
Suasana kantor tampak
tegang seorang laki-laki sedang berdiri di hadapan para stafnya, ia melempar semua
lembar kertas dari dalam map, membuat benda tipis berwarna putih itu
berterbangan tak tentu arah. Ini bukan pertama kalinya laki-laki itu marah pada
para stafnya, ia tidak akan segan-segan untuk membentak atau memecat para staf
yang tidak kopeten dalam bidangnya.
“Apa kalian bodoh! Bagaimana
bisa kalian memberikan ku laporan seperti ini?” laki-laki itu mengeluarkan suara
dingin, sedingin es tapi mampu membuat semua staf yang ada di sana berkeringat
dingin. Membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.
“Selesaikan dengan baik.
Aku tidak mau tahu, aku tunggu hari ini juga!” Semua stafnya hanya tertunduk
dengan gemetar ketakutan, mereka mengaku salah karenah telah memberikan laporan
yang menurut bos mereka tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan, menurut
bos mereka laporan itu tidak masuk akal sehingga mereka harus memperbaiki semua
laporan itu, karena sang bos itu ingin semuanya sempurnah.
“Keluar semuanya!” Laki-laki
itu berteriak, ia berhak melakukan itu karena ia adalah pimpinan perusahaan
itu. Meski umurnya masih terbilang mudah umurnya dua puluh delapan tahun dan
dalam enam bulan kedepan umurnya akan bertambah.
“Tenanglah Julian, kau
membuat merekah takut,” seorang laki-laki menghampirinya setelah semua staf
keluar.
“Mereka benar-benar
bodoh, Ben.” Julian ketus. Lalu memilih bersandar di tempat duduknya sambil
memijat pangkal hidungnya.
Beny adalah sahabat Julian
sejak sekolah menengah, ia adalah seorang dokter keluarga Alexander. Beny
sangat paham watak sahabatnya, apapun yang Julian inginkan pasti akan ia dapat.
Laki-laki itu sangat cerdas dan jenius, tidak ada yang bisa menghentikan keras
kepalanya, bahkan keluarganya tidak mampu menghentikanya.
“Bagaimana istrimu dan
anak mu?” Julian bertanya setelah beberapa kali membuang napas dalam seakan
berusaha membuang semua amarahnya.
“Mereka sehat,” jawab
Ben. Julian tahu semua tentang keluar Ben karena mereka sangat akrab, bahkan
Julian hadir dia cara pernikahan Ben dan istrinya, beberapa tahun lalu.
Ben menatap ruangan
kerja kantor yang sangat luas dan rapi, ruangan itu di dominasi warna putih,
lengkap dengan interior warna putih, sebuah kulkas berukuran sedang, terdapar
lemari kaca yang di dalamnya di penuhi berbagai macam penghargaan baik dalam
ataupun luar negeri, terdapat pula sebuah sofa putih berukuran besar dengan
meja kaca di sana.
“Tidak
ada yang berubah.”pikir Ben dalam hati, ia tahu
sahabatnya itu pecintah warna putih dan Ben yakin Julian selalu memakai dalaman
berwarna putih sekarang, sudut bibir Ben tertarik saat membayangkan itu.
“Jadi apa yang
membawahmu datang kesini?” Julian memberikan sebotol minuman sodah dari kulkas
yang ada dalam ruanganya, membuat Ben kembali sadar dari pikiran konyolnya.
“Aku hanya ingin
menjengukmu, sudah lama kita tidak bertemu,” jawab Ben santai sambil menengak
soda dingin itu. Kemarin saat di bandara Ben hanya menemani Lucy sebentar untuk
menyambut kedatangan kedua orang tuanya, tapi tiba-tiba Ben mendapat telpon
dari rumah sakit sehingga membuatnya harus meninggalkan Lucy dan kedua orang
tuanya di bandara sambil menunggu kedatangan Julian.
