
Anna:
Hai, sayang, apa kabar?
Nicko:
Hai, sayang kabarku baik
Maafkan aku, aku benar-benar sibuk
Anna:
Tidak apa-apa,
Kamu jaga kesehatan di sana ya.
Aku sangat merindukanmu.
Nicko:
Aku juga sangat merindukanmu.
Cepat sembuh ya sayang.
***
Seorang laki-laki sedang
duduk di salah satu sudut kafe sambil memperhatikan layar ponselnya.
“Apa kau kau sangat
mencintainya?”
“Iya, aku sangat
mencintainya.” Jawab laki-laki itu lalu tersenyum, ia sangat senang setelah membaca
pesan singkat dari tunanganya.
“Kapan kalian akan
menikah ?”
“Secepatnya, aku akan
melamar Anna,” Nicko telah merencanakan pernikahan mereka, Nicko telah mempersiapkan
semuanya tanpa sepengetahuan tunagannya itu.
“Apakah kau yakin? Anna
bahkan tidak mau kau sentuh.”
“Aku sangat yakin
Margaret, aku hanya tidak tega kalau melakukan hal itu padanya, dia sangat baik
padaku. Lagi pula, cinta bukan soal sentuhan atau pemuas nafsu belaka, tapi
bagaimana kita saling menghargai satu sama lain.”
“Terserah kau saja Nick.”
***
“Bagaimana lengan dan
punggungmu?”
“Sudah lebih baik dok,
aku mulai bisa mengerakkanya sedikit demi sedikit.” Jelas Anna pada Ben yang
sedang sibuk memeriksa kondiri tubuhnya.
“Bagus, tapi jangan
terlalu kau paksakan, itu akan membuat cederamu semakin parah, aku permisih
dulu, beristirahatla Anna.” Ben
menerangkan semuanya, ia juga melihat jika Anna semakin membaik setiap harinya,
semoga saja Anna segera puli pada kondisi semulanya.
“Terimakasih dokter.”
jawab Anna sambil tersenyum rama pada dokter Ben.
Setelah selesai
pemeriksaan, Anna memutuskan untuk membolah balik halaman komiknya, sudah tiga
hari sejak kejadian ciuman itu dan selama itu Anna mendiamkan Julian, laki-laki
itu selalu datang setiap malam menemaninya dan tidak ada salah satu dari mereka
memulai pembicaraan. Julian sendiri binggung harus bersikap seperti apa, dia
merasa bersalah pada Anna
***.
“Anna, bagaimana
keadaanmu? Apa kakak ku menjagamu dengan baik?” Seorang gadis bermata hijau
menghampirinya sambil tersenyum lebar, sungguh ia sangat mengkhawatirkan
kondisi Anna saat ini, andai saja ujiannya sudah selesai ia akan disini
menemani Anna sebagai rasa tanggung jawabnya.
“Aku sehat Lucy, dia
baik.” Anna tersenyum pada Lucy ia benar-benar merindukan gadis itu.
“Syukurlah, aku sangat
kawatir pada mu.”
“Aku tidak apa-apa,
berhenti mengkawatirkanku Lucy. Apa ujianmu telah selesai?”
Anna tahu selama ini
Lucy terlalu memikirkan keadaanya gadis kecil itu perlu waktu lebih banyak
untuk belajar. Apa lagi, sekarang adalah waktu Lucy ujian, Anna tidak mau gadis
kecil itu tidak fokus dengan ujianya sehingga membuat Lucy harus mengulang
dalam pelajaranya nanti.
“Belum, minggu ini
jadwal ujian ku sangat padat, maafkan aku tidak bisa menemanimu.” sesal Lucy.
“Sudah tidak apa-apa.”
“Anna, aku sudah
menyiapkan kamarmu.” Lucy sangat antusias.
“Apa?” Anna terkejut
mendengar perkataan Lucy, kamar? Kamar apa?
“Aku telah menyiapkan
kamarmu, apakah kau lupa, sebentar lagi kau akan tinggal di rumah ku, aku akan
merawatmu sampai sembuh, aku juga akan mengantarmu terapi ke rumah sakit.”
“Oh..., maafkan aku
lupa, emh, terimakasih untuk semuanya,
aku jadi merepotkanmu.” Anna tampak cangung sekarang, ia benar-benar lupa jika
__ADS_1
setelah ini ia akan tinggal bersama Lucy di rumahnya.
Anna sangat menyesal,
ia tidak pernah berpikir akan membuat banyak orang menjadi repot karenanya,
mulai dari kedua orang tauanya, sahabatnya, Lucy dan Julian? Mengapa Anna harus
memikirkan laki-laki berengsek itu yang telah merebut ciuman pertamanya.
