Anna & Dream

Anna & Dream
3. Apel With Love


__ADS_3

Suasana kantor tampak


tegang seorang laki-laki sedang berdiri di hadapan para stafnya, ia melempar semua


lembar kertas dari dalam map, membuat benda tipis berwarna putih itu


berterbangan tak tentu arah. Ini bukan pertama kalinya laki-laki itu marah pada


para stafnya, ia tidak akan segan-segan untuk membentak atau memecat para staf


yang tidak kopeten dalam bidangnya.


“Apa kalian bodoh! Bagaimana


bisa kalian memberikan ku laporan seperti ini?” laki-laki itu mengeluarkan suara


dingin, sedingin es tapi mampu membuat semua staf yang ada di sana berkeringat


dingin. Membuat siapa saja yang mendengarnya  bergidik ngeri.


“Selesaikan dengan baik.


Aku tidak mau tahu, aku tunggu hari ini juga!” Semua stafnya hanya tertunduk


dengan gemetar ketakutan, mereka mengaku salah karenah telah memberikan laporan


yang menurut bos mereka tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan, menurut


bos mereka laporan itu tidak masuk akal sehingga mereka harus memperbaiki semua


laporan itu, karena sang bos itu ingin semuanya sempurnah.


“Keluar semuanya!” Laki-laki


itu berteriak, ia berhak melakukan itu karena ia adalah pimpinan perusahaan


itu. Meski umurnya masih terbilang mudah umurnya dua puluh delapan tahun dan


dalam enam bulan kedepan umurnya akan bertambah.


“Tenanglah Julian, kau


membuat merekah takut,” seorang laki-laki menghampirinya setelah semua staf


keluar.


“Mereka benar-benar


bodoh, Ben.” Julian ketus. Lalu memilih bersandar di tempat duduknya sambil


memijat pangkal hidungnya.


Beny adalah sahabat Julian


sejak sekolah menengah, ia adalah seorang dokter keluarga Alexander. Beny


sangat paham watak sahabatnya, apapun yang Julian inginkan pasti akan ia dapat.


Laki-laki itu sangat cerdas dan jenius, tidak ada yang bisa menghentikan keras


kepalanya, bahkan keluarganya tidak mampu menghentikanya.


“Bagaimana istrimu dan


anak mu?” Julian bertanya setelah beberapa kali membuang napas dalam seakan


berusaha membuang semua amarahnya.


“Mereka sehat,” jawab


Ben. Julian tahu semua tentang keluar Ben karena mereka sangat akrab, bahkan


Julian hadir dia cara pernikahan Ben dan istrinya, beberapa tahun lalu.


Ben menatap ruangan


kerja kantor yang sangat luas dan rapi, ruangan itu di dominasi warna putih,


lengkap dengan interior warna putih, sebuah kulkas berukuran sedang, terdapar


lemari kaca yang di dalamnya di penuhi berbagai macam penghargaan baik dalam


ataupun luar negeri, terdapat pula sebuah sofa putih berukuran besar dengan


meja kaca di sana.


“Tidak


ada yang berubah.”pikir Ben dalam hati, ia tahu


sahabatnya itu pecintah warna putih dan Ben yakin Julian selalu memakai dalaman


berwarna putih sekarang, sudut bibir Ben tertarik saat membayangkan itu.


“Jadi apa yang


membawahmu datang kesini?” Julian memberikan sebotol minuman sodah dari kulkas


yang ada dalam ruanganya, membuat Ben kembali sadar dari pikiran konyolnya.


“Aku hanya ingin


menjengukmu, sudah lama kita tidak bertemu,” jawab Ben santai sambil menengak


soda dingin itu. Kemarin saat di bandara Ben hanya menemani Lucy sebentar untuk


menyambut kedatangan kedua orang tuanya, tapi tiba-tiba Ben mendapat telpon


dari rumah sakit sehingga membuatnya harus meninggalkan Lucy dan kedua orang


tuanya di bandara sambil menunggu kedatangan Julian.


