Anna & Dream

Anna & Dream
Episode 20 Si Putih Yang Mematikan


__ADS_3

Salju mulai turun mengiringi perjalan mereka, matahari sudah diatas kepalah tapi rasa dingin tetap menusuk kulit, hampir enam jam merekan berjalan tiada henti. Setiap hembusan napas mereka mengeluarkan asap, mereka mencoba bertahan di tengah dinginya gunung es.



Tiba-tiba cairan hangat keluar dari hidungn Anna, gadis itu tidak memberhentikan langkahnya, ia hanya mengusap hidungnya, cairan warna merah itu terus menetes di hidungnya. Ia tidak memperdulikanya, ia hanya ingin cepat sampai lalu terbangun dari mimpi ini. Hampir satu jam itu terjadi, Anna sesekali membersihkan hidungnya dari


darah.



Jack memperhatikan jejak gadis di hadapanya, ia menyadari ada yang tidak beres di dengan si pemilik jejak, hampir di setiap jejak kaki Anna terdapat warna merah, Jack


menarik tangan gadis itu.



“Kau-kau berdarah.” pria itu membantu membersihkan darah di hidung Anna.



“Sejak kapan ini terjadi?” Lian tampak khawatir



“Mungkin saju jam” jawab Anna.



“Lily mengeluarkan beberapa helai daun kering di dalam tasnya menyerahkan pada Lian, Lian langsung meracik daun itu sebagai obat menggunakan peralatan seadanya.



“Minumlah.”Lalu Lian menyerahkan mengku kecil dari tempurung kelapa.



Anna meminumnya cairan itu rasa pahit melilit tengorokannya, ia hendak memuntahkannya, tapi Jack terlebih dulu menutup mulut gadis itu menggunakan tangannya.



“Jangan kau muntahkan, aku mohon.” bisik Jack, mata laki-laki itu menatap Anna, bak sebuah sihir gadis itu menuruti ucapan Jack, ya Anna sudah tersihir akan pesonah laki-laki itu?



Lily memberikan botol air pada Anna, untuk membilas rasa pahit di tenggorokannya.



“Kita harus melanjutkan perjalan.” suarah Anna memecah kesunyian, semua orang mengikutinya. Jack berdiri tepat di belakangnya, Lily mendahului jalan Anna di ikuti


Lian yang berjalan di samping Anna.



Malam mulai menghampiri, mereka beristirahat dari perjalan ini, sudah hampir tiga hari mereka mendaki gunung es, persediaan makanan dan air sudah sangat menipis. Mereka harus secepat mungkin mencapai puncak. Rasa lelah menghampiri mereka begitu juga dengan kudanya, Lily meberikan beberapa potong roti pada mereka.



“Apakah ini yang terakhir?” suarah Anna tampak bergetar



“Tidak, aku menyimapan sedikit untuk besok, mungkin besok yang terakhir.” jelas Lily.


Mereka mencoba menikmati makan malam mereka. Mungkin ini makan malam terakhir sebelum meraka mati karena kedingingan bukan karena kelaparan.



Anna tidak bisa tidur, ia mencobah berjalan menjahui rombongan yang ia pikirkan hanya ingin sendiri menikmati malan ini, walau rasa dingin sangat menusuk tulang, gadis itu mencoba bersender di pohon kayu pinus semua daunya diatasnya tertutup tumpukan salju. Bibir Anna bergetar dan berwarnah biru, beberapa darah kembali menetes dari hidungnya.



Ia mencobah memberhentikan aliran darah di hidungnya dengan menekan hidungnya dengan kuat, hampir setenga jam dia melakukannya, akhirnya darah itu berhenti mengalir, Anna bisa bernapas lega sekarang, yang perlu ia lakukan hanya tinggal membersihkan bekas darah di hidung Anna.



Seseorang menghampirinya menarik paksa wajahnya membersihkan darah di hidung Anna, gadis itu tidak melawan tenaganya sudah habis untuk melawan pria di depannya.



“Kenapa kau bangun?” Anna bertanya.



“Diamlah, aku akan menjagamu.” Jack masih sibuk membersikan hidung Anna, laki-laki itu meraik tangan gadis itu membersihkan noda darah kering di telapak tangannya.