“Tidak apa-apa, lagian
aku tidak berkerja sendiri kakak membantuku, menyiapkan kamar mu.” Jelas Lucy
lalu tersenyum.
“Kakak?”
“Ya, kak Julian, siapa
lagi? aku hanya punya satu kakak.” Lucy menjelaskan
“Oh....” Anna tampak
tersenyum kaku, ia masih kesal jika mengingat perlakuan Julian padanya.
***
Seorang laki-laki masuk
keruangna itu, masih menggunakan pakaian kemejah putih dan dasi yang mengantung di lehernya.
“Kakak!” sapa Lucy.
“Hai Lucy,” Jawab
laki-laki itu malas tanpa tersenyum kemudian menatap Anna yang membuang muka
pada Julian, sungguh Julian merasa semakin bersalah pada gadis itu, ia tahu
Anna masih marah karena ciuman itu.
Tapi tidak dengan
Julian, sejak kejadian itu Julian tidak bisa tidur bahkan ia selalu teringat
dengan jelas bagaimana lembut dan manis bibir Anna, Julian sering tersenyum
sendiri jika bayangan itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
“Kakak tidak ganti baju
dulu?”
“Aku buru-buruh,
kupikir kau tidak kesini malam ini, kalau begitu aku pulang dulu.” Laki-laki
itu segera berbalik hendak melangka tapi Lucy segera mencegahnya.
“Kakak mau kemana? Aku
disini hanya sebentar besok aku masih ada ujian, kakak harus menemani Anna,”
pinta Lucy penuh harap.
“Tidak apa-apa Lucy,
aku bisa sendiri.” jawab Anna meyakinkan.
“Tidak-tidak boleh!”
jawab Lucy cepat.
“Lucy, Anna saja ingin
sendiri, kenapa kau memaksaku menemaninya.” Suara Julian terdengar lembut dan
dingin, sungguh dia juga tidak berharap akan bersama Anna jika gadis itu tidak
menginginkanya.
jahat?” mata Lucy berkaca-kaca ingin menangis melihat tingkah kakaknya “Anna
maafkan kakak ku.” Lucy langsung memeluk Anna sambil terisak.
Lucy tahu jika Julian
adalah orang yang terkenal kejam, tapi bagaimana pun Julian tidak boleh kejam
pada Anna, cukup pada Lucy atau yang lainya, karena Anna hanya korban disini, korban dari kelalaian yang Lucy buat.
“Sudah tidak apa-apa
Lucy, Julian pasti sangat lelah, aku tidak apa-apa sendiri disini.”
Anna menatap Julian
yang dari tadi hanya diam melihat drama yang di buat Lucy, mata coklat tajam
itu seakan sedang melihat sesuatu yang aneh pada diri Anna, sebenarnya Anna
masih agak takut dengan tatapan Julian yang selalu membuat siapapun tidak
berkutik, walau laki-laki itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Mata itu tajam dan
sangat menusuk seakan mampu meremukan semua tubuh Anna, mungki agak berlebihan
memang tapi itu lah yang Anna rasakan mata itu seakan terus mengikat semua
pergerakan tubuhnya, tapi Anna berusaha secepat mungkin untuk menyadarkan
dirinya.
“Tidak-tidak boleh!”jawab
Lucy
“Tidak apa-apa Lucy,
aku sudah sehat, lagi pula jika aku butuh apa-apa aku akan memangil perawat
disini, sudah jangan menangis.” Anna mencobah menenangkan Lucy yang dari tadi
memeluk tangan kirinya lembut.
Sebuah senyuman terukir
di bibir Anna, ia melihat sosok lain dari Lily-nya dulu, andai ia di beri
kesempatan untuk bertemu dengannya, ia akan memperlakukan Lily dengan lebih
baik lagi, ia bersumpah tidak akan membuat gadis itu menangis ataupun sedih.
“Baiklah aku akan
menemani Anna malam ini.” Julian membuka suaranya membuat Lucy melepaskan
pelukan pada Anna dan berlari memeluk Julian, membuat laki-laki itu mendorong
Lucy untuk menghentikan tindakan konyolnya, itu membuat Julian kesal “Anak ini terlalu manja.” gumam Julian
dalam hati.
“Terimakasih kak, kakak
memang kakak yang paling baik.” Lucy langsung menghapus air matanya dan
tersentyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih yang tertata rapi di sana.
