Anna & Dream

Anna & Dream
7. Apel With Love


__ADS_3

Suasana


kantor tampak tegang semua orang yang duduk disana merasahkan hawa membunuh,


tampak Julian sedang memimpin rapat, semua jajaran perusahaan itu memperhatikan


semua hal yang di sampakiakn Julian, tidak ada yang berbeda kali ini hanya saja


laki-laki itu terlihat aneh, ia tidak marah hari ini walau ada beberapa stafnya


mempersentasikan dengan kalimat yang salah, laki-laki itu hanya tersenyum


sesekali menatap buah apel di tanganya.


“Apa


ada yang kurang jelas?” Julain membuka suaranya “Jika tidak ada yang bertanya,


saya akhiri rapat ini.” tambahnya.


Semua


staf tampak terkejut melihat tingkah bosnya yang aneh, Julian tidak


memperdulikannya, ia tahu semua stafnya menatapnya dengan heran, hanya saja


hari ini ia terlalu senang ia tidak ingin merusak moodnya hari ini.


Tiba-tiba


muncul ide melintas di kepala Julian, pria itu mengambil telponnya, dan menekan


tombol call, tidak berapa lama telpon


ditu diangkat.


“Halo Lucy.”


“Ada


apa kakak?”jawab suara di seberang sana


“Apa kau masih sakit?”


“Sudah


tidak terlal,  Kak,”


“Bearti kau masih sakit.”


jawab Julian dengan antusias


“Aku


sudah sehat kak.”


“Jangan bohong Lucy,


kau masih sakit sebaiknya kau beristirahat, malam ini aku akan menjaga Anna!”


“Tapi


kak aku-”belum sempat Lucy menyelesaikan kalimatnya Tut..,


tut.., tampak suah telpon di seberang sana sudah terputus.


Lucy merasah aneh


dengan kakaknya, kemarin malam ia sangat marah saat Lucy memintahnya menjaga


Anna, karena ia sedang sakit, tapi mengapa hari ini Julian malah menawarkan


diri untuk menjaga Anna?


***


“Sayang apa kabar?” Seorang


laki-laki masuk menghampiri Anna, membawakanya seikat bunga mawar berwarna


merah.


“Baik Nick, kamu apa


kabarnya?” jawab Anna, ia benar-benar merindukan tunangnya, sudah dua hari


mereka tidak bertemu, Nicko langsung mengecup kening Anna.


“Aku baik sayang, maaf


aku baru datang Ibu Margaret memintaku lembur, dan besok aku harus menemaninya


ke Kalimantan, melihat proyek di sana.” Nicko menjelaskan.


“Berapa lama?” gadis itu


bertanya walau dalam hati ia merasa sedih karena itu bearti mereka akan


terpisah lagi.


“Mungkin satu minggu


atau lebih, aku juga tidak tahu,”


“Hati-hati


di sana ya, jaga diri kamu.” Anna menginggatkan tunangnya. “Iya sayang, pasti,

__ADS_1


kamu juga di sini cepat sembuh ya.”


***


Sesorang sedang memperhatikan


mereka dari luar pintu, sudah satu jam ia berdiri di sana, ia memutar


langkahnya memilih menemui Ben untuk tahu kondisi Anna. Saat ia keluar dari


ruangan Ban, seseorang memanggilnya dan berlari kearahnya.


“Julian.” Laki-laki itu


menoleh.


“Dev, apa yang kau


lakukan disini?”


“Aku sedang menjenguk teman


adikku tadi, ia sedang sakit, ” jawab Dev. Dev adalah sahabat Julian sejak


kuliah, walau Dev lima tahun lebih tua darinya.


“Kau sendiri sedang apa


disini?” tambah Dev


“Kau tau ini rumah


sakit ku.” jawab Julian sinis, sontak membuat Dev tertawa sebelum akhirnya


berucap.


“Aku akan mentraktirmu


minum.” Mereka berjalan menuju taman rumah sakit, hampir satu jam mereka


ngobrol membicarakan urusan perkerjaan masing-masing.


“Julian, kamu ingat dua


tahun lalu saat kamu ke acarah wisudah adik ku?”


***


Flash Back On.


Dua tahun lalu, suasana


di depan gedung sangat ramai, tampak para wisudawan dan wisudawati mulai masuk memenuhi


ruangan itu duduk dengan rapi, begitu juga para keluaraga mereka yang datang.


depan gedung.” pria itu sedang menghubungi temannya.