“Benarkah?” Julian
__ADS_1
menyelidik, ia sudah paham dengan tingkah Ben, laki-laki itu tidak mungkin
datang tiba-tiba hanya karena tidak ada kerjaan, mengingat laki-laki itu cukup
sibuk dengan semua pekerjaanya di rumah sakit sebagai dokter sekaligus kepala
bagian.
Ben tersenyum, ia tahu
tidak bisa berbohong pada sahabatnya ini, cepat atau lambat Jualian akan tahu
semuanya.
“Kemarin Lucy
menemuiku, ia bilang kalau ia bermimpi tentang kecelakaan itu lagi, sebaiknya
kau mengawasinya menyetir?” Jadi itu alasan Ben kesini memberitahu kondisi
adiknya, Julian langsung mengangguk mengerti.
Ben memeng dipercaya keluarga Alexander untuk menangani
kasus Lucy adik perempuan Julian.
“Ya, aku akan menyuruh Daddy
mencarikan ia sopir, aku tidak ingin hal itu terulang lagi.” Julian menerawang.
***
Empat orang wanita sedang berkumpul dalam sebuah apartemen
kecil berwarna putih, walau terbilang kecil tapi apartemnya sangat nyaman untuk
mereka.
“Xiang, bagaimana pekerjaanmu?” Wil bertanya pada teman
kulianya, yang sekarang menjadi sahabatnya.
“Tidak ada yang spesial, aku masih jadi staf, setidaknya
aku tidak tertinggal jauh dari Anna. “Xiang menatap Anna sambil tersenyum, “Kau
tahu wanita penyihir itu? iIbu Margaret, dia benar-benar akan membunuh orang
setiap saat, aku tidak tahu mengapa Anna bisa bertahan selama setahun
dengannya.” Xian menceritakan atasanya yang galak dan juga kejam.
Tapi yang membuat Xiang bingung adalah Anna bisa bertahan
hampir setahun ini menjadi sekertarisnya.
“Xiang, aku tidak ada pilihan, aku akan berhenti jika aku
benar-benar tidak tahan.” jawab Anna membela diri, padahal ia juga sering
merasa kalau Margaret sangat menbencinya walau Anna tidak tahu atas alasan apa
Margaret membencinya.
Xiang, Anna dan Nicko bekerja di kantor yang sama. Begitu
juga atasan mereka Margaret. Margaret adalah wanita yang berumur tiga puluh
lima tahun, ia adalah kepala ruangan tempat mereka bekerja, wanita itu sangat
keras kepala, selain itu ia sering bersikap semen-mena pada bawahanya, tapi
terkadang sesuatu menganjal hati Anna dan Xiang, melihat sikap Margaret yang
terlihat sangat baik pada Nicko.
Anna beberapa kali menepis rasa cemburunya akan hal itu,
terlebih setelah Nicko menjelaskan kalau mereka tidak memiliki hubungan
spesial, mereka hanya bekerja seperti biasa yang terjalain di sana hanya hubungan
antara atasan dan bawahan tidak lebih.
Anna mulai meyakinkan diri setelah pernyataan itu, gadis
itu juga bisa melihat bagaimana Nicko bekerja keras atas semua pekerjaan yang
di berikan Margaret pada tunangannya itu. Nicko juga tidak berubah ia tetap perhatian,
sayang dan sangat menghargai Anna. Nicko tidak akan melakukan hal yang tidak Anna
sukai, itu semua sudah cukup bagi Anna untuk mempertahankan hubungan mereka
sampai saat ini.
“Kau sendiri bagaimana Wil?” Jesika bertanya karena dari
tadi wanita itu hanya mengangguk menangapi apa yang di katakan Xiang dan Anna menyangkut pekerjaan mereka.
“Kau tau bosku itu seorang yang sangat tampan, setiap
wanita yanngmelihatnya pasti langsung terpikat, jujur aku
sempat naksir sama dia, tapi-” Wil
menarik napas dalam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya, “Galaknya itu minta
ampun! Banyak wanita yang mendekatinya tapi semua mundur teratur.” Wil
mengeleng sesaat lalu berkata “Bosku itu tidak pernah tertarik pada wanita yang
berusaha mengodanya, bahkan anak bos di perusahaanmu Jes,” Jesika mengangguk ia
__ADS_1
tahu siapa yang Wil katakan yaitu anak atasan tempat ia bekerja.
