
Suasana
kantor tampak tegang semua orang yang duduk disana merasahkan hawa membunuh,
tampak Julian sedang memimpin rapat, semua jajaran perusahaan itu memperhatikan
semua hal yang di sampakiakn Julian, tidak ada yang berbeda kali ini hanya saja
laki-laki itu terlihat aneh, ia tidak marah hari ini walau ada beberapa stafnya
mempersentasikan dengan kalimat yang salah, laki-laki itu hanya tersenyum
sesekali menatap buah apel di tanganya.
“Apa
ada yang kurang jelas?” Julain membuka suaranya “Jika tidak ada yang bertanya,
saya akhiri rapat ini.” tambahnya.
Semua
staf tampak terkejut melihat tingkah bosnya yang aneh, Julian tidak
memperdulikannya, ia tahu semua stafnya menatapnya dengan heran, hanya saja
hari ini ia terlalu senang ia tidak ingin merusak moodnya hari ini.
Tiba-tiba
muncul ide melintas di kepala Julian, pria itu mengambil telponnya, dan menekan
tombol call, tidak berapa lama telpon
ditu diangkat.
“Halo Lucy.”
“Ada
apa kakak?”jawab suara di seberang sana
“Apa kau masih sakit?”
“Sudah
tidak terlal, Kak,”
“Bearti kau masih sakit.”
jawab Julian dengan antusias
“Aku
sudah sehat kak.”
“Jangan bohong Lucy,
kau masih sakit sebaiknya kau beristirahat, malam ini aku akan menjaga Anna!”
“Tapi
kak aku-”belum sempat Lucy menyelesaikan kalimatnya Tut..,
tut.., tampak suah telpon di seberang sana sudah terputus.
Lucy merasah aneh
dengan kakaknya, kemarin malam ia sangat marah saat Lucy memintahnya menjaga
Anna, karena ia sedang sakit, tapi mengapa hari ini Julian malah menawarkan
diri untuk menjaga Anna?
***
“Sayang apa kabar?” Seorang
laki-laki masuk menghampiri Anna, membawakanya seikat bunga mawar berwarna
merah.
“Baik Nick, kamu apa
kabarnya?” jawab Anna, ia benar-benar merindukan tunangnya, sudah dua hari
mereka tidak bertemu, Nicko langsung mengecup kening Anna.
“Aku baik sayang, maaf
aku baru datang Ibu Margaret memintaku lembur, dan besok aku harus menemaninya
ke Kalimantan, melihat proyek di sana.” Nicko menjelaskan.
“Berapa lama?” gadis itu
bertanya walau dalam hati ia merasa sedih karena itu bearti mereka akan
terpisah lagi.
“Mungkin satu minggu
atau lebih, aku juga tidak tahu,”
“Hati-hati
di sana ya, jaga diri kamu.” Anna menginggatkan tunangnya. “Iya sayang, pasti,
__ADS_1
kamu juga di sini cepat sembuh ya.”
***
Sesorang sedang memperhatikan
mereka dari luar pintu, sudah satu jam ia berdiri di sana, ia memutar
langkahnya memilih menemui Ben untuk tahu kondisi Anna. Saat ia keluar dari
ruangan Ban, seseorang memanggilnya dan berlari kearahnya.
“Julian.” Laki-laki itu
menoleh.
“Dev, apa yang kau
lakukan disini?”
“Aku sedang menjenguk teman
adikku tadi, ia sedang sakit, ” jawab Dev. Dev adalah sahabat Julian sejak
kuliah, walau Dev lima tahun lebih tua darinya.
“Kau sendiri sedang apa
disini?” tambah Dev
“Kau tau ini rumah
sakit ku.” jawab Julian sinis, sontak membuat Dev tertawa sebelum akhirnya
berucap.
“Aku akan mentraktirmu
minum.” Mereka berjalan menuju taman rumah sakit, hampir satu jam mereka
ngobrol membicarakan urusan perkerjaan masing-masing.
“Julian, kamu ingat dua
tahun lalu saat kamu ke acarah wisudah adik ku?”
***
Flash Back On.
Dua tahun lalu, suasana
di depan gedung sangat ramai, tampak para wisudawan dan wisudawati mulai masuk memenuhi
ruangan itu duduk dengan rapi, begitu juga para keluaraga mereka yang datang.
depan gedung.” pria itu sedang menghubungi temannya.