“Terimakasih.” Anna bergumam, Jack menyenderkan tubuhnya di samping Anna, tangan kirinya mengarahkan kepala gadis itu untuk bersandar pada bahu kanannya, beberapa kali jari-jari tangan itu mengelus rabut Anna seakan sedang menularkan kasih sayangnya. Jack ingin mengurangi beban yang di pikul gadisnya, andai saja kalung itu ada di lehernya bukan pada Anna, pasti ia akan pergi sendiri untuk mengantarkan kalung itu pada tempatnya.



“Aku tahu ini sangat berat bagimu” Jack mengenggam tangan Anna menyalurkan kehangatan pada tangan mungil itu.


__ADS_1


“Aku tidak akan mati sekarang Jack!” Anna mencibir, Anna tahu laki-laki itu sangat khawatir padanya, tapi tidak ada cara lain hanya ini satu-satunya cara agar Anna bisa terbangun dari mimpi ini.



Jack tersenyum mendengarngar “Aku akan mati jika terjadi sesuatu padamu,” Anna menatap Jack.


‘Apakah kau mencintaiku?’ rasanya ingin sekali ia menanyakan hal itu,tapi mulutnya seakan terkunci, hanya tanganya yang bergerak mengelus rahang pria itu yang di tumbuhi bulu-bulu halus.



”Apakah kau sangat merindukanku selama aku tidur?” Jack mengangguk.



”Aku memanggilmu setiap saat, mencobah membangunkanmu dan aku bersumpah akan menunggumu kembali.” Jack menatap dalam mata hitam pekat gadis itu.



“Aku mendengarnya, tapi aku mengabaikanya.” jawab Anna lirih. Ya Anna mendengar setiap pangilannya, hanya saja ia terlalu egois untuk kembali.



“Kau tahu Jack, aku tidak ingin kembali kesini aku tidak ingin kalian terluka.”


Tambahanya, gadis itu menunduk merasakan sangat sedih. Jack memegang dagu gadis itu lalu membelai pipinya.



“Tidak ada yang akan terluka, semuanya sudah di takdirkan” bisik Jack meyakinkan.



Berlahan wajah mereka sangat dekat hinggan hanya beberapa inci, gadis itu bisa merasakan hembukan napas Jack yang hangat, Anna kembali merasakan hal aneh sama saat pertama Jack memeluknya mengajari cara menggunakan tongkat.



Jack menyuntuh bibir gadis di hadapanya dengan bibirnya menciptakan sebuah ciuman lembut yang penuh akan kerinduan, Anna membalas ciuman itu, lama mereka menikmati ciuman yang hangat sampai keduanya kehabisan napas.



Anna merasa wajanya panas, begitu juga dengan Jack, mereka terlihat canggung setelah ciuman itu.



“Se-sebaiknya kita tidur.” Anna beranjak dari duduknya.



“Iya, iya kau benar.” jawab Jack sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal, perlahan ia mengikuti langkah Anna. Mereka terlelap mencobah melupakan apa yang telah terjadi.




Matahari telah menampakan dirinya, udarah semakin lama terasa semakin menusuk tulang. Tampak kuda putih itu terlihat gelisa, kuda itu sesekali mengeluarkan suarah yang melengking. Anna tampak heran dengan kudanya, Jack segera mengeluarkan pedangnya, begitupun dengan Lily, Lian segera mendekati Anna



Tiba-tiba salju yang mereka injak perlahan menjadi cair membuat mereka merosot dengan cepat, mereka semua terhempas. Segerombolan orang berpakaian hitam yang berjumlah sekitar sepuluh orang mengepung mereka.



“Serahkan batu itu!” teriak seorang wanita berbaju hitam di hadapan mereka, wanita itu sangat cantik. Mereka berempat segera bangkit dan berusaha melindungi Anna



“Siapa kalian?!” Jack menatap satu persatu orang di hadapanya, mereka memancarkan aurah jahat.



“Kalian tidak perlu tahu, sebentar lagi kalian akan mati!” jawab seorang laki-laki di samping wanita itu.



Seketika orang-orang berbaju hitam menyerang mereka, gumpalan bola api menyerang mereka, membuat mereka terpental. Jack segera bangkit dan menyerang tiga orang pria berbaju hitam di hadapanya, Jack mengarahkan tangannya pada musuh di hadapanya, membuat mereka terpental, tapi hanya sesaat, tiga orang berpakaian hitam itu segera berdiri dan menyerang Jack, pria itu menghindar dan segera melompat, tapi naas seorang lagi mengarahkan tanganya pada Jack seketika mengeluarkan kilatan petir kearah Jack, laki-laki itu terpental.



