
Nicko mengantar Anna
pulang, tepat di depan gerbang rumah keluarga Alexander lalu Nicko memberhentikan mobilnya.
“Anna,” Nicko membuka suaranya,
gadis itu menoleh sambil tersenyum, “Aku ingin kita menikah secepatnya.” Jelas
Nick, ia tidak akan membiarkan Julian merebut tunanganya.
“Apa aku baru saja di
lamar?” Anna tersenyum mengejek
“Ya, aku melamarmu,
maukah kau menikah dengan ku?” Nicko mengenggam tangan tunanganya sambil
menatapnya. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.
Nicko tersenyum lembut
sambil menatap Anna perlahan bibir itu melumat bibir tunanganya dengan lembut
menyalurkan rasa cintanya, Nicko seakan menegaskan kalau Anna hanya miliknya
bukan milik orang lain.
Nicko bisa merasakan
kegugupan Anna saat membalas ciumanya setelah diam cukup lama, Anna memberikan
sensasi luar biasa untuk Nicko karena ini pertama kalinya mereka berciuman
dengan sangat hangat dan lama, keduanya berhenti saat hampir kehabisan napas,
Nicko mengusap bibir Anna yang basah karena ulahnya.
Malam ini Anna tidak
bisa tidur karena ia baru saja dilamar Nicko, ia tidak menyangkah Nicko
melakukanya, tanpa bunga dan cincin cukup dengan ciuman itu, tapi gadis itu
tidak peduli, ia terlalu senang malam ini hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Anna memutuskan ke
balkon rumah untuk duduk sambil melihat bintang, tapi ia melihat seseorang yang ia kenal tampak
sudah duduk disana sambil menatap langit, padahal ini sudah jam dua malam, jantungnya
entah mengapa berdetak dengan cepat, padahal ia hanya melihat punggung Julian.
Akhirnya Anna kembali
ke kamarnya menengelamkan tubuhnya dalam selimut berharap detak jantungnya
cepat kembali seperti semula.
***
Suasana pagi saat
sarapan berjalan biasa saja tidak ada yang istimewah, Julian dan Lucy berangkat
setelah menyelesaikan sarapanya, tanpa terasa ini adalah minggu terakhir Anna
tinggal di rumah itu, gadis itu hanya perlu kontrol lusa, setelah itu Anna
memutukan akan pulang ke apartemenya.
Gadis itu mulai
merapikan beberapa buku dan pakaiannya, hari ini memutuskan pergi
keapartemenya. Suasana aparteman itu tampak sepih karena Xiang belum pulang
dari kantornya, gadis itu segerah merapikan beberapa perabotanya.
“Anna kau dimana?”terdengar
suara Lucy dari seberang sana,
“Aku
diapartemenku.” Anna menjelaskan “Iya aku akan pulang
sekarang,” Dengan cepat gadis itu meninggalkan apartemenya segera menunggu
taksi menuju kediaman Alexander.
“Kenapa tidak bilang
kalau kau pindahan ?” Lucy tampak kesal menatap gadis dihadapanya.
“Aku sudah sembuh Lucy
jangan khawatir, lagi pula aku hanya tinggal menjalani terapi terakhir lusa.”
Anna menjelaskan, cepat atau lambat ia harus pergi karena ia hanya menumpang di
kediaman Alexander, karena rasa pertanggung jawaban Lucy yang menabraknya.
“Mom dan Daddy akan
pulang besok.” Julian menjelaskan saat makan malam, tampak Lucy dan Anna sangat
senang sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu karena Maria memutuskan
untuk tinggal lebih lama di Prancis sambil berkunjung kerumah keluarganya di
sana, setelah mereka sedang keliling
Eropa berkat kado dari Julian dan Lucy.
****
Maria masuk kedalam
kamar Anna tampak gadis itu sedang duduk membaca novel, menyadari kehadiran
Maria, Anna segera menutup novelnya, Maria datang untuk menyanakan keadaanya,
walau hampir setiap hari selama ia pergi Maria selalu bertanya lewat telpon,
tapi akan terasa berbeda saat menanyakanya langsung, Anna menjelaskan semuanya
baik-baik saja.
Pagi harinya Rudy dan
Maria yang menemani Anna kerumah sakit karena Lucy harus ke kampus dan Julian
harus ke kantor. Ben segerah memeriksa kondisi Anna
“Jadi bagaimana?” Rudy
bertanya akan keadaan Anna
“Anna, sudah sembuh
pak, ia bisa menjalankan pekerjaannya seperti biasa, tapi nanti kalau ada
keluhan atau merasa kurang nyaman, segerah kesini.” Ban menjelaskan, Maria, Rudy
dan Anna tampak mengerti.
“Terimakasih dok.” Anna
menyalami tangan Ben.
****
Suasana di meja makan
cukup ceria tampak, Maria, Rudy Lucy dan Anna bercanda hanya Julian yang diam,
__ADS_1
entah apa yang di pikirkan laki-laki itu saat ini.
