Anna & Dream

Anna & Dream
8. Apel With Love


__ADS_3

Matahari mulai


menampakkan dirinya, terlihat jelas cahayanya  masuk dari balik jendela kaca di kamar itu.


Anna membuka matanya,


rasanya dia sudah tidur semalaman, tadi malam tidak ada seorangpun yang


menemaninya di kamar ini, gadis itu menoleh ke kiri untuk melihat jam dinding


yang menempel di sana, tapi pandanganya terhenti saat menatap sosok seseorang


yang sedang duduk di kusi tepat di samping tempat tidurnya, tampak sosok itu


masih memejamkan matanya, ia benar-benar terlihat lelah.


Gadis itu hanya


memandang laki-laki itu, tanpa ia sadari Anna tersenyum melihatnya, perasaan


senang menghampirinya ia teringat Jack yang selalu menemaninya saat Anna sakit


dalam mimpinya.


Laki-laki itu membuka


matanya, perlahan ia menatap wajah gadis di hadapanya sedang mememperhatikanya.


“Jack, maksudku Julian.”


Anna terkejut melihat laki-laki itu memandangnya dengan tatapan heran. “Sejak


kapan kau disini?” Anna bertanya menutupi kegugupanya


“Tadi malam.” jawan


laki-laki itu dengan suara datar.


“Tapi aku tidak melihatmu


datang,” Anna tampak binggung


“Tadi malam, aku ingin


masuk saat kau terbangun dan memberi tahu kalau Lucy masih sakit dan aku


menggantikanya, tapi ada tunanganmu, jadi aku memutuskan untuk menemui Ben,


kemudian aku bertemu temaku, tapi saat ku kembali kau sudah tertidur.” jelas


Julian dengan jujur.


“Oh..., kau dan Lucy


tidak perlu menungguiku, bukankah aku sudah bilang kemarin.” Anna mengingatkan.


“Sebenarnya aku tidak


ingin menungguimu, tapi Lucy memaksaku, ia sanggat mengkhawatirkanmu.” jawab Julian


berbohong.


Seorang laki-laki masuk


dengan seragam putih ke kamar itu membuat mereka memberhentikan perdebatan yang


terjadi.


“Selamat pagi Anna,”  laki-laki itu tersenyum


“Selamat pagi dokter,”


jawab Anna


“Aku akan memeriksa


kondisimu, apakah lengan dan punggung mu masih terasa sakit?”


“Ya, masih sama


rasanya, saat aku mencobah mengerakkannya,”


“Baiklah kalau begitu,


aku akan terus memanatau perkembangan kondisimu,” jawab ben ”Beristirahatla.”


tambanya


“Dokter maaf, kapan aku


boleh pulang? ” pertanyan Anna membuat Julian dan Ban tersenyum


“Aku belum bisa


memastikan, tapi kalau kondisimu semakin baik, maka kau boleh pulang.” Ban


menjelaskan


“Tapi aku sudah hampir


dua bulan disini sejak kecelakaan itu, kaki juga tidak sakit lagi, aku bisa


berjalan normal.” jawan Anna


“Tapi lengan dan


punggung mu.” Ben tersenyum, “Beristirahatlah, aku permisi dulu.” tambah Ben.


“Terimakasih Ben.” Julian


tersenyum yang di jawab angukan Ben.


Julian menarik napas


dalam saat pandanganya kembali menatap Anna yang tertunduk lemas setelah


mendengar apa yang Ben ucapkan, Julian bisa melihat gadis itu ingin segera


keluar dari rumah sakit ini.


“Apakah kau sangat


sangat bosan disini?” Julian bertanya pada Anna


“Ya, aku sangat bosan,


aku juga harus berkerja aku sudah lama bolos,” jawabnya


“Aku yakin bosmu akan


mengerti,” Julian menenangkan


“Entalah la.” jawab


Anna lemas, ia sangat kawatir dengan ibu Margaret yang terkenal galak dan

__ADS_1


kejam, ia tidak segan-segan memecak pegawainya yang sering membolos. Julian


bisa menangkap raut kesedihan di wajah Anna.


“Kau suka membaca


novel?” Julian bertanya berusaha mengalikan kesedihan itu


“Ya, bukankah kau sudah


tau?” jawab Anna, Julian tersersenyum sambil mengangguk “Ceritakan padak,  apa yang paling kau suka?”


 “Aku sukah semua novel.”


“Kalau begitu ceritakan


semuanya.”


“Apa kau gila?” Anna


trerkejut, mendengar Julian ingin mendengar semua novel yaang ia suka.


Julian terkekeh melihat


waja Anna yang tampak terkejut. “Kalau begitu ceritakan satu novel yang kau


baca, yang


paling berkesan dan tidak bisa kau lupakan.”


“Aku, aku tidak ingin


bercerita padamu.” jawab Anna, sebenarnya Anna ingin sekali bercerita tentang


buku tua berwarna coklat seperti tanah. Tapi itu akan menyakitkan jika Anna


menginggat teman-temanya tewas karena dirinya


***


Sore harinya Anna duduk


sendiri di kamar itu, Julian baru saja pergi meninggalkanya, gadis itu mulai


membuka beberapa novel dan komik yang di bawakan Xiang, tampak tidak ada


satupun yang menarik baginya.


Suara ketuk pintu,


terdengar jelas di telingahnya, tampak dua orang wanita masuk sambil tersenyum


lebar, dan segera memeluk Anna.


“Wil, Jes, kalian


datang?”


“Pasti kami datang, ini


aku membawakanmu apel, di habiskan ya.” Pintah Jesika sambil meletakkan buah


merah itu di atas meja.