“Melisa itu, sering
datang ke ke kantor tempat ku bekerja tapi tidak pernah di gubris sedikitpun!”
Wil menjelaskan dengan semangat berapi-api sambil meneguk jus alpukat di
tanganntya.
“Pantas saja bu Melisa
sering hilang dari kantor.” jawab Jesika sambil mengangguk mengerti, ia tahu
bos wanitanya itu sangat pintar, cantik dan seksi jujur sebagai seorang wanita
Jesika sangat kagum pada sosok Melisa.
“Jangan-jangan dia gay?”
Anna bergumam pelan tapi mampu di dengar ketiga sahabatnya, membuat mereka
menatap Anna secara bersamaan lalu mengangguk pelan seakan membenarkan apa yang
Anna ucapkan.
“Entahlah, aku rasanya
ingin berhenti dari kantor, kalian tau suamiku selalu ngomel, tapi aku terlalu sayang
untuk keluar. Gajiku dan jabatanku sudah lumayan di sana, aku malas memulai
semuanya dari awal.” jawab Wil menjelaskan kalau sekarang ia sudah diangkat
menjadi wakil kepala ruangan selain itu gaji di perusahaan tempatnya bekerja
sekarang terbilang besar dari pada perusahaan tempat Jesika, Xiang dan Anna
bekerja sekarang.
“Oh iya, aku sedang
merencanakan pernikahanku lima bulan lagi,” Jesika bercerita sambil tersenyum,
ia akan menikah dengan Max laki-laki yang sudah berpacaran dengannya selama dua
tahun belakangan ini.
“Benarkah?” tampak tiga
wanita itu sangat antusias.
“Wil, kau sudah
menikah, Jesika lima bulan lagi kau akan menikah dan Anna kau sudah
bertunangan, aku kapan?” Xiang terlihat sedih melihat nasipnya yang masih di
gantung.
“Memangnya Delon kenapa
Xiang?” Wil bertanya, ia sangat prihatin dengan sahabatnya yang satunya ini.
“Dia sibuk, kemungkinan
juga kalau kami menikah, dia akan mengajaku kembali ke Cina, ia memutuskan
untuk mengurus bisnis keluarga di sana.” Delon adalah laki-laki keturunan Cina
sama seperti Xiang, mereka sudah berpacaran sejak Xiang kulia di semester
akhir.
Mereka saling mencintai
satu sama lain, tapi Xiang ragu dengan Delon karena akhir-akhir ini laki-lakin
itu terlalu sibuk mengurus bisnis keluarganya, yang membuat Delon harus
bolak-balik Cina-Indonesia. Mereka sangat jarang bertemu, itu mengapa saat
Delon datang Xiang tidak pernah menyiakan kesempata untuk bertemu laki-laki
yang sangat ia cintai.
Terakhir kali mereka
bertemu adalah dua hari lalu, dan Delon mengatakan kalau ia akan tinggal di
Cina dalam waktu yang cukup lama karena perusahaan di sana mengalami sedikit
kendala yang mengharuskan Delon membantu orang tuanya disana.
Tapi Delon berjanji
akan menemui Xiang setelah semuanya selesai, untuk sementara waktu mereka akan
jarang bertemu mungkin hingga berbulan-bulan lamanya. Xiang meminta Delon untuk
selalu mengiriminya kabar begitu juga sebaliknya.
“Apakah kau tidak
senang Delon membawahmu ke sana?” Jesika mulai kasihan pada Xiang, karena Delon
belum menunjukan tanda seriun dalam berpacaran.
“Aku senang sih,
setidaknya aku juga bisa bertemu keluarga besarku, tapi aku akan sedih berpisah
dengan kalian.” jawab Xiang, membuat empat gadis itu berpelukan bukan hanya itu
__ADS_1
keempat wanita itu mulai menitikan air mata haru.
***