Tapi ia segera bangkit lalu mengarahkan pedangnya pada pria yang menyerangnya, Jack mencobah melawan mereka dari jarak dekat.



Disisi lain Lily mencobah menyerang dua orang pria yang berbaju hitam di hadapanya, beberapa kali Lily terlempar, begitu juga dua orang di hadapanya, mereka tampak bertarung sengit Lily berusaha menyerang mereka, dengan sekuat tenaga



“Kali ini kalian harus mati!” teriak Lily, lalu mengarahkan semua kekuatanya menyerang dua musuh di hadapanya, tangan gadis itu mengeluarkan kilatan petir tepat mengenai dua orang di hadapannya, hingga tubuh dua orang di hadapanya hangus terbakar, Lily kelelahan ia mengunakan seluruh kemampuanya, gadis itu tidak mempunyai tenaga untuk bengkit, tangannya bergetar kuat rasa sakit menyerang di sekujur tubuhnya.



Lian menyerang tiga orang di hadapanya “Jangan melawan lagi, kalian akan mati sia-sia!” laki-laki di hadapan Lian tersenyum sinis pada remaja itu.



“Mari kita lihat!” Lian tampak menantang tiga orang di hadapanya.

__ADS_1



Tiga orang itu menyerang Lian, pria mudah itu langsung melompat mengarahkan tubuhnya pada tiga orang di hadapanya, Lian segera membenturkan kepalanya pada salah satu musuhnya tampak pria itu merabah keningnya ia mengucap darah di keningnya yang keluar akibat benturan tadi.



“Hanya itu saja!” Lian tampak mencibir



Membuat tiga orang itu semakin geram, dua laki-laki di sampinya mengarahkan tanganya kearah Lian menyerang dengan kekuatanya, Lian segera melompat membuat dua laki-laki yang berhadapan satu sama lain, menyerang tubuh mereka masing-masing.



“Bodoh!” teriak Lian, sesaat kemudian remaja itu segera menatap tiga orang di hadapanya, mereka semua tampak merontah kesakitan. Lian berhasil membunuh mereka semua, tapi seorang wanita langsung menyerang Lian membuat ia terpental.



Jack berhasil menancapkan pedangnya pada salah satu leher musuhnya seketika pria berbaju hitam itu tewas, tapi dua musuhnya segerah menyerang lagi, kali ini membuat Jack terpental, mulut laki-laki itu tampak mengeluarkan darah tapi Jack segera bangkit, ia segera melemparkan pedangnya kearah orang yang menyerangnya, seketika pedang itu tampak melayang bebas mengores setiap bendah yang di lewatinya, dua orang berbaju hitam itu meraba lehernya merasakan cairan hangat berwarnah merah kehitaman mengalir deras di sana, seketika kedua orang itu ambruk. Jack segera bangkit membantu Lian.



Anna berusaha melawan pria di hadapanya, ia tidak bisa bertarung seperti Jack, Lily dan Lian, gadis itu tampak gemetar mengarahkan pisau pada pria di hadapanya.



“Serahkan batu itu!” suarah laki-laki itu mendekat mengarahkan tangannya pada Anna. Gadis itu terpojok ia akan mati sekarang, Anna melihat Lily yang tampak sangat lemas sedangkan Jack sedang membantu Lian untuk melawan seorang wanita, tidak ada satupun yang bisa membantunya sekarang.



“Jangan mendekat!” Anna berteriak bibirnya tampak bergetar.



“Kau akan mati Anna!” pria itu segera menyerang dengan mengarahkan tanganya pada Anna hingga gadis itu terpental, dengan susah paya Anna berdiri semua badanya terasa sakit.



Laki-laki berbaju hitam itu segera mendekati Anna ia mencekik leher Anna hingga tubuh wanita itu terangkat, gadis itu segera mengangkat tanganya mengores tangan laki-laki yang mencekiknya mengunakan belati kecil miliknya, seketika laki-laki itu menjerit kesakitan darah mengalir dari lengan itu.



Wajah laki-laki itu merah padam lalu mengeram kesal, gadis kecil itu berani melukainya. Laki-laki itu langsung melemparkan Anna ke atas tumpukan salju dengan keras hingga Anna tidak sadarkan diri.



