
Sebuah pohon besar dengan daun yang sangat rindang berdiri kokoh diatas tanah, terdapat rumput hijau nan indah, pohon itu akan menjadi tempat istirahat mereka.
Anna membuka beberapa bekal di bantu Lian kemudian membagikanya.
“ini makan malam terenak” Roberto membuka suarahnya
“Kau benar Roberto, ini akan makan malam terakhir kita.” balas Lian membuat semua orang terkejut, terkecuali Roberto yang tertawa mendengar ucapan anak itu. “Kau akan merindukanku Lian.“
“Aku akan merindukanmu setiap saat.” pria kecil itu langsung memeluk Roberto.
“Apa yang kalian bicarakan? tidak ada yang boleh pergi!” Gadis itu tampak berteriak dengan raut mukah marah.
“Kau akan memecahkan gendang telingahku Anna.” kemudian Roberto dan Lian tertawa.
Tampak jelas raut kesedihan yang terpancar dari wajah Lily dan Jack, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing begitu juga Anna. Tanpa ia sadari kristal bening mengalir di dari matanya.
“Anna apakah aku tampan di dunia mu?”
“Ya, kau tampan, kau juga memiliki jengok yang putih, tapi tidak sepanjang sekarang.
Kau juga memiliki istri yang cantik dan seorang anak perempuan dan seorang cucu yang cantik.” Anna menarik napas dalam “Kau juga memiliki sebuah toko buku, serta banyak pelangan. Semua orang senang berbelanja di toko mu.” jelas Anna.
“Aku senang mendengarnya” Roberto memeluk gadis itu untuk membuatnya tenang.
Tiba-tiba Jack dan Lily berdiri sambil memegang pedangnya
“Sudah saatnya.” Roberto mengangkat tongkatnya “Bisahkah kau menjaga Anna untuku Lian” Lian mengangguk sambil tersenyum. Anna mengambil pisau kecilnya, ia tahu akan ada musuh yang datang.
Tidak berapa lama benyangan hitam datang menutupi cahaya langit diikuti kilat dan petir. Sebuah bayang besar berbentuk manusia tampak muncul di hadapan mereka, hanya dalam hitungan detik bayangan besar itu berubah menjadi sosok naga besar, seluruh tubuhnya dipenuhi sisik berwarna hitam yang mengkilat, terdapat dua buah sayap yang mengembang, kukunya cuncing dan tajam. Naga itu membuka mulutnya menyemburkan api kearah mereka, membuat mereka terpental.
Dari arah kiri dan kanan mereka, gerombolan singah dan ular mengepung mereka, hewan-hewan itu siap memangsa mereka.
Empat ekor kuda tampak panik berlari ke dalam hutan meninggalkan lima tuanya. Mereka semua terkepung tidak ada jalan keluar selain bertarung.
Seorang pria tua mengangkak pedangnya menyerang gerombolan singa yang mendekat, begitu juga seorang wanita di sampingnya, mereka berdua bekerja sama untuk melindung Anna.
Anna mencobah membunuh beberapa ular yang mendekat walau tanganya sangat gemetar ia mencobah menusuk kepala ular yang mendekat.
Dari belakang mereka tampak sosok anak kecil laki-laki menatap setiap hewan yang mendekat, seketika hewan itu menjerit kesakitan dan mati.
Roberto mengangkat tongkatnya tepat kearah naga yang berada dihadapanya. Sebuah cahaya terang muncuk dari tongkat itu, hewan-hewan itu menjauh.
Tidak beberapa lama semburan bola api datang kearah mereka, Jack menyadari itu, ia langsung menarik Anna hingga mereka terjatuh. Lily dan Lian masih sibuk dengan membunuh singah dan ular, hewan-hewan itu seakan tidak berkurang jumlahnya bahkan semakin lama semakin banyak.
“Kau harus menolong Roberto!” Anna berteriak pada Jack.
Roberto terlihat kelelahan, hidungnya mengeluarkan darah segar. Jack dan Anna berlarih mendekati Roberto. Tiba-tiba naga di hadapan mereka mengibaskan ekornya membuat mereka terpental dan mengeram kesakitan.