“Terimakasih,” jawab


Anna “Kalian tidak masuk kerja?” tambahnya


“Kami baru pulang, tadi


hanya tersenyum mendengarnya.


“Anna ayo cepat sembuh


ya, kamu tidak bosan apa di sini terus?” Jesika bertanya


“Jes, aku sanggat,


sangat bosan disini aku-”


Dret..., dret...., Suarah


ponsel bergetar di atas nakas di samping tempat tidur, Anna membuat gadis


memberhentikan ucapanya dan menoleh pada benda berbentik persegi pajang berwarna


putih.


“Itu ponsel siapa?” Wil


bertanya


“Bukan ponselku?” Jesika


menjawab


“Itu juga bukan, milik ku”.


jawab Anna tapi tiba-tiba ia teringat, “Pasti


milik Julian tertinggal.” gumamnya dalam hati, Anna langsung meraih ponsel itu


dan mengeser tombol hijau


“Hallo”.


“Anna?” tampak suara di sebrang sana


“Ponselmu tertinggal di


sini.” jelas Anna


“Baiklah aku akan


mengambilnya.” jawab Julian, kemudian mematikan telponnya, ia tadi memang


mencari ponselnya ia benar-benar bersyukur jika ponselnya tertinggal di rumah


sakit dan tidak hilang.


Wil dan Jesika hanya


tersenyum, mereka bertiga mulai melanjutkan obrolan mereka, Xiang tidak datang


karena harus lembur di kantornya, ia sudah mengabari Anna sebelumnya.


“Kau tau Anna aku


pernah melihat bosku kesini.” Wil bercerita


“Bos mu yang galak itu?”


Anna memastikan


“Iya, betul sekali,

__ADS_1


waktu awal kamu kecelakaan aku pernah melihatnya datang kerumah sakit ini, aku


pernah bertemunya di lobi.” Wil menjelaskan dengan antusis


“Apa bos mu itu


sakit-sakitan?” Jesika bertanya.


“Entahlah, mungkin


jugah sih, makanya ia marah-marah terus di kantor, setiap ia marah gedung


kantor rasahnya mau runtuh, bahkan yang lewat di depan ruanganya saja


merinding, mungkin benar ia sakit parah.” tambah Wil, Anna dan tia tampak mengangguk


“Terus dia juga tidak


pernah berhubungan dengan perempuan, mungkin bosku itu punya penyakit menular, karena


itu ia tidak punya pacar. Aku kasihan nanti siapa yang bakal jadi istrinya.”


Wil menarik napas dalam


“Iya,” jawab Anna dan Jesiaka


bersamaan


“Atau jangan-jangan dia


penyuka sesama jenis?“ Anna bergumam,


“Mungkin juga dia


penyuka sesama jenis, di kantor aja galaknya minta ampun, bagaimana di rumah. Aku


yakin istrinya akan mati jantungan nan-”


“Julian,” Anna


tersenyum melihat laki-laki yang berdiri di dekat pintu, entah sejak kapan


laki-laki itu berada di sana. Wil dan Jesika menoleh, tiba-tiba waja Wil


berubah pucat, ia langsung tertunduk lemas menatap wajah yang sangat ia kenal.


“Selamat sore, Anna, selamat


sore...” Julian menyodorkan tanyanya pada Jesika.


“Jesika,” jawab Jesika


sambil bersalaman


“Selamat sore Jesika,”


Julian tersenyum ramah “Dan selamat soreh Wil.” Julian tersenyum, tapi senyum


seakan ingin membunuh bagi Wil tertu saja Julian hanya tersenyum miring


padanya.


“Se-selamat, so-sore,


pak, pak Julian. “ Wil menjawab sambil terbata-bata. Anna dan Jesika tampak semakin


bingung melihat tingkah Wil.


“Sejak kapan kau


datang?” Anna bertanya


“Sejak sepuluh menit


yang lalu aku berdiri di sana, tapi kalian tidak menyadarinya, dan asik


membicarakan sesorang, tentang bos galak dan penyuka sesama jenis.” jawab Julian


“Oh, tadi kami


membicarakan bos Wil, dia sangat galak dan-” jawab Jesika sedetik kemudia Wil


langsung mencubit paha Jesika, membuat gadis itu meringgis kesakitan.


“Apa yang kau lakukan?”


Jesika berteriak kesakitan sambil mengelus pahanya yang terasa nyeri, Jesika


yakin pasti pahanya akan berwarna merah setelah ini.


“Ah, ini ponsel mu”


Anna menyodorkan tanganya pada Julian.


“Terimaksih, aku pulang


dulu.” Julian kemudian meninggalkan mereka bertiga.


***


“Anna dari mana kua


mengenal pria tampak tadi? ” Jesika bertanya antusias.


“Oh, dia kakak Lucy.”


“Lucy, maksudmu gadis


yang menabrakmu?” Anna mengangguk sambil tersenyum.


“Wil kau tidak


apa-apa?” Anna masih binggung mengapa Wil bertingkah aneh, gadis itu hanya mengangguk.


“Oh iya, Wil dari mana


kau mengenal Julian?”Anna penasaran karena tadi Julian tahu nama Wil tanpa harus


berkenalan terlebih dahulu.


“Dia, dia  bosku.” Wil kemudian menangis.


“Apa?!” suara Jesika


dan Anna bersamaa, mereka tidak percaya orang yang mereka bicarahkan adalah Julian,


dan laki-laki itu mendengar semua pembicaraan mereka.


“Aku akan di pecat!”


hiks...hiks,,,, Jesika langsung memeluk Wil, mencobah menenangkan sahabatnya


itu.


***

__ADS_1


__ADS_2