
Tepat pukul sepuluh pagi, Anna terlihat gugup di depan ruang sidang, ia sedang menunggu antrian sidang, setelah ini giliran dia masuk untuk mempersentasikan hasil skripsinya.
“Kau harus tenang Anna, aku yakin kau bisa.” Jesika menenangkan dan memberi semangat pada sahabatnya, Anna hanya menggangguk tapi raut tegang di mukanya sangat jelas terlihat.
“Ini minumlah.” Wil memberikan sebotol air mineral pada Anna, gadis itu langsung meminum sebagian airnya.
Tidak berapa lama namanya di panggi, Anna berjalan kearah depan pintu ruang sidang.
“Semangat Anna!” Xiang berteriak mengemangati, Anna hanya tersenyum dia bersyukur memiliki teman yang selalu mendukungnya.
Berdiri di depan ruangan terdapat beberapa kepala memperhatikannya membuat Anna sedikit gugup, tapi gadis itu bisa menguasai diri, sesekali ia tersenyum sambil mempersentasikan hasil skripsinya, ia bisa menjawab semua pertanyaan para pengujinya. Hampir satu jam ia berada di dalam ruangan tersebut.
***
“Selamat, kamu lulus Anna.” suarah salah seorang penguji sambil menyodorkan tanganya pada Anna, ia sangat senang dan langsung menyalami semua pengujinya dan tidak lupa berterimakasih.
Ia berjalan meninggalkan ruang sidang yang mampir membuat jantungnya melompat dari dadanya.
“Bagaimana hasilnya?” suara Jesika mengagetkan Anna, Wil dan Xiang menatap Anna dengan tegang mata mereka berkaca-kaca seakan ingin menangis, belum sempat Anna menjawab pertanya Jesika, Xiang langsung memeluknya sambil menangis.
“Aku lulus Xiang.” bisik Anna, sontak Wil dan Jesika ikut memeluk Anna dengan erat.
“Hentikan!” gadis itu berteriak, tapi tidak diperdulikan teman-temanya,
“Aku tidak bisa bernapas, kalian ingin membunuhku!” teriak Anna sekali lagi. Membuat tiga temanya tertawa terbahak-bahak.
“Ayo pulang!” Jesika menarik Anna dan diikuti yang lainnya.
***
Anna mulai mengigit apelnya, ia memegang buku coklat berwarnah tanah buku itu seolah memanggil namanya.
“Ini buku apa?” Xiang merebut bukunya, kemudian membuka beberapa halahman di buku itu.
”Ini bahasa apa? aku tidak bisa membacanya?” Xiang menunjukan pada Wil, Wil menyipitkan matanya sambil mengangkat bahunya. Tampak Anna masih mengunyah apelnya tidak perdulih dengan apa yang dilakukan Xiang pada buku itu.
“Jes, apa kau mengerti tulisannya?” Xiang mengarahkan bukunya.
“Seperti tulisan Belanda mungkin? yang pasti itu bukan bahasa Arab ataupun Inggris apalagi bahasa Cina.” jawab Jesika dengan santai.
“Anna, bacakan untukku yang ini.“ Xiang menunjuk sebuah paragraf. Anna tidak berniat membacah buku itu dengan cepat gadis itu mengeleng.
“Ayolah bacakan, kau tidak menganggapku teman ha?!” ancam Xiang
“Aku akan merah kali ini jika kau tidak membacakanya untuk ku?”
Anna mengangkat dua alisnya lalu melihat kerah lembar yang di tunjuk Xiang.
“Pengorbana yang tidak sia-sia, kesetian menunggu seseorang yang di cintai, jalan panjang menujuh kebenaran, matahari dan bulan mulai bersejajar menunggu tamunya, Hanya keyakinan yang membuatnya kembali, keraguan akan membunuhmu.”
Anna memberhentikan kalimatnya,
“Waw.” Xiang langsung menutup bukunya dan mengembalikan pada Anna.
“Buku ini membuatku merinding.” Xiang langsung menarik selimutnya.
“Anna, jika kau ingin membaca buku itu cukup di dalam hati!” teriak Jesika diatas tempat tidurnya.
“Iya, aku benar-benar takut mendengar ucapanmu.” Wil bersuarah tapi suarahnya terdengar bergetar.
“Sudah kubilang aku tidak mau membaca buku ini.” bela Anna, buku itu benar-benar mengeluarkan Aurah menyeramkan.
“Sudahla cepat tidur!” Jesika menenangkan suasana.
Anna bertekat tidak akan tidur takut bermimpi lagi, ia ingin tetap tinggal disini, tapi rasa kantuk menghampiringya karena tadi malam ia tertidur sampai jam tiga malam dan terbangun jam lima pagi dia harus ke kampus pagi-pagi untuk mempersiapkan sidangnya tadi pagi. Tepat jam dua belas malam Anna berusaha melawan kantuknya, tapi ia kalah dan akhirnya terlelap.