“Anna aku pulang dulu
ya, titip kakak ku, kalau dia macam-macam pukul saja.” Lucy langsung pergi
meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Lucy
baik Anna ataupun Julian masih diam, mereka masih sibuk dengan pemikiran
__ADS_1
masing-masing, tapi dari tadi mereka saling menatap, seakan sedang bertarung
dalam tatapan masing-masing.
“Kau.” tampak Julian
dan Anna bersamaan.
“Kau duluan.” ucap Anna
datar
“Tidak, kau saja.”
“Baikla, kau tidak
harus disini menemaniku, kau boleh pulang sekarang, aku bisa sendiri di sini.” suara
Anna yang datar dan dingin membuat Julian sedikit bergidik ngeri, ternyata Anna
memiliki sisi lain yang menyeramkan.
“Kau mengusirku lagi?! Ini
sudah ketiga kalinya kau mengusirku.” jawab Julian setenang mungkin.
“Kau tau Julian, aku
masih marah dan kesal pada mu.” jawab Anna sinis
“Aku minta maaf soal
ciuman itu, aku-”
“Sudahlah aku tidak
ingin membahasa itu.”
“Apakah kau
memaafkanku?”
“Entahla.” Anna memutar
matanya jengah
“Kenapa entalah? Aku
benar-benar minta maaf, apakah kau sangat membenciku?” Anna masih diam tidak
menjawab pertanyaan Julian.
Mereka saling menatap
dalam diamnya, waktu seakan berhenti, detik demi detik sangat terasa, tidak ada
satupun dari mereka yang mengalah, mata mereka seakan terikat, tiba-tiba.
“Kriuk........
Membuata Anna memegang
perutnya dan menunduk malu, Julian tersenyum melihatnya, laki-laki itu berjalan
menuju kulkas berharap menemukan sesuatu untuk mengganjal perut gadis yang
marah padanya, benar saja ia menemukan banyak buah apel, “Mengapa Anna hanya menyipan apel?”
“Ini.” laki-laki itu
menyodorkan sebuah apel untuk Anna, gadis itu masi diam, tidak berapa lama Julian
meraih tangan Anna dan memberikan apel itu ke tangannya.
“Jangan kerasa kepala,
makanlah, kau akan sakit jika tidak makan.” suara Julian tampak lembut.
“Apa pedulimu?”
“Aku peduli padamu,
makanlah, apa aku harus mengunyanya kemudian memasukanya dalam mulut mu!” ancam
Julian.
Anna terkejut
mendengarnya ia tahu itu bukan sekerdar ancamam biasa, ia bisa merakan kalau
Julian akan melakukan itu jika ia tidak menurut.
“Tidak, itu tidak boleh.”
Jawab Anna cepat, itu akan sama seperti dalam mimpinya saat Jack membantunya
minum obat.
Gadis itu segera menggiggit
apelnya, takut Julian melakukan apa yang ia katakan, laki-laki itu tersenyum
menatap wanita di hadapanya.
“Kenapa? ada yang
lucu?” tampak suara Anna masih kesal.
“Tidak ada, aku hanya
suka melihat mu makan.”
“Kau mau?” gadis itu
menyodorkan apel yang sudah digigitnya karena selera makanya sudah hilang
sekarang, dengan segera Julian menyambarnya dengan mulutnya.
“Enak.” gumam Julian
sambil mengunya apel.
“Habiskan,” Anna
menyodorkan Apel itu “Aku tidak akan memakan bekasmu.” tambah Anna, bagaimana
mungkin Julian memakan apel yang bekas ia gigit, itu agak sedikit jorok.
“Aku akan memakan semua
bekasmu.” jawab Julian asal, Anna tidak peduli dengan apa yang di ucapkan
Julian, hanya perlu beberapa menit pria itu telah mengahiskan apel itu.
“Apa sekarang kita telah
berbaikan?” Julian bertanya.
Gadis masih diam sambil
menatap Julian sejenak lalu menarik napas dalam, Julian menunggu jawaban itu,
sungguh Anna membuatnya tersiksa sekarang karena jantungnya terus memompa
daranya semakin cepat. Tapi Julian tersenyum saat gadis itu mengangukit dua
kali, itu berarti jawanya Ya.
“Aku mengantuk, aku
ingin tidur.” Anna bersuara lalu berbaring di tempat tidurnya.
“Tidurlah Aku akan
menjagamu.” bisik Julian dengan suara yang sangat lembut.
“Menjagaku?
Itu yang selalu Jack ucapkan padaku.“gumam Anna dalam hati.
***
__ADS_1