Anna & Dream

Anna & Dream
11. Apel With Love


__ADS_3

Anna:


Hai, sayang, apa kabar?


Nicko:


Hai, sayang kabarku baik


Maafkan aku, aku benar-benar sibuk


Anna:


Tidak apa-apa,


Kamu jaga kesehatan di sana ya.


Aku sangat merindukanmu.


Nicko:


Aku juga sangat merindukanmu.


Cepat sembuh ya sayang.


***


Seorang laki-laki sedang


duduk di salah satu sudut kafe sambil memperhatikan layar ponselnya.


“Apa kau kau sangat


mencintainya?”


“Iya, aku sangat


mencintainya.” Jawab laki-laki itu lalu tersenyum, ia sangat senang setelah membaca


pesan singkat dari tunanganya.


“Kapan kalian akan


menikah ?”


“Secepatnya, aku akan


melamar Anna,” Nicko telah merencanakan pernikahan mereka, Nicko telah mempersiapkan


semuanya tanpa sepengetahuan tunagannya itu.


“Apakah kau yakin? Anna


bahkan tidak mau kau sentuh.”


“Aku sangat yakin


Margaret, aku hanya tidak tega kalau melakukan hal itu padanya, dia sangat baik


padaku. Lagi pula, cinta bukan soal sentuhan atau pemuas nafsu belaka, tapi


bagaimana kita saling menghargai satu sama lain.”


“Terserah kau saja Nick.”


***


“Bagaimana lengan dan


punggungmu?”


“Sudah lebih baik dok,


aku mulai bisa mengerakkanya sedikit demi sedikit.” Jelas Anna pada Ben yang


sedang sibuk memeriksa kondiri tubuhnya.


“Bagus, tapi jangan


terlalu kau paksakan, itu akan membuat cederamu semakin parah, aku permisih


dulu, beristirahatla Anna.”  Ben


menerangkan semuanya, ia juga melihat jika Anna semakin membaik setiap harinya,


semoga saja Anna segera puli pada kondisi semulanya.


“Terimakasih dokter.”


jawab Anna sambil tersenyum rama pada dokter Ben.


Setelah selesai


pemeriksaan, Anna memutuskan untuk membolah balik halaman komiknya, sudah tiga


hari sejak kejadian ciuman itu dan selama itu Anna mendiamkan Julian, laki-laki


itu selalu datang setiap malam menemaninya dan tidak ada salah satu dari mereka


memulai pembicaraan. Julian sendiri binggung harus bersikap seperti apa, dia


merasa bersalah pada Anna


***.


“Anna, bagaimana


keadaanmu? Apa kakak ku menjagamu dengan baik?” Seorang gadis bermata hijau


menghampirinya sambil tersenyum lebar, sungguh ia sangat mengkhawatirkan


kondisi Anna saat ini, andai saja ujiannya sudah selesai ia akan disini


menemani Anna sebagai rasa tanggung jawabnya.


“Aku sehat Lucy, dia


baik.” Anna tersenyum pada Lucy ia benar-benar merindukan gadis itu.


“Syukurlah, aku sangat


kawatir pada mu.”


“Aku tidak apa-apa,


berhenti mengkawatirkanku Lucy. Apa ujianmu telah selesai?”


Anna tahu selama ini


Lucy terlalu memikirkan keadaanya gadis kecil itu perlu waktu lebih banyak


untuk belajar. Apa lagi, sekarang adalah waktu Lucy ujian, Anna tidak mau gadis


kecil itu tidak fokus dengan ujianya sehingga membuat Lucy harus mengulang


dalam pelajaranya nanti.


“Belum, minggu ini


jadwal ujian ku sangat padat, maafkan aku tidak bisa menemanimu.” sesal Lucy.


“Sudah tidak apa-apa.”


“Anna, aku sudah


menyiapkan kamarmu.” Lucy sangat antusias.


“Apa?” Anna terkejut


mendengar perkataan Lucy, kamar? Kamar apa?


“Aku telah menyiapkan


kamarmu, apakah kau lupa, sebentar lagi kau akan tinggal di rumah ku, aku akan


merawatmu sampai sembuh, aku juga akan mengantarmu terapi ke rumah sakit.”


“Oh..., maafkan aku


lupa,  emh, terimakasih untuk semuanya,


aku jadi merepotkanmu.” Anna tampak cangung sekarang, ia benar-benar lupa jika

__ADS_1


setelah ini ia akan tinggal bersama Lucy di rumahnya.