****
Terdengar suarah gemericik air yang sangat kuat, terdapat suara anak-anak tertawa dan beberapa suara burung sedang bersiur dengan lantang. Gadis itu mambuka matanya perlahan, ia melihat kearah langit-langit rumah yang terbuat dari jerami. Mata gadis itu beralih memperhatikan kamar yang terbuat dari kayu, dan ada seorang yang di kenalnya sedang memengang tanganya terlihat sedang terlelap.
Anna mencoba mengerakkan tubuhnya tapi tidak bisa rasa sakit menjalar di sekitar tubuhnya. Ia berusaha membuka mulutnya untuk memanggil seseorang, tapi percuma tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Kua sudah bangun?” ucap laki-laki di sampingnya matanya tampak berkaca-kaca, laki-laki itu tampak sangat kelelahan. Mukanya agak tirus, dan terlihat berbeda, tampak rambut-rambut halus tumbuh di sekitar rahangya, rambutnya terlihat lebih panjang hingga menyentuh bahu, dari pada saat terakhir ia melihatnya. Sekarang tubuh laki-laki itu terlihat lebih berisi.
“Jack.” suarah Anna sangat pelan seperti berbisik namun mampu terdengar oleh laki-laki itu. Membuatnya buat tersenyum seketika.
__ADS_1
Ia mencium kening Anna, beberapa butir air membasahi keningnya, gadis itu binggun.
'Apakah aku sudah mati? Mengapa Jack menangis?’ gumamnya dalam hati.
Seorang remaja berumur sekitar empat belas tahun sangat tampan memasuki ruangan dengan tersenyum, Anna tidak mengenal laki-laki ini.
“Kau sudah sadar sayang? aku tahu kau akan terbangun.” ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
“Lian.” bisik Anna dan di jawab anggukan, Lian segera mengereser tubuh Jack, Lian ingin mencium Anna tapi belum sempat bibir itu menyetuh kening Anna.
“Keluar semuanya, aku harus memandikan Anna!” teriak wanita yang tampak lebih dewasa dan masih terlihat cantik. Ia dengan cepat mendorong Jack dan Lian menjahu. Kemudian membantu Anna untuk duduk lalu memeluknya
“Maafkan aku,” ucap wanita itu sambil menangis
“Lily.” bisik Anna.
“Kau tertidur terlalu lama Anna, lihatlah kami semua bertambah tua tapi kau tidak.” Lily tersenyum sambil menghapus air matanya.
Anna hanya terdiam mendengar ucapan Lily, ia binggung sebenarnya berapa lama tia tertidur, seingatnya ia terbangun selama lima minggu.
“Saatnya mandi Anna, cepat keluar apa yang kalian lakukan disini!” Lily berteriak pada Jack dan Lian tapi tidak diperdulikan dua laki-laki itu mereka masih ingin melihat Anna.
“Aku tidak ingin keluar!” Jack bersuarah
“Aku juga!” balas Lian.
“Ya! kalian ingin melihat Anna telanjang?!” Lily mulai terlihat kesal
“Tentu saja.” jawab Jack dan Lian bersamaan di sertai senyumam nakal dua lelaki itu. Sontak membuat Lily geram.
“Langkahi dulu mayat ku.” Lily bersiap menyerang Jack dan Lian, belum sempat wanita itu membaca mantranya dua pria itu sudah hilang dari kamar itu.
Lily membantu mengosok punggung Anna “Aku tahu pasti banyak yang ingin kau tanyakan.” bisik Lily yang masih sibuk membersihkan punggung Anna, gadis itu hanya menggangguk.
“Aku akan menceritakan semuanya” Lily membuka suaranya lagi ”Waktu kau terlempar ke jurang, aku berusaha mengejarmu dengan sihirku, tapi tidak bisa karena aku terluka. Aku kembali pada Lian dan Jack, Jack sempat tak sadarkan diri selama sebulan, beruntung Lian bisa mengobati dengan cepat, kami bermalam selama seminggu di hutan. Saataku berjalan mencari buah untuk makan malam karena persediaan makanan habis. Aku melihat kudamu ditepi sungai, aku mencoba mendekatinya tapi dia menghindariku, dia berlari dan aku mengejarnya, tidak berapa lama aku menemukan kuda-kuda lain di pinggir sungai, aku kembali membawa kuda-kuda itu kecuali kudamu, dia sama sekali tidak mau ku dekati, aku memberi tahu Lian kejadian itu, Lian langsung pergi mencari kudamu dan aku menjaga Jack. Tiga hari Lian tidak kembali di hari ketiga aku masih menjaga Jack dan memberikannya pengobatan sebisahku” Lily menarik napas dalam.