“Oke.” suara dari seberang


sana.


Laki-laki hendak


melangkahkan kakinya, untuk masuk kedalam ruangan gedung itu, tiba-tiba ponselnya


berbunyi.


“Hallo, Lucy.”


“Kakak


jemput aku sekarang!” tampak suara dari seberang sana.


“Aku sedang ada urusan.”


“Pokoknya


jemput sekarang apa mau aku menabrak lagi?”ancam orang di


seberang sana.


“Tapi aku-”  Tut..tut... tampak telpon di seberang sana


telah dimatikan.


“Sial, Lucy kau


benar-benar akan mati!” gumam laki-laki itu, dengan berat hati Julian


meninggalkan area gedung itu, untuk menemui temanya, padahal ia berjanji akan


datang ke acarah wisudah adik Dev, karena kedua orang tua Dev baru meninggal


dua bulan lalu, Julian ingin memberikan dukungan pada Dev dan adiknya,


bagaimanapun Dev adalah sahabatnya.


***


Di dalam gedung tampak


empat orang sahabat sedang berdiri dengan dengan atribut toga lengkap, hari ini


adalah acarah wisudah mereka, tampak rona kebahagiaan menyelimuti mereka.


“Jes kakak mu mana?” Anna

__ADS_1


bertanya


“Disana, kak Dev sedang


menjemput temannya.” Seorang laki-laki sedang berjalan kearah mereka sambil


memperhatikan telpon genggamnya.


“Wah, selamat ya, adik


kakak wisudah hari ini.” Dev langsung memeluk adik perempuan satu-satunya. Jesika


langsung membalas pelukan kakanya, walau rasa sedih akan kehilangan kedua orang


tuanya dua bulan lalu masih menyelimuti hatinya, tapi setidaknya hari ini ia


akan melupanya sejenak.


“Terimakasih


kak,” bisik Jesika “Anna selamat ya,” Dev menyalami gadis itu. “Terimakasih kak


Dev.” Anna tersenyum


“Wil


, Xiang selamat ya,”


“Terimakasih


kak Dev.” balas Wil dan Xiang sembaring menyalami laki-laki di hadapan mereka.


“Kak


teman kak mana?” Jesika bertanya


”Tadi dia sudah datang,


tapi tiba-tiba, ia harus menjemput keluarganya.” Dev menjelaskan setelah


mendapat pesan singkat dari Julian. “Malam ini kakak bakalan traktir kalian


semua, sebagai hadia wisudah kalian, bagaimana?”


“Mau-mau.” tampak empat


gadis itu antusias.


Flash Back Of


“Iya, aku masih ingat,


maaf waktu itu aku tidak bisa menemui adikmu.”


“Tidak-apa-apa, tapi


tiga bulan lagi adikku akan menikah dan kau harus datang, kali ini tidak ada


alasan!” Dev memperingatkan.


“Pasti, pasti aku akan


datang,” jawab Julian sambil tersenyum.


“Baikla kalau begitu,


aku pulang dulu.” Dev pamit meninggalkan Julian.


Tampak langit malam ini


lebih gelap dari biasanya, cahaya bulan  tertutup awan tebal, langit mulai meneteskan air sedikitt demi sedikit. Julian


melangkah pergi dari taman itu, tapi ia masih ragu untuk menuju kamar Anna, ia


takut tunangan gadis itu masih di sana, dengan berat hati ia memaksakan diri ke


kamar itu,  tampak lampu sudah dimatikan,


gadis itu sudah tertidur lelap.


Julian hanya menatap Anna


yang terbaring di hadapanya, ia tidak mengantuk sedikitpun malam ini, laki-laki


itu memilih  duduk diam di samping Anna


agar gadis itu tidak terbangun.


“Jack.” gadis itu


bergumam


“Waktu


Anna sadar ia juga memanggil Jack, siapa sebenarnya Jack itu?”pikir Julian dalam hati.


Udara malam semakin


menusuk, hujan di luar semakin deras, beberapa kilatan petir tampak jelas di


sana, jam di tangan julian sudah menunjukan keangkah empat, rasa ranguk mulai


menghampirinya, ia mencobah memejamkan matanya sambil duduk di kursi dan


melipat kedua tangannya di Dadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2