Naga itu mengarahkan bolah apinya pada Lian dan Lily, Jack langsung bangkit dan melemparkan pedangnya kearah leher naga. Jack berhasil, bekas goresan yang ia buat mengeluarkan beberapa tetes darah hitam dari kulit naga itu.
Seketika ekor naga itu melemparkan Jack tepat kearah pohon besar membuat si pemilik tubuh tidak sadarkan diri, darah-darah segar keluar dari mulut dan hidung. Bukan hanya itu, pada bagian perut Jack mengalir darah segar.
Lily menjerit kesakitan, tampak di kakinya seekor ular telah mengigitnya, Lian berlarih menghampiri Lily untuk membantunya.
Anna menghampiri Jack saat melihat seekor ular mendekati tubuh pria yang tidak sadarkan diri. Ia mendekat menusuk tepat pada kepala ular.
Anna mendekati tubuh Jack mencobah menutup darah yang keluar dari perut pria itu, walau tanggangnya gemetar.
Naga itu mendekat membuka mulutnya seakan akan melahap Lian dan Lily, seketika Roberto bangkit mengangkat tongkatnya, lalu keluar cahaya yang sangat terang menyilaukan siapa saja yang melihatnya, tidak ada yang dapat terlihat selain semuanya tampak berwarna putih. Walau Anna sudah menutup matanya cahaya putih itu masuk dari kelopak matanya. Seketika Roberto menjerit, lama-kelamaan cahaya itu lenyap.
Jack masih tak sadarkan diri begitu juga Lily dan Lian, Roberto tampak terkapar di tanah dengan mulut, mata dan hidungnya mengeluarkan darah.
“Bertahanla, aku akan mengobatimu.“ Anna berbisik sambil memangku pria tua itu, ia mengusap darah yang keluar dari tubuh Roberto.
Air matanya terus mengalir menatap Roberto yang sudah tidak bernapas. Gadis itu berteriak, menjerit semuanya terasa sakit, ini kedua kalinya ia menyaksikan seseorang meninggal di hadapanya.
“Bangunlah Roberto, bangun kau tidak boleh mati... Kau berjanji akan membantuku pulang, bangunlah buka matamu.” Anna beberapa kali mengoncang tubuh Roberto.
“Ini benar-benar tidak lucu, bangunlah aku mohon!" gadis itu mengoyang-goyangkan tubuh pria tua itu lagi, tapi tidak ada respon apapun, gadis itu terus memangil memerintahkan Roberto untuk bangun dan membuka matanya,suarah gadis itu tampak semakin serak.
“Anna tenangla, ini yang terbaik.” bisik Lian sambil memegang bahu gadis itu.
“Tidak, Roberto tidak boleh mati!” Anna berteriak dalam isak tangisnya. Lian memegang tangan Roberto memejamkan matanya, tiba-tiba tubuh pria tua itu bercahaya semakin lama-semakin terang seperti kunang-kunang satu persatu cahaya itu mulai berhamburan terbang meninggalkan pangkuan Anna.
Pria kecil itu mengenggam beberapa helai daun tanaman untuk untuk menutup luka pada tubuh Jack, seketika darah yang tadi mengalir mulai berhenti, tubuh Jack tampak pucat ia masih tidak sadarkan diri.
“Kau perlu istirahat, tidurlah ini akan membuatu menyembuhkan lukamu.” bisik Lian di telingah Jack.
Lily perlahan membuka matanya, Anna langsung menghampiri wanita itu, membantunya untuk
duduk.
Lily menyadari ada yang salah ia tidak melihat sosok Roberto, wanita itu menatap Anna seolah sedang bertanya.
“Maafkan aku.” bisik Anna sambil memeluk Lily. Wanita itu hanya diam, beberapa butiran keristal mengalir dari kelopak matanya, ia sadar Roberto telah tewas, ia telah kehilangan sosok guruh yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
__ADS_1
****
Malam semakin larut tampak beberapa bintang menghiasi langit malam ini, udarah dingin menusuk tulang. Lian masih mencobah mengobati Jack yang masih tidak sadarkan diri. Lily membaringkan tubuhnya dan mencobah memejamkan matanya rasa sakit dan perih di kakinya masih terasa.
Anna memasangkan selimut pada wanita itu agar terasa hangat.