Anna sangat menyesal,


ia tidak pernah berpikir akan membuat banyak orang menjadi repot karenanya,


mulai dari kedua orang tauanya, sahabatnya, Lucy dan Julian? Mengapa Anna harus


memikirkan laki-laki berengsek itu yang telah merebut ciuman pertamanya.


“Tidak apa-apa, lagian


aku tidak berkerja sendiri kakak membantuku, menyiapkan kamar mu.” Jelas Lucy


lalu tersenyum.


“Kakak?”


“Ya, kak Julian, siapa


lagi? aku hanya punya satu kakak.” Lucy menjelaskan


“Oh....” Anna tampak


tersenyum kaku, ia masih kesal jika mengingat perlakuan Julian padanya.


 ***


Seorang laki-laki masuk


keruangna itu, masih menggunakan pakaian kemejah  putih dan dasi yang mengantung di lehernya.


“Kakak!” sapa Lucy.


“Hai Lucy,” Jawab


laki-laki itu malas tanpa tersenyum kemudian menatap Anna yang membuang muka


pada Julian, sungguh Julian merasa semakin bersalah pada gadis itu, ia tahu


Anna masih marah karena ciuman itu.


Tapi tidak dengan


Julian, sejak kejadian itu Julian tidak bisa tidur bahkan ia selalu teringat


dengan jelas bagaimana lembut dan manis bibir Anna, Julian sering tersenyum


sendiri jika bayangan itu tiba-tiba muncul di kepalanya.


“Kakak tidak ganti baju


dulu?”


“Aku buru-buruh,


kupikir kau tidak kesini malam ini, kalau begitu aku pulang dulu.” Laki-laki


itu segera berbalik hendak melangka tapi Lucy segera mencegahnya.


“Kakak mau kemana? Aku


disini hanya sebentar besok aku masih ada ujian, kakak harus menemani Anna,”


pinta Lucy penuh harap.


“Tidak apa-apa Lucy,


aku bisa sendiri.” jawab Anna meyakinkan.


“Tidak-tidak boleh!”


jawab Lucy cepat.


“Lucy, Anna saja ingin


sendiri, kenapa kau memaksaku menemaninya.” Suara Julian terdengar lembut dan


dingin, sungguh dia juga tidak berharap akan bersama Anna jika gadis itu tidak


menginginkanya.


jahat?” mata Lucy berkaca-kaca ingin menangis melihat tingkah kakaknya “Anna


maafkan kakak ku.” Lucy langsung memeluk Anna sambil terisak.


Lucy tahu jika Julian


adalah orang yang terkenal kejam, tapi bagaimana pun Julian tidak boleh kejam


pada Anna, cukup pada Lucy atau yang lainya, karena  Anna hanya korban disini, korban dari kelalaian yang Lucy buat.


“Sudah tidak apa-apa


Lucy, Julian pasti sangat lelah, aku tidak apa-apa sendiri disini.”


Anna menatap Julian


yang dari tadi hanya diam melihat drama yang di buat Lucy, mata coklat tajam


itu seakan sedang melihat sesuatu yang aneh pada diri Anna, sebenarnya Anna


masih agak takut dengan tatapan Julian yang selalu membuat siapapun tidak


berkutik, walau laki-laki itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.


Mata itu tajam dan


sangat menusuk seakan mampu meremukan semua tubuh Anna, mungki agak berlebihan


memang tapi itu lah yang Anna rasakan mata itu seakan terus mengikat semua


pergerakan tubuhnya, tapi Anna berusaha secepat mungkin untuk menyadarkan


dirinya.


“Tidak-tidak boleh!”jawab


Lucy


“Tidak apa-apa Lucy,


aku sudah sehat, lagi pula jika aku butuh apa-apa aku akan memangil perawat


disini, sudah jangan menangis.” Anna mencobah menenangkan Lucy yang dari tadi


memeluk tangan kirinya lembut.


Sebuah senyuman terukir


di bibir Anna, ia melihat sosok lain dari Lily-nya dulu, andai ia di beri


kesempatan untuk bertemu dengannya, ia akan memperlakukan Lily dengan lebih


baik lagi, ia bersumpah tidak akan membuat gadis itu menangis ataupun sedih.


“Baiklah aku akan


menemani Anna malam ini.” Julian membuka suaranya membuat Lucy melepaskan


pelukan pada Anna dan berlari memeluk Julian, membuat laki-laki itu mendorong


Lucy untuk menghentikan tindakan konyolnya, itu membuat Julian kesal “Anak ini terlalu manja.” gumam Julian


dalam hati.


“Terimakasih kak, kakak


memang kakak yang paling baik.” Lucy langsung menghapus air matanya dan


tersentyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih yang tertata rapi di sana.


