
Matahari mulai
menampakkan dirinya, terlihat jelas cahayanya masuk dari balik jendela kaca di kamar itu.
Anna membuka matanya,
rasanya dia sudah tidur semalaman, tadi malam tidak ada seorangpun yang
menemaninya di kamar ini, gadis itu menoleh ke kiri untuk melihat jam dinding
yang menempel di sana, tapi pandanganya terhenti saat menatap sosok seseorang
yang sedang duduk di kusi tepat di samping tempat tidurnya, tampak sosok itu
masih memejamkan matanya, ia benar-benar terlihat lelah.
Gadis itu hanya
memandang laki-laki itu, tanpa ia sadari Anna tersenyum melihatnya, perasaan
senang menghampirinya ia teringat Jack yang selalu menemaninya saat Anna sakit
dalam mimpinya.
Laki-laki itu membuka
matanya, perlahan ia menatap wajah gadis di hadapanya sedang mememperhatikanya.
“Jack, maksudku Julian.”
Anna terkejut melihat laki-laki itu memandangnya dengan tatapan heran. “Sejak
kapan kau disini?” Anna bertanya menutupi kegugupanya
“Tadi malam.” jawan
laki-laki itu dengan suara datar.
“Tapi aku tidak melihatmu
datang,” Anna tampak binggung
“Tadi malam, aku ingin
masuk saat kau terbangun dan memberi tahu kalau Lucy masih sakit dan aku
menggantikanya, tapi ada tunanganmu, jadi aku memutuskan untuk menemui Ben,
kemudian aku bertemu temaku, tapi saat ku kembali kau sudah tertidur.” jelas
Julian dengan jujur.
“Oh..., kau dan Lucy
tidak perlu menungguiku, bukankah aku sudah bilang kemarin.” Anna mengingatkan.
“Sebenarnya aku tidak
ingin menungguimu, tapi Lucy memaksaku, ia sanggat mengkhawatirkanmu.” jawab Julian
berbohong.
Seorang laki-laki masuk
dengan seragam putih ke kamar itu membuat mereka memberhentikan perdebatan yang
terjadi.
“Selamat pagi Anna,” laki-laki itu tersenyum
“Selamat pagi dokter,”
jawab Anna
“Aku akan memeriksa
kondisimu, apakah lengan dan punggung mu masih terasa sakit?”
“Ya, masih sama
rasanya, saat aku mencobah mengerakkannya,”
“Baiklah kalau begitu,
aku akan terus memanatau perkembangan kondisimu,” jawab ben ”Beristirahatla.”
tambanya
“Dokter maaf, kapan aku
boleh pulang? ” pertanyan Anna membuat Julian dan Ban tersenyum
“Aku belum bisa
memastikan, tapi kalau kondisimu semakin baik, maka kau boleh pulang.” Ban
menjelaskan
“Tapi aku sudah hampir
dua bulan disini sejak kecelakaan itu, kaki juga tidak sakit lagi, aku bisa
berjalan normal.” jawan Anna
“Tapi lengan dan
punggung mu.” Ben tersenyum, “Beristirahatlah, aku permisi dulu.” tambah Ben.
“Terimakasih Ben.” Julian
tersenyum yang di jawab angukan Ben.
Julian menarik napas
dalam saat pandanganya kembali menatap Anna yang tertunduk lemas setelah
mendengar apa yang Ben ucapkan, Julian bisa melihat gadis itu ingin segera
keluar dari rumah sakit ini.
“Apakah kau sangat
sangat bosan disini?” Julian bertanya pada Anna
“Ya, aku sangat bosan,
aku juga harus berkerja aku sudah lama bolos,” jawabnya
“Aku yakin bosmu akan
mengerti,” Julian menenangkan
“Entalah la.” jawab
Anna lemas, ia sangat kawatir dengan ibu Margaret yang terkenal galak dan
__ADS_1
kejam, ia tidak segan-segan memecak pegawainya yang sering membolos. Julian
bisa menangkap raut kesedihan di wajah Anna.
“Kau suka membaca
novel?” Julian bertanya berusaha mengalikan kesedihan itu
“Ya, bukankah kau sudah
tau?” jawab Anna, Julian tersersenyum sambil mengangguk “Ceritakan padak, apa yang paling kau suka?”
“Aku sukah semua novel.”
“Kalau begitu ceritakan
semuanya.”
“Apa kau gila?” Anna
trerkejut, mendengar Julian ingin mendengar semua novel yaang ia suka.
Julian terkekeh melihat
waja Anna yang tampak terkejut. “Kalau begitu ceritakan satu novel yang kau
baca, yang
paling berkesan dan tidak bisa kau lupakan.”
“Aku, aku tidak ingin
bercerita padamu.” jawab Anna, sebenarnya Anna ingin sekali bercerita tentang
buku tua berwarna coklat seperti tanah. Tapi itu akan menyakitkan jika Anna
menginggat teman-temanya tewas karena dirinya
***
Sore harinya Anna duduk
sendiri di kamar itu, Julian baru saja pergi meninggalkanya, gadis itu mulai
membuka beberapa novel dan komik yang di bawakan Xiang, tampak tidak ada
satupun yang menarik baginya.
Suara ketuk pintu,
terdengar jelas di telingahnya, tampak dua orang wanita masuk sambil tersenyum
lebar, dan segera memeluk Anna.
“Wil, Jes, kalian
datang?”
“Pasti kami datang, ini
aku membawakanmu apel, di habiskan ya.” Pintah Jesika sambil meletakkan buah
merah itu di atas meja.
