom, dia, dia tidak


boleh mati.” Lucy menangis memeluk ibunya erat.


“Sudah tidak apa-apa,


wanita itu akan selamat.” Maria mencobah menenangkan anaknya.


Walau dalam hati Maria


sangat khawatir dengan kondisi wanita itu, bukan hanya Lucy yang takut wanita


itu mati, Maria dan Rudi juga demikian ia tidak ingin anaknya diangap pembunuh


lagi?


***


Drettt....


Suara telpon di


apartemen itu berbunyi, membangunkan tidur seorang gadis, yang dari sore


tertidur pulas setelah meminum obatnya, kepalanya masih terasa pusing sekarang.


“Anna ada telpon,”


tampak suara wanita itu lemas tapi tidak ada jawaban. Ia mencobah bangkit,


berjalan kearah telpon di ruang tamu dengan kesadaran yang belum seratus persen


bahkan wanita itu berjalan dengan mata terpejam karena mengantuk, “Ini baru jam satu pagi, siapa yang menelpon,” gumamnya dalam hati.


“Hallo,” Xiang


menganggat telpon dengan suara serak,  lalu


memijit lembut kepalanya.


“Apa betul ini kediaman nona


Berliana?”suara di seberang sana


“Iya,


betul.” jawab Xiang malas


“Kami


dari Rumah sakit Harapan, maaf menganggu kami memberitahukan bahwa nona


Berliana mengalami kecelakaan, sekarang ia sedang di rawat di rumah sakit kami.”


“Apa?!” sontak Xian


langsung melebarkan matanya, ia berlarih kearah kamar Anna, dan tidak menemukan


siapapun.


Xiang mencobah menelpon


ke nomer Anna, tidak berapa lama telpon itu diangkat.


“Hallo,”tampak suara seorang yang tidak Xiang kenal di seberang sana “Anna?“ Xiang


mengantung ucapanya,


“Maaf ini dari Rumah sakit harapan,


nona Berliannya sedang di rawat, nona Berlianya mengalami kecelakaan tadi.”


Setelah memutuskan


pangilan secarah sepihak Xiang langsung  menujuh rumah sakit Harapan. Xiang juga menghubungi Nicko tunangan Anna


tapi tidak diangkat, ia lalu mengirimkan pesan singkat memberi tahu kalau Anna


sedang di rawat, ia juga menghubungi Jesika dan Wil.


***

__ADS_1


__ADS_2