“Benarkah?” Julian

__ADS_1


menyelidik, ia sudah paham dengan tingkah Ben, laki-laki itu tidak mungkin


datang tiba-tiba hanya karena tidak ada kerjaan, mengingat laki-laki itu cukup


sibuk dengan semua pekerjaanya di rumah sakit sebagai dokter sekaligus kepala


bagian.


Ben tersenyum, ia tahu


tidak bisa berbohong pada sahabatnya ini, cepat atau lambat Jualian akan tahu


semuanya.


“Kemarin Lucy


menemuiku, ia bilang kalau ia bermimpi tentang kecelakaan itu lagi, sebaiknya


kau mengawasinya menyetir?” Jadi itu alasan Ben kesini memberitahu kondisi


adiknya, Julian langsung mengangguk mengerti.


Ben memeng  dipercaya keluarga Alexander untuk menangani


kasus Lucy adik perempuan Julian.


“Ya, aku akan menyuruh Daddy


mencarikan ia sopir, aku tidak ingin hal itu terulang lagi.” Julian menerawang.


***


Empat orang wanita sedang berkumpul dalam sebuah apartemen


kecil berwarna putih, walau terbilang kecil tapi apartemnya sangat nyaman untuk


mereka.


“Xiang, bagaimana pekerjaanmu?” Wil bertanya pada teman


kulianya, yang sekarang menjadi sahabatnya.


“Tidak ada yang spesial, aku masih jadi staf, setidaknya


aku tidak tertinggal jauh dari Anna. “Xiang menatap Anna sambil tersenyum, “Kau


tahu wanita penyihir itu? iIbu Margaret, dia benar-benar akan membunuh orang


setiap saat, aku tidak tahu mengapa Anna bisa bertahan selama setahun


dengannya.” Xian menceritakan atasanya yang galak dan juga kejam.


Tapi yang membuat Xiang bingung adalah Anna bisa bertahan


hampir setahun ini menjadi sekertarisnya.


“Xiang, aku tidak ada pilihan, aku akan berhenti jika aku


benar-benar tidak tahan.” jawab Anna membela diri, padahal ia juga sering


merasa kalau Margaret sangat menbencinya walau Anna tidak tahu atas alasan apa


Margaret membencinya.


Xiang, Anna dan Nicko bekerja di kantor yang sama. Begitu


juga atasan mereka Margaret. Margaret adalah wanita yang berumur tiga puluh


lima tahun, ia adalah kepala ruangan tempat mereka bekerja, wanita itu sangat


keras kepala, selain itu ia sering bersikap semen-mena pada bawahanya, tapi


terkadang sesuatu menganjal hati Anna dan Xiang, melihat sikap Margaret yang


terlihat sangat baik pada Nicko.


Anna beberapa kali menepis rasa cemburunya akan hal itu,


terlebih setelah Nicko menjelaskan kalau mereka tidak memiliki hubungan


spesial, mereka hanya bekerja seperti biasa yang terjalain di sana hanya hubungan


antara atasan dan bawahan tidak lebih.


Anna mulai meyakinkan diri setelah pernyataan itu, gadis


itu juga bisa melihat bagaimana Nicko bekerja keras atas semua pekerjaan yang


di berikan Margaret pada tunangannya itu. Nicko juga tidak berubah ia tetap perhatian,


sayang dan sangat menghargai Anna. Nicko tidak akan melakukan hal yang tidak Anna


sukai, itu semua sudah cukup bagi Anna untuk mempertahankan hubungan mereka


sampai saat ini.


“Kau sendiri bagaimana Wil?” Jesika bertanya karena dari


tadi wanita itu hanya mengangguk menangapi apa yang di katakan Xiang dan Anna  menyangkut pekerjaan mereka.


“Kau tau bosku itu seorang yang sangat tampan, setiap


wanita yanngmelihatnya pasti langsung terpikat, jujur aku


sempat naksir sama dia, tapi-”  Wil


menarik napas dalam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya, “Galaknya itu minta


ampun! Banyak wanita yang mendekatinya tapi semua mundur teratur.” Wil


mengeleng sesaat lalu berkata “Bosku itu tidak pernah tertarik pada wanita yang


berusaha mengodanya, bahkan anak bos di perusahaanmu Jes,” Jesika mengangguk ia

__ADS_1


tahu siapa yang Wil katakan yaitu anak atasan tempat ia bekerja.