“Kau tampak pucat beristirahatla, aku akan mengantikanmu menjaga Jack” Lian hanya menganguk pada Anna, pria kecil itu membaringkan tubuhnya di samping Lily, tidak beberapa lama ia terlelap, Anna memasangkan selimut pada tubuh pria kecil itu.
****
Hari ini adalah hari yang panjang, begitupun malam ini akan menjadi malam yang panjang. Anna menatap teman-temanya satu persatu, mereka semua terlihat lelah, beberapa kali Jack bergumam membuat gadis itu mendekati tubuh pria itu, membenarkan posisi selimutnya.
Anna mencobah memejamkan matanya tapi tidak bisa, ia memutuskan mengumpulakan beberapa kayu kering untuk membuat api unggun, ia tidak ingin teman-temanya kedinginnan. Hampir satu jam ia mengesek-gesekan kayu yang kering agar mengeluarkan api tapi gagal, ia tidak menyerah dan terus berusaha, tampak tanganya sudah lelah, beberapa cairan berwarnah merah dari balik kulitnya yang tergores.
Api di hadapanya masih menyalah membuat udarah hangat di sekeitarnya, sesekali gadis itu menambahkan kayu agar api itu tidak padam.
***
Matahari mulai menampakkan cahayanya, burung-burung mulai terbangun dan bernyayi, gadis itu bergegas meninggalkan mereka yang terlelap. Ia menyelusuri pohon-pohon tidak lupa ia memberikan tanda pada setiap pohon yang di lewatinya agar tidak tersesat saat pulang. Rumput yang di lewatinya masih basah, hampir satu jam ia berjalan suarah gemericik air semakin jelas terdengar, ia mulai tersenyum di hadapanya adalah sungai, tidak jauh di sana terdapat air terjun yang cukup besar.
Anna harus menuruni sisih tebing yang cukup tinggi dan licin, ia sangat hati-hati menjaga langkahnya agar tidak terjatuh.
Gadis itu mengisih semua botol air minum yang ia bawah terdapat beberapa rusa sedang minum di sana, gadis itu berusaha agar tidak mengejutkan hewan itu.
Ia terus melangkah melihat tanda pada setiap pohon, terdengar suarah yang membuat siapa mendengarnya terasa keluh, Anna terus berjalan mencari sumber suarah itu, tampak di balik pohon yang tumbang, seekor anak rusa berusaha membebaskan diri.
“Tenanglah aku tidak akan menyakitimu.” gadis itu mencobah menarik ranting dari pohon yang tumbang untuk membebaskan kaki anak rusa yang tersangkut di sana, rusa itu langsung berlarih meninggalkan orang yang menolongnya.
***
Jack terbangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa Anna menghilang, ia berusaha bangit tapi gagal, tangan pria itu berusaha mengapai seseorang di sampingnya, seketika Lian langsung bangun dan memeriksa keadaan pria itu
“Anna.” Jack berbisik
“Ia hanya pergi mencari air.” Lian membantu Jack untuk duduk, pria itu masih bingung bagaimana Lian tahu semuanya?.
“Aku tidak tahu semuanya Jack.” bisik Lian sambil menempelkan beberapa daun di tubuh Jack. “Pada akhirnya aku akan kala darimu, tapi kau harus bersabar karena keegoisan saudarahku, itu akan membuatnya sadar.“ Lian mengambil posisi duduk di samping Jack.
“Kami akan membantumu menemukanya, takdir yang akan menentukan semuanya, hanya itu yang aku tahu.” Jack masih binggung atas ucapan anak kecil itu, boca itu penuh dengan teka-teki.
“Kalian sudah bangun, sukurlah aku sangat senang.” gadis itu memberikan botol air pada semua temannya.
“Kau tidak minum, Anna?” Jack memperhatikan wajah gadis di hadapanya, tampak matanya
sedikit bengkak, itu pasti karena kejadian kemari. Anna tersenyum lalu mengeleng. Gadis itu memberikan masing-masing roti kering pada semua temanya.
“Kita tidak bisa melanjutkan perjalan.”
“Kita akan melanjutkan perjalan Anna!” jawab Jack tegas
“Benar kata Anna, kita tidak bisa melanjutkan perjalan, kita tidak memiliki kuda dan Roberto telah tewas.” suarah wanita itu terdengar cetus.