“Aku selesai, aku
pulang dulu.” Julian menbuka suaranya, semua orang tampak diam menatap Julian,
ya, Julian hanya tinggal di rumah itu karena Rudy dan Maria sedang ke Luar negeri
dan sekarang mereka sudah kembali jadi tidak ada alasan untuk Julian tinggal
lagi.
“Menginaplah, setidaknya
sampai ulang tahun mu lusa.” pintah Rudy pada anak laki-lakinya.
“Besok kita semua akan
kepuncak merayakan ulang tahunmu, bukankan kau senang saat berada di puncak.”
tambah Maria, ia tahu anaknya tidak akan menolak saat diajak kepuncak bersama,
karena Julian sangat menyukai suasana sepih di sana, ia juga memiliki villa di
sana.
Julian sering
mengunjungi villa itu, tapi untuk bersama-sama berkumpul dengan keluarganya
adalah hal yang langkah bagi mereka.
***
Sore ini tampak dua
mobil sedang berjajardi siap untuk
menemani keluarja Alexander dan Anna ke puncak. Rudy dan Maria berada dalam
satu mobil dengan seorang supir, sedangkan Julian, Lucy dan Anna mereka ada
dalam sport Julian.
“Pindah sekarang!”
teriak Julian pada Lucy.
Ia tidak ingin adiknya
duduk di sampingnya, Anna hanya diam, ia sudah biasa melihat Julian bersikap
kasar pada Lucy, perna sekali Anna membentak Julian karena memarahi Lucy dan
membuat mereka mendiamkan diri satu sama lain selam lima hari, akhirnya Julian
minta maaf pada Lucy dan setelah itu Anna menyapanya lagi.
“Kakak aku-”
“Pindah sekarang.” suara
Julian terdengar sangat dingin hingga membuat Lucy sedikit merinding, Lucy tahu
kalau kakaknya sudah bicara seperti itu ia benar-benar akan meledak, dengan
cepat Lucy pindah kebelakang duduk di samping Anna.
“Kenapa belum jalan?”
Anna bertanya, karena mobil yang membawah Rudy dan Maria sudah berangkat lima
menit yang lalu dan Lucy sudah pindah kebelakang.
“Kau
pindah kedepan sekarang.” suara Julian masih terdengar dingin “Tidak mau.”
jawab Anna cepat.
“Sudah cepat pindah,
adalah acarah penting dalam keluarganya ia tidak mau Julian berubah pikiran.
Selama dalam perjalanan
mereka hanya diam, Julian memutar beberapa lagu Melo di mobil itu, membuat Lucy
beberapa kali menguap, lagu-lagu itu seakan mewakili perasaan Julian yang hanya
bisa mencintai seorang gadis tanpa bisa memilikinya.
Hampir empat jam mereka
baru sampai karena jalanan macet, saat sampai tampak hari sudah gelap, mereka
bertiga segerah masuk rumah, disana sudah ada Maria dan Rudy di taman belakang,
mereka dengan memasak beberapa daging dan sosis di sana.
Julian segerah mengelar
sebuah tikar di halaman yang penuh dengan rumput jepang. Lucy dan Anna membantu
menyiapkan makanan dan minuman, mereka tampak menikmati makan malam dengan
ceriah, tidak lupa Lucy mengabadikan momen berharga dalam hidup Julian. Sudah
jam sebelas malam Rudy dan Maria kembali ke kamar mereka tampak lelah dan
ngantuk. Anna mulai membersikan sebagian piring kotor di bantu Lucy,
“Anna, aku tidur dulu ya.”
Lucy pamit, Anna tersenyum menjawabnya.
Anna kembali kehalamana
belakang melihat apakah ada piring kotor yang tersisah, sebenarnya tadi Maria
sudah melarang Anna mengerjakan itu, karena besok pagi akan ada penjaga Villa
yang akan membereskan semuanya.
Julian duduk sembil
berselonjoran tampak kedua tanganya di belakang menyanggah tubuhnya, pandanganya
masih mentap langit. Anna ingat ia akan memberikan Julian sebuah hadiah, Anna
teringat Julian pernah meminta barang milik Anna tapi gadis itu menolak.
“Belum tidur?” suara
Anna memecah lamunan laki-laki itu dengan segerah Anna duduk di samping Julian.
“Ini untuk mu.” Anna
menyodorkan sebuah buku berwarna coklat yang di balut pitah warna biru.
Laki-laki itu tersenyum
sambil meraih hadianya, “Untukku? bukankah kau bilang ini sangat berharga bagi
mu?” laki-laki itu binggung,
Waktu itu gadis itu
tidak mau meminjamkan buku itu sampai mereka terjatuh untuk mempertahankannya
dan sekarang ia malah memberikan buku ini.
