Anna & Dream

Anna & Dream
21. Apel With Love


__ADS_3

Nicko mengantar Anna


pulang, tepat di depan gerbang rumah keluarga  Alexander lalu Nicko memberhentikan mobilnya.


“Anna,” Nicko membuka suaranya,


gadis itu menoleh sambil tersenyum, “Aku ingin kita menikah secepatnya.” Jelas


Nick, ia tidak akan membiarkan Julian merebut tunanganya.


“Apa aku baru saja di


lamar?” Anna tersenyum mengejek


“Ya, aku melamarmu,


maukah kau menikah dengan ku?” Nicko mengenggam tangan tunanganya sambil


menatapnya. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.


Nicko tersenyum lembut


sambil menatap Anna perlahan bibir itu melumat bibir tunanganya dengan lembut


menyalurkan rasa cintanya, Nicko seakan menegaskan kalau Anna hanya miliknya


bukan milik orang lain.


Nicko bisa merasakan


kegugupan Anna saat membalas ciumanya setelah diam cukup lama, Anna memberikan


sensasi luar biasa untuk Nicko karena ini pertama kalinya mereka berciuman


dengan sangat hangat dan lama, keduanya berhenti saat hampir kehabisan napas,


Nicko mengusap bibir Anna yang basah karena ulahnya.


Malam ini Anna tidak


bisa tidur karena ia baru saja dilamar Nicko, ia tidak menyangkah Nicko


melakukanya, tanpa bunga dan cincin cukup dengan ciuman itu, tapi gadis itu


tidak peduli, ia terlalu senang malam ini hingga membuatnya tidak bisa tidur.


Anna memutuskan ke


balkon rumah untuk duduk sambil melihat bintang,  tapi ia melihat seseorang yang ia kenal tampak


sudah duduk disana sambil menatap langit, padahal ini sudah jam dua malam, jantungnya


entah mengapa berdetak dengan cepat, padahal ia hanya melihat punggung Julian.


Akhirnya Anna kembali


ke kamarnya menengelamkan tubuhnya dalam selimut berharap detak jantungnya


cepat kembali seperti semula.


***


Suasana pagi saat


sarapan berjalan biasa saja tidak ada yang istimewah, Julian dan Lucy berangkat


setelah menyelesaikan sarapanya, tanpa terasa ini adalah minggu terakhir Anna


tinggal di rumah itu, gadis itu hanya perlu kontrol lusa, setelah itu Anna


memutukan akan pulang ke apartemenya.


Gadis itu mulai


merapikan beberapa buku dan pakaiannya, hari ini memutuskan pergi


keapartemenya. Suasana aparteman itu tampak sepih karena Xiang belum pulang


dari kantornya, gadis itu segerah merapikan beberapa perabotanya.


“Anna kau dimana?”terdengar


suara Lucy dari seberang sana,


“Aku


diapartemenku.” Anna menjelaskan   “Iya aku akan pulang


sekarang,” Dengan cepat gadis itu meninggalkan apartemenya segera menunggu


taksi menuju kediaman Alexander.


“Kenapa tidak bilang


kalau kau pindahan ?” Lucy tampak kesal menatap gadis dihadapanya.


“Aku sudah sembuh Lucy


jangan khawatir, lagi pula aku hanya tinggal menjalani terapi terakhir lusa.”


Anna menjelaskan, cepat atau lambat ia harus pergi karena ia hanya menumpang di


kediaman Alexander, karena rasa pertanggung jawaban Lucy yang menabraknya.


“Mom dan Daddy akan


pulang besok.” Julian menjelaskan saat makan malam, tampak Lucy dan Anna sangat


senang sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu karena Maria memutuskan


untuk tinggal lebih lama di Prancis sambil berkunjung kerumah keluarganya di


sana,  setelah mereka sedang keliling


Eropa berkat kado dari Julian dan Lucy.


****


Maria masuk kedalam


kamar Anna tampak gadis itu sedang duduk membaca novel, menyadari kehadiran


Maria, Anna segera menutup novelnya, Maria datang untuk menyanakan keadaanya,


walau hampir setiap hari selama ia pergi Maria selalu bertanya lewat telpon,


tapi akan terasa berbeda saat menanyakanya langsung, Anna menjelaskan semuanya


baik-baik saja.


Pagi harinya Rudy dan


Maria yang menemani Anna kerumah sakit karena Lucy harus ke kampus dan Julian


harus ke kantor. Ben segerah memeriksa kondisi Anna


“Jadi bagaimana?” Rudy


bertanya akan keadaan Anna


“Anna, sudah sembuh


pak, ia bisa menjalankan pekerjaannya seperti biasa, tapi nanti kalau ada


keluhan atau merasa kurang nyaman, segerah kesini.” Ban menjelaskan, Maria, Rudy


dan Anna tampak mengerti.


“Terimakasih dok.” Anna


menyalami tangan Ben.