“Lily, jangan biarkan emosi menguasaimu.” Lian memperingatkan. Seketika Lily bengkit meninggalkan mereka bertiga, gadis itu sangat kesal, mengapa semuanya seolah menyalakan dirinya sekarang.
“Lily maafkan aku!” Anna berusaha mengejar sahabatnya.
Sudah cukup Roberto meninggalkan mereka, Anna tidak mau kehilangan Lily sekarang.
Lily menyadarinya keberadaan Anna, kemudian ia berbalik dan mengarahkan tanganya menyerang Anna dengan sihirnya. Anna hanya diam ia tidak percaya Lily akan menyerangnya. Sesaat sebelum serangan itu mengenai tubuh gadis itu, Jack memeluk tubuh Anna untuk melindungnya tepat sihir Lily mengenai punggung Jack membuatnya terjatuh dalam pelukan Anna dan tidak sadarkan diri, waktu seakan terhenti Anna hanya bisa menahan tubuh Jack sebelum akhirnya terjatuh menimpah tubuh mungil gadis itu. Anna beberapa kali menguncang bahu Jack, tapi tidak ada respon sama sekali tubuh itu kaku dan terasa dingin, perlahan airmatanya tumpah.
‘Apa lagi sekarang, mengapa Jack tidak bangun?’ Anna mengapus air matanya dengan kasar
‘Aku mohon bangunlah? Demi aku, aku mohon kau berjanji mengantarku pulang, bertahanlah Jack!’
Lian yang menyaksikan kejadian itu langsung menyerang Lily dengan sihirnya tepat mengenai bahu kiri wanita itu, sedetik kemudian Lily menghilang melarihkan diri.
“Jack bertahanlah!” bisik Anna lirih.
“Aku akan mengobatinya, Anna, bisahkah kau mengambilkan aku air lagi.” gadis itu segera bangkit mendengar ucapan Lian, ia mengumpulkan semua botol air yang telah kosong sebelum ia pergi meninggalkan mereka berdua, gadis itu tahu di mana tempat mengambil air.
Setelah mengisi semua botolnya ia kembalih menyelusuri hutan, tampak dari kejauhan ia mendengar suarah jeritan, Anna mengenal suara itu.
“Lily kau dimana?!” gadis itu berteriak sambil berjalan mencari sumber suara, kali ini semakin jelas, tampak suara seorang wanita yang sedang menjerit kesakitan di sertai suarah dentuman yang sangat keras.
Anna memberhentikan langkahnya saat mendapati sosok peria hitam besar sedang menyerang Lily, membuat wanita itu terpojok di tepih jurang.
“Hentikan!“ Anna berteriak, sontak membuat pria tinggi besar itu menoleh kearah Anna, Lily tidak menyia-nyiakan kesempakan ia menyerang pria itu hingga terpental dan tidak sadarkan diri.
Lily segera menghadap jurang, wanita itu t akan melompat kedalam jurang. Anna langsung menarik tanggan Lily.
__ADS_1
“Jangan lompat kau akan mati Lily.” Anna memohon.
“Lepaskan!” Lily menarik tangannya
“Aku mohon jangan lompat.” Anna tidak melepaskan tangan wanita itu
“Apakah kau mau menggantikanku melompat Anna? Aku tidak akan melompat jika kau mengantikanku.” Anna terdiam menatap sahabatnya
“Jika kau tidak bisa melakukannya, jangan pernah menghalangi ku!” ucap Lily sinis.
Tanpa Lily sadari, dari belakang pria besar yang menyerangnya tadi mengarahkan tanganya pada Lily, Anna menyadari itu segerah mendorong Lily menjauh membuat Lily terjatuh ke tanah, sontak serangan pria itu mengenai tubuh Anna membuat gadis itu terlempar ke dalam jurang.
“Jangan....!” Lily berteriak ia berusaha mengunakan kekuatanya untuk menolong Anna, tapi Lily gagal karena ia sedang terluka, wanita itu langsung berbalik membunuh pria yang mendorong Anna hingga terjatuh.
Lily menatap botol-botol yang dibawah Anna tadi, ia mulai menangis menyadari kebodohanya. Lily kembali pada kedua temanya dengan membawa botol air, tubuhnya terlihat lemas sesekali air matanya menetes.