“Ya, buku itu berharga,
kau harus menjaganya dengan baik,” Anna menjelaskan “Tapi sebenarnya aku
memberikan buku itu karena aku tidak bisa membacanya, buku itu bahasa Prancis
__ADS_1
dan aku tidak mengerti, aku tau kau bisa bahasa prancis karena Mom orang
prancis.” Julian menatap gadis di hadapanya.
“Jadi ini hadia ulang
tahunku?” tanya Julian meraih buku coklat itu.
“Tentu saja, aku tidak
ada uang untuk memberikanmu hadia mahal.” Anna menjawab dengan nada bercanda,
tampak mereka berdua tertawa mendengarnya. Hampir satu jam mereka memandangi
langit yang sama.
“Julian ini sudah jam
dua belas, tapi kenapa tidak ada keluargamu yang keluar memberikanmu kue dengan
lilin?” gadis itu penasaran, seharusnya saat ulang tahun seseorang akan
mendapatkan sebuah kue, seperti saat Rudy dan Maria merayakan ulang tahun
pernikahan mereka, apa Julian tidak suka kue?
“Sebenarnya aku ulang
tahun besok pagi jam tujuh, mereka akan memberika kuenya besok.” Julian
menjelaskan, Anna hanya mengangguk
mengerti, pantas saja seluruh keluarga Julian memilih tidur lebih cepat malam
ini.
“Anna, boleh aku
bertanya sesuatu?” Julian melihata kearah wajah Anna yang masih melihat bintang
gadis itu mengangguk.
“Siapa Jack, maksudku
kau sering bergumam memanggil Jack, saat kau terbangun dari koma, di taman,
bahkan saat kau tertidur, kau sering sekali memanggil namanya?” Gadis itu
langsung manatap Julian dengan ragu.
“Kau,” Anna menarik
napas dalam “Kau ingin tau?” Julian segera mengangguk cepat “Jack dia adalah
penjagaku, ia juga cinta pertamaku, ia juga mati karena aku.” Anna menerawang .
“Laki-laki itu
menginggal?”
“Ya, tepatnya dalam
mimipi ku,” jelas Anna sambil tersenyum.
“Mimpi? jadi itu
laki-laki hayalannmu?” Julian mengejek.
“Entahla, itu terjadi
dua tahun lalu saat aku kuliah, dan aku mencobah melupakanya, semakin aku berusaha,
semakin sulit aku melupakannya karena sekarang ia nyata.” Anna menatap ke dalam
mata Julian, tiba-tiba jantung Anna berdetak cepat seakan ingin keluar dari Daddyanya.
“Apa aku Jack mu?”
laki-laki itu memegang pipi Anna, gadis itu segera memalingkan mukanya dengan
cepat Julian menahanya.
“Kau hanya mirip.”
gumam Anna, yang terus berusaha menguasai dirinya.
Julian terdiam sesaat,
hanya dalam hitungan detik Julian sudah mendekatkan bibirnya pada Anna hingga
hanya tinggal beberapa inci, “Oh tuhan
jangan lagi, Julian aku mohon.” Anna memohon dalam hatinya, ia ingin mendorong
Julian tapi tidak bisa tubuhnya sekarang beku.
Bibir Julian menyentuh
lembut bibir Anna, memberikan kehangatan di malam itu, Anna mulai membalas
lumatan bibir Julian, entah mengapa Anna dan Julian tidak ingin ciuman ini
berakhir, “Aku mencintaimu.” bisik Julian.
Gadis itu mengangkat
tangan kirinya mengelus pipi dan rahang Julian, seketika ia melihat cincin
tunangannya, dengan cepat Anna berdiri, ia merasa bersalah karena mencium Julian
dan mengkhianati Nicko.
Laki-laki itu segera
menyusul Anna yang melangkah meninggalkannya, dengan cepat ia menarik tangan
kanan gadis itu.
“Jangan bohongi diri mu
Anna, kau mencintaiku!” Julian berteriak
“Tidak Julian, aku
tidak mencintaimu, kau hanya mirip orang yang ku kenal dalam mimpiku.” Jelas
Anna sambil berusaha melepasakan tangannya.
“Chik, kenapa kau
membalas ciumanku, bahkan sampai dua kali.” Julian mentap tanjam pada gadis di
hadapanya.
“Julian aku mohon hentikan.” Lirih Anna ia juga bingung dengan dirinya
sendiri mengapa ia membalas dan menikmati ciuman mereka tadi dan sebelumnya.
“Kau tidak bisa
menjawab? itu sudah cukup membuktikan kalau kau mencintaiku.” laki-laki itu
bersikeras.
“Aku tidak mencintaimu
dan aku akan menikah dengan Nicko, dia sudah melamarku.” Anna menjelaskan, seketika
Daddya laki-laki itu terasa sakit, sepeti tersambar petir, ya rasanya sangat
sakit mendengar itu semua.
“Kau, kau tidak mencintainya.”
gumam Julian pelan namun sangat dingin.
“Kau salah, aku
__ADS_1
mencintainya.”
***