“Melisa itu, sering


datang ke ke kantor tempat ku bekerja tapi tidak pernah di gubris sedikitpun!”


Wil menjelaskan dengan semangat berapi-api sambil meneguk jus alpukat di


tanganntya.


“Pantas saja bu Melisa


sering hilang dari kantor.” jawab Jesika sambil mengangguk mengerti, ia tahu


bos wanitanya itu sangat pintar, cantik dan seksi jujur sebagai seorang wanita


Jesika sangat kagum pada sosok Melisa.


“Jangan-jangan dia gay?”


Anna bergumam pelan tapi mampu di dengar ketiga sahabatnya, membuat mereka


menatap Anna secara bersamaan lalu mengangguk pelan seakan membenarkan apa yang


Anna ucapkan.


“Entahlah, aku rasanya


ingin berhenti dari kantor, kalian tau suamiku selalu ngomel, tapi aku terlalu sayang


untuk keluar. Gajiku dan jabatanku sudah lumayan di sana, aku malas memulai


semuanya dari awal.” jawab Wil menjelaskan kalau sekarang ia sudah diangkat


menjadi wakil kepala ruangan selain itu gaji di perusahaan tempatnya bekerja


sekarang terbilang besar dari pada perusahaan tempat Jesika, Xiang dan Anna


bekerja sekarang.


“Oh iya, aku sedang


merencanakan pernikahanku lima bulan lagi,” Jesika bercerita sambil tersenyum,


ia akan menikah dengan Max laki-laki yang sudah berpacaran dengannya selama dua


tahun belakangan ini.


“Benarkah?” tampak tiga


wanita itu sangat antusias.


“Wil, kau sudah


menikah, Jesika lima bulan lagi kau akan menikah dan Anna kau sudah


bertunangan, aku kapan?” Xiang terlihat sedih melihat nasipnya yang masih di


gantung.


“Memangnya Delon kenapa


Xiang?” Wil bertanya, ia sangat prihatin dengan sahabatnya yang satunya ini.


“Dia sibuk, kemungkinan


juga kalau kami menikah, dia akan mengajaku kembali ke Cina, ia memutuskan


untuk mengurus bisnis keluarga di sana.” Delon adalah laki-laki keturunan Cina


sama seperti Xiang, mereka sudah berpacaran sejak Xiang kulia di semester


akhir.


Mereka saling mencintai


satu sama lain, tapi Xiang ragu dengan Delon karena akhir-akhir ini laki-lakin


itu terlalu sibuk mengurus bisnis keluarganya, yang membuat Delon harus


bolak-balik Cina-Indonesia. Mereka sangat jarang bertemu, itu mengapa saat


Delon datang Xiang tidak pernah menyiakan kesempata untuk bertemu laki-laki


yang sangat ia cintai.


Terakhir kali mereka


bertemu adalah dua hari lalu, dan Delon mengatakan kalau ia akan tinggal di


Cina dalam waktu yang cukup lama karena perusahaan di sana mengalami sedikit


kendala yang mengharuskan Delon membantu orang tuanya disana.


Tapi Delon berjanji


akan menemui Xiang setelah semuanya selesai, untuk sementara waktu mereka akan


jarang bertemu mungkin hingga berbulan-bulan lamanya. Xiang meminta Delon untuk


selalu mengiriminya kabar begitu juga sebaliknya.


“Apakah kau tidak


senang Delon membawahmu ke sana?” Jesika mulai kasihan pada Xiang, karena Delon


belum menunjukan tanda seriun dalam berpacaran.


“Aku senang sih,


setidaknya aku juga bisa bertemu keluarga besarku, tapi aku akan sedih berpisah


dengan kalian.” jawab Xiang, membuat empat gadis itu berpelukan bukan hanya itu

__ADS_1


keempat wanita itu mulai menitikan air mata haru.


***


__ADS_2