“Terimakasih,” jawab
Anna “Kalian tidak masuk kerja?” tambahnya
“Kami baru pulang, tadi
hanya tersenyum mendengarnya.
“Anna ayo cepat sembuh
ya, kamu tidak bosan apa di sini terus?” Jesika bertanya
“Jes, aku sanggat,
sangat bosan disini aku-”
Dret..., dret...., Suarah
ponsel bergetar di atas nakas di samping tempat tidur, Anna membuat gadis
memberhentikan ucapanya dan menoleh pada benda berbentik persegi pajang berwarna
putih.
“Itu ponsel siapa?” Wil
bertanya
“Bukan ponselku?” Jesika
menjawab
“Itu juga bukan, milik ku”.
jawab Anna tapi tiba-tiba ia teringat, “Pasti
milik Julian tertinggal.” gumamnya dalam hati, Anna langsung meraih ponsel itu
dan mengeser tombol hijau
“Hallo”.
“Anna?” tampak suara di sebrang sana
“Ponselmu tertinggal di
sini.” jelas Anna
“Baiklah aku akan
mengambilnya.” jawab Julian, kemudian mematikan telponnya, ia tadi memang
mencari ponselnya ia benar-benar bersyukur jika ponselnya tertinggal di rumah
sakit dan tidak hilang.
Wil dan Jesika hanya
tersenyum, mereka bertiga mulai melanjutkan obrolan mereka, Xiang tidak datang
karena harus lembur di kantornya, ia sudah mengabari Anna sebelumnya.
“Kau tau Anna aku
pernah melihat bosku kesini.” Wil bercerita
“Bos mu yang galak itu?”
Anna memastikan
“Iya, betul sekali,
__ADS_1
waktu awal kamu kecelakaan aku pernah melihatnya datang kerumah sakit ini, aku
pernah bertemunya di lobi.” Wil menjelaskan dengan antusis
“Apa bos mu itu
sakit-sakitan?” Jesika bertanya.
“Entahlah, mungkin
jugah sih, makanya ia marah-marah terus di kantor, setiap ia marah gedung
kantor rasahnya mau runtuh, bahkan yang lewat di depan ruanganya saja
merinding, mungkin benar ia sakit parah.” tambah Wil, Anna dan tia tampak mengangguk
“Terus dia juga tidak
pernah berhubungan dengan perempuan, mungkin bosku itu punya penyakit menular, karena
itu ia tidak punya pacar. Aku kasihan nanti siapa yang bakal jadi istrinya.”
Wil menarik napas dalam
“Iya,” jawab Anna dan Jesiaka
bersamaan
“Atau jangan-jangan dia
penyuka sesama jenis?“ Anna bergumam,
“Mungkin juga dia
penyuka sesama jenis, di kantor aja galaknya minta ampun, bagaimana di rumah. Aku
yakin istrinya akan mati jantungan nan-”
“Julian,” Anna
tersenyum melihat laki-laki yang berdiri di dekat pintu, entah sejak kapan
laki-laki itu berada di sana. Wil dan Jesika menoleh, tiba-tiba waja Wil
berubah pucat, ia langsung tertunduk lemas menatap wajah yang sangat ia kenal.
“Selamat sore, Anna, selamat
sore...” Julian menyodorkan tanyanya pada Jesika.
“Jesika,” jawab Jesika
sambil bersalaman
“Selamat sore Jesika,”
Julian tersenyum ramah “Dan selamat soreh Wil.” Julian tersenyum, tapi senyum
seakan ingin membunuh bagi Wil tertu saja Julian hanya tersenyum miring
padanya.
“Se-selamat, so-sore,
pak, pak Julian. “ Wil menjawab sambil terbata-bata. Anna dan Jesika tampak semakin
bingung melihat tingkah Wil.
“Sejak kapan kau
datang?” Anna bertanya
“Sejak sepuluh menit
yang lalu aku berdiri di sana, tapi kalian tidak menyadarinya, dan asik
membicarakan sesorang, tentang bos galak dan penyuka sesama jenis.” jawab Julian
“Oh, tadi kami
membicarakan bos Wil, dia sangat galak dan-” jawab Jesika sedetik kemudia Wil
langsung mencubit paha Jesika, membuat gadis itu meringgis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan?”
Jesika berteriak kesakitan sambil mengelus pahanya yang terasa nyeri, Jesika
yakin pasti pahanya akan berwarna merah setelah ini.
“Ah, ini ponsel mu”
Anna menyodorkan tanganya pada Julian.
“Terimaksih, aku pulang
dulu.” Julian kemudian meninggalkan mereka bertiga.
***
“Anna dari mana kua
mengenal pria tampak tadi? ” Jesika bertanya antusias.
“Oh, dia kakak Lucy.”
“Lucy, maksudmu gadis
yang menabrakmu?” Anna mengangguk sambil tersenyum.
“Wil kau tidak
apa-apa?” Anna masih binggung mengapa Wil bertingkah aneh, gadis itu hanya mengangguk.
“Oh iya, Wil dari mana
kau mengenal Julian?”Anna penasaran karena tadi Julian tahu nama Wil tanpa harus
berkenalan terlebih dahulu.
“Dia, dia bosku.” Wil kemudian menangis.
“Apa?!” suara Jesika
dan Anna bersamaa, mereka tidak percaya orang yang mereka bicarahkan adalah Julian,
dan laki-laki itu mendengar semua pembicaraan mereka.
“Aku akan di pecat!”
hiks...hiks,,,, Jesika langsung memeluk Wil, mencobah menenangkan sahabatnya
itu.
***
__ADS_1