”Lian datang pada sore hari ia mengatakan kalau kami harus meninggalakan hutan secepatnya dan membawa Jack. Kami terus berjalan menyusuri sungai sampai kami bertemu banyak kawanan rusa dan beberap penduduk lokal di pinggir hutan, awalnya mereka menyerang kami tapi Lian berbicara pada ketua desa, akhirnya kami bisa diterimah disini, kami juga menceritakan kalau kami mencarimu, semua warga desa membantu mencarimu. Hampir sebulan kau menghilang, awalnya aku ragu kalau kau masih hidup, Lian tidak bisa merasakan keberadaanmu, kami mulai putus asa.” Lily nenatap Anna sesaat.
“Terimakasih” bisik Anna
Lily tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya.
“Pada malam hari Jack pergi meninggalkan kami dia pergi mencarimu, kami menyadari kepergian Jack, kami menyusul Jack hampir dua hari kami mencarimu dan Jack, hingga aku dan Lian melihat kudamu di dekat air terjun, begitu juga dengan kuda Jack, kami menghanghampirinya. Aku melihat Jack memegangi tubuhmu yang basah dan penuh luka, tapi yang membuatku binggung, tidak ada satu hewanpun yang datang menghampirimu dan tubuhmu seperti baru terjatu hari itu, bukan lebih dari sebulan.” Lily kemudian duduk di samping Anna.
“Mungkin karena aku bukan berasal dari sini.” gumam Anna, Lily mengangguk sesaat.
“Kami langsung membawahmu kesini begitu juga dengan kudamu” Lily melanjutkan ceritanya.
“Sudah berapa lama aku tertidur, Lily?”
“Sekitar empat tahun.” jawab Lily, Sontak membuat Anna membulat mata ia benar-benar
terkejut “Dan selama itu juga kami merawatmu, begitu juga penduduk desa, semua berdo’a agar kau segera terbangun.” lanjut Lily
“Penduduk?” bisik Anna di tengah terkejutanya.
“Ya penduduk desa, apakah akau ingin menemui mereka?” Lily tersenyum, Anna mengangguk.
“Tapi tidak sekarang, sekarang kau harus makan dulu.” Lily kemudian pergi meninggalkan Anna di kamar.
“Apa aku boleh masuk sekarang?” suara Jack terdengar dari luar pintu.
“Ya.” suarah Anna sangat pelan, dan dia yakin Jack tidak akan mendengarnya. Jack menghampiri Anna dan berlutut di depan gadis itu duduk
”Aku bisa mendengar suarahmu, walaupun suarahmu sangat pelan.” Jack kemudian memegang tangan Anna dan memperhatikan wajanya.
“Kau tidak berubah sedikitpun Anna.” bisik Jack
Tangan mungil Anna menyentu rahang Jack yang di tumbuhi buluh-buluh halus, membuat laki-laki itu terlihat lebih dewasa dan matang.
“Kau terlihat berbeda.” bisik Anna
“Apa kau tidak menyukainya?” balas Jack, tanganya menahan tangan Anna, mata laki-laki itu menatap dalam mata berwarnah hitam pekat, sudah lama ia tidak melihat mata itu, mata yang indah seperti bintang yang bersinar di langit malam.
Anna hanya tersenyum “Kau terlihat tua sekarang.” Anna mencibir Jack. Laki-laki itu menarik napas dalam ingin sekali ia memberi pelajaran pada mulut yang telah menginanya.
__ADS_1
“Sudah kubilang, aku akan tumbuh lebih cepat Jack dan aku akan merebut hatinya.” Lian masuk ke kamar kemudian memberikan segelas ramuan obat pada gadis itu.
“Kau harus melangkahi mayatku” Jack langsung berdiri di depan Anna menghalangi Lian untuk mendekat.
“Hentikan, kalian sama sekali tidak berubah” suarah Anna mulai terdengar lebih jelas.
Anna mencoba meminum apa yang di berikan Lian, tapi baru satu teguk rasa pahit menyerang mulutnya, ia ingin memumtahkannya.
“Pahit.” suarah Anna menggumam.
“Kau harus meminumnya Anna” Lian mengingatkan gadis itu menggeleng kuat.
“Kau setiap hari memimumnya” tambah Lian.
“Apa? aku tidak perna meminum racun ini.” jawab Anna, membuat jack dan Lian tertawa.
“Kau meminumnya setiap hari dan aku membatu mu.” jawab Jack sambil tersenyum jahil.
“Aku tidak mau meminumnya titik, kalau kau mau habiskan racun ini Jack. aku sama sekali
tidak keberatan!” Anna menyodorkan minuman itu pada JacK.