“Lian, kau tidak apa-apa?” Jack bertanya sambil membantu temanya berdiri, tampak Lian mengeluarkan darah dari hidungnya.



“Apakah kau bodoh? Kau tidak lihat aku kesakitan!” Jawab Lian sambil berusaha berdiri. Sebenarnya Jack ingin sekali mencelik bocah yang di bantunya itu, tapi ia mengurungkan niatnya, ini bukan saat yang tepat untuk bertengkar dengan Lian.



“Kalian akan mati!” teriak wanita di hadapanya.



Wanita itu menyerang Jack dan Lian, dua laki-laki itu terpental lagi, Jack berusaha bangkit dan menyerang wanita di hadapanya, tapi wanita itu tampak kuat dan lihai, Jack segera menyerang dengan pedangnya, tapi wanita itu segera menghindar dan menendang tangan Jack membuat pedangnya terlempar jauh, sesaat kemudian ia langsung menendang perut Jack hingga membuat laki-laki itu kesakitan.



Jack membalas tendanganya pada wanita itu membuatnya terpental, tampak darah keluar dari mulut wanita itu, tapi ia segera bangun, Lian segera menyerang wanita itu dengan sihirnya membuat wanita itu terpental.



“Jack, Anna!” teriak Lian, melihat seorang laki-laki mencobah mendekati tubuh Anna yang tidak sadarkan diri, seketika Jack berlari dan langsung menyerang laki-laki yang mencobah mencekik Anna, Jack menendang pria itu dari samping tingganlaki-laki itu terpental dan terguling di tumpukan es. Dengan cepat Jack menarik tubuh laki-laki itu, membuatnya menjauh dari Anna, ‘Berengse! Dia tidak boleh menyentuh Annaku.’ gumam Jack dalam hati.



Wanita berpakaian hitam segera menyerang Lian dengan kuat, membuat Lian mengeram kesakitan tampak darah semakin banyak menetes dari hidung juga mulutnya ia merasakan sakit yang sangat di tubuhnya, tapi Lian segera bangkit membalas serangan wanita itu.



Lian mendengang dan memberikan tinjunya, kali ini tepat mengenai bahu kanan wanita itu hingga wanita itu tesungkur, tanganya memegang bahu yang terasa amat sakit. Lian segera mendekati tubuh wanita itu ia metap mata wanita itu, dengan sihirnya Lian membuat wanita itu kesakitan, tampak wanita itu merasa tercekik seperti ada tali yang sedang melilit lehernya dengan kuat, tidak berapa lama wanita itu tidak bernapas lagi ia tewas.



“Kau bodoh selir Za, kau telah bertindak salah!” bisik Lian dengan susah paya, ia bangkit menghampiri Lily yang sangat lemas.



“Aku sangat lelah Kak.” bisik Lian sembaring berbaring di samping Lily tangan Lian memeluk tubuh wanita di sampingnya, ia benar-benar berada di samping Lily. Lian tidak berniat membantu Jack dan Anna, remaja itu sudah terlalu lelah, semua kekuatanya telah di gunakan hari ini, di tambah lagi rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.



Jack terlihat sibuk menghadapi pria yang terluka di bagian tanganya.Pria itu menyerang Jack hingga membuatnya terpental jauh, bagi pria itu Jack bukan apa-apa, tubuh Jack Jauh lebih kecil dari padanya.



Jack berusaha bangkit namun gagal badanya benar-benar terasa sakit, seketika laki-laki berbaju hitam itu menghampiri Anna, ia segera menggenggam kalung Anna tapi belum sempat ia menarikhanya dalam hitungan detik tanganya terasa terbakar kemudian menjalar di semua tubuhnya, pria itu segera melepaskan tanganya tapi tidak bisa kalung itu seperti menarik tanganya untuk terus menempel, pria itu merasa sesak ia tidak bisa bernapas, seluruh tubuhnya terasa sakit seakan semua tulang dalam badanya menjadi remuk dan terbakar semua tubuh pria itu berubah menjadi hitam seperti hangus terbakar, sesaat kemudian laki-laki itu terpental ia tewas.



“Apakah kau tau itu akan terjadi?” Lily berbisik pada Lian,

__ADS_1



“Anna tidak akan mati hari ini.” Jawab Lian kemudian memejamkan matanya di samping Lily.


__ADS_2