“Anna aku pulang dulu


ya, titip kakak ku, kalau dia macam-macam pukul saja.” Lucy langsung pergi


meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Lucy


baik Anna ataupun Julian masih diam, mereka masih sibuk dengan pemikiran

__ADS_1


masing-masing, tapi dari tadi mereka saling menatap, seakan sedang bertarung


dalam tatapan masing-masing.


“Kau.” tampak Julian


dan Anna bersamaan.


“Kau duluan.” ucap Anna


datar


“Tidak, kau saja.”


“Baikla, kau tidak


harus disini menemaniku, kau boleh pulang sekarang, aku bisa sendiri di sini.” suara


Anna yang datar dan dingin membuat Julian sedikit bergidik ngeri, ternyata Anna


memiliki sisi lain yang menyeramkan.


“Kau mengusirku lagi?! Ini


sudah ketiga kalinya kau mengusirku.” jawab Julian setenang mungkin.


“Kau tau Julian, aku


masih marah dan kesal pada mu.” jawab Anna sinis


“Aku minta maaf soal


ciuman itu, aku-”


“Sudahlah aku tidak


ingin membahasa itu.”


“Apakah kau


memaafkanku?”


“Entahla.” Anna memutar


matanya jengah


“Kenapa entalah? Aku


benar-benar minta maaf, apakah kau sangat membenciku?” Anna masih diam tidak


menjawab pertanyaan Julian.


Mereka saling menatap


dalam diamnya, waktu seakan berhenti, detik demi detik sangat terasa, tidak ada


satupun dari mereka yang mengalah, mata mereka seakan terikat, tiba-tiba.


“Kriuk........


Membuata Anna memegang


perutnya dan menunduk malu, Julian tersenyum melihatnya, laki-laki itu berjalan


menuju kulkas berharap menemukan sesuatu untuk mengganjal perut gadis yang


marah padanya, benar saja ia menemukan banyak buah apel, “Mengapa Anna hanya menyipan apel?”


“Ini.” laki-laki itu


menyodorkan sebuah apel untuk Anna, gadis itu masi diam, tidak berapa lama Julian


meraih tangan Anna dan memberikan apel itu ke tangannya.


“Jangan kerasa kepala,


makanlah, kau akan sakit jika tidak makan.” suara Julian tampak lembut.


“Apa pedulimu?”


“Aku peduli padamu,


makanlah, apa aku harus mengunyanya kemudian memasukanya dalam mulut mu!” ancam


Julian.


Anna terkejut


mendengarnya ia tahu itu bukan sekerdar ancamam biasa, ia bisa merakan kalau


Julian akan melakukan itu jika ia tidak menurut.


“Tidak, itu tidak boleh.”


Jawab Anna cepat, itu akan sama seperti dalam mimpinya saat Jack membantunya


minum obat.


Gadis itu segera menggiggit


apelnya, takut Julian melakukan apa yang ia katakan, laki-laki itu tersenyum


menatap wanita di hadapanya.


“Kenapa? ada yang


lucu?” tampak suara Anna masih kesal.


“Tidak ada, aku hanya


suka melihat mu makan.”


“Kau mau?” gadis itu


menyodorkan apel yang sudah digigitnya karena selera makanya sudah hilang


sekarang, dengan segera Julian menyambarnya dengan mulutnya.


“Enak.” gumam Julian


sambil mengunya apel.


“Habiskan,” Anna


menyodorkan Apel itu “Aku tidak akan memakan bekasmu.” tambah Anna, bagaimana


mungkin Julian memakan apel yang bekas ia gigit, itu agak sedikit jorok.


“Aku akan memakan semua


bekasmu.” jawab Julian asal, Anna tidak peduli dengan apa yang di ucapkan


Julian, hanya perlu beberapa menit pria itu telah mengahiskan apel itu.


“Apa sekarang kita telah


berbaikan?” Julian bertanya.


Gadis masih diam sambil


menatap Julian sejenak lalu menarik napas dalam, Julian menunggu jawaban itu,


sungguh Anna membuatnya tersiksa sekarang karena jantungnya terus memompa


daranya semakin cepat. Tapi Julian tersenyum saat gadis itu mengangukit dua


kali, itu berarti jawanya Ya.


“Aku mengantuk, aku


ingin tidur.” Anna bersuara lalu berbaring di tempat tidurnya.


“Tidurlah Aku akan


menjagamu.” bisik Julian dengan suara yang sangat lembut.


“Menjagaku?


Itu yang selalu Jack ucapkan padaku.“gumam Anna dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2