“Baikla, Jack bantu Anna meminum obatnya seperti biasa.” Lian lalu pergi meninggalkan mereka.
“Seperti biasa apa maksudnya?” Jack tidak menjawab ia meneguk semua cariran obat itu,
sontak gadis itu mengangah terkejut.
‘Apa Jack tidak merasa pahit?’ gumamnya dalam hati, sesaat kemudian Jack menarik tungkuk Anna.
“Apa yang ak-” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya Jack telah menempelkan bibirnya pada ada pada mulut Anna dan mendorong cairan obat itu dari mulutnya agar bisa di terima Anna.
Gadis itu sempat memberontak tapi Jack lebih kuat, seketika rasa pahit masuk di tenggorokkannya, ketika selesai Jack menarik bibirnya, Anna masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi, jari tangan Jack mengusap tepih bibir Anna, terdapat bekas cairan obat di sana.
Perlu waktu sekitar lima detik hingga Anna kembali sadar dari diamnya, Anna sangat marah dan langsung menampar Jack, ia menampar laki-laki yang baru saja menciumnya.
“Kau berengsek Jack!” teriak Anna kesal.
Laki-laki sangat terkejut atas tindakan Anna mengapa tiba-tiba ia di tampar?
“Menapa? aku telah melakukan itu padamu selama empat tahun dan kau tidak pernah marah seperti ini.” Jack terlihat binggung dan sedih.
“Itu, itu karena aku tidak sadarkan diri!” Anna berteriak.
“Maafkan aku” Jack mendekati Anna, tapi gadis itu langsung pergi meninggalkannya.
Jack merasa bersalah ia tidak tahu kalau Anna akan semarah ini padanya padahal mereka baru saja bisa berbincang tadi.
****
Lily dan Lian menatap binggung pada Anna yang berjalan tergesah-gesah keluar dari kamarnya.
“Apa mereka bertengkar?” Lily bertanya pada Lian.
“Kurasa lebih baik Jack meminumkan obatnya saat Anna tidak sadarkan diri.” jawab Lian sambil membantu Lily menyiapkan makanan.
Gadis itu keluar rumah dengan kesal, “Bagaimana mungkin Jack mengambil ciuman pertamaku? Di dunia ini aku belum pernah berciuman dengan seorang laki-laki manapun!” gumanya, beberapa kali ia menghentakan kakikinya jika mengingat kejadia tadi “Jack kau akan menyesal!” teriak Anna kesal
Ia terus berjalan tepat didepannya terdapat anak-anak sedang mandi di bawah air terjun beberapa orang tersenyum pada Anna, gadis itu membalas senyuman setiap orang yang di temuinya dengan ramah. Anna menghampiri anak-anak yang sedang mandi. Ia memutuskan untuk merendamkan kakinya, airnya terasa sangat dingin seperti es, semuanya terasa nyaman, perlahan tapi pasti dinginnya air itu seolah sedang meredam kemarahan Anna.
Hampir setengah jam dia duduk sambil melamun ia ingat bahwa tadi malam ia masih di dalam kamar dan berusaha agar tidak tidur dan agar ia tidak kembali ke sini, ini semua karna Xiang yang memaksanya membaca buku itu.
“Apa yang kau lakukan.” suarah Lily mebubarkan lamunan Anna.
“Ak-aku, hanya melihat-lihat.” gadis itu masih terkejut
“Ayo pulang kau harus makan” Lily menarik Anna.
Mereka berjalan menelusuru desa, ada sesuatu yang harus Anna pastikan pada sahabtanya Lily, ya sesuatu yang sangat penting dalam hidup Anna.
“Lily, apakah? Apakah Jack, emm.. setiap hari, mem.. memberi aku obat?” Anna terlihat terbata-bata pada pertanyanya.
“Tentu saja, iya selalu melakukannya.” jawab Lily dengan santainya seakan tidak ada masalah di sana.
“Maksudmu?” Anna memegang bibirnya
“Ya, Jack meminumkannya dari mulutnya.”
Anna melotot lalu terdiam sesaat, tidak mungkin Jack menciumnya setiap hari, lagi pula itu menjijikan.
“Apa? Apakah tidak ada cara lain? Dengan sendok mungkin” Anna masih tidak percayah Jack melakukanya setiap hari.
__ADS_1
“Kami sudah mencobanya, tapi yang terjadi hanya sedikit obat yang masuk pada mulutmu dan sisanya terbuang sia-sia, kau tahu Lian dan aku harus masuk kedalam hutan untuk mencari bahan dasar obat itu. Apakah kau tega melihatku bolak balik hutan setiap hari. Sedangkan obatnya hanya terbuang sia-sia?” Lily menjelaskan. Anna hanya terdiam mendengarnya.