****


Suasana di meja makan


cukup ceria tampak, Maria, Rudy Lucy dan Anna bercanda hanya Julian yang diam,

__ADS_1


entah apa yang di pikirkan laki-laki itu saat ini.


“Aku selesai, aku


pulang dulu.” Julian menbuka suaranya, semua orang tampak diam menatap Julian,


ya, Julian hanya tinggal di rumah itu karena Rudy dan Maria sedang ke Luar negeri


dan sekarang mereka sudah kembali jadi tidak ada alasan untuk Julian tinggal


lagi.


“Menginaplah, setidaknya


sampai ulang tahun mu lusa.” pintah Rudy pada anak laki-lakinya.


“Besok kita semua akan


kepuncak merayakan ulang tahunmu, bukankan kau senang saat berada di puncak.”


tambah Maria, ia tahu anaknya tidak akan menolak saat diajak kepuncak bersama,


karena Julian sangat menyukai suasana sepih di sana, ia juga memiliki villa di


sana.


Julian sering


mengunjungi villa itu, tapi untuk bersama-sama berkumpul dengan keluarganya


adalah hal yang langkah bagi mereka.


***


Sore ini tampak dua


mobil  sedang berjajardi siap untuk


menemani keluarja Alexander dan Anna ke puncak. Rudy dan Maria berada dalam


satu mobil dengan seorang supir, sedangkan Julian, Lucy dan Anna mereka ada


dalam sport Julian.


“Pindah sekarang!”


teriak Julian pada Lucy.


Ia tidak ingin adiknya


duduk di sampingnya, Anna hanya diam, ia sudah biasa melihat Julian bersikap


kasar pada Lucy, perna sekali Anna membentak Julian karena memarahi Lucy dan


membuat mereka mendiamkan diri satu sama lain selam lima hari, akhirnya Julian


minta maaf pada Lucy dan setelah itu Anna menyapanya lagi.


“Kakak aku-”


“Pindah sekarang.” suara


Julian terdengar sangat dingin hingga membuat Lucy sedikit merinding, Lucy tahu


kalau kakaknya sudah bicara seperti itu ia benar-benar akan meledak, dengan


cepat Lucy pindah kebelakang duduk di samping Anna.


“Kenapa belum jalan?”


Anna bertanya, karena mobil yang membawah Rudy dan Maria sudah berangkat lima


menit yang lalu dan Lucy sudah pindah kebelakang.


“Kau


pindah kedepan sekarang.” suara Julian masih terdengar dingin “Tidak mau.”


jawab Anna cepat.


“Sudah cepat pindah,


adalah acarah penting dalam keluarganya ia tidak mau Julian berubah pikiran.


Selama dalam perjalanan


mereka hanya diam, Julian memutar beberapa lagu Melo di mobil itu, membuat Lucy


beberapa kali menguap, lagu-lagu itu seakan mewakili perasaan Julian yang hanya


bisa mencintai seorang gadis tanpa bisa memilikinya.


Hampir empat jam mereka


baru sampai karena jalanan macet, saat sampai tampak hari sudah gelap, mereka


bertiga segerah masuk rumah, disana sudah ada Maria dan Rudy di taman belakang,


mereka dengan memasak beberapa daging dan sosis di sana.


Julian segerah mengelar


sebuah tikar di halaman yang penuh dengan rumput jepang. Lucy dan Anna membantu


menyiapkan makanan dan minuman, mereka tampak menikmati makan malam dengan


ceriah, tidak lupa Lucy mengabadikan momen berharga dalam hidup Julian. Sudah


jam sebelas malam Rudy dan Maria kembali ke kamar mereka tampak lelah dan


ngantuk. Anna mulai membersikan sebagian piring kotor di bantu Lucy,


“Anna, aku tidur dulu ya.”


Lucy pamit, Anna tersenyum menjawabnya.


Anna kembali kehalamana


belakang melihat apakah ada piring kotor yang tersisah, sebenarnya tadi Maria


sudah melarang Anna mengerjakan itu, karena besok pagi akan ada penjaga Villa


yang akan membereskan semuanya.


Julian duduk sembil


berselonjoran tampak kedua tanganya di belakang menyanggah tubuhnya, pandanganya


masih mentap langit. Anna ingat ia akan memberikan Julian sebuah hadiah, Anna


teringat Julian pernah meminta barang milik Anna tapi gadis itu menolak.


“Belum tidur?” suara


Anna memecah lamunan laki-laki itu dengan segerah Anna duduk di samping Julian.


“Ini untuk mu.” Anna


menyodorkan sebuah buku berwarna coklat yang di balut pitah warna biru.


Laki-laki itu tersenyum


sambil meraih hadianya, “Untukku? bukankah kau bilang ini sangat berharga bagi


mu?” laki-laki itu binggung,


Waktu itu gadis itu


tidak mau meminjamkan buku itu sampai mereka terjatuh untuk mempertahankannya


dan sekarang ia malah memberikan buku ini.