“Anna.“ gumam dengan bibir bergetar wanita itu sambil menatap kedua temanya air matanya terus mengalir, Lian langsung mengambil botol air dari tangan wanita itu.
“Setidaknya kau menyadari kesalahanmu!” jawab Lian sinis.
****
Anna menatap langit diatasnya ia merasa sedang terbang semakin lama langit itu semakin menjauh gadis itu hanya bisa tersenyum.
“Apakah aku akan mati? Aku bahkan belum meletakkan kalung ini pada tempatnya, apakah
aku akan mati sekarang?” tiba-tiba semua terasa gelap.
“Apakah ini surga atau neraka? Mengapa semuanya gelap.” tanya gadis itu dalam hati.
Ia mencobah membuka matanya semuanya gelap, ia memejamkan matanya dan membukanya sekalih lagi, gadis itu merasakan sesuatu yang sangat ia ridukan, ia mencobah menoleh ke kanan samar-samar ia bisa mengenali sosok di sampingnya Anna langsung bangung dari tempatnya.
Buukkkkk...
Kepala Anna membentur sesuatu diatasnya diatas tempat tidurnya,
“Aduhh...” Anna langsung mengelus puncak kepalanya yang terasa sakit, membuat seseorang yang berada di atasnya bergumam. Anna langsung tersenyum
“Aku kembali!!!” teriaknya dalam hati.
“Kau tidak apa-apa?” gumam Xiang disampinya dengan surah khas orang mengantuk.
“Xiang apakah itu kau?” Anna segerah memeluk temanya yang masih mengantuk. Xiang masih mengantuk dan hanya mengangguk sesaat.
“Anna kau berisik sekali.” tampak suarah dari atas mereka.
“Wil” Anna langsung melompat ke tempat tidur atasnya, tampak Wil terkejut, Anna langsung memeluk gadis itu.
“Ada apa, ha?” Wil membalas pelukanya, “aku merindukan kalian” bisiknya.
Wil masih mengusap kedua matanya. Ia memperhatikan sesuatu “Ini jam lima pagi Anna” tambahnya sambil menguap.
Anna langsung menarik selimut Jesika dengan kakinya yang berada si samping Wil.
Jesika kembali menarik selimutnya, sesaat kemudian Anna kembali menarik selimut Jesika kali ini gadis itu juga melempar selimut itu ke bawah ranjang mereka, sontak membuat
Jesika duduk dan melototkan matanya pada Anna.
“Kau!” suarah Jesika serak dan terlihat emosi.
Anna langsung memeluk Jesika “Aku merindukan kalian semua.” bisik Anna, membuat gadis itu memembalas pelukan Anna, niat untuk marah seketika hilang.
“Ada apa? apakah kau mimpi buruk?” bisiknya pada Anna, gadis itu tidak menjawab ia masih memeluk temanya itu.
“Tanggal berapa sekarang? hari apa sekarang?” Anna bertanya pada teman-temanya.
“Kau bukan hanya mimpi buruk, kau juga sepertinyta lupa ingatan.“ Xiang bergumam.
“Tanggal 13 maret, hari jum’at dan jam 5 pagi lewat 6 menit.” jawab Wil setelah membuka ponselnya.
“Bagaimana kalau kita joging” Anna terlihat antusias.
“Ide yang bagus, kau mau ikut Wil, Xiang?” Wil mengangguk
“Aku mau ikut tapi aku mau ketoilet dulu” Xiang kemudian berlari meninggalkan mereka.
Lima belas menit, dua puluh menit, tiga puluh menit “Anak itu sepertinya koma di toilet!” Jesika terlihat kesal hampir setengah jam mereka menunggu.
“Biar aku lihat.” Anna beranjak dari tempat duduknya, ia mengetuk-ngetuk pintu toilet.
“Maaf aku ketiduran.” jawab Xiang kemudian menguap sambil memasang cengiran kuda seakan ia tidak bersalah.
***
__ADS_1
Anna tampak menekan tombol panggilan di hanponya, ia menghubungi keluarganya yang ada di Sumatra, menayakan kabar mereka, rasanya sudah lama sekali ia tidak menghubungi keluaraganya. Sebenarnya ia baru menghubungi keluaranya dua hari yang lalu, tapi karena mimpi itu, waktu benar-benar terasa sangat lama ia benar-benar merindukan keluarganya.