“Oke.” suara dari seberang
sana.
Laki-laki hendak
melangkahkan kakinya, untuk masuk kedalam ruangan gedung itu, tiba-tiba ponselnya
berbunyi.
“Hallo, Lucy.”
“Kakak
jemput aku sekarang!” tampak suara dari seberang sana.
“Aku sedang ada urusan.”
“Pokoknya
jemput sekarang apa mau aku menabrak lagi?”ancam orang di
seberang sana.
“Tapi aku-” Tut..tut... tampak telpon di seberang sana
telah dimatikan.
“Sial, Lucy kau
benar-benar akan mati!” gumam laki-laki itu, dengan berat hati Julian
meninggalkan area gedung itu, untuk menemui temanya, padahal ia berjanji akan
datang ke acarah wisudah adik Dev, karena kedua orang tua Dev baru meninggal
dua bulan lalu, Julian ingin memberikan dukungan pada Dev dan adiknya,
bagaimanapun Dev adalah sahabatnya.
***
Di dalam gedung tampak
empat orang sahabat sedang berdiri dengan dengan atribut toga lengkap, hari ini
adalah acarah wisudah mereka, tampak rona kebahagiaan menyelimuti mereka.
“Jes kakak mu mana?” Anna
__ADS_1
bertanya
“Disana, kak Dev sedang
menjemput temannya.” Seorang laki-laki sedang berjalan kearah mereka sambil
memperhatikan telpon genggamnya.
“Wah, selamat ya, adik
kakak wisudah hari ini.” Dev langsung memeluk adik perempuan satu-satunya. Jesika
langsung membalas pelukan kakanya, walau rasa sedih akan kehilangan kedua orang
tuanya dua bulan lalu masih menyelimuti hatinya, tapi setidaknya hari ini ia
akan melupanya sejenak.
“Terimakasih
kak,” bisik Jesika “Anna selamat ya,” Dev menyalami gadis itu. “Terimakasih kak
Dev.” Anna tersenyum
“Wil
, Xiang selamat ya,”
“Terimakasih
kak Dev.” balas Wil dan Xiang sembaring menyalami laki-laki di hadapan mereka.
“Kak
teman kak mana?” Jesika bertanya
”Tadi dia sudah datang,
tapi tiba-tiba, ia harus menjemput keluarganya.” Dev menjelaskan setelah
mendapat pesan singkat dari Julian. “Malam ini kakak bakalan traktir kalian
semua, sebagai hadia wisudah kalian, bagaimana?”
“Mau-mau.” tampak empat
gadis itu antusias.
Flash Back Of
“Iya, aku masih ingat,
maaf waktu itu aku tidak bisa menemui adikmu.”
“Tidak-apa-apa, tapi
tiga bulan lagi adikku akan menikah dan kau harus datang, kali ini tidak ada
alasan!” Dev memperingatkan.
“Pasti, pasti aku akan
datang,” jawab Julian sambil tersenyum.
“Baikla kalau begitu,
aku pulang dulu.” Dev pamit meninggalkan Julian.
Tampak langit malam ini
lebih gelap dari biasanya, cahaya bulan tertutup awan tebal, langit mulai meneteskan air sedikitt demi sedikit. Julian
melangkah pergi dari taman itu, tapi ia masih ragu untuk menuju kamar Anna, ia
takut tunangan gadis itu masih di sana, dengan berat hati ia memaksakan diri ke
kamar itu, tampak lampu sudah dimatikan,
gadis itu sudah tertidur lelap.
Julian hanya menatap Anna
yang terbaring di hadapanya, ia tidak mengantuk sedikitpun malam ini, laki-laki
itu memilih duduk diam di samping Anna
agar gadis itu tidak terbangun.
“Jack.” gadis itu
bergumam
“Waktu
Anna sadar ia juga memanggil Jack, siapa sebenarnya Jack itu?”pikir Julian dalam hati.
Udara malam semakin
menusuk, hujan di luar semakin deras, beberapa kilatan petir tampak jelas di
sana, jam di tangan julian sudah menunjukan keangkah empat, rasa ranguk mulai
menghampirinya, ia mencobah memejamkan matanya sambil duduk di kursi dan
melipat kedua tangannya di Dadanya.
***
__ADS_1