“Ya, buku itu berharga,


kau harus menjaganya dengan baik,” Anna menjelaskan “Tapi sebenarnya aku


memberikan buku itu karena aku tidak bisa membacanya, buku itu bahasa Prancis

__ADS_1


dan aku tidak mengerti, aku tau kau bisa bahasa prancis karena Mom orang


prancis.” Julian menatap gadis di hadapanya.


“Jadi ini hadia ulang


tahunku?” tanya Julian meraih buku coklat itu.


“Tentu saja, aku tidak


ada uang untuk memberikanmu hadia mahal.” Anna menjawab dengan nada bercanda,


tampak mereka berdua tertawa mendengarnya. Hampir satu jam mereka memandangi


langit yang sama.


“Julian ini sudah jam


dua belas, tapi kenapa tidak ada keluargamu yang keluar memberikanmu kue dengan


lilin?” gadis itu penasaran, seharusnya saat ulang tahun seseorang akan


mendapatkan sebuah kue, seperti saat Rudy dan Maria merayakan ulang tahun


pernikahan mereka, apa Julian tidak suka kue?


“Sebenarnya aku ulang


tahun besok pagi jam tujuh, mereka akan memberika kuenya besok.” Julian


menjelaskan,  Anna hanya mengangguk


mengerti, pantas saja seluruh keluarga Julian memilih tidur lebih cepat malam


ini.


“Anna, boleh aku


bertanya sesuatu?” Julian melihata kearah wajah Anna yang masih melihat bintang


gadis itu mengangguk.


“Siapa Jack, maksudku


kau sering bergumam memanggil Jack, saat kau terbangun dari koma, di taman,


bahkan saat kau tertidur, kau sering sekali memanggil namanya?” Gadis itu


langsung manatap Julian dengan ragu.


“Kau,” Anna menarik


napas dalam “Kau ingin tau?” Julian segera mengangguk cepat “Jack dia adalah


penjagaku, ia juga cinta pertamaku, ia juga mati karena aku.” Anna menerawang .


“Laki-laki itu


menginggal?”


“Ya, tepatnya dalam


mimipi ku,” jelas Anna sambil tersenyum.


“Mimpi? jadi itu


laki-laki hayalannmu?” Julian mengejek.


“Entahla, itu terjadi


dua tahun lalu saat aku kuliah, dan aku mencobah melupakanya, semakin aku berusaha,


semakin sulit aku melupakannya karena sekarang ia nyata.” Anna menatap ke dalam


mata Julian, tiba-tiba jantung Anna berdetak cepat seakan ingin keluar dari Daddyanya.


“Apa aku Jack mu?”


laki-laki itu memegang pipi Anna, gadis itu segera memalingkan mukanya dengan


cepat Julian menahanya.


“Kau hanya mirip.”


gumam Anna, yang terus berusaha menguasai dirinya.


Julian terdiam sesaat,


hanya dalam hitungan detik Julian sudah mendekatkan bibirnya pada Anna hingga


hanya tinggal beberapa inci, “Oh tuhan


jangan lagi, Julian aku mohon.” Anna memohon dalam hatinya, ia ingin mendorong


Julian tapi tidak bisa tubuhnya sekarang beku.


Bibir Julian menyentuh


lembut bibir Anna, memberikan kehangatan di malam itu, Anna mulai membalas


lumatan bibir Julian, entah mengapa Anna dan Julian tidak ingin ciuman ini


berakhir, “Aku mencintaimu.” bisik Julian.


Gadis itu mengangkat


tangan kirinya mengelus pipi dan rahang Julian, seketika ia melihat cincin


tunangannya, dengan cepat Anna berdiri, ia merasa bersalah karena mencium Julian


dan mengkhianati Nicko.


Laki-laki itu segera


menyusul Anna yang melangkah meninggalkannya, dengan cepat ia menarik tangan


kanan gadis itu.


“Jangan bohongi diri mu


Anna, kau mencintaiku!” Julian berteriak


“Tidak Julian, aku


tidak mencintaimu, kau hanya mirip orang yang ku kenal dalam mimpiku.” Jelas


Anna sambil berusaha melepasakan tangannya.


“Chik, kenapa kau


membalas ciumanku, bahkan sampai dua kali.” Julian mentap tanjam pada gadis di


hadapanya.


“Julian aku mohon hentikan.”  Lirih Anna ia juga bingung dengan dirinya


sendiri mengapa ia membalas dan menikmati ciuman mereka tadi dan sebelumnya.


“Kau tidak bisa


menjawab? itu sudah cukup membuktikan kalau kau mencintaiku.” laki-laki itu


bersikeras.


“Aku tidak mencintaimu


dan aku akan menikah dengan Nicko, dia sudah melamarku.” Anna menjelaskan, seketika


Daddya laki-laki itu terasa sakit, sepeti tersambar petir, ya rasanya sangat


sakit mendengar itu semua.


“Kau, kau tidak mencintainya.”


gumam Julian pelan namun sangat dingin.


“Kau salah, aku

__ADS_1


mencintainya